Jerit Sunyi (Part VII: Sebuah Awal Dari Satu Akhir)
Mendadak, telepon
genggamku berdering. Pada detik ketika aku melihat nomer yang ada di layar, di
kepalaku hanya ada hening.
Aku kenal nomer itu.
Aku masih hapal nomer itu! Tapi, dari mana ia bisa menemukan nomerku? Bukankah
nomer baruku hanya diketahui oleh segelintir orang-orang yang memang aku kenal
saja? Segelintir orang yang memang sengaja aku pilih, untuk aku simpan dalam
memori telepon genggamku. Memang sih, seorang Perempuan dari masa laluku
juga tahu nomerku, yang pada akhirnya aku tahu, bahwa aku harus menyesal telah
memberikan nomerku itu padanya. Tapi aku tidak mungkin mencurigainya. Dia tidak
punya hubungan apapun dengan Perempuan yang tengah meneleponku ini. Bahkan
mengenalnya pun tidak.
Pelan aku mengangkat
telepon, memencet tombol, dan berkata, “Halo…”
Di seberang tidak
ada suara. Tapi jelas bahwa ada tarikan napas lembut, panjang, seseorang yang
mencoba tenang. Diam masih berlangsung dalam sesaat.
“Halo…”
“Hai…” Suara di
seberang. Suara yang sangat kukenal.
Diam. Hening. Masih
ada tarikan lembut dan panjang. Dadaku sendiri berdebar-debar. Aku mencoba
mengatasi keadaan. Tangan satu lagi kupakai untuk meraih bungkus rokok,
menyalakannya. Di seberang, sebuah pemantik api juga menyala, suaranya begitu
jelas. Dan suara rokok yang menyala di seberang juga terdengar jelas.
“Maaf aku
mengganggumu…”
“Nggak
apa-apa…”
“Aku ingin ngomong
sesuatu…”
“Ngomong saja…”
Suasana kembali
senyap. Hanya ada suara hembusan napas dan isapan rokok.
“Agak susah… Aku
butuh sedikit waktu…”
“Nggak
apa-apa…”
“Kamu baik-baik
saja, kan?”
Aku tiba-tiba merasa
jengkel dengan pertanyaan yang baru saja muncul dari seberang. Ia tahu aku
tidak pernah baik-baik saja! Tapi akhirnya aku berucap, “Lumayan…”
“Ada nggak, jawaban
lain selain lumayan?”
Aku semakin jengkel.
Dengan agak ketus aku menjawab, “Kamu mau jawaban yang sebenarnya? Tidak. Aku
tidak baik-baik saja, dan kamu tahu itu!”
Tapi begitu aku
selesai mengucapkan kalimat itu, aku merasa sangat menyesal. Mengapa aku masih
begitu kekanak-kanakan? Wahai diri, belajar dewasalah! Kamu sudah melampaui
banyak hal yang getir, juga masa lalumu yang buruk dengan dia. Kamu bisa
melewatinya. Kamu memang terluka. Tapi itu sudah terjadi… Dan…
“Maaf, ya…” Suara
di seberang memotong pertikaian batinku.
“Untuk?”
“Untuk segala hal
yang melukaimu…”
Aku terdiam. Rasa
sesal kembali mengguncangku. Adilkah aku? Bukankah aku tahu bahwa semua itu
bukan hanya salah dia semata? Bahkan bukankah sebagian besar justru karena
kesalahanku? Baiklah, dia memang meninggalkanku. Dia memang pergi. Tapi apa
yang layak dipertahankan oleh seseorang yang menjalankan sebuah hubungan dengan
orang sepertiku saat itu? Aku tahu siapa dan bagaimana diriku saat itu, bukan?
Bahkan aku pun sering merasa betapa sialnya aku saat itu, betapa tololnya, dan
oleh karena itu memang layak ditinggalkan olehnya? Bahkan aku pun ingin
meninggalkan diriku sendiri, kalau bisa!
“Maaf, ya…”
Aku merasa ada
sesuatu yang menyabikku. Betapa tidak adilnya aku! Dan suara di seberang itu,
tidak seharusnya merasa bersalah.
“Tidak perlu minta
maaf… Tidak ada yang salah. Kalaupun ada yang salah, itu adalah aku.”
“Nggak, aku
salah…”
Suasana kembali
hening. Lalu kuputuskan untuk melakukan pembicaraan lebih nyaman lagi.
“Bagaimana kalau
soal maaf dan siapa yang salah tidak kita teruskan lagi? Sepertinya tidak
berguna dan tidak pernah berakhir.”
“Tapi itu satu dari
beberapa yang ingin kusampaikan kepadamu saat ini.”
Aku terdiam. Kata
‘beberapa’ membuat dadaku berdesir kuat. “Baiklah. Aku memaafkanmu. Aku juga
minta maaf. Kamu tahu, aku orang yang kacau.”
“Kamu orang yang
baik…”
“Tidak.”
“Ya.”
“Kalau aku baik,
kamu tidak akan meninggalkanku.”
”Please…”
Aku kembali terkejut
dengan keteledoranku. Kenapa aku harus kembali ke masalah itu lagi? Lalu aku
bertanya, “Kamu bilang itu salah satu, adakah yang lain?”
“Ya. Aku ingin
memastikan kamu baik-baik saja…”
“Aku baik-baik
saja…”
“Tadi kamu bilang
tidak…”
Aku memukul jidatku.
Kenapa aku tadi bilang bahwa aku tidak baik-baik saja?! Tapi aku menemukan
kalimat yang kurasa tepat, “Paling tidak, aku jauh lebih baik dibanding
dulu…”
“Syukurlah…”
“Ada lagi yang
lain…”
“Mmm…”
Ia terdiam. Aku
mematikan rokokku di lantai. Lalu kunyalakan lagi sebatang sambil menunggu
orang di seberang melanjutkan kalimatnya.
“Aku butuh sedikit waktu.”
“Nggak
apa-apa…”
“Mmm… apa
besok-besok saja, ya?”
“Maksudmu?”
“Besok-besok saja
kukatakan kalau aku sudah cukup siap.”
“Hah?! Kok begitu?
Kamu tahu, dengan berkata seperti itu membuat pikiranku tidak tenang.”
“Ya, aku tahu.
Tapi… Tapi itu tidak mudah.”
“Tapi kamu telah
meneleponku. Seharusnya kamu sudah memikirkan hal itu.”
“Iya, tapi
kenyataannya lain. Aku menjadi tidak siap setelah bicara sama kamu.”
“Kamu jangan begitu,
dong… Itu membuatku semakin tidak nyaman.”
“Maafkan aku…”
“Ini bukan soal
meminta maaf dan memaafkan.”
“Mmm…
Begini…”
Dadaku berdetak
keras. Rasa debar itu bahkan bisa kurasakan sampai tenggorankanku, sampai ke
kepalaku. Apa yang ingin dia bicarakan?
“Tapi sebelumnya aku
ingin kamu tidak berpikir yang bukan-bukan tentangku.”
“Maksudmu?”
“Ya, apalah,
misalnya kamu berpikir bahwa aku sengaja mengganggumu, kamu berpikir bahwa aku
sedang tidak bersyukur dengan kehidupanku… Atau bahkan kamu berpikir bahwa,
ya, begitulah aku, tidak pernah bisa penuh dengan pilihan dan tindakanku
sendiri.”
Aku diam. Mencoba
mencerna apa yang dimaksudkannya. Tapi banyak hal yang serba mungkin dari
kalimat-kalimat itu. Aku memutuskan untuk merasa sok mengerti, “Ya…”
“Setelah pertemuan
yang dulu itu… Aku merasa semakin terganggu dengan diriku sendiri. Dan
sebetulnya bukan masalah bagiku, aku cukup bisa dengan mudah mencarimu,
menemukan alamat emailmu, atau menemukan nomermu, tokh aku banyak kenal
dengan orang yang kenal juga denganmu. Tapi… Tapi aku butuh waktu.”
Kembali dadaku
terasa berdetak kuat. Degupnya bisa kurasakan sampai di kedua lenganku.
“Hidupku baik-baik
saja. Aku punya keluarga yang baik-baik saja. Aku punya anak yang lucu, dan aku
punya suami yang baik. Suamiku sangat baik…”
Aku masih diam.
Kata-kata ‘suamiku’ sempat membuatku diselinapi rasa tidak suka. Tapi kemudian
aku bisa menyadari bahwa aku harus tetap berbuat adil. Ia memang telah
berkeluarga, memiliki suami dan anak.
“Aku memang
kehilangan beberapa hal dalam hidupku, tapi aku mendapatkan hal yang lain. Dan
aku sadar bahwa itu juga akan terjadi pada banyak orang…”
Aku agak tersentuh
dengan kalimat yang baru saja diucapkannya. Ia telah tumbuh dengan begitu
dewasa. Mungkin sebuah keluarga, sebuah pernikahan, membuat orang berkembang
lebih cepat untuk menjadi dewasa…
“Terus…”
“Tapi entah mengapa
selalu ada yang mengganjal dalam hidupku. Tapi aku bahagia. Tapi… Tapi memang
ada yang mengganjal.”
“Maksudmu?”
“Susah menerangkan
hal ini. Aku tahu bahwa hidupku baik-baik saja. Aku cukup bahagia. Aku
mensyukuri kehidupanku sekarang ini. Tapi selalu ada yang terasa mengganjal…”
Aku mencoba tetap
diam. Mencoba tetap mendengarkannya.
“Hingga kemudian
suamiku berkata: ‘kalau ada sesuatu yang mengganjal dirimu karena masa lalu,
kupikir kamu harus menyelesaikan itu dulu’. Selesai suamiku berkata seperti
itu, aku merasa tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus bicara sama kamu.”
“Kamu ingin ketemu
aku?”
“Nggak, lewat
telepon saja kupikir sudah cukup.”
“Baiklah. Kamu bisa
mengatakan itu kepadaku sekarang…”
“Aku mencintaimu…”
Deg! Jantungku
berhenti berdetak beberapa saat setelah kalimat itu terdengar. Aku merasa lemas
sekali.
Suara dari seberang
terdengar melemah, seperti menahan tangis, “Tolong jangan pernah bilang lagi
kepadaku: ‘kalau aku mencintaimu, mengapa aku meninggalkanmu?’. Please…
Jangan bebani aku dengan pertanyaan seperti itu. Itu pedih sekali. Aku sudah
melangkah. Dan ini semua sudah terlalu jauh. Di sini, di sekelilingku, ada
kehidupan yang begitu nyata. Ada anak yang membutuhkanku, ada suami yang sangat
baik kepadaku. Aku… Aku…”
Suara di seberang
tersedu. Terisak. Dan mataku juga basah…
“Aku memang pernah
melakukan perbuatan bodoh itu. Aku meninggalkanmu. Karena saat itu aku begitu
lelah. Karena saat itu aku merasa bahwa banyak hal yang berlangsung dan tidak
membawa harapan-harapan baik. Aku memang pernah salah. Aku berharap bisa
menemukan yang lebih baik lagi…”
Kembali gigil tangis
terdengar di seberang.
“Dan aku tahu kelak
kemudian bahwa semua ini tidak lebih baik… Dan itu semua terjadi seperti
mimpi. Lalu aku ingin ini memang benar-benar hanya mimpi, dan aku ingin bangun
dengan tetap ada kamu…”
Aku diserang badai
haru yang luar biasa. Aku kembali dihinggapi rasa sesal yang amat sangat.
Menyesali mengapa aku dulu bisa begitu kacau, sehingga membuatnya menyerah,
membuatnya lelah, membuatnya meninggalkanku. Dan mengapa selalu aku
menyakitinya lagi dengan menuduhnya yang bukan-bukan?
“Ya. Itulah hal yang
paling penting untuk kusampaikan. Aku sangat mencintaimu…”
“Aku juga sangat
mencintaimu. Dan kamu tahu itu…”
“Ya, aku tahu. Aku
tahu kamu sangat mencintaiku. Dan kamu sangat menderita… Maafkan aku…”
“Nggak
apa-apa… Aku juga salah, kok… Kalau aku jadi kamu, aku akan
meninggalkan orang sepertiku jauh-jauh hari, dengan cara yang lebih kejam…”
“Kamu jangan
begitu…”
“Aku jujur dan aku
serius… Aku mengesalkan, menyebalkan, serba buruk saat itu…”
“Mau nggak kamu
berjanji kepadaku?
“Janji apa?”
“Kamu jangan lagi
menderita. Aku ingin kamu bahagia.”
“Ya, aku janji.”
“Terimakasih.”
“Kamu mau janji
nggak sama aku?”
“Janji apa?”
“Jangan pernah
menghubungiku lagi.”
Hanya ada diam di
seberang.
“Maksudku, ini semua
lebih baik dari yang sudah-sudah. Kamu sudah menyampaikan apa yang perlu kamu
sampaikan, dan aku sudah berjanji kepadamu. Kamu sudah punya keluarga, dan
tidak ada yang bisa menjamin kalau kemudian kita melakukan hal-hal bodoh, yang
tidak perlu terjadi…”
“Ya, aku janji. Aku
punya kehidupan nyata. Aku akan mencintaimu dengan cara yang paling sunyi.”
“Terimakasih.”
Kembali hanya ada
diam. Lalu aku berkata, “Sekarang, lebih baik kita akhiri percakapan ini.”
“Baiklah.”
“Terimakasih, ya…”
“Aku juga
terimakasih.”
“Bye…”
“Bye…”
Telepon kumatikan.
Pintu kontrakan kukunci. Lampu kumatikan.
Aku menangis
sepanjang malam…
Comments(5)