Seseorang Menerobos Ganas (Original Version)
Kali ini aku ingin berkisah. Bercerita tentang cerah yang hanya sesaat di angkasa sana. Lalu angin dingin datang, tandakan hujan akan segera tiba. Meriwayatkan, mengapa hembusannya yang kencang itu terasa basah dan selalu membawa bau dari beceknya tanah. Aku berharap, meski tak banyak, mungkin ini jadi salah satu warisan terindah dari seluruh dongeng tentang jiwa yang patah.
Dan, dengan sisa patahan yang terserak itu, aku akan coba susun keping demi keping peristiwa. Lagi. Meski aku tahu, mungkin aku harus menghirup debu tebal yang menutupinya. Lalu terbatuk-batuk saat membersihkannya. Tapi, tenang saja, meski kini jadi penuh warna dan bau tua, segalanya masih tinggal dalam gudang ingatanku kok…
Bahkan, sepertinya aku juga masih menyimpan catatan pengantar dari dongeng yang terlanjur tercabik-cabik itu. Memang, aku tahu, tidak semua kejadian bisa terekat dengan tepat di tiap bagian dari lembarannya. Sebagian detilnya telah tercecer. Sebagian lagi, hilang. Tapi, setidaknya, aku tetap berusaha keras agar guratan-guratan yang tersisa dan mulai menipis itu tidak terlalu kabur. Dan dengan senang hati, aku akan membacakan yang tersisa untukmu.
Lalu begitulah. Satu per satu halaman pertama ini berhasil aku susun. Juga keping demi keping dari patahan itu: membentuk mozaik secercah cerah. Pembuka dari sejarah pedih yang semakin perih.
Disana, aku susuri lagi warna-warni dan ringkik matahari serta daun-daun yang melambai dari mozaik juga catatan pengantar ini. Sejenak, ada yang mengalir di kelokan wajahku: kamu dan aku pernah terikat dalam drama sederhana itu. Kita.
Saat itu segalanya terasa sempurna. Bahkan saat kita hanya berpegangan tangan dan biarkan hening berkuasa. Semuanya begitu sederhana.
Tapi apa yang pernah dimulai, memang harus diakhiri. Maka yang terjadi selanjutnya: kita hanya bisa kembali menekuri sunyi. Sendiri-sendiri.
Tak lama mereka memanggil-manggil lagi: kamu juga aku mesti mau mengusir sepi. ‘Kita’, meminta kamu juga aku segera menjemur luka itu hingga kering. Bersama. Kembali. Dan sungguh aku merindukannya: kamu. Semuanya. Sangat.
Aku tahu, kamu juga menginginkannya. Tapi aku juga tahu, kamu mesti mematikannya. Dan aku sangat tahu, kamu lelah dengan dua rasa yang terbelah ini. Padahal, kamu sebenarnya hanya ingin hidup yang tentram saja. Kamu pun memutuskan untuk hidup dengan penuh kepastian atas satu rasa keamanan.
Justru karena keinginanmu itu, secercah cerah gugur. Rontok helai demi helai. Kamu tahu, aku tidak bisa memberikan kepastian itu. Juga ketentraman itu. Bahkan untuk sekeping rasa aman saja, aku tidak mampu menghadiahkan bagi diriku sendiri. Akhirnya, kamu benar-benar memberikan aku gelengan. Sebuah geleng penghabisan. Semuanya selesai.
Ternyata tidak. Aku kembali bertemu denganmu. Kamu mengajakku bertemu. Kamu mengatakan kangen padaku. Sangat. Dan di taman tempat berkumpulnya para seniman itu, kita duduk. Menikmati kopi. Menyesapi masa yang seperti kembali berpihak pada kita. Pada sebuah sore.
Dari seberang meja, aku menatapmu. Dan aku tidak percaya dengan mataku. Seperti tak ada yang berubah darimu. Padahal sudah lebih dari setengah tahun berlalu. Aku periksa satu persatu dirimu: rambutmu masih legam tergerai. Pipimu yang gembil itu masih tetap bersemu bila tertimpa warna senja. Kulitmu masih halus dan menguarkan wangi. Senyummu juga tetap penuh.
Tapi, apa itu? Hei… matamu! Ya. Pendar matamu tidak lagi secerah dulu! Ada kelebatan warna sendu. Mendadak aku ingin segera merapatkan tubuhku padamu. Lalu tumpahkan kata yang mungkin saja jadi simpul kita lagi: ‘kamu jangan sedih. Aku masih mencintaimu’.
Tapi aku hanya bisa tercekat. Tenggorokan ini tiba-tiba saja seperti memiliki sekat. Ternyata itu memang perlu: semuanya mesti selalu menggunakan perhitungan. Bahkan untuk kata-kata yang seharusnya aku ucapkan dengan kejujuran.
“Kamu tahu apa yang membuatku sedih, kan?”. Aku mengangguk. Membuang pandang. Juga kamu. Bahkan senja juga ikut-ikutan membuang terang. Malam hadir dan membawa lampu yang berpendar seperti kunang-kunang. Ternyata kita mesti kembali berpisah.
Duh, ribuan kali aku sudah berkata padamu: berhentilah untuk selalu memiliki sedih! Berhentilah untuk terus menerus menenggak sendu. Bergembiralah! Aku hanya ingin kamu selalu tersenyum. Tertawa kecil. Kalau perlu, selalu terpingkal-pingkal.
Biarkan kegembiraanku itu ditukarkan dengan kepedihanmu. Biarkan sendumu itu aku yang tenggak. Tandas. Tuntas. Tokh, pada akhirnya, kebahagiaanku telah usai sejak kepastianmu itu menghampiriku: undangan pernikahan yang di dalamnya mengguratkan namamu. Sekaligus pada sore itu kamu menyerahkannya padaku.
Aku tahu, mungkin aku telah salah melontarkan impian. Mungkin aku telah salah meletakkan harapan. Mungkin aku memang telah salah mengira, pertemuan itu bisa jadi awal yang baru dari kita. Ternyata, memang tak ada lagi yang baru dari kamu juga aku. Justru sesuatu yang baru itu hanya menghampiri hidupmu.
Maka pekat yang pernah membekap itu kembali menghampiriku. Cerah yang pernah membuatku gembira itu berganti kelabu. Gemuruh jadi kelambu dalam hidupku. Hari-hariku rusuh. Logika dan hatiku rancu. Aku pingsan saat waktu menggodamku. Sepertinya.
Lalu suara ketuk hadir di pintu kontrakanku. Aku bangun kemudian membukanya dengan enggan. Dan yang berdiri itu ternyata kamu!
Seketika hening terpaku saat kita hanya saling menatap. Gigil tiba-tiba merangsek. Menghajar tubuhmu yang kini berubah jadi kurus. Setahun telah berlalu sejak kamu serahkan undangan pernikahanmu itu. Dan kini kamu di hadapanku. Dengan tubuh terguncang kencang. Seakan hendak luruhkan seluruh sendu yang menempel di sekujur tubuhmu.
Aku tangkap tubuhmu yang mendadak layu. Aku bawa dan selimuti kamu di tempat tidurku. Aku hidangkan coklat hangat untukmu. Kamu menggeleng.
“Tidak! Kali ini kamu mesti mengangguk! Aku tahu berapa lama waktu dan jarak tempuh kereta api Argo Anggrek itu. Dan kamu, pasti belum mengisi perutmu. Terlebih lagi dengan peristiwa yang kamu alami dan bawa ke Jakarta ini. Kalau alasan kedatangan kamu kesini hanya untuk mendemonstrasikan penyiksaan atas dirimu lebih jauh lagi, lakukan di tempat lain! Jangan di hadapanku!”. Demikian dengusku.
Aku pergi lagi ke dapur dan kembali ke hadapanmu dengan bubur di tanganku. Ajaib! Tiba-tiba saja kamu manut. Aku kaget, kali ini kamu mau mendengarkan kata-kataku. Dan bubur serta coklat hangat itu segera kamu habiskan. Tapi tidak semuanya. Pedihmu masih tersisa di mangkuk dan gelas itu. Berkerak di dinding kamarku. Bercampur dengan getirku.
Lalu aku baluri sekitar matamu dengan salep pereda memar. Kamu tepis tanganku saat menyentuh bagian yang kini legam itu. Aku baluri lagi. Kamu meringis kembali.
“Ayolah. Lebih baik sakit sekaligus dari pada kamu coba bertahan lalu perihnya berlangsung lama”. Kamu menunduk. Pendar mata yang selalu membuatku rindu itu, kini semakin biru. Kamu tambah kuyu.
“Rasa sakitmu atas diriku pasti lebih pedih dari ini…”. Aku berhenti membaluri matamu. Diam.
“Maafkan aku…”. Aku tatap kamu yang baru saja menggetarkan kata itu. Dulu, kamu selalu menderaikan senyum penuh padaku. Selalu membuatku merindukan kamu. Kini, di hadapanku, bibir itu pecah. Juga tangismu.
Seharusnya, aku memelukmu. Membiarkan seluruh tangismu tumpah lalu membasahiku. Kemudian melewatkan sedih dengan diam yang sederhana. Selanjutnya mengusap punggungmu dan berbisik: ‘semuanya akan baik-baik saja’. Seperti dulu-dulu.
Tapi itu tidak mungkin aku lakukan. Aku tidak ingin mengambil keuntungan dari kesedihanmu. Lagi pula, jika kemudian kamu mesti kembali padaku, aku tidak ingin kita melaluinya lewat lubang perselingkuhan. Meski, aku dan juga kamu tahu, kita bisa saja mewujudkannya. Sekarang.
Aku mau kamu kembali padaku dengan kebulatan hatimu. Tanpa sebuah kecurangan. Tokh aku ini sama dengan semua manusia biasa di seluruh dunia: marah besar dengan pengkhianatan. Dan sejak awal aku tahu, kamu tidak akan bahagia dengan pernikahanmu. Begitu juga denganku. Tapi aku juga akan tambah tidak bahagia jika melihatmu bersedih. Seperti saat ini.
Dan yang keluar dari mulutku malah kata-kata itu: ‘Kita berpisah karena kita memang mesti berpisah. Tidak ada hubungannya dengan kesalahanmu dalam memilih’.
Kamu pun terlihat lebih tenang. Lalu aku tawari kamu melapor pada sahabat-sahabatku yang giat memerangi masalah seperti ini. Kamu menolak. Kamu tidak ingin suamimu tahu keberadaanmu. Juga dengan siapa saat ini kamu berada. Kamu tidak ingin menambah persoalan. Aku geram padamu. Dan kamu tahu itu. Kamu memang selalu tahu diriku.
“Kamu benar-benar ingin menolongku?”. Aku mengangguk pasti.
Kamu menarik tanganku. Meletakkannya di atas perutmu. Lalu mengajakku berbaring. Dan kamu berbaring memunggungiku. Kini, kamu yang selalu aku rindu itu, di hadapanku. Dalam pelukanku. Kamu sangat dekat. Kita begitu dekat.
“Peluk aku. Seperti dulu. Aku ingin tidur sambil merasakan detak jantungmu. Detak jantungku”. Tak lama kamu terlelap. Tidak denganku.
Aku bangkit perlahan dan melepas pelukanku. Aku rapihkan selimut yang menutupi tubuhmu. Aku pandangi kamu. Dan aku tak tahan lagi untuk sesenggukan menatap dirimu yang pulas.
Kamu yang pernah membuatku cerah, kini kelabu. Kamu yang telah membuatku pecah, kini menjadikan aku mengeping dalam sendu. Tapi aku tetap mencintaimu. Sungguh. Ternyata kamu juga. Memang, lebih baik kamu terlambat mengatakannya dari pada tidak sama sekali.
Dan selama hari-hari berikutnya, kamu selalu memintaku untuk mendekapmu. Kamu juga memanggilku seperti dulu: ‘abang’. Hingga tibalah hari itu. Kamu pamit dariku. Kembali kita mesti berpisah.
“Aku pulang hanya untuk meminta cerai. Tepat pada ulang tahunmu nanti, sudah ada kita. Pasti. Dan ini pengikat janjiku itu padamu”. Aku kaget menerima amplop itu.
“Aku pamit. Sebentar lagi pesawatku pergi. Kamu tunggu aku, ya…”. Kamu memelukku. Erat. Kamu menciumku. Kencang. Udara terasa gerah saat aku melepasmu. Bahkan saat taksi mengantarkanku pulang.
Dan aku berteriak kencang saat membaca suratmu di amplop itu: ‘Aku setuju dengan nama Chris, jika ia laki-laki. Juga dengan Senja bila ia perempuan. Dua hari yang lalu, aku telah memastikannya ke dokter kandungan. Selamat, ya, bang… eh, ayah…”. Supir taksi itu pun menyelamatiku. Aku tiba di kontrakan dengan senang.
Belum genap setengah hari kamu pergi, ada yang mengetuk pintu kontrakanku. Aku buka dengan riang. Seseorang menerobos ganas. Dua orang temannya, berdiri di samping pintu.
“Dimana kamu sembunyikan istriku?!”. Lelaki itu langsung mendorongku ke pojok ruangan.
“Dia sudah pulang. Dia ingin bercerai darimu. Dia tak kuat lagi selalu kamu pukuli! Dan kamu sangat mengkhianati kepercayaanku!”. Ia menatapku. Dingin.
“Ah… sejak kecil aku mengenalmu, kamu itu masih saja banyak bicara! Aku menyesal memiliki sejarah persahabatan denganmu!!!”. Aku tak sempat menghindar saat sebutir peluru menembus jantungku. Aku hanya mendengar, saat itu air dan gemuruh benar-benar runtuh dari angkasa sana. Lalu semuanya gelap.
Bojonggede, 10 Juni 2007
haaa.
bagussnyaaa.