Widji Thukul: Sekali Berarti, Sudah Itu Mati

Widji_thukul_1

Sajak Suara

Sesungguhnya, suara itu tak bisa diredam.
Mulut bisa dibungkam.
Namun, siapa yang mampu menghentikan nyanyian bimbang dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku?

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan.
Di sana bersemayam kemerdekaan.
Apabila engkau memaksa diam,
aku siapkan untukmu: pemberontakan!

Dan, sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu.
Ia ingin bertanya, ia hanya ingin bicara: ‘mengapa kau kokang senjata dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan?’

Sesungguhnya, suara itu akan menjadi kata.
Ialah yang mengajari aku bertanya.
Dan pada akhirnya, tidak bisa tidak, engkau harus menjawabnya.
Apabila engkau tetap bertahan, aku akan memburumu seperti kutukan.

~ Edited Version by Homicide. Real Poet by Widji Thukul ~

(Tanpa Judul)

Kuterima kabar dari kampung, rumahku kalian geledah, buku-bukuku kalian jarah.

Tapi aku ucapkan banyak terima kasih.
Karena kalian telah memperkenalkan sendiri pada anak-anakku, kalian telah mengajar anak-anakku, membentuk makna kata penindasan.
Sejak dini.

Ini tak diajarkan di sekolahan, tapi rezim sekarang ini memperkenalkan kepada semua kita, setiap hari di mana-mana, sambil nenteng-nenteng senapan

Kekejaman kalian adalah bukti pelajaran yang tidak pernah ditulis.

~ Indonesia, 11 Agustus ’96, Widji Thukul ~

Bunga dan Tembok

Seumpama bunga, kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh.
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah.

Seumpama bunga, kami adalah bunga yang tak kaukehendaki adanya.
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi.
Seumpama bunga, kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri.

Jika kami bunga, engkau adalah tembok.
Tapi di tubuh tembok itu, telah kami sebar biji-biji.
Suatu saat kami akan tumbuh bersama, dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami, di mana pun – tirani harus tumbang!

~ Solo, ’87 - ’88: Widji Thukul ~

Suaramu, seperti tak ada matinya!



2 Comments so far

  1.    always ratna on June 22nd, 2008

    Seribu kali mendengar apa yang disebut manusia mesin, sekrup, onderdil, hantu rutinitas, tapi kalau melihat, apalagi mengalami sendiri, Anda akan mengerti apa artinya jiwa yang tak bisa bernapas. Di situ makna tertinggi kemerdekaan terungkap: membayang-bayangkan kebebasan itu siksaan, membayang-bayangkan penjara itu kenikmatan.

    Mungkin Anda hanya harus duduk dan menyambung alat pencukur ke tangkainya. Itu cukup dikerjakan beberapa detik, tapi mesti diselesaikan 6.000 biji sehari. Anda tak boleh terlambat satu detik pun karena kedua benda itu keluar dari mesin dengan ritme tertentu dan Anda mesti mengikutinya. Ketepatan musikal itu mutlak perlu, sebab kalau tidak, seluruh mesin itu akan macet. Begitu ringannya pekerjaan itu, tapi satu dua jam cukup untuk mengerti apa arti neraka. Atau anda cukup mengontrol barisan ribuan botol kecil yang tumpah dari mesin, jangan sampai ada yang “anarkis” keluar barisan, maka jadilah Anda pemain pencak silat yang lihai sepanjang hari.

    Di dalam derap rutinitas, yang tak memberi ruang sejengkal pun bagi napas jiwa, Anda tidak tahu di mana sebenarnya Anda berada selama delapan jam sehari. Dan kalau itu harus berlangsung sepanjang hidup, 30 tahun masa dewasa dan baya usia, Anda bisa gila. Apalagi kalau kerjaannya mesti angkat besi 20 ton sehari ke dalam pabrik, atau segala yang merusakkan syaraf dan menindas tenaga, di masa tua Anda akan menjadi arif, atau ngomel sendiri sepanjang jalan.

    Sesudah struktur ekonomi “orang + orang + alam”, lantas “orang + alat + alam”, kini keadaan menjadi berkembang menuju “alat + alam”. Manusia hilang.

    (Emha Ainun Najib, dalam “Di Vilbel, di Ladang-ladang”, bagian dari kumpulan essay Slilit Sang Kyiai, menggambarkan nasib para buruh dalam sindiran yang sangat unik)

  2.    edelweisflo on October 16th, 2008

    Coolllllllllllllllllllllllllll, g copy sebagian di blog g ya, nga lupa ditulis darimana asalnya deh, topppppppppppp

Leave a Reply