Nuzda Ne Poznaje Zakona*
“Kalian para pengacau bodoh! Ayo tinggalkan tempat sialan ini. Cepat! SEKARANG!”.
Mendadak seseorang muncul sambil melangkahi ambang pintu lalu menyemburkan perintah dengan nada penuh ancaman itu. Seragamnya tidak berhasil menutupi perutnya yang buncit. Giginya yang kuning, mungkin terlalu sering mencecapi kopi, dan bibirnya yang legam kebanyakan merokok, serta matanya yang selalu menatap jalang, menjelaskan sejarah kelam hidupnya: pergumulan dengan nasib, mengharuskannya jadi kepala sipir.
Lalu setelah berhenti sebentar untuk menarik napas dan membetulkan letak rokoknya, ia bergumam: ‘kalau pecahan-pecahan kaca ini sudah dibersihkan, kami akan memanggil kalian orang-orang brengsek! Tapi sebelum itu, masuklah ke kamar kalian’.
Di bawah tatapan dingin, kelompok kecil ini bangkit dari kursi yang keras, dan berjalan seperti mayat hidup ke luar ruangan. Tak lama bunyi dentang pintu-pintu besi yang besar itu terdengar. Pria-pria tanpa ekspresi, yang mengenakan handuk di pundak seperti supir angkutan umum di jalan raya, berjalan semakin pelan. Tapi para penjaga yang berbadan besar dan memegang senjata di tangan, menyuruh mereka bergegas dengan suara penuh gelegar. Serupa lecutan ikat pinggang kulit yang lebar.
Ah, jangan dulu kamu langsung berbicara soal menghormati kemanusiaan. Tokh memang tidak ada sama sekali penghargaan: kekuasaan telah diberikan terlalu berlimpah di sini. Dan, serupa dengan tabiat korup dari rumah kekuasaan, mereka yang jadi penguasa selalu melindungi sesamanya: perangai yang minim simpati apalagi empati. Maka, kata siapa fasis itu sudah tumbang? Malahan kini ia kembali tumbuh subur di balik dinding penjara.
Bahkan ‘nilai’, ‘kedalaman’ dan ‘isi’ dari manusia di luar penjara berhasil diracik sedemikian rupa. Kemudian mereka mengubahnya jadi sejenis obat psikotropika. Serupa dengan obat-obatan yang telah beredar di luar sana. Atau yang kamu temui tengah di jajakan di pasar.
Dan mereka semua memaksa para penghuninya untuk tidak pernah lupa menelannya: mereka selalu ingin memastikan kepatuhan yang amat ketat tetap berjalan. Dan, sialnya, obat-obatan itu tersedia di sini layaknya permen. Kami pun mesti memakannya tiga kali sehari. Jika menolak, dosis itu malah di tambah. Tak lama, ruang isolasi menunggu.
Lalu sebenarnya, apa ‘nilai’, ‘kedalaman’, dan ‘isi’ yang mereka gembar-gemborkan itu, jika kemudian artinya tak jauh berbeda dengan tradisi, kawanku? Bahwa tiap orang pasti memilikinya, dan bukan hanya karena masa depan telah menyediakan. Tapi juga warisan dari masa lalunya.
Duh… memang sudah tidak ada lagi kemanusiaan di sini. Tapi aku juga hampir lupa: kami tidak punya hak untuk mencopot label di kepala sebagai bukan manusia. Bahkan mengargumentasikannya dengan jernih soal ini. Siapa sih yang mau dengan benar-benar mendengarkan ucapan para penghuni penjara?
Jika ada, mereka pasti akan kembali menyerang lebih dahsyat dengan ‘nilai’, ‘kedalaman’, dan ‘isi’ yang serupa obat psikotropika dan wajib kami telan ini. Sebenarnya itu semua sungguh luar biasa!
Rasanya aku dan para penghuni di sini pantas kagum pada orang yang mampu menyelam ke kedalaman, mempersembahkan nilai dalam sebuah pesan yang berisi.
Sayangnya, kami tidak membawa itu semua: segalanya telah hilang dirampok oleh banyak hal ketika kami memulai perjalanan ini.
Ya. Kami memang orang yang mengigau itu, yang menjadi tanda pada segala omong kosong, sebagaimana kami memahami pada banyak hal: hidup ini juga omong kosong.
Tiba-tiba, klang!
Mendadak setiap sendi dalam tubuhku seperti kaku dan membeku ketika aku melangkah memasuki kamar dua setengah kali tiga meter yang klaustrofobis ini. Dan seseorang menggemerincingkan sesuatu. Lalu, cekrek!
Aku pun beringsut untuk duduk di atas lantai semen, yang di atasnya, terhampar ranjangku: tikar daun pandan yang rombeng. Entah mengapa, aku seperti dapat mengetahui, semakin hari, pekerjaan sederhana itu terasa sebagai tugas berat. Meski pada akhirnya, tetap saja akan kami lakoni. Jika tidak, dosis obat sejenis psikotropika itu pasti ditambah sebelum kami benar-benar dilempar ke ruang isolasi.
Lalu di dalam kamar yang sunyi ini, aku merebahkan diri di atas ranjangku. Dengan kekosongan ini, aku memutuskan untuk menerapkan imajinasiku pada kata yang terangkai dan kini mulai banyak yang mengelupas di dinding di hadapanku. Aku ciptakan siluet drama untuk menghibur diri dan mencoba mengenali bentuknya. Terus dan terus begitu.
Dan hari ini, kebetulan hanya wajah saja. Wajah-wajah cantik atau tampan, pintar dan bergelimang harta yang pada akhirnya membuatku tersadar: ternyata sebagian besar telah menghalusinasiku. Membohongiku dengan dalih. Argumentasi tanpa nurani. Lalu berakhir dengan memporandakannya jadi serpihan-serpihan sebuah dongeng berumur serta beraroma tua yang tercecer. Mula-mula memang menakutkan. Tapi aku membiarkannya. Tokh selama ini aku memang sering melakukannya.
Ternyata itu salah. Terlebih lagi saat aku membiarkannya terlalu lama: saat aku sedang jatuh cinta, aku mudah tertipu. Dan di akhir cerita itu, jelas saja aku lebur. Lalu aku merasa dingin, mati rasa dan membeku. Untuk beberapa lama.
Kemudian mereka berkata pada diriku, ‘kamu harus melupakannya. Kamu juga harus melupakan perbuatannya padamu. Kamu harus mengeliminasi kemarahanmu, meski saat itu, mungkin kamu telah terlambat menumpahkan sumpah atau salah sasaran mengirimkan serapah. Bahkan kamu tidak berhak menganggap Perempuan seperti dirinya persis seperti kamu memandang kini mereka yang telah jadi masa lalumu. Perempuan-perempuan yang telah meninggalkanmu sendirian dan hanya meninggalkan semua beban pengkhianatan mereka agar hanya kamu saja yang menanggungkannya. Dalam kesepianmu. Dengan kesendirianmu. Bersama kepahitanmu. Tokh mereka kini sudah punya keluarga atau urusannya sendiri-sendiri’.
Aku pun menyanggupinya. Lagi pula, aku tetap mencintai mereka yang pernah membuatku sangat tersentuh. Sungguh.
Sebentar saja aku langsung mendengar suara tawa. Awalnya sayup. Tapi lama kelamaan semakin jelas. Ah, ternyata mereka tengah menertawakan sambil menunjuk-nunjuk di belakangku! Tentu saja aku berhasil mendengar bisik mereka: ‘bukankah setiap kesalahan itu juga melibatkan individu lainnya? Juga dengan setiap kejadian? Bukankah akibat berawal dari sebab? Reaksi dari aksi? Dan setiap individu yang terlibat, punya tanggung jawab untuk menyelesaikannya. Caranya, sepenuhnya pilihan masing-masing dari mereka. Tapi, lihatlah, betapa bodoh ia yang mau memikulkan beban dari seluruh kesalahan kita! Sementara dengan entengnya, kita di sini, kembali merajut kisah hidup berikutnya. Lalu berkoar-koar di hadapannya, bahkan tanpa malu, mempertontonkan kebahagiaan pada ia yang tengah memanggul seluruh kesedihan itu. Bahkan, ia menambah ketololannya itu dengan menghukum dirinya sendiri saat menyaksikan keriangan kita. Dan, tanpa sadar, sebenarnya ia juga pantas meledak. Ia juga punya hak untuk memaki-maki. Ia juga boleh hanya menghayati apa yang telah terjadi: mundur sesaat untuk melihat, menganalisa, mengambil kesimpulan, lalu langsung melakukan perubahan dari seluruh kesalahan yang pernah terjadi dalam hidupnya. Atau dengan kata lain, ramah dengan kesalahan yang diperbuat olehnya, Perempuan masa lalunya bahkan orang lain. Ya, ia pantas melakukan semua itu. Dan ini bukan untuk siapa-siapa: semestinya ia juga hanya memikirkan dirinya sendiri. Dan tidak pernah ada kata terlambat untuk melepas beban kesalahan lalu membaginya dengan orang yang sebenarnya melakukan kesalahan itu. Tokh pada akhirnya ia hanya melampiaskan melalui amarahnya yang sunyi: kata. Tapi kita tahu, kita mesti memberangusnya. Karena kata adalah senjata. Dan ia tidak boleh memberondongkannya pada kita: biasanya itu lebih jernih dan jujur karena telah melewati pencarian juga penghayatan. Dan akhirnya, kita memang berhasil memberangus katup kemarahannya yang pantas dan wajar itu dengan ilusi bernama nilai, kedalaman dan isi. Kita berhasil memotong sejarah yang sebenarnya satu-kesatuan. Kita berhasil mempecundanginya!’.
Dan salah seorang dari mereka juga mengatakan, ‘Sederhananya, ia tidak boleh menumpahkan amarah. Meski ia mulai menemukan dan menyadari bahwa selama ini Perempuan dari masa lalunya itu, sebenarnya, tidak mencintainya dengan tulus. Dan bukti-bukti akan hal itu sangat jelas dan tegas: mulai dari tidak dibolehkannya ia mengunjungi rumah Perempuannya, hingga ilusi janji bahwa ia tidak akan pernah ditinggalkan. Maka ia pun harus kita hipnotis menjadi seperti porter yang polos dan lugu di stasiun atau pelabuhan, yang memanggul seluruh barang bawaan penyewanya. Lalu kita membayar tenaganya itu dengan ongkos yang serendah-rendahnya. Dan ia mesti menerima tanpa membantah’.
Sesaat aku tergeragap. Aku tersadar. Kebencian pun langsung mekar: ‘huh, terkutuklah mereka semua itu!’. Aku membalikkan badan dan menatap mereka semua dengan marah yang bergolak.
Mereka mendengarnya lalu bergerak mendekatiku. Semakin dekat. Tambah dekat. Dengan telunjuk yang semakin tegang. Juga tawa yang tambah kencang. Keringat dari dahi lalu masuk ke mataku. Tapi aku paksa mataku tetap terbuka. Aku harus mengawasi mereka. Atau mereka akan menghantamku, merasukiku lalu meremukkanku.
Dan benar saja!
Tak lama aku hanya bisa diam membeku. Lalu menyaksikan mereka yang busuk dan tertawa dengan keras itu berlalu. Kini mereka tertawa lebih kencang, usai tadi menghajarku sambil memerintahkan agar aku tidak boleh marah oleh apa yang telah mereka lakukan. Sambil berjalan pergi, mereka juga mengatakan bahwa aku hanya orang gila yang mencari sensasi di lubang yang telah dilupakan Tuhan ini.
Akhirnya aku meledak pada fakta bahwa mereka berani menyebut diri sendiri sebagai manusia! Tapi, klang! Cekrek!
Kemudian… prang!
Keheningan meliputi semesta kecuali suara denting dan gesekan jendela yang pecah. Seseorang sudah memecahkan jendela kecil di ruangan tempat kami tadi duduk bersandar ke dinding. Di ruangan tempat kursi-kursi kayu yang tebal dan keras itu dan pada jam-jam tertentu mesti kami duduki. Di ruangan yang sebenarnya hanya berlaku tanda seru: ‘kamu duduk dengan anteng, mereka tidak akan mengganggumu merokok. Kamu tidak berbicara atau berbicara hanya yang manis saja, mereka tidak akan merepetimu dengan sumpah serapah. Kedua kakimu mesti selalu menapak pada lantai. Dan lain sebagainya. Jika tidak, hidup akan sangat berat untukmu’.
Mendadak aku kembali teringat pertanyaan tentang ‘nilai’, ‘kedalaman’, dan ‘isi’ yang aku anut. Aku kembali bingung atas pertanyaan itu. Mengapa mereka tidak pernah bertanya saja tentang hal-hal yang tidak aku sukai? Orang sepertiku lebih gampang menyebut dan menunjuk hal-hal yang tidak aku sukai ketimbang hal-hal yang aku sukai. Aku lebih bisa mengatakan artis mana yang paling aku benci daripada aku harus mengatakan artis mana yang paling aku sukai. Itu untuk semua hal, juga untuk makanan, tempat tinggal, jenis minuman, acara, peristiwa dan yang lainnya.
Aku memang lebih bisa memastikan bahwa ada sesuatu yang berjalan tidak beres. Tapi aku selalu kesulitan jika ditanya apa yang seharusnya berjalan. Hanya saja, satu hal ketidaksukaanku yang aku rasa mereka perlu tahu: aku tidak suka dipetakan, dirumuskan, dimasukkan dalam kategori-kategori. Tapi aku sadar, itu akan tetap dilakukan. Bahkan aku juga masih melakukannya pada orang di luar diriku. Tak jauh beda dengan mereka, bukan?
Dan masihkah aku perlu menandaskan mengapa aku suka menghindar dari banyak orang termasuk kamu? Sebab pertemuan akan menghasilkan percakapan dan setiap percakapan akan semakin mudah untuk membuat orang merumuskan kita.
Lalu seseorang telah memecahkan jendela!
Ah, sekarang mereka pasti sedang kesal karena ketentramanmya terganggu. Nanti, salah seorang pasti diperintahkan untuk tinggal di ruang duduk. Kekejaman akan kembali terjadi saat mereka mengijinkan kami keluar dari petak-petak kecil ini.
Lalu aku hanya bisa terdiam sambil membiarkan bayangan ngeri itu merangsekku. Bahkan aku tidak bisa mendengar apapun selama terpaku dalam keadaan linglung yang seperti kerasukan ini. Tubuhku kembali kebas dan kosong. Kata-kata yang sialannya telah berubah dan mewujud jadi mereka yang gemar menunjuk-nunjuk sambil tertawa itu, kini sudah berhenti. Kini kata itu sekedar kata yang mengelupas dalam helaian kenangan. Kedua tanganku dingin tapi lembab. Dengung jantungku bergema dari tubuhku yang kosong ini. Kegelisahan karena selama ini hanya menunggu, mulai mencekikku. Aku menanti untuk keluar dari kotak kecilku ini. Tapi aku tetap membeku di ranjang sambil menatap dinding yang diam dan geming.
Harus aku akui, saat ini sudah terlalu banyak bergelimpangan mayat hidup yang hampa. Dalam kotak kesunyian. Dalam neraka kekosongan. Mereka ada di sampingku. Mereka adalah juga aku. Dan yang paling pedih dari itu semua: saat tengah bahagia, tidak ada seorang pun di sampingmu untuk dibagi keriangan itu. Seseorang yang selalu menghuni hati juga kepalamu. Seseorang yang selalu mewarnai harimu.
Tapi, aku harap, kamu jangan jadikan ini sebagai alasan untuk berpindah dengan cepat dari satu kisah cinta ke lainnya. Sementara, luka itu belum kering dan sembuh benar. Karena, jika kamu tetap melakukannya, itu sama saja dengan terus menerus mengopeki luka. Atau sama saja dengan menanam bom waktu, yang suatu saat nanti, pasti akan meledak dengan hebat dan merusak banyak pihak. Atau seperti kera saat datangnya musim kawin mereka. Maka jalani saja kesepian, meski baru saja kamu tercabik-cabik dan ditinggal sendirian. Lalu sentuhlah waktu agar ia ikut membantu.
Persekutuan kalian itu nanti, pasti akan membuat segalanya lebih cepat berakhir dan dengan lebih entengnya. Pada akhirnya, di ujung sana, kamu pasti akan menemukan seseorang yang selama ini kamu cari untuk melewati sepi.
Seseorang yang benar-benar mengerti mengapa kamu menangis. Seseorang yang tulus merawat seluruh lukamu. Seseorang yang tertawa pada leluconmu, padahal sebenarnya itu tidak lucu.
Seorang Perempuan yang berkata, ‘sebenarnya saat ini aku tidak perduli dengan apa yang ada dalam pikiranmu dan apa yang tengah kamu katakan. Yang jelas, genteng kontrakan kita, bocor’.
Atau, ‘aku punya hadiah untukmu. Kamu duduk dan tunggu di sini dulu, ya…’. Tak lama ia kembali sambil melemparkan sesuatu: ‘ini, khusus buat kamu!’. Sarung, sajadah dan baju koko yang masih di dalam kotaknya jatuh di pangkuanku. ‘Oh ya, kamar mandi kontrakan kita di sebelah situ. Kiblat mengarah ke sana. Waktu shalat masih lama habisnya. Lantai juga baru aku pel tadi sore. Dan itu sarung, sajadah serta baju koko yang baru aku beli tadi pagi di pasar. Juga shampoo, sikat gigi dan sabun mandi. Sekarang kamu tidak punya alasan lagi, kan? Jadi, cepat sana masuk ke kamar mandi sebelum aku sendiri yang menyeretmu! Aku tunggu kamu di sini bersama mukena hadiahmu’.
Seorang Perempuan yang tersenyum saat kamu tengah serius menulis di akhir pekan, lalu pergi ke dapur dan kembali lagi dengan segelas susu hangat serta secarik catatan di tatakannya: ‘maaf, kopimu aku ganti. Sudah dua hari, dua malam kamu menghirupnya’. Perempuan yang tiba-tiba datang saat kamu tengah asyik di depan komputer kantor, lalu memintamu agar mengajaknya pergi untuk menyaksikan senja di sebuah pantai, lapangan, gunung, kendaraan atau hanya di tempat kerjamu saja. Atau hanya mendekapmu saat menyaksikan hujan tiba. Lalu berbisik: ‘aku menyayangimu seperti air yang menyayangi api’.
Seorang Perempuan yang menarik lalu menutup buku yang tengah kamu baca, dan memintamu untuk menemaninya kemana saja selama seharian penuh. Perempuan yang membiarkan pundaknya dipenuhi jentik-jentik keringat, saat mengganti tanah dari tiap pot bunga di depan kontrakanmu, kamu kecup. Lalu membalikkan badan dan kamu pun berbisik: ‘itu untuk semua masa yang hilang saat aku belum bertemu juga berpisah oleh kematian kita nanti’. Perempuan yang meminta satu dari enam hari liburmu agar kamu tidak menghisap rokok, menghirup kopi, membaca, menulis, lalu mengajakmu untuk menemaninya berolahraga yang sederhana. Dan kamu pun tertular untuk sedikit lebih memperhatikan kesehatan. Perempuan yang menggitimu sebelum bertanya, ‘kamu kemana saja, sih?! Menghilang tanpa kabar berita. Tahu gak sih kalau aku di sini nyaris mampus merindumu!’. Lalu ia pun tidak memperdulikan potensi dari satu kemungkinan bahwa lelakinya itu baru saja bersetubuh dengan Perempuan lain di luar rumah mereka: ‘di luar, kamu boleh saja menjadi milik orang lain. Tapi di rumah ini, sepenuhnya kamu milikku. Dan, satu hal lagi, jangan pernah melakukannya di atas tempat tidur kita. Itu saja!’. Tak lama, kalian pun menuntaskannya dengan bercinta seharian penuh.
Atau seorang Perempuan yang selalu menghadiahi kamu ucapan ‘selamat datang lagi’, saat kamu membuka mata di atas ranjang yang masih menyisakan hangatnya persetubuhan. Kemudian memanaskan kembali ranjang, di awal dari setiap hari kalian. Tentu saja usai ia mengirimkan satu kecupan juga tatapan yang kamu tahu bahwa ia mencintaimu. Meski kalian tidak mengucapkannya. Akhirnya, kalian memulai ritual di luar rumah dengan senyum mengembang di sekujur hari itu.
Seorang Perempuan yang tahu bahwa ia adalah pelatuk sementara lelakinya adalah peluru. Dan paham benar arah dan kapan waktu yang tepat melesatkan peluru itu ke sasarannya. Ya, seorang Perempuan yang bijak.
Dan adakah yang lebih indah selain hal itu? Aku rasa, tidak ada.
Tapi aku kembali terhentak saat menyadari air ludah yang mencoba mengalir dari bibir-bibir yang kering juga retak adalah pertanda nyata: obat yang di awal telah dipaksakan agar aku terus menelannya, ikut berjuang ingin mengendalikan pikiran, jiwa serta tubuhku.
Kini, apakah aku harus benar-benar melawannya? Atau membiarkan terhisap ke dalam dunia dari kaum paling minoritas agar realita yang sebenarnya dan terhampar di balik kerangkengku sendiri itu tidak terungkap? Apakah aku harus menjadikan diriku semakin palsu dengan tidak mengakui salah satu bagian dari seluruh ruangan dalam diriku yang bernama kemarahan? Apakah aku harus tetap menyayat-nyayat luka baru di atas duka lama, lalu terlempar semakin jauh di gurun sakit jiwa? Dan itu semua demi ketentraman mereka?
Jika memang demikian, apakah hidup ini pantas dijalani dalam pagutan tong sampah masyarakat yang disediakan bagi pikiran-pikiran yang kata mereka salah tempat? Apa yang mungkin aku capai atau aku sumbangkan bagi umat manusia jika mereka tetap memaksaku tidak boleh keluar dari kerangkengku ini, yang teralinya dibuat oleh mereka dari bahan nilai, kedalaman dan isi, yang juga memiliki pahatan kata di dinding sialan yang tertawa keras? Jangan-jangan aku memang harus menyerah?
Lebih banyak lagi pertanyaan berpacu melintasi pikiranku seperti pembalap jalanan yang pindah ke arena sirkuit profesional: semakin lama tambah bergelora.
Mendadak suatu kejutan yang mengerikan mengalir melalui tubuhku, membuat bahuku melesak turun dan tubuhku semakin kaku. Kenyataan yang memaksakan dirinya padaku ini, seperti tamparan keras dan kejam di mukaku, buyarkan kerasukanku dan retakkan sendi-sendiku yang kaku. Sesuatu rayapi tulang punggungku. Mungkinkah aku tengah berkhayal?
Setelah mengumpulkan sedikit demi sedikit indra yang masih tinggal, aku tahu itu bukan imaji. Memang ada sesuatu yang merayapi tulang punggungku. Aku bereaksi dengan menarik kemejaku ke atas kepala, dengan mengabaikan fakta: kemeja itu ada kancingnya.
Ah… apapun rasa yang buta, memang tidak memperdulikan benda-benda materi. Bahkan pertanda-pertanda yang sederhana. Jadi, berhentilah berharap agar ada yang mau menggetarkan simpati bahkan empatinya.
Dan tiga kancing terlepas. Setelah kemeja itu aku lempar ke ujung lantai, rasa sakit meninggalkan punggungku. Aku intip kemeja itu dan aku lihat si penyusup: kecoak hitam sepanjang kira-kira tiga sentimeter tadi telah berdansa di tulang-tulang punggungku.
Serangga jorok itu memang tidak berbahaya. Tapi mengejutkan. Dan si pengerat itu juga yang akhirnya membulatkan hatiku: rasa sakit tidak harus dikubur dan dibuang dari ingatan, melainkan justru mesti dimasuki untuk kemudian dilewati. Rasa sakit mesti dikunyah, lalu dicecap hingga habis pedih perihnya. Karena pada akhirnya, hidup adalah proses keluar-masuk dari getir nasib yang satu ke lainnya, dan masih banyak hal yang dapat dilakukan selain melarikan diri atau membayangkan sesuatu di luar jangkauan rasa sakit. Usainya, semua pasti terasa lebih enteng**.
Dan sebenarnya kini aku hanya tengah memamahi kembali ngilu di ulu hati. Melalui kata. Memahat kalam dari rasa. Di dinding-dinding waktuku sendiri.
Bukan untuk mereka. Bukan untuk menyesali bahkan merengeki lagi kehilanganku atas sesuatu. Tokh semua itu sudah hilang sejak lama. Juga Perempuan-perempuan dari masa laluku. Dan tak ada yang bisa mengingkari itu. Tak ada yang bisa membalikkan lagi waktu. Aku sangat sadar itu.
Maka ini semua hanya tentang aku. Ini semua hanya soal keinginanku untuk sembuh. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk kesembuhan penuhku itu, jika kemudian apa yang hanya aku bisa - menulis - balik mereka cerca bahkan larang? Bahkan balik marah lalu menghajarku? Padahal pemicunya sudah jelas.
Mungkin tumbuhan yang berkembang dengan subur di balik dari tiap dinding penjara itu, sulur-sulurnya kini sudah menggapai mereka. Ah… semoga saja aku salah.
Dan tanpa sadar, peluru itu akhirnya terlepas. Menebas sesuatu yang awalnya sangat bias. Aku pun melesat meninggalkan selongsonganku.
Lalu aku pun kembali ke sisi kenyataan ini sambil tetap memikirkan pergulatan dalam diriku. Aku biarkan mahluk kecil itu pergi. Diam-diam aku puas dengan kesadaran diri yang aku miliki: aku semakin mengenali, mengerti serta memahami tentang nilai, kedalaman dan isi hidupku sendiri.
Secara mental, aku memang telah lebur. Bahkan yang tersisa kini hanya serpihan-serpihan yang mengonggok dan aku jaga dari terpaan angin dengan posesifnya. Menggunakan berbagai macam caraku sendiri. Tapi aku bukannya tidak punya harapan lagi. Bahkan aku punya semangat hidup yang baru. Pun nafasku kini sudah tidak tersengal-sengal lagi. Terkadang juga aku bisa ngakak kembali.
Ya! Ternyata aku belum sepenuhnya kalah. Aku juga mesti mengakui bahwa aku bukan mencari kemenangan: aku hanya ingin menyaksikan diriku yang hancur itu dalam keadaan benar-benar sadar, usai terhisap lalu terperangkap dalam mata sebuah badai. Lalu mencoba untuk bertemu dengan diriku yang tercerai berai itu. Bahkan, jika perlu dengan mengais-ngais di antara puing-puingnya.
Dengan kata lain, sku hanya ingin menyatukan lagi seluruh bagian diriku yang tercecer usai terhantam segala peristiwa. Aku hanya ingin membangun sesuatu dalam diriku lagi, meski itu hanya dengan serpihan-serpihan yang tersisa. Dan aku mencoba melakukan segalanya itu, dimulai melalui kata: kemarahan, logika dan cintaku. Tentu saja agar aku tidak tambah sakit jiwa.
Terserah jika kemudian mereka tidak menganggap atau tersinggung dengan ucapanku. Tokh apa perduliku dan perduli mereka? Sekedar menanyakan kabarku saja, tidak. Bahkan malah balik menyumpah-nyumpah saat aku marah. Dan, di mataku kini, itu membuktikan telah matinya getaran simpati atau juga empati di balik dada mereka.
Lalu sebenarnya siapa yang paling bukan manusia di sini?
Tapi, sudahlah. Memang sudah saatnya aku yang memulai untuk menghentikan harapan, bahwa orang lain mau mengerti apa yang tengah aku jalani dan hendak lewati ini. Tokh pada akhirnya, aku pun telah merelakan diri untuk masuk dalam rombongan penuh dendang yang senang berbisik dengan mesra: ‘realistislah! Pinta pada mereka yang tidak mungkin. Sebab mereka tidak akan memberikan apa yang seharusnya kita miliki. Mereka tidak akan mengikhlaskan sesederhana apapun permintaan kita. Karena mereka memang barisan kaum penagih. Maka suatu waktu nanti, akan tiba masa dimana kita berhasil merampas apapun yang telah mereka rampok dari kita. Suatu saat nanti, akan tiba masa dimana kita adalah pihak terakhir yang selalu melewatkan seluruh waktu dengan ngakak. Suatu waktu nanti, akan tiba masa dimana kita adalah pihak terakhir yang benar-benar lepas saat terbahak sambil mengacungkan botol-botol bir dengan setinggi-tingginya. Karena ini serupa dengan pemberontakan kaum papa: tidak akan kehilangan apa-apa kecuali rantai yang mengikat tubuh mereka. Lalu nanti ada seorang penyayang di sebelah kita yang percaya bahwa hidup akan terus berlangsung, dan yang ada hanya pergantian jalur serta perpindahan bentuk. Seseorang yang paham betul bagaimana cara mengembalikan kita ke dunia yang sebenarnya sederhana: Perempuan yang bijak itu’.
Maka kali ini aku harus benar-benar minta maaf pada mereka. Dan tentang ‘nilai’, ‘kedalaman’, dan ‘isi’ mereka itu, begini saja, anggap itu semua tradisi kalian, dan aku tidak memilikinya. Bahkan enggan menelannya. Jika kalian tidak puas dengan jawaban itu, anggap saja bahwa sebetulnya aku punya ketiga hal itu, tapi kalian dan banyak orang yang lain terlalu bebal untuk menangkapnya. Kalau masih saja hal itu belum memuaskan, anggap saja bahwa inilah yang bisa aku lakukan, dan masih boleh kan jika orang berbeda? Bukankah kalian masih menghargai perbedaan? Dan aku pikir itu sudah cukup. Sebab bila kalian mulai menuntutku lagi, aku merasa kalian mulai membiarkan tumbuhan yang berkembang subur di balik dari tiap dinding penjara, benar-benar mekar di tubuh kalian. Dan aku tidak pernah mau bicara pada orang-orang yang seperti itu.
Lalu… lalu memang aku yang memecahkan jendela. Tapi kini aku tahu alasannya kenapa: aku menyayangi mereka semua dengan genap. Dengan romantisme, logika sekaligus kemarahanku. Dan hanya itu yang bisa aku berikan.
Oh ya, Perempuan-perempuan dari masa laluku itu juga memang benar atas satu hal: mereka telah menyakitiku dengan meninggalkanku. Sangat menyakitiku. Bagiku, mereka memang begitu keji. Tapi, tenang saja, pada akhirnya aku juga tahu akan sesuatu: segalanya ini terjadi, mungkin, karena aku memang sengaja diberi peran sebagai bocah yang gemar mencoret-coret serta mewarnai dinding kehidupan mereka.
Sayangnya, Perempuan-perempuan dari masa laluku - yang kini bergabung dengan kelompok mereka itu - enggan memahami bahwa potensiku ini semestinya diolah. Serupa dengan setiap kisah anak-anak yang autis. Serupa dengan setiap cerita bocah-bocah indigo. Serupa dengan seniman jalanan yang gemar menghiasi tembok kota dengan mural-muralnya.
Maka pantas rasanya jika tiap bocah autis, indigo atau seniman jalanan itu tidak dicerca bahkan ditinggalkan. Mereka seharusnya didekati, dipeluk, lalu seluruh energinya itu disalurkan. Bukankah ini yang namanya simpati dan empati?
Lalu sebenarnya, aku merasa sungguh beruntung karena Perempuan-perempuan dari masa laluku itu menyerah: diam-diam mereka telah memberikan contoh sebagai calon ibu yang buruk.
Terakhir, aku ucapkan terima kasih. Semoga kalian, juga Perempuan-perempuan masa laluku itu, berbahagia di sana. Aku tulus mengucapkannya, kok… Sungguh.
Nah, sampai sini dulu. Para penjaga itu juga sudah mulai menghampiri tiap pintu besi dari petak kecil kami dengan wajah memerah, sekaligus memerintahkan kami untuk masuk ke ruang duduk. Doakan agar kekejaman paling keji itu tidak akan menimpaku kali ini, ya…
Cekrek! Klang! ***
Bandung, di akhir Juni 2007
Catatan:
* Dari bahasa Serbia-Kroasia: keterdesakan tidak mengenal aturan.
** Dari seorang kawan yang menggratiskanku sebagai pasien di klinik psikiatrinya (seandainya seluruh psikiater sepertimu, kawan…).
*** Kisah ini adalah gubahan dari surat seorang sahabat berinisial W. S. M. Juga kata-kata yang aku kumpulkan dari sahabat-sahabatku. Terima kasih telah mengijinkan aku menyatukan semuanya. Dan, jika ada kesamaan tokoh, karakter atau kisah, maaf: ini hanya cerita yang aku persembahkan untuk diriku saja.