Jerit Sunyi (Part V)
Tanpa sengaja, sore itu aku kembali mengunjungi tangga di taman tempat berkumpulnya para seniman. Sesaat, aku tersenyum kecut menyaksikan empat undakannya. Mendadak satu kilat kecil menyambar. Membawaku pada sebuah pintu di masa lalu: momen sederhana saat tangisku benar-benar tumpah di hadapanmu. Pada sebuah sore. Pada suatu waktu…
Di salah satu anak tangganya itu, kamu pernah meminta satu hal dariku: membuka seluruh pintu hatiku yang hanya terbuka sedikit saja. Aku menggeleng. Dan diam-diam aku membatin: ‘Ah… intip ke dalamnya saja, sayangku… tatap seluruh hal yang bisa kamu lihat, meski melalui pintu yang hanya terbuka sedikit itu…’
Kamu menggeleng lebih keras. Kamu ingin segalanya terbuka lebar. Ngablak. Kamu hendak jadikan itu sebagai sebuah ukuran kepastian. Tentu saja aku menggeleng lebih keras. Lalu saat itu juga kamu mengancam akan meninggalkan aku jika kemudian tidak mengabulkan permintaanmu.
Sekejap saja aku tahu, sore itu aku mesti memperlihatkan seluruh luka berbalur duka. Senja itu, aku mesti membuka segalanya dalam sebuah pertemuan yang terasa sangat menentukan: aku mesti membuka kotak penuh debu dan biasa aku ziarahi sendirian, pada seseorang di luar diriku sendiri.
Dan segalanya aku mulai dari kisah kelamku sebagai produk pengkhianatan: keluargaku sendiri, sahabat bahkan perempuan yang kini aku sebut ‘terkalahkan’ dan sudah jadi masa laluku itu. Kamu pasti masih ingat dengan lengkap ceritaku itu, bukan?
Lalu aku pun menangis. Bukan. Bukan karena getirnya sejarah hidupku sendiri, tapi traumaku: tiap kali aku membuka semuanya, mereka yang telah aku ceritakan bernjak pergi. Semuanya berakhir tanpa meninggalkan satupun alasan yang jelas.
Tapi kemudian, kamu membimbingku dalam pelukanmu. Kamu membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kamu menegaskan tidak akan meninggalkanku. Apapun yang terjadi, kamu akan merawat kenangan buram dari potret masa silamku. Kamu bersumpah, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan telah diperbuat oleh mereka yang kini jadi masa laluku itu.
Duh… tangisku pun mereda. Kamu tahu, diam-diam kamu telah mampu menghisap habis anyir luka melalui kata yang kamu ucapkan itu. Kamu menguatkan sesuatu yang sebenarnya rapuh di balik dadaku. Dan aku berjanji akan membuka hatiku untukmu. Aku pun bersumpah akan membagi semuanya padamu. Tidak seperti sebelum-sebelumnya.
Lalu Kamu tersenyum. ‘Kita’, tepatnya. Aku pun melamarmu…
Dan, seperti yang selama ini kerap terjadi, aku kembali terhantam sepi. Kembali terluka. Kembali bersimbah luka. Sendiri. Di sini, aku hanya mampu sampaikan ini: kamu memang tega sekali…
—
Saat masih terperangkap dalam mata sebuah badai, 2006.