Jerit Sunyi (Part VI:’Mereka Tahu Diri Mereka Cantik!’)

       Akhirnya, aku merasa butuh orang untuk membagikan cerita tentang penderitaanku itu. Lalu aku menceritakan kepada beberapa sahabat yang memang sangat aku percaya. Ternyata respons mereka terkesan aneh bagiku. Semua sahabat yang kuberitahu tentang kisahku mengatakan bahwa sebetulnya Perempuan-perempuan masa laluku itu mau agar aku bekerja lebih keras lagi untuk menunjukkan perasaanku pada mereka. Perempuan-perempuan itu ingin bermain-main proses denganku. Mereka ingin menguji sejauh mana aku serius untuk menjalin sebuah hubungan. Selain itu, mereka juga menyatakan bahwa itu adalah ciri dari seorang Perempuan yang tahu dirinya cantik. Perempuan yang sangat percaya diri dengan kecantikannya. Perempuan yang tahu bahwa ada laki-laki yang harus menekuk lutut di hadapannya, kalau perlu menyorongkan atau melurukkan tubuh ke tanah ketika sedang berhadapan.

       Tentu saja aku terheran-heran dengan komentar mereka. Semua itu tidak pernah terpikirkan olehku. Aku lantas berpikir keras tentang hal itu. Lalu aku membuat kesimpulan bahwa apa yang dikatakan oleh para sahabatku itu benar. Jika seperti itu, tentu akan memakan banyak energiku. Dan bukan hanya itu, kalau pun tokh nantinya aku berhasil menjalin hubungan dengan Perempuan-perempuan itu, tentu tidak akan menjadi hubungan yang baik. Hal seperti itu hanya akan menambah kesia-siaan dalam hidupku, hanya menambah panjang daftar lelahku. Detik itu juga, aku memutuskan untuk tidak pernah menghubungi mereka lagi. Tidak pernah menganggap eksistensi mereka lagi. Tidak! Bahkan saat aku, misalnya, bertemu dengan salah satu dari mereka di pinggir jalan. Mereka sudah menjadi asing yang jauh bagiku. Dan mereka memang pantas mendapat perlakuan itu dariku. Sungguh!



No Comment

No comments yet

Leave a Reply