Tanda Cinta Yang Keras Kepala

Aku tuliskan ini semua
pada saat pagi masih sangat muda. Hei kamu yang tiba-tiba ingin menjenguk
hatiku…sedang resah ataukah tengah menangis?

Duh… memikirkan kamu
di sana sedang terbelit seluruh gundah yang gusar itu, menjadikanku tidak
berdaya. Tapi di sisi lain, aku meyakini potensi yang berbeda: di sana, kamu
tengah terlelap dibawa arus mimpi yang indah.

Maka inilah aku,
lelaki yang selalu terjerembab dalam dua sisi yang selalu menyatu itu. Akulah
lelaki yang selalu terlibat dalam pertengkaran antara dingin dan hangatnya hati
serta logikaku. Akulah lelaki yang selalu berada di antara itu. Dan mungkin kamu
akan menyimpulkanku sebagai peragu.

Mungkin itu memang
aku…

Dan ini semua karena
sejarah masa laluku. Ini semua karena badai-badai yang pernah melibas
segalanya. Ini semua karena badai-badai yang tak lelahnya menghisapku dalam
matanya lalu memenjarakanku. Ini semua karena seluruh badai yang akhirnya
melepaskan lalu menjadikanku sangat kacau-balau saat menyaksikan seluruh
logikaku yang telah terbangun porak-poranda dan berakhir pada jiwa juga hatiku yang
ikut-ikutan berantakan.

Lalu badaiku yang
terakhir itu, akhirnya menggenapi seluruh kehancuranku, serupa tsunami yang menghisap
kencang bibir pantai kemudian melahap rakus para penghuninya.

Tapi di titik yang
sama, aku sekaligus juga merasa terhormat karena pernah terhantam oleh badai
yang begitu sempurna itu.

Aku memang memegang
sebuah teori kebangkitan: di saat semuanya telah berakhir, hanya ada dua cara untuk
berdiri kembali. Kamu membangunnya sedikit demi sedikit dari bahan yang ada dan
tersisa sambil mencecerkan seluruh energi, atau dengan menghancurkan segala
yang ada dan tersisa sebagai satu pelajaran lalu mendirikan bentukan baru dari
ketiadaan total sebelumnya itu.

Dan hidup selalu memberikanku
pilihan yang terakhir.

Aku memang telah
habis. Seluruh badai itu membuatku menjadi renta. Seluruh badai itu membuatku
merasakan kelelahan yang sangat. Penat yang liat. Maka kamu pasti masih ingat bahwa
aku pernah mengatakan sudah tidak begitu perduli jika hidup benar-benar
menghabisiku. Tokh tak ada lagi yang perlu ditangisi. Bahkan kalau ada yang mau
mengambil pelajaran dari itu, ambil saja. Aku memang benar-benar sudah tidak
begitu perduli.

Jika kemudian aku
masih bertahan sampai sekarang, di sebuah tempat yang jauh dari masa laluku,
sungguh aku tidak tahu. Mungkin yang bisa aku katakan adalah aku tidak akan
sampai di sini tanpa seluruh kehancuran total itu.

Dan seluruh badai yang
menghancurkanku itu, bukan hanya menghantam segalanya, ia juga melemparkanku
jauh ke sebuah pantai yang tidak aku kenal. Pantai yang sepi, atau mungkin
pantai yang penuh hiruk-pikuk? Entahlah. Hingga saat ini, aku masih sulit
menjelaskan, pantai apakah ini.

Lalu aku belajar
merangkaki jarak. Lebih tepatnya merangkak agar menjauh dari jilatan ombak yang
bergulung dan menghempaskan buih di bibir pantai yang bercelemotan pasir ini. Jika
kamu bertanya padaku, adakah kesumatku kepada para pemicu badai itu? Ada. Lalu
adakah terima kasihku pada mereka? Ada. Untuk apa itu semua ada? Aku juga tidak
tahu, sama seperti ketika aku tersadar dalam proses merangkaki jarak, hingga
kemudian berada di rentangan waktu yang jauh. Dan dari sini, melihat jauh ke
sana, aku harus menyelipkan rasa kagum pada diriku sendiri: aku masih bernafas.

Tapi sesaat, nafas itu
nyaris terhenti. Mendadak aku merasa tengah tidak sendiri. Tiba-tiba aku merasakan
sesuatu tengah merambati diriku ini. Lalu samar-samar aku kembali mencoba
mengenali bentuk yang membuatku menuliskan semua ini.

Ternyata itu sebuah
perbincangan. Sebuah percakapan yang menggugurkan waktu yang telah lama membeku,
melemparkan bosan pada embun, membangkitkan pagi, menyisipkan kicau burung di
ranting dan jalanan sepi.

Sejenak aku berhenti
mengusung jenazah waktu. Sejenak aku berhenti dibekap sendu. Sejenak aku
merasakan sejenis kenyamanan kembali hadir, menggelegak. Sejenak aku menjadi
ringan, tanpa beban. Sejenak aku ingin selalu bersama kamu dan melakukan segalanya
bersama.

Sejenak aku juga
menyaksikan cerah hadir di cakrawala. Sejenak aku menikmati birunya angkasa.
Sejenak aku tersenyum menyaksikan deretan awan. Sejenak aku merasa hangat.
Sejenak aku ingin memeluk lalu membiarkan naluri purba membimbing kita.

Tapi aku tahu, diri
ini akan terus hidup dengan mengopeki luka. Lalu membiarkan orang lain ikut
menyaksikan, bahkan kalau perlu, mereka ikut membauinya. Diri ini akan terus
hidup dengan menyesapi dan menghayati duka lalu membiarkan orang lain membuat
penilaian mengapa mata ini memiliki cahayanya yang patah. Sekaligus di sisi
lain, diri ini akan terus hidup dengan buncahan gembira. Diri ini akan terus
hidup dengan bahan bakar tawa.

Dan hidupku ini sendiri
adalah jemalin dari dua rasa yang berbeda, serta satu sama lainnya selalu
muncul dengan tiba-tiba. Terus begitu.

Detik itu aku pun terlempar
dalam ruang pertanyaan berbau kecut: apakah kamu sudah yakin dengan diri yang
telah begitu berantakan ini? Kamu bisa menjawabnya dengan kata, mungkin. Sebab
hidup ini juga berisi kemungkinan, di luar dari sebuah kepastian. Kamu juga
bisa menjawabnya dengan kata, tidak. Sebab kata pengantar tentang hidupku telah
kamu baca. Atau
kamu juga bisa menjawabnya dengan anggukan. Sebab kamu hanya ingin berada di
sampingku, menemani jiwa yang sekarat dan tidak bisa merasakan lagi rasa ini.

Hingga akhirnya aku
bertemu dengan salah seorang sahabatku. Ia membagikan sebuah cerita padaku.

Suatu hari ia diajak
berkunjung ke rumah paman seorang sahabatnya. Di sana, ia berbincang dengan
tante dari sahabatnya itu. Dan percakapan itu berujung pada kisah cinta antara
tante dan paman sahabatku itu.

Sebagai istri, tante
dari sahabatnya dari sahabatku itu sangat mencintai suaminya. Meski sebenarnya
ia tahu, suaminya mirip dengan angin. Selalu datang atau pergi di saat ia
ingin. Bahkan Perempuan yang bijak itu tahu, sifat angin suaminya itu karena memiliki
sejarah luka yang dalam. Karenanya, ia sama sekali tidak mempermasalahkan sama
sekali apa yang tengah diperbuat suaminya di luar rumah mereka. Bahkan ia tahu
bahwa bagaimana perangai suaminya di luar sana.

Dan tibalah di satu
waktu, ia mendengar kabar bahwa suaminya tengah sekarat di sebuah kampung
nelayan. Liver yang dimiliki suaminya itu sudah begitu parahnya karena terlalu
banyak minum di warung remang-remang dan ditemani oleh pelacur jalanan. Perempuan
yang tegar itu pun mendatangi suaminya yang sangat dicintainya itu. Kebetulan
sahabatnya dari sahabatku itu menemani.

Tanpa sengaja, ia
mendengar percakapan sebelum pamannya itu meninggal dunia.

“Bunda, maafkan aku,
ya… Selama ini hanya merepotkan saja”.

“Tidak. Ayah sama
sekali tidak merepotkan Bunda. Ayah hanya terluka seperti orang lain yang
terluka. Dan ayah sembuh seperti orang lain yang sembuh”.

“Terima kasih, Bunda.
Kini aku memiliki keyakinan penuh untuk pergi seperti orang lain yang juga akan
pergi. Dan selama hidupku ini, aku tahu bahwa tidak ada alasan lagi bagiku
untuk tidak mencintaimu selamanya. Ceritakan pada anak-anak kita bagaimana cintamu
itu padaku. Juga perangaiku padamu, agar mereka tahu bagaimana caranya
menghargai Cinta dan tidak sembarangan hingga membuat orang lain terluka”.

Sorenya, upacara pemakaman khas di kampung nelayan itu berlangsung: sesosok mayat  tertutup kain  berwarna merah mengapung menuju laut. Gerimis menemani ombak yang mengusung jenazah bersama lafal cahaya senja.

Mendengar hal itu,
hatiku berdesir, terasa perih. Aku, tentu saja tidak ingin mengalami kejadian
seperti itu. Tentu kamu juga tidak menginginkannya. Aku pikir, itu sesuatu yang
sangat menyedihkan. Tapi, hatiku yang perih mendengarnya, membayangkan hal
seperti itu bisa menimpaku. Karenanya, dari awal aku bilang, aku justru harus
berani menghadapi seluruh peristiwa yang telah lewat, dan bukan menghindarinya.
Kenangan tidak bisa dihilangkan. Kenangan hanya bisa dihadapi atau diperam
dengan resiko membusuk di dalam. Aku menghadapinya. Menghadapinya.
Menghadapinya. Meski aku memiliki potensi besar, serupa dengan almarhum paman
sahabatnya dari sahabatku itu.

Mmm… kamu yakin mau jadi pacarku?


~ Bojonggede, 12 Oktober 2007. Untuk WIta ~



4 Comments so far

  1.    AnJeLLY on October 14th, 2007

    :)

  2.    AnJeLLY on October 14th, 2007

    AKu ingin sekali melihat kamu Bangkit kembali…
    Raihlah Cintamu itu…!
    jangan pernah ragu jika kamu ingin memiliki Dan jangan pernah takut di cintai..! :)
    Liebe
    Met Hari Raya idiul fitri
    Mohon Maaf Lahir Batin

  3.    always ratna on October 17th, 2007

    Betul! Marilah merasa terhormat karena pernah terhantam oleh badai yang begitu sempurna, dan tentu saja, karena tahu menghargai cinta!

    Anyway, very nice shout out up there!

  4.    phEea on November 18th, 2007

    kau tEgaR mnuRut q..
    beRbEda dEngan niRi q yG Rapuh ini…
    haL yanG sama dEnGan mu mungkin tLah q aLami puLa..
    tPi q hanya bSa mErataP dan mEnangis…
    KENANGAN?!!
    mEmang tak munGkin tuk di Lupa..
    mSki itu paHit sEkaLipun..
    aQ jatuH oLeh smua yG pErnah mEnghantam q..
    sEjanak Q juGa mErasakan kBahagiaan,mErasa paGi hRi cErah tErsenyum mngHampiRi Q..kRn kEhadiRan sEseoRang yG aQ sayangi..
    tPii….
    sudaLah..
    dya pun tRnyata juGa mnyakiti Q….
    SAKIT!!
    n membuat Q RapuH..

Leave a Reply