Sekeping Alasan Untuk Kembali Melangkah
: WM
Memang tak pernah ada yang pasti dalam hidup ini. Bisa saja pagi datang menyapamu sumringah, lalu menjadi murung saat siang tiba. Bisa saja, misalnya lagi, senja yang menangis berubah saat malam muncul bersama kerjap gemintang di angkasa sana. Bisa saja juga, senyum tulus malam terhantam oleh pagi yang marah. Atau, bisa saja kombinasi cuaca, waktu dan ketidak-pastian itu berlangsung dalam waktu yang sama. Muncul tanpa diinginkan, tanpa ada kompromi.
Dan hidup sepertinya hanya mengharuskan kata mungkin saja yang selalu tumbuh, merambat kemudian membelit, membentuk satu jalinan antara kesedihan dan kebahagiaan.
Di luar dari kata itu, rasanya tidak ada.
Tapi aku yakin, akan selalu ada hasil dari seluruh belitan kemungkinan-kemungkinan itu.
Beberapa memang mati tercekik. Beberapa yang lain, selamat. Dan aku pikir, kita memiliki potensi untuk selamat.
Aku juga selalu yakin, bahwa kombinasi antara cuaca, waktu dan seluruh ketidak-pastian, akan memunculkan sejenis bunga dari belitan-belitan hidup.
Mungkin bunga itu akan menjadi indah, wangi, disukai lalu dinikmati oleh seseorang atau menjadi tontonan banyak pihak. Mungkin bunga itu menjadi biasa-biasa saja dan hanya menempati ruang sebagai hiasan belaka. Atau mungkin juga bunga itu begitu buruknya sehingga tak pernah ada yang menginginkannya.
Tapi bunga akan tetap menjadi bunga: ia tumbuh, mekar lalu gugur untuk memberikan dirinya bagi kehidupan baru, yang berikutnya. Serupa dengan hidup, mesti kembali mendirikan bentukan baru dari sebuah kehancuran total.
Serupa dengan kamu dan aku…
***
Di ingatanku, ada sebuah pagi di stasiun yang menyapa dengan murung, waktu yang terkungkung, wajah-wajah yang kemurusung.
Dan pada bangku-bangku besi yang dingin, arus para penumpang, dentang pengumuman keberangkatan dan kedatangan, gemuruh tapak-tapak kereta, aku sempat titipkan umpatan saat jejakkan kaki: aku tidak terlalu suka dengan stasiun.
Bukan karena kereta selalu menyiksa para penumpang dengan datang dan pergi sesuka hati, tapi lebih karena stasiun selalu membaurkan kepergian dan juga kedatangan. Semuanya menjadi rancu, menjadi ragu.
Aku memang lebih suka dengan terminal kedatangan dari setiap bandara. Di sana, menunggu tak lagi menjadi laku penuh jemu: kamu tak sendiri menikmati sepi meski sunyi semakin menjadi-jadi.
Di terminal kedatangan, yang ada hanya buntalan penantian penuh pengharapan, kegembiraan yang pecah atas sebuah pertemuan, percakapan hangat yang panjang dan berseliweran.
Di sana, kebahagiaan memang lebih mendominasi dibandingkan di terminal keberangkatan. Dan aku pernah tersenyum kecut mengetahui jawabanmu, “Cieee… mau dikirim kemana tuh?! Ah, aku jadi tersinggung dengan sms salah kirimmu itu… Kamu pasti tengah patah hati, yaaa…”.
Mendadak sejenis jarak antara kamu juga aku, terpenggal. Mendadak sejenis kenyamanan atas seluruh percakapan, tumbuh dalam hatiku. Mendadak juga aku cepat-cepat membunuhnya: aku sedang tak ingin terlibat emosi. Aku memang tak menempatkan dirimu dalam posisi pelacur-pelacur yang telah aku setubuhi, tapi aku hanya tak mau hatiku tercuri lagi dan akhirnya berhenti. Itu saja.
Tentu saja itu semua telah menghadirkan kelelahan dan menderaku dengan sangat hebatnya. Tentu saja itu semua menjadikanku begitu patahnya.
Tapi, aku pikir, kamu tak perlu terlalu serius menanggapinya: aku ini hanya orang yang risau, dan terkadang, kerap membiarkan diri ini dibekap kekonyolan.
Lalu, mengapa aku kembali menceritakan semua ini padamu? Sederhana saja, kamu lebih dulu tiba dan menungguku di sebuah café. Segelas coklat panas dan donat yang nyaris habis telah menemanimu. Sambil menutup majalah, kamu menyambutku dengan senyum. Kamu tidak perduli meski kantuk yang hebat tengah menghantammu.
Seperti biasa, kamu membuka semuanya dengan percakapan penuh binar. Dan seperti biasanya juga, aku hanya menanggapi dengan lebih banyak tersenyum. Pun saat gemeretak roda kereta pagi yang kita tumpangi tengah menggilas rel-relnya.
Untuk beberapa lama kamu masih berbicara, terus bercerita. Seperti tak akan pernah kehabisan kisah. Untuk beberapa lama aku tersenyum, terkadang tertawa.
Tapi, sekuatnya kamu mencoba bertahan, kekalahan tetap saja mengintip lalu membuatmu terkapar. Perlahan kamu roboh atas kantuk yang mendera. Kamu tertidur. Menutup wajah dengan bantal yang telah tersedia.
Kamu tahu, mau tidak mau, aku mesti mengulum senyum saat melihatmu tertidur: aku mesti membatalkan niat untuk meminta selotip kepada tekhnisi Taksaka.
Aku pun kembali membatin selama perjalanan hingga kita dimuntahkan dari perut kereta, ‘apa yang akan terjadi nanti dan yang sebenarnya tengah aku lakukan ini, ya?’.
Sebenarnya kata itu terus bermain dalam diriku, sejak aku mengangguk atas ide kepergian kita, hingga akhirnya kamu dan aku tiba pada sebuah kota. Pada sebuah malam yang masih muda. Pada hujan yang akhirnya menggenapi semuanya.
Mendadak, di sana dingin gugur di dinding waktu. Mendadak, kesal berganti kangen atas seluruh keceriwisanmu. Mendadak, cerah bangkit dari tidur panjang dalam hidupku.
Malam itu, aku sisipkan kata di relung telinga yang tertutup oleh rambutmu, ‘kita pacaran, yukkk…’. Kamu pun ngakak.
“Kok kamu bisa ngomong gitu?”. Aku terdiam.
“Aku ketagihan memelukmu”. Kamu diam.
Dan pada pagi yang telah lama berdiri, kita terbangun dengan saling berpelukan.
Semuanya berubah. Sepertinya hari itu segalanya memang mesti berubah.
Maka dari balik jendela kereta yang menghantarkan kita kembali pulang, aku pandangi cuaca, suasana dan nuansa yang berganti-ganti dengan perlahannya.
Kepergian itu membuka semuanya, kedatangan di kota itu telah membuka segalanya. Sepertinya sejak hari itu semuanya memang mesti kembali melangkah.
Sekarang, meski senja dibekap cuaca yang murung, aku yakin bahwa akan selalu ada masa dimana kita mesti tersenyum. Akan selalu ada masa untuk bahagia. Dan memang akan selalu ada masa untuk tertawa meski kemudian resah memiliki potensi untuk berkuasa. Bahkan akan selalu ditambah dengan potensi lain, saat amarah berujung tangis itu pecah.
Tokh kamu selalu ada. Kamu selalu di sini. Aku pun berani menghadapi yang akan terjadi nanti. Pasti. Semua karena kamu yang selalu ada. Kamu yang selalu di sini.
Dan di satu sisi, stasiun memang merancukan kepergian juga kedatangan. Tapi di sisi lain, stasiun adalah pemberhentian sementara dari arus manusia. Semacam pusat kecil diantara berbagai pilihan dan kemungkinan.
Beberapa penumpangnya memang ada yang begitu lelah hingga malas kembali menaiki kereta. Beberapa ada yang begitu bersemangat untuk segera naik dan tidak perduli dengan yang lainnya, hanya memikirkan bagaimana caranya agar dirinya segera sampai di tujuan. Beberapa ada yang kehilangan arah hendak pergi ke mana. Beberapa ada yang kembali tersadar kemudian menetapkan untuk kembali berjalan, bersama. Dan semuanya memang hanya sekedar pilihan belaka.
Maka aku katakan padamu, mulai dari sini, semuanya memang hanya serba mungkin. Segalanya hanya keputusan sebagai awal dari pilihan. Dan aku memutuskan untuk kembali melangkah, berjalan, menaiki kereta, bersama.
Jika kemudian tumbuhan yang sebelumnya membelit dan mencekik itu telah memunculkan sejenis bunga, itu wajar saja. Kita telah duduk dalam kereta yang sama, bangku yang bersebelahan. Dan aku, kamu, kita, mau tidak mau mesti hidup bersama hal itu. Menghargai kehidupan baru ini, sebuah pilihan untuk kembali melangkah.
Sepertinya, aku ingin tetap melangkah, terus berjalan dan menaiki kereta.
Hanya bersama kamu…
~ Bojonggede, 22 November 2007 ~
“Bisa saja pagi datang menyapamu sumringah, lalu menjadi murung saat siang tiba”
Gw bilang juga apa, fluktuatif! but why oh why?
ciyeh….. suit, suit
pemikiran bagus…tentang Stasiunn…!!!
Tapi gw suka sekali dengan Keberangkatannn ( menggambarkan perubahan…WAlaupun tak selalu baik )
Dan gw juga Suka stasiun I dan Alesan nya Loe tau itu apa…)
but What a writing…
Note : Keep Figthing With Writing…
**** buat “Sekeping Alasan Untuk Kembali Melangkah” ini.
Karena gk mungkin dunks gw kasi lu bintang 7.lagi gk sakit kepala kan lu? hehe.
Menarik om. (^_^).Ditungghu loh post berikutnya.
saya juga akhirnya suka dengan terminal kedatangan d airport…
“Aku memang lebih suka dengan terminal kedatangan dari setiap bandara. Di sana, menunggu tak lagi menjadi laku penuh jemu: kamu tak sendiri menikmati sepi meski sunyi semakin menjadi-jadi.”
tulisan yg bagus
trigger yang tepat untuk menetapkan langkah…
bang.. lu tau… gwa ngepens bangeD ma lo…
gahahahahahaha…
sial,kok bisa gwa nangiz..
padahal kesamaan kisah pun tidak…
dah ah.. kip writing yaa…
luv thiz decline so mucH…
aku memang selalu rindukan stasiun… di sana impikan kejadian yang mungkin ada untukku ketika aku sampai ke tujuan… entah bahagia, entah duka…. hingga akhirnya aku memilih untuk kembali lagi ke sini…
thanks for your beautiful words. gue juga ingin punya alasan untuk kembali melangkah.
Hhhhmmmm……
(merenung mode: on)