Archive for October, 2007

Ini Semua Tentang Kamu Dan Untuk Kamu

Ada wajah bening dalam dekapan waktu yang hening. Wahai kamu…sedang mimpi indah atau burukkah? Teruslah melakoninya, meski suatu waktu nanti kamu baru menyadari lalu mengatakan: ‘betapa sempurnanya hidupku!’ Atau saat kamu tersadar lalu sedikit mengumpat: ‘sialan, betapa kacaunya diriku!’. Ingatlah, mimpi memang nyaris serupa dengan harapan, sementara harapan adalah penjaga agar manusia tetap hidup.

Mungkin nanti kamu akan merasa dingin. Tapi pada saat yang sama, sejenis rusuh yang liar bersemayam dalam dirimu. Kamu jangan bingung: namanya resah. Ia pasti akan terus mendesah. Awalnya perlahan, kencang, lalu mendadak akan sangat mengganggumu dengan jeritan histerianya.

Kamu jangan takut. Dekati ia, sapa ia, peluk ia, akrablah dengannya, meski pada akhirnya nanti, sekitarmu marah. Tenang saja dan jangan hiraukan mereka yang tidak tahu sama sekali bahwa kamu telah bertemu dengan bahan bakar dari harapan: gelora.

Tokh nanti mereka juga yang akan kembali mencarimu, mendatangimu. Katakan saja, ‘biarkan aku yang mencari tim terbaikku, bayarlah aku setimpal dengan kemampuanku’.

Lalu kamu menjelma seperti seorang musisi yang handal. Memilih komposisi nada terbaik, memilih musisi terbaik lain untuk memainkan musik dari karyamu, memilih studio dan alat musik terbaik, memilih perusahaan rekaman terbaik, memilih sutradara video klip terbaik, dan terakhir, memilih film terbaik yang ingin menggunakan karyamu sebagai soundtrack mereka.

Kamu menghargai penggemar dan para pencari berita, lebih dari musisi manapun di dunia ini.

Kamu tahu bagaimana harus mengelak dari setiap kabar miring atas dirimu, dan dengan cerdas menanggapi komentar nyinyir pihak-pihak yang iri padamu. Dan pada akhirnya, kamu pun membuat gentar mereka saat mendengar jawabanmu. Hingga satu-persatu mereka tertunduk bahkan meminta maaf lalu berusaha jujur padamu.

“Komposisimu benar-benar menakjubkan”.

“Pilihan nada yang cerdas”.

“Kelompok berisi musisi tersolid dan pas”.

“Aset berharga”.

Dan kamu tetap dingin menanggapinya. Kamu serta timmu memang harus dingin saja saat menanggapinya: pujian itu seperti pedang bermata dua. Mata pedang pertama akan menusukmu dengan kenikmatan atas pujian itu. Tapi mata pedang kedua, akan merobek-robek seluruh tubuhmu.

Kamu juga tahu persis bagaimana harus berbicara kepada timmu. Memompa kembali semangat kreatif mereka, meski pada akhirnya, kamu adalah orang yang berdiri paling pinggir di sisi panggung saat pementasanmu berlangsung.

Dan ketika pertunjukan usai, tepuk tangan meriah hadir, kepuasan itu teraih, kamu justru yang paling sibuk memuji kehebatan tim dan mereka yang iri padamu.

Ketika para pencari berita menghampirimu, kamu pun menghindar untuk berbicara panjang lebar dan hanya mengatakan, ‘aku hanya musisi yang bergantung sepenuhnya pada tim dan juga kritik dari pihak lain’.

Kamu tahu cara terbaik untuk merayakan kesuksesan. Kamu sangat tahu. Kamu memang dianugerahi sifat kepemimpinan klasik dan kasih sayang khas untuk mengayomi: selalu semangat dan terdepan dalam menghadapi segala hempasan dan yang paling terakhir kali menikmati kemenangan.

Lalu akan semakin banyak orang yang menghampirimu. Lagi-lagi kamu mengatakan, ‘semua ini adalah kerjasama: peradaban manusia adalah saksi nyata bahwa tanpa itu semua, umat manusia pasti telah lama musnah’.

Kamu memang tidak sembarangan memberikan karyamu. Kamu berani menggeleng untuk proyek-proyek kolaborasi yang tidak jelas. Tapi kamu sekaligus juga mau memberikan kepada mereka-mereka yang datang dan meminta dengan tulus karyamu: kamu hanya mengukur dengan apa yang hatimu katakan saat mereka mengucapkannya.

Kamu diakui dan disegani kritikus juga perusahaan tempat karyamu diproduksi. Dan kamu hanya selalu menjawab, ‘aku hanya berkarya dan bukan mencipta’.

Lalu kamu mengambil hak kerjamu dengan penuh. Tapi kamu selalu tahu: kamu tidak terlalu membutuhkan banyak uang dalam hidup ini. Kamu membagikannya pada anggota tim yang lebih membutuhkan. Mereka yang memutuskan untuk lebih dahulu berkeluarga dan harus menghidupi anak mereka. Kamu sungguh tahu persis bahwa uang dan ketenaran adalah perangkap jitu untuk menghancurkan hidupmu. Kamu sangat menyadari hal itu. Lalu kamu akan berkemas-kemas, pergi berlibur, menyembuhkan kenangan-kenangan burukmu.

Kamu menghabiskan sebagian waktumu di panti-panti jompo, bercengkrama dengan anak-anak yatim piatu, sambil membagikan rejekimu, membuat mereka semua senang. Hei, masih selalu ada nasib baik di hidup ini. Hei, jangan pernah menghancurkan harapan orang lain, sebab, jangan-jangan, hanya itu satu-satunya hal penting yang mereka miliki!

Kamu menghindari forum-forum besar, sebab kamu tahu persis: di sana banyak orang menepuk dada, dan banyak orang yang terlalu sering bicara dengan sedikitnya karya mereka. Kamu menghindari orang-orang yang gampang marah, cerewet, dan orang-orang oportunis.

Kamu memang bukan pahlawan, tapi kamu orang yang mandiri. Kamu juga bukan orang hebat, tapi kamu tahu persis bagaimana agar selalu bisa belajar dari kesalahan di masa lalu. Kamu tahu bahwa dunia ini kacau dan sakit. Tapi kamu tidak boleh untuk tidak memiliki harapan. Kamu tidak boleh untuk tidak memiliki gelora. Kamu tahu bahwa kehadiranmu di dunia ini juga sebuah tuntutan agar bertanggungjawab pada peradaban dan hidupmu.

Kamu memang cukup malas untuk mengerjakan hal-hal besar, tapi kamu selalu yakin, akan tetap ada hubungan yang erat antara kerja-kerja kecil dengan perubahan-perubahan besar. Kamu perduli. Kamu perduli. Kamu perduli.

Kamu menghormati orang yang lebih tua, menyayangi mereka yang jauh dibawah usiamu, dan senantiasa melemparkan senyum, mengulurkan tangan kepada teman-teman sebaya. Kamu mendatangi orang-orang yang sibuk bercumbu dengan kebersahajaan kepada tanah atau juga samudera mereka. Ikut menundukkan kepala kepada dewa-dewa yang mereka hormati, ikut memuja nama-nama leluhur mereka, menghargai kearifan mereka.

Kamu memang belum memiliki jawaban final tentang Tuhan dan agama. Tapi kamu sungguh mengerti bahwa pada tubuh agama-agama itu, ada banyak nilai bijak yang dikandung, sekaligus tahu, ada sejarah buruk menyangkut dosa-dosa berbagai agama. Tapi kamu butuh nilai, keyakinan, dan akhirnya kamu mengangkat tinggi-tinggi kemanusiaan sebagai agamamu. Kamu menghargai orang yang tidak punya agama dan tidak punya Tuhan. Tapi kamu menjadi bagian dari orang-orang yang menentang musuh-musuh kemanusiaan.

Sesekali kamu meracuni tubuhmu dengan alkohol, sekedar mengusir kenyataan-kenyataan buruk bahwa dunia ini memang tidak baik-baik saja. Tapi kamu membenci setengah mati para pengedar obat. Kamu merokok dengan baik dan fasih, tapi tidak suka pada orang-orang yang sembarangan merokok, dan tidak suka pada orang-orang yang tidak menghargai orang-orang yang tidak merokok.

Kamu tahu kapan saat yang tepat untuk mengeluarkan racun-racun dalam tubuhmu. Sekaligus juga kamu tahu, kapan saat yang tepat menimbun racun dalam tubuhmu.

Kamu benci setengah mati pada orang-orang yang berteriak anti pembajakan. Sebab mereka yang berteriak itu tidak tahu bahwa dirinya telah dijadikan agen bagi agenda-agenda ekonomi para pencuri kelas wahid. Mereka seharusnya berpikir lebih keras lagi dan lebih berhati-hati.

Lalu kamu tersenyum geli saat melewati lapak-lapak penjual kepingan cakram bajakan yang memutar karyamu. Kamu malah tersenyum ramah saat para penjual keping cakram, yang mendadak wajah mereka berubah ketakutan, mengenalimu. Kamu menghampiri salah satu dari mereka, menyalami, lalu bertanya tentang kabar keluarga mereka.

Kamu tahu persis bahwa mereka mesti menjadi penjual keping cakram bajakan karena ada anak dan istri yang saat ini bergantung pada mereka. Kamu juga tahu, sebenarnya mereka juga tidak pernah menginginkan pekerjaan itu, jika lapangan kerja yang layak untuk mereka tersedia. Kamu memang tahu betul bahwa mereka sudah berusaha dengan keras untuk menyabung hidup dengan penuh kelayakan.

Sebagai gantinya, kamu hanya meminta kepada mereka untuk membelikanmu segelas kopi dan sebungkus rokok saja. Dan kamu juga meminta mereka agar mengijinkanmu duduk di salah satu sudut, sambil memperhatikan para pembeli yang berseliweran.

Kamu ingat pernah tersenyum penuh haru atas ucapan sahabatmu, “Kalau ada standar untuk orang hidup di tingkat minimal, harusnya ada pembatasan kekayaan orang. Kemampuan dunia ini terbatas, dan seharusnya ada pengetatan atas distribusi kekayaan.”

Kamu bukannya antikemapanan, kamu hanya ingin agar semua orang hidup mapan.

Tak lama kamu pamit dari lapak-lapak tersebut, sambil tak lupa membubuhkan tanda tangan besar-besar di tiap dinding lapak mereka, bahkan berfoto. Lalu berharap, dengan itu semua, akan datang lebih banyak lagi para pembeli ke lapak mereka.

Kamu pun pergi ke sebuah pantai dan teringat bahwa nenek moyangmu adalah orang laut. Tapi kamu juga tahu bahwa nenek lainnya lagi seorang petani. Mendadak, ikan bakar yang kamu pesan telah masak. Kini sajian yang menggugah selera itu telah terhidang di hadapanmu. Kamu teringat ibumu.

Perempuan itu pernah mengajari sambil berkata tulus kepadamu, “Ingat, bulir-bulir itu dihasilkan dari keringat berbulan-bulan. Ingat, banyak orang yang masih belum cukup makan hari ini. Ambillah secukupnya.”

Kamu sedari kecil diajari untuk tidak hidup berlebihan. Kamu sedari kecil diajari: ‘ketika kamu mulai berlebihan, berarti ada hak orang lain yang kamu ambil’.

Tapi pada titik tertentu, ketika memang jalan damai tidak bisa ditempuh, ketika kontradiksi tidak bisa didamaikan lagi, kamu menyepakati perampokan bank, pembajakan kapal pesiar, perampokan keluarga kaya, dan hasilnya disebarkan bagi banyak orang. Kamu menatap kagum ‘bayang tak berwajah’, langkah-langkah kuda yang memasuki kota saat musim dingin masih membalut erat, kokangan senjata, dan teriakan yang pecah di pagi buta, ‘apa kabar, revolusi?’.

Sementara di sisi lain, kamu selalu ngakak saat ada yang berteriak-teriak bahkan mengajakmu untuk melakukan revolusi. Bukan itu saja, kamu juga meledek mereka habis-habisan sambil mengatakan: ‘kalian menawarkan revolusi atau  repot nasi?’. Kamu bukan membenci teriakan mereka. Bukan juga tidak perduli pada ajakan mereka. Kamu hanya menginginkan sebuah formula perubahan yang tidak menuntut adanya martir dari mereka yang telah berteriak-teriak itu. Kamu hanya ingin sebuah perubahan yang sangat matang, sistematis, ampuh sekaligus mematikan.

Tanpa sengaja kamu menemukan formula awalnya, ‘jika musuh bersama itu diibaratkan sebagai bola salju yang tengah menggelinding dari puncak gunung, maka jangan pernah melawannya dengan berdiri di hadapan bola yang tengah menggelinding itu: sama saja mati dengan konyol. Lompat dari samping, lalu menempellah pada badan dari bola salju itu. Kemudian kamu buangi salju-salju itu. Sedikit demi sedikit. Sedikit demi sedikit. Sedikit demi sedikit. Jangan lupa ajak kawan-kawanmu untuk turut serta. Bayangkan hasil akhirnya jika semua manusia melakukannya!’. Tapi, kamu juga jangan lupa untuk bersenang-senang saat tengah melakukannya.

Akhirnya suatu hari nanti kamu akan cukup berani untuk berkata pada orang-orang di seberang meja, “Mengapa kamu memberikan aku imbalan yang sangat besar atas kerjaku yang sederhana ini? Sementara aku tahu orang-orang di sekitarmu kamu peras keringat dan pikirannya, kamu lucuti mental hidupnya. Ambil kembali uang sialanmu ini!.”

Dan kamu melenggang pergi meninggalkan meja perjanjian penuh kompromi itu. Menolak seluruh tawaran. Menolak tanpa syarat dan tanpa penyesalan. Membiarkan mereka ternganga penuh tanya.

Tentu saja kamu bukan orang yang benar-benar baik. Tidak dan tidak akan pernah. Tapi setidaknya, kamu bukan penjahat kemanusiaan. Dan kamu tetap bergulingan membayar harga keresahanmu.

Tidak bisa bangkit dari tempat tidur selama berhari-hari ketika ada berita-berita sedih yang bergelimpangan di surat kabar dan televisi. Menangis keras. Menangis kejang. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu marah. Kamu marah sekali.

Kamu tahu bahaya media massa, tapi kamu sangat tahu keampuhan mereka untuk membantu perubahan. Kamu selalu mengerang pada rekan-rekanmu yang bekerja di sana: ‘ayo, ayo…kabarkan keburukan yang terjadi agar semakin banyak mata terbuka…’

Setiap hari ada orang yang dibunuh dengan pelan. Setiap hari selalu saja ada orang yang mati karena tidak bisa makan, setiap saat senantiasa ada orang yang ditikam ketidakadilan. Kamu terdiam. Luka pada kenanganmu membengkak. Kamu terjatuh.

Kamu terbangun dengan sisa airmata. Diam. Dan lagi-lagi sayang sekali, kamu hanya orang kecil, hanya orang biasa. Kamu membuka jendela kamarmu, serombongan bocah berseragam sekolah melintas, bernyanyi ramai sekali. Duh, mereka…bagaimana kamu mempertanggungjawabkan umurmu yang lebih dulu dikokang dan dilesatkan?

Kamu dingin. Kamu rusuh. Kamu dingin. Kamu rusuh. Kamu dingin. Kamu rusuh. Kamu dingin. Kamu Kamu rusuh. Kamu dingin. Kamu rusuh. Kamu pergi. Kamu senantiasa pergi. Kamu butuh istirahat. Kamu butuh menyembuhkan luka. Kamu butuh sedikit bahagia.

Hei, kamu itu baik-baik saja. Kamu harus terus punya gelora. Harus terus punya harapan. Harus terus hidup. Harus.

Kamu jangan merasa sebagai satu-satunya orang yang menderita. Jangan berlebihan. Juga dalam menyikapi penderitaan. Selalu ada usaha-usaha dan kerja-kerja kecil yang bisa dilakukan. Kamu hanya butuh sedikit membuka telinga dan mata. Lihat, lihatlah…masih banyak orang yang bekerja dengan tulus. Masih banyak orang yang bekerja dengan tulus. Masih banyak orang yang saling berbagi kebahagiaan dan harapan. Ikut, yuk

Tapi cuci culu mukamu, biar lebih segar. Cuci dulu lukamu, biar tak ada kuman. Cuci dulu harapanmu, biar tidak hanya ada rusuh.

Kini buatlah daftar orang-orang yang kamu kagumi. Orang-orang yang sederhana dan selalu setia pada cita-cita mereka. Jangan lupa, mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Kamu tentu masih ingat kata-kata bijak yang tertulis di tembok kontrakan salah seorang sahabatmu, tepat di samping komputernya. Kalimat dengan huruf yang sangat kecil, tapi kamu bisa memandang dan membacanya setiap tengah mengunjunginya. Sebuah kalimat yang berbunyi: ‘Di atas seluruh kesempurnaan hanya ada sikap sederhana dan rendah hati’.

Lalu segera buat daftar nama orang yang harus kamu hindari jauh-jauh. Nama-nama kaum pecundang! Kamu tahu ciri utama mereka, bukan? Ya, yang seperti selalu dikatakan oleh sahabatmu. Ciri utama seorang pecundang adalah, mereka senantiasa memiliki jawaban negatif dan nyinyir untuk segala hal!

Lihatlah lagi wajah bening dalam dekapan waktu yang hening itu. Aku menyentuhkan jemariku pelan. Pelan sekali… Menyaksikan wajah yang tenang dan tersenyum senang itu. Hidupmu hampir sempurna. Hampir! Karena memang tidak pernah ada hidup yang sempurna, atau mari bermain kata-kata, justru karena tidak sempurna itulah, kamu sempurna sebagai manusia.

Kamu masih akan tetap resah, masih tetap ada rusuh. Dan kamu juga punya masalah besar dalam hidupmu: mencari teman hidup! Di sanalah kamu sangat bermasalah. Tidak ada seseorang yang kamu bangunkan di setiap dari pagi hari…

Aku memperhatikan baik-baik wajah yang mulai bereaksi dan tubuh yang mulai menggeliat. Ketika ia akhirnya benar-benar terbangun, aku mengedarkan pandang pada seluruh isi kamarku.

Ya, aku memang sedang memimpikan diriku sendiri, merenungkan diriku sendiri, menceritakan diriku sendiri, yang tidak lain adalah dirimu!

~ Tebet, 29 Oktober 2007 ~

Tanda Cinta Yang Keras Kepala

Aku tuliskan ini semua
pada saat pagi masih sangat muda. Hei kamu yang tiba-tiba ingin menjenguk
hatiku…sedang resah ataukah tengah menangis?

Duh… memikirkan kamu
di sana sedang terbelit seluruh gundah yang gusar itu, menjadikanku tidak
berdaya. Tapi di sisi lain, aku meyakini potensi yang berbeda: di sana, kamu
tengah terlelap dibawa arus mimpi yang indah.

Maka inilah aku,
lelaki yang selalu terjerembab dalam dua sisi yang selalu menyatu itu. Akulah
lelaki yang selalu terlibat dalam pertengkaran antara dingin dan hangatnya hati
serta logikaku. Akulah lelaki yang selalu berada di antara itu. Dan mungkin kamu
akan menyimpulkanku sebagai peragu.

Mungkin itu memang
aku…

Dan ini semua karena
sejarah masa laluku. Ini semua karena badai-badai yang pernah melibas
segalanya. Ini semua karena badai-badai yang tak lelahnya menghisapku dalam
matanya lalu memenjarakanku. Ini semua karena seluruh badai yang akhirnya
melepaskan lalu menjadikanku sangat kacau-balau saat menyaksikan seluruh
logikaku yang telah terbangun porak-poranda dan berakhir pada jiwa juga hatiku yang
ikut-ikutan berantakan.

Lalu badaiku yang
terakhir itu, akhirnya menggenapi seluruh kehancuranku, serupa tsunami yang menghisap
kencang bibir pantai kemudian melahap rakus para penghuninya.

Tapi di titik yang
sama, aku sekaligus juga merasa terhormat karena pernah terhantam oleh badai
yang begitu sempurna itu.

Aku memang memegang
sebuah teori kebangkitan: di saat semuanya telah berakhir, hanya ada dua cara untuk
berdiri kembali. Kamu membangunnya sedikit demi sedikit dari bahan yang ada dan
tersisa sambil mencecerkan seluruh energi, atau dengan menghancurkan segala
yang ada dan tersisa sebagai satu pelajaran lalu mendirikan bentukan baru dari
ketiadaan total sebelumnya itu.

Dan hidup selalu memberikanku
pilihan yang terakhir.

Aku memang telah
habis. Seluruh badai itu membuatku menjadi renta. Seluruh badai itu membuatku
merasakan kelelahan yang sangat. Penat yang liat. Maka kamu pasti masih ingat bahwa
aku pernah mengatakan sudah tidak begitu perduli jika hidup benar-benar
menghabisiku. Tokh tak ada lagi yang perlu ditangisi. Bahkan kalau ada yang mau
mengambil pelajaran dari itu, ambil saja. Aku memang benar-benar sudah tidak
begitu perduli.

Jika kemudian aku
masih bertahan sampai sekarang, di sebuah tempat yang jauh dari masa laluku,
sungguh aku tidak tahu. Mungkin yang bisa aku katakan adalah aku tidak akan
sampai di sini tanpa seluruh kehancuran total itu.

Dan seluruh badai yang
menghancurkanku itu, bukan hanya menghantam segalanya, ia juga melemparkanku
jauh ke sebuah pantai yang tidak aku kenal. Pantai yang sepi, atau mungkin
pantai yang penuh hiruk-pikuk? Entahlah. Hingga saat ini, aku masih sulit
menjelaskan, pantai apakah ini.

Lalu aku belajar
merangkaki jarak. Lebih tepatnya merangkak agar menjauh dari jilatan ombak yang
bergulung dan menghempaskan buih di bibir pantai yang bercelemotan pasir ini. Jika
kamu bertanya padaku, adakah kesumatku kepada para pemicu badai itu? Ada. Lalu
adakah terima kasihku pada mereka? Ada. Untuk apa itu semua ada? Aku juga tidak
tahu, sama seperti ketika aku tersadar dalam proses merangkaki jarak, hingga
kemudian berada di rentangan waktu yang jauh. Dan dari sini, melihat jauh ke
sana, aku harus menyelipkan rasa kagum pada diriku sendiri: aku masih bernafas.

Tapi sesaat, nafas itu
nyaris terhenti. Mendadak aku merasa tengah tidak sendiri. Tiba-tiba aku merasakan
sesuatu tengah merambati diriku ini. Lalu samar-samar aku kembali mencoba
mengenali bentuk yang membuatku menuliskan semua ini.

Ternyata itu sebuah
perbincangan. Sebuah percakapan yang menggugurkan waktu yang telah lama membeku,
melemparkan bosan pada embun, membangkitkan pagi, menyisipkan kicau burung di
ranting dan jalanan sepi.

Sejenak aku berhenti
mengusung jenazah waktu. Sejenak aku berhenti dibekap sendu. Sejenak aku
merasakan sejenis kenyamanan kembali hadir, menggelegak. Sejenak aku menjadi
ringan, tanpa beban. Sejenak aku ingin selalu bersama kamu dan melakukan segalanya
bersama.

Sejenak aku juga
menyaksikan cerah hadir di cakrawala. Sejenak aku menikmati birunya angkasa.
Sejenak aku tersenyum menyaksikan deretan awan. Sejenak aku merasa hangat.
Sejenak aku ingin memeluk lalu membiarkan naluri purba membimbing kita.

Tapi aku tahu, diri
ini akan terus hidup dengan mengopeki luka. Lalu membiarkan orang lain ikut
menyaksikan, bahkan kalau perlu, mereka ikut membauinya. Diri ini akan terus
hidup dengan menyesapi dan menghayati duka lalu membiarkan orang lain membuat
penilaian mengapa mata ini memiliki cahayanya yang patah. Sekaligus di sisi
lain, diri ini akan terus hidup dengan buncahan gembira. Diri ini akan terus
hidup dengan bahan bakar tawa.

Dan hidupku ini sendiri
adalah jemalin dari dua rasa yang berbeda, serta satu sama lainnya selalu
muncul dengan tiba-tiba. Terus begitu.

Detik itu aku pun terlempar
dalam ruang pertanyaan berbau kecut: apakah kamu sudah yakin dengan diri yang
telah begitu berantakan ini? Kamu bisa menjawabnya dengan kata, mungkin. Sebab
hidup ini juga berisi kemungkinan, di luar dari sebuah kepastian. Kamu juga
bisa menjawabnya dengan kata, tidak. Sebab kata pengantar tentang hidupku telah
kamu baca. Atau
kamu juga bisa menjawabnya dengan anggukan. Sebab kamu hanya ingin berada di
sampingku, menemani jiwa yang sekarat dan tidak bisa merasakan lagi rasa ini.

Hingga akhirnya aku
bertemu dengan salah seorang sahabatku. Ia membagikan sebuah cerita padaku.

Suatu hari ia diajak
berkunjung ke rumah paman seorang sahabatnya. Di sana, ia berbincang dengan
tante dari sahabatnya itu. Dan percakapan itu berujung pada kisah cinta antara
tante dan paman sahabatku itu.

Sebagai istri, tante
dari sahabatnya dari sahabatku itu sangat mencintai suaminya. Meski sebenarnya
ia tahu, suaminya mirip dengan angin. Selalu datang atau pergi di saat ia
ingin. Bahkan Perempuan yang bijak itu tahu, sifat angin suaminya itu karena memiliki
sejarah luka yang dalam. Karenanya, ia sama sekali tidak mempermasalahkan sama
sekali apa yang tengah diperbuat suaminya di luar rumah mereka. Bahkan ia tahu
bahwa bagaimana perangai suaminya di luar sana.

Dan tibalah di satu
waktu, ia mendengar kabar bahwa suaminya tengah sekarat di sebuah kampung
nelayan. Liver yang dimiliki suaminya itu sudah begitu parahnya karena terlalu
banyak minum di warung remang-remang dan ditemani oleh pelacur jalanan. Perempuan
yang tegar itu pun mendatangi suaminya yang sangat dicintainya itu. Kebetulan
sahabatnya dari sahabatku itu menemani.

Tanpa sengaja, ia
mendengar percakapan sebelum pamannya itu meninggal dunia.

“Bunda, maafkan aku,
ya… Selama ini hanya merepotkan saja”.

“Tidak. Ayah sama
sekali tidak merepotkan Bunda. Ayah hanya terluka seperti orang lain yang
terluka. Dan ayah sembuh seperti orang lain yang sembuh”.

“Terima kasih, Bunda.
Kini aku memiliki keyakinan penuh untuk pergi seperti orang lain yang juga akan
pergi. Dan selama hidupku ini, aku tahu bahwa tidak ada alasan lagi bagiku
untuk tidak mencintaimu selamanya. Ceritakan pada anak-anak kita bagaimana cintamu
itu padaku. Juga perangaiku padamu, agar mereka tahu bagaimana caranya
menghargai Cinta dan tidak sembarangan hingga membuat orang lain terluka”.

Sorenya, upacara pemakaman khas di kampung nelayan itu berlangsung: sesosok mayat  tertutup kain  berwarna merah mengapung menuju laut. Gerimis menemani ombak yang mengusung jenazah bersama lafal cahaya senja.

Mendengar hal itu,
hatiku berdesir, terasa perih. Aku, tentu saja tidak ingin mengalami kejadian
seperti itu. Tentu kamu juga tidak menginginkannya. Aku pikir, itu sesuatu yang
sangat menyedihkan. Tapi, hatiku yang perih mendengarnya, membayangkan hal
seperti itu bisa menimpaku. Karenanya, dari awal aku bilang, aku justru harus
berani menghadapi seluruh peristiwa yang telah lewat, dan bukan menghindarinya.
Kenangan tidak bisa dihilangkan. Kenangan hanya bisa dihadapi atau diperam
dengan resiko membusuk di dalam. Aku menghadapinya. Menghadapinya.
Menghadapinya. Meski aku memiliki potensi besar, serupa dengan almarhum paman
sahabatnya dari sahabatku itu.

Mmm… kamu yakin mau jadi pacarku?


~ Bojonggede, 12 Oktober 2007. Untuk WIta ~