Sonet ?

Mendadak, sejenis pedih tiba pada sebuah senja yang masih itu-itu juga.

Aku lihat ia tetap dengan patah tatap serta jubahnya, meski sesaat, selarik senyum sempat tersungging saat mulai mendekati dan mengulurkan tangannya, padaku.

"Apa lagi kesalahanku, Tuan?", tanyaku gemetar, terusir dari ruangan penuh warna ceria. Ia dingin, diam, datar.

Segera warna cemas merangsek dari sore yang terhampar, menampar, nyaris membuatku kembali terkapar.

Tapi, tak juga aku dengar debamnya.

Sejenak, waktu bergemeretak: di sini, ternyata aku tetap berdiri dengan utuh tak kurang suatu apa.

Tak ada debam.

Tak ada retak.

Hanya detak.

"Lalu, apakah maksud kunjungan Tuan kali ini?", kataku pelan. Ia menggerakkan rahang kakunya.

"Aku ingin mengabarkan, sudah aku basuh wajah kalian dengan rintik-rintik rindu itu".



1 Comment so far

  1.    aWan on February 17th, 2008

    mmmmmm….nice..

Leave a Reply