Kisah Ini Bercerita Biasa Saja (Original Version)
Sudah dua bulan ini aku berada dalam dekapannya. Tangan kirinya selalu memeluk pinggangku. Tangan kananku selalu di bahunya. Sementara tangan kanannya, juga tangan kiriku, selalu saling menggenggam.
Dan begitulah. Aku, ia serta beberapa anggota kursus dansa lainnya berputar-putar mengikuti alunan musik. Kadang Beethoven. Kadang Bach. Waltz. Tango. Sesekali Rock N Roll. Bahkan Rhytm N Blues. Dua terakhir itu kami lakukan, jika kebetulan mentor kami tengah berhalangan hadir mengajar. Dan kami melakukannya tiap sore hingga petang datang di akhir pekan.
Semua karena calon suamiku dulu, Aryo. Jika bukan karena dia, aku pasti sudah menolak mentah-mentah kursus dansa. Tapi Aryo berhasil meyakinkanku untuk mengambilnya. Pernikahan kami memang telah di rancang oleh Aryo akan menggunakan gaya internasional. Maka aku mesti bisa berdansa di akhir acara. Dengan mertuaku. Bahkan Aryo. Seperti di film-film.
Aku juga masih ingat di sebuah sore yang lain: Aryo datang bersamaku untuk mendaftarkan aku ikut kursus dansa. Saat itu, aku masih tinggal di ibukota. Bersama dengannya, aku juga melihat-lihat tempat yang menjanjikan pesertanya menguasai tekhnik berdansa dengan cepat. Dan ruangan tempatku berputar-putar itu, ternyata cukup luas. Tak ada perabotan disana. Serupa balairung lengang sebuah istana kerajaan yang kalah perang.
Sebenarnya, aku memang bukan Perempuan yang kenal dengan kemegahan dan kemewahan seperti itu. Hidupku, sejak kecil dulu, adalah kehidupan seorang pekerja. Dan aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengumpulkan keping rejeki daripada menghamburkannya. Maka jadilah aku seorang Perempuan yang sebenarnya pendiam, kikuk dan penyendiri. Perempuan yang serius.
Tamasyaku tak lebih dari tempat tidur kontrakan. Membaca koran, majalah atau buku-buku perpustakaan dari kantor pusat serikat pekerjaku. Atau, kadang, di akhir pekan, patungan untuk berpesta bir dengan kawan-kawanku.
Beberapa kali aku juga pernah diajak pergi ke diskotik oleh teman-temanku. Tapi aku lebih memilih duduk menikmati dentuman musik bersama alkohol daripada turun ke lantai dansa. Aku tak terlalu tertarik untuk meliuk mengikuti hingar-bingar musik dangdut. Juga musik lainnya.
Dan di sanalah aku bertemu dengan Aryo. Lelaki tinggi besar dengan tatapan penuh binar dan pendar harapan. Kesopanannya membuatku mau diajaknya berbincang-bincang. Hingga akhirnya aku di wawancarainya. Aryo, ternyata, tengah membuat berita sekaligus film dokumenter soal kehidupan para Perempuan pekerja pabrik di pinggiran ibukota.
Adalah kebetulan belaka jika kemudian aku jadi salah satu pengurus dari serikat pekerja pabrikku. Dan aku adalah orang yang selama ini selalu di cari-carinya untuk wawancara. Lalu kami bertukar nomor telepon genggam. Tak lama ia pun jadi sering berkunjung ke kontrakanku, pabrik, berkenalan dan bergaul akrab dengan teman-temanku.
Tentu saja ia bisa di terima dengan cepat dalam lingkungan kami. Selain wajahnya yang lumayan ganteng, Aryo adalah sosok yang senang membantu orang lain. Sudah terlalu sering kami ditolongnya. Terlebih lagi saat tanggal tua tengah mencekik dompet, sementara tukang kredit tidak mau mendengar alasan kami yang kadang memang terdengar sangat klasik. Dan Aryo melakukannya tanpa memiliki keinginan agar kami mengganti saat kami menerima gaji. Bukan itu saja, ia juga sering mengajak kami ke diskotik mewah di pusat kota. Tentu saja aku dan dirinya hanya menyaksikan teman-teman kami melantai di sana.
Dan sebagai gantinya, Aryo hanya meminta kami menyamarkan dirinya sebagai pekerja pabrik. Sesekali ia juga meminta agar di beri ijin jika serikat pekerja pabrikku tengah memiliki acara internal. Atau saat kami hendak menyiapkan demonstrasi. Mendadak aku dengannya jadi tambah dekat. Hidupku pun berubah. Kemudian Aryo melamarku.
Sampai di situ, hidupku masih lurus saja. Orang tuanya bukan saja memberikan restunya pada kami, bahkan mereka juga menganggapku sebagai anak Perempuan yang selama ini ditunggu kehadirannya. Aku memang telah yatim piatu. Sementara Aryo adalah anak tunggal. Dan kami saling jatuh cinta. Kami berbahagia. Kebetulan, orang tuanya memiliki pemikiran yang terbuka soal pilihan anggota keluarga mereka. Jadi, tak ada hambatan berarti dalam hubungan kami.
Hingga di suatu hari, aku mendapat kabar yang membuatku terpelanting dalam pedih yang semakin perih. Aryo ditembak mati karena meliput seorang pejabat yang melakukan korupsi. Hidupku seketika sedih. Duniaku gelap. Pekat pun membekap.
Sesaat hujan simpati berdatangan: teman-teman dari tempat Aryo bekerja, serta beberapa orang yang simpati dengan kejadian ini, menyempatkan diri datang mengunjungi. Sebagian memang datang karena panggilan hati mereka sebagai sesama manusia. Sebagian lagi datang sambil menyampaikan simpati mereka dalam bentuk uang dan benda. Sementara yang lainnya datang untuk menyampaikan kutukan mereka atas kejadian ini.
Lalu mereka semua berjanji tidak akan membiarkan kejadian itu hilang dari ingatan. Mereka juga berjanji akan menjebloskan pelakunya ke penjara dengan beban hukuman terberat. Mereka meyakinkan aku: pasca kejadian ini aku tak akan pernah di tinggal sendiri. Dan mereka membuktikan janji itu dengan terus membuat berita tentang kematian Aryo serta perkembangannya.
Tapi, entah kenapa, aku seperti tahu: janji itu hanya sekedar janji. Tokh waktu kerap menyuntikkan bius lupanya pada manusia. Dan mereka pasrah untuk terlena bersama kemabukannya: semua yang pernah berjanji itu bisa jadi kembali lagi dalam kehidupan mereka semula. Kembali dalam kesibukan mereka sebelumnya. Lalu meletakkan kisah tentang seorang Perempuan yang ditinggal mati kekasihnya, sebagai sebuah riwayat belaka. Mungkin akan berakhir hanya sebagai dongeng yang penuh warna dan berbau tua. Dan yang menikmati kematian dari kekasihku itu, mereka yang telah berjanji padaku. Juga penjahat yang melesatkan peluru ke dada kekasihku.
Aku tahu, mungkin ini hanya prasangka yang beraroma marah. Tapi kemudian, siapa yang mendapat uang iklan dari berita tentang kematian kekasihku? Media massa. Siapa yang menikmati uang iklan itu? Mereka yang bekerja di sana.
Aku juga tahu, sepenuhnya itu bukan kesalahan mereka. Lagi pula, dari mana media massa bisa bertahan hidup jika tidak dari iklan? Tapi tetap saja, pada akhirnya kisah kematian kekasihku ini hanya berdiri di satu sisi. Sementara, uang yang mengalir dari kabar kematian kekasihku itu berdiri di sisi lainnya. Keduanya seperti jadi bagian yang terpisah jauh.
Dan siapa yang benar-benar bisa menyentuh pejabat birokrasi di negara yang berlumuran korupsi ini? Kalau pun ada, pasti itu hanya sandiwara belaka: sekedar usaha mengelus-elus perasaan keluarga korbannya. Jika memang benar ada kabar bahwa pejabat yang jahat itu benar-benar tertangkap lalu di jebloskan dalam penjara, ia pasti tengah sial belaka. Atau sekedar kroco-kroconya saja. Bukan penjahat yang sebenarnya. Dan, sialnya, mereka yang dijebloskan dalam penjara itu, menikmati hidup di sana serupa saat mereka berada di luarnya. Kemudian bulan-bulan selanjutnya, pejabat atau kroco-kroconya itu akan kembali lenggang kangkung dari penjara. Tentu saja dengan kebebasannya yang penuh.
Lalu siapa yang terganggu dengan kenyataan itu? Tidak mereka. Bahkan pejabat yang melesakkan peluru ke dada kekasihku. Pada akhirnya, yang tersisa hanya aku. Perempuan yang mesti menghadapi kematian calon suaminya. Sendiri.
Maka semua amarah ini menggumpal jadi satu bukti: simpati, janji, benda atau uang duka cita atas satu peristiwa hanya formalitas belaka. Dan aku tidak butuh itu semua. Aku juga tidak perduli jika kemudian mereka tersinggung dengan kata-kataku lalu mengambil kembali apa yang telah mereka berikan padaku itu. Ambil saja lagi. Aku memang tidak menginginkannya. Aku hanya ingin Aryo hidup lagi. Aku hanya ingin keceriaan itu kembali.
Dan calon suamiku tetap saja pergi. Tak akan pernah bisa kembali. Juga mereka semua.
Belum genap amarah yang sepi itu menderaku, kedua orang tua angkatku ikut menyusul anak mereka ke alam baka. Kenyataan kehilangan anak yang sangat disayang, membuat mereka terpuruk dalam kesakitan. Fisik. Terutama jiwa.
Kembali aku larut dalam pilu. Segala sendu luruh lagi dalam hari-hariku. Hampa pun bekap jiwa. Aku tidak kuat lagi menanggung beban ini. Dan aku benar-benar berjuang sendiri melewati lilitan masa agar bangkit dari kenyataan ini.
Maka kemudian aku tinggalkan semua kisah tentang Aryo. Aku bakar semua foto, surat cinta, bahkan kartu undangan yang sudah tercetak. Aku berhenti dari kursus dansa. Aku jual seluruh warisan dari mereka. Termasuk rumah yang telah di persiapkan untuk aku dan Aryo nanti.
Lalu aku pun pindah ke sebuah kota. Berharap bisa memulai hidup baru.
Tapi entah kenapa, di kota baru ini, kisah indah tentang aku, Aryo dan keluarganya terus menghantui. Membayangi hidupku. Aku selalu saja disambangi oleh Aryo dan ayah-bundanya dalam tidur. Memanggil-manggilku. Mengajakku pergi. Menunjukkan sebuah taman yang indah. Hijau. Lapang. Hati dan pikiranku rancu. Hidupku pun tambah kacau.
Akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan: aku akan menyusul mereka semua ke alam baka. Aku rancang sebuah bunuh diri. Aku putuskan untuk mati pada hari pernikahan kami. Aku hubungi pengacara keluarga kami yang masih setia itu. Aku memintanya untuk menuliskan surat wasiat. Segala yang kumiliki, aku serahkan pada panti asuhan. Termasuk seluruh uang duka cita dari media massa tempat Aryo bekerja. Kini aku benar-benar tidak butuh lagi uang atau simpati. Uang dan simpati memang tidak pernah bisa membunuh sepi.
Dan keputusanku bulat. Tapi aku mesti menyelesaikan yang sudah aku dan Aryo mulai: lulus dari kursus dansa. Itu adalah permintaan terakhirnya. Kebetulan saja aku temukan kursus dansa di kota ini.
Demikianlah. Aku pun bertemu dengannya. Lelaki berwajah tirus dan berkacamata minus serta selalu mendekapku tiap akhir pekan itu. Ia memang asisten dari mentor dansaku. Dan mentorku itu, selalu saja memasangkan aku dengannya.
Sebenarnya aku takut saat mentor memasangkan aku untuk berdansa dengannya. Tatap matanya selalu saja mampu mengoyak-ngoyak hatiku. Menikam-nikam jiwaku. Tanpa perlu mengucapkan kata, aku seperti tahu banyak tentangnya. Juga dengannya. Meski dalam tiap sesi, atau usai latihan, kami jarang berbincang-bincang.
Ia memang lelaki penyendiri dengan dunianya sendiri. Seperti rawa-rawa yang menyimpan sejuta misteri. Beberapa kali aku memang pernah menangkap sorot matanya mengawang-awang. Entah apa yang tengah diterawangnya. Tapi kemudian dengan cepat ia langsung menguasai perasaannya dengan tenang.
Dan bukan itu saja, aku juga selalu merasakan pilu mengapung di udara saat aku tengah berdansa dengannya. Seperti sebuah dansa terakhir menjelang satu kematian yang pasti. Aku pun sering bertanya-tanya sendiri: tahukah ia tentang rencanaku bunuh diri? Atau jangan-jangan, ia sendiri juga memiliki rencana yang sama denganku? Ah, biarlah… Lagi pula, apa perduliku dengan masalahnya? Dan apa perdulinya dengan masalahku?
Lalu hari-hari mengalir bagai dedaunan gugur yang hanyut di sungai. Kursus itu sebentar lagi berakhir. Itu berarti, aku akan bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi. Sebentar lagi. Tunggu aku di sana, sayangku…
Tapi kemudian, lelaki itu tidak pernah muncul lagi di tempat latihan. Tak ada yang tahu kemana ia pergi. Bahkan juga mentor dansaku. Maka dalam hening aku coba kuatkan hati untuk menjalankan aksiku. Meski diam-diam, aku selalu bertanya-tanya keberadaan lelaki itu. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menemaniku berdansa selama ini.
Dan di sebuah sore yang sendu, aku bertemu dengannya di bandara itu. Saat itu, aku baru saja melepas salah satu sahabatku pergi. Dia pengacara keluarga Aryo. Maka aku menemukan lelaki itu tengah duduk di bangku ruang tunggu. Mengapit tas ransel di kakinya. Menatap senja. Termangu.
”Ternyata kamu benar-benar pergi.” Ia kaget menatapku yang telah berdiri di hadapannya.
”Kamu? Sedang apa kamu disini?”.
”Mengantarkan Sinta. Sahabatku. Kamu?”. Ia hanya menatapku sebentar lalu membuang tatapannya.
”Baiklah. Jika kamu memang tidak ingin memberitahuku. Itu memang urusanmu sendiri. Sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan. Terima kasih telah menemaniku berdansa selama ini.”
Sebenarnya, aku telah siap untuk beranjak pergi. Tapi tiba-tiba, ia menarik tanganku. Keras. Hingga wajahku dengan wajahnya begitu dekat. Ia menatapku. Sebuah tatapan yang tiba-tiba saja mengguncangku.
”Aku ini bukan orang yang romantis. Sungguh. Meski dulu aku kerap membuatkan puisi pesanan teman-temanku. Atau juga cerpen indah beraroma cinta. Tetap saja aku bukan orang yang romantis. Aku ini seperti tokoh bernama Roman dalam buku Picisan.
“Seseorang pernah berkata padaku: romantisme adalah soal yang tidak pernah masuk akal. Intuitif. Bahkan gila. Aku setuju dengannya. Dan aku kerap mendengar bahkan menyaksikan banyak Perempuan mencari romantisme pada lelakinya: lelaki yang benar-benar menginginkan dirinya. Lelaki yang mau menghempaskan harga dirinya saat berada di hadapan perempuannya. Lelaki yang bersedia melakukan apa saja demi kekasihnya. Atau melamar Perempuannya dengan menyiapkan lilin, bunga, makan malam, dansa lalu bersimpuh di atas lutut saat memberikan cincin pernikahan mereka. Tapi kemudian, usai mendapatkan keinginannya, semuanya kembali seperti sedia kala: Perempuan melayani suaminya.
“Sungguh. Aku muak akan standard ganda dunia busuk patriarkhi yang merusak ini. Sekaligus juga mual dengan romantisme. Bukankah seharusnya kita menghormati satu sama lainnya sebagai manusia saja? Dengan kejujuran, kepolosan serta harga diri yang kita punya. Lalu meletakkan esensi cinta lebih tinggi dari romantisme atau patriarkhi.
“Dan seseroang juga pernah memberitahuku: itu semua serupa dengan sebuah dansa. Maka aku pun belajar berdansa. Dan dansa bukanlah soal menggerakkan badan mengikuti alunan musik. Berdansa adalah soal menyatukan irama jiwa pasangan dansa. Jika kamu terlalu toleran pada pasangan dansamu, maka dansamu itu akan kacau balau. Sementara, jika kamu terlalu egois, dansa itu juga akan kacau balau. Maka berdansa adalah soal berdiri di antara toleransi dan egoisme pribadi.
“Lucunya, aku malah dianggap aneh oleh banyak orang. Mungkin aku telah serampangan memaknai setara. Maka beberapa tahun ini aku mengintrospeksi diri. Dan, ternyata, kuntum bunga untuk perempuan itu punya arti. Mawar adalah cinta yang posesif dan mudah layu. Edelweiss berarti kesederhanaan dan selamanya. Anggrek adalah cinta yang kuat tapi mesti terus di jaga. Dan sebagainya. Seperti itulah rasa dari manusia.
“Maka aku ingin kamu tahu, semua yang aku lakukan itu berdasarkan jeritan untuk mencari esensi cinta pertama dan terakhirku yang hilang karena telah di rampok orang. Dan mencari berarti menemukan. Maka beberapa hari ini, aku menziarahi masa laluku. Lalu aku bertemu dengan banyaknya kenyataan: Perempuan pertamaku pasti tengah berbahagia di surga sana. Perempuan kedua dan ketigaku telah berbahagia, dengan suami juga buah hati yang mencintai mereka. Dulu, kami berjanji akan selalu saling menjaga.
“Dan demikianlah. Semesta mempertemukanku dengan hal itu: mereka bahagia dengan pilihannya. Seperti juga kamu, berbahagia dengan pilihanmu sendiri. Aku tahu, kamu akan bunuh diri usai kursus dansa ini selesai.
“Awalnya hati ini terbakar kegetiran saat tahu kamu memilih hendak menghabisi hidupmu yang indah itu. Tapi pada akhirnya, kamu juga aku sudah sama-sama dewasa. Maka aku mesti adil: apapun pilihanmu atas hidupmu sendiri, itu adalah pilihanmu. Dan aku mesti menghormatinya.
“Maka aku ingin kamu tahu: pernah ada laki-laki yang sangat mencintaimu. Meski dalam hening.
“Berdansa denganmu, aku merasakan gelora itu. Denyar-denyar kehidupan. Entah dengan kamu. Karena kamu, selalu mengunci mulutmu. Karenanya, usai itu semua, segalanya menjadi abu. Maka kini, aku undur diri dari hadapanmu: jadi ombak soliton dengan kesoliterannya di samudera kehidupan. Suatu saat nanti, kita mungkin bertemu lagi. Di dunia ini. Atau juga ujung waktu nanti. Pasti.
“Dan dimana pun aku juga kamu, aku ikut bahagia dengan pilihanmu. Apapun itu. Bahkan jika kemudian kamu memutuskan untuk melanjutkan hidupmu lagi. Lalu bertemu dengan lelaki yang selalu berada di sisimu, tentu aku juga ikut bahagia.
“Semua karena satu hal: Perempuan baik itu seperti lelaki yang baik. Mereka selalu berada di samping seseorang. Sang Pencipta atau juga pasangannya. Dan aku tahu, aku ini bukan lelaki yang baik. Aku tidak berhasil mewujudkan keinginan sahabatku, Aryo.”
”Aryo?”. Aku tergeragap dan menganga mendengar seluruh kata-katanya. Ia tahu niatku. Ia tahu banyak hal tentang aku. Ia menyebut-nyebut telah jatuh cinta padaku. Terlebih lagi ia mengenal Aryo. Ada bening tiba-tiba jatuh mengaliri kelokan wajahku. Aku menangis.
”Ya. Aryo”. Ia tidak memberikanku kesempatan untuk berbuat lebih banyak.
”Aku sahabatnya. Pada hari penembakan itu, aku yang mengantarkan lelakimu itu ke rumah sakit. Hari itu adalah hari pertama aku kembali ke ibukota. Kami memang bekerja di media massa yang berbeda. Tapi persahabatan kami sudah berlangsung sejak lama. Aku telah dianggap saudara oleh Aryo dan keluarganya. Juga dengan Sinta, pengacara yang baru saja kamu lepas pergi itu.
“Selama ini aku memang berada di luar negeri. Kuliah lagi. Tapi aku dan Aryo tidak pernah kehilangan kontak satu sama lainnya. Kami kerap mengirim surat elektronik. Dari situ aku tahu tentang kamu. Aku tahu tentang rencana pernikahan kalian. Dan aku berbahagia untuk kalian.
“Tapi kemudian peluru itu merenggut sahabatku. Mencabut kebahagiaanmu. Pejabat yang jahat itu membunuhnya. Dan pejabat itu tetap bebas hingga kini. Padahal ia benar-benar terbukti korupsi.
“Aku tahu kamu sangat marah. Begitu marahnya. Tentu juga aku. Bahkan, hingga kini aku tetap tidak bisa terima kenyataan ini. Dan, nyaris saja aku melaksanakan niatku meminta balas atas darah yang telah muncrat dari tubuh sahabatku: aku hampir saja membunuh pejabat itu.
“Tapi kemudian aku selalu teringat: menjelang kematiannya Aryo memintaku untuk menjagamu. Perempuan yang dicintainya. Aku memang berhutang nyawa padanya: Aryo pernah menyelamatkan aku dari kematian saat meliput sebuah konflik bersenjata. Tapi kemudian, kamu tiba-tiba saja pindah ke kota ini. Jauh dari ibukota. Dan janji adalah janji. Aku harus menepati.
“Aku pun pindah ke kota ini. Meninggalkan semua yang aku miliki di Ibukota. Dari Sinta aku tahu keberadaan kamu. Bahkan niatmu untuk menuntaskan kursus dansa, sebelum kamu membunuh dirimu. Maka aku melamar jadi asisten kursus dansa itu. Semuanya untuk memenuhi janjiku pada Aryo. Lalu, tiba-tiba saja aku jatuh cinta padamu. Aku jatuh cinta pada Perempuan dari sahabatku!
“Aku tahu ini semua salah. Terlebih lagi, aku tidak berhasil mewujudkan keinginan sahabatku: mematahkan keinginan kelam Perempuan yang dicintainya, menyusul lelakinya di alam baka. Aku sadar, kalian memang ditakdirkan bersatu. Kalian saling mencintai. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Maka sampai jumpa lagi, Perempuan. Terima kasih atas semuanya. Segalanya tentang kamu, akan aku kenang sebagai yang sempurna dalam salah satu riwayat hidupku. Karena cinta yang indah dan selalu di cari oleh manusia itu, cinta sejati, selalu tinggal di dalam hati. Meski telah berakhir atau juga mati.”
Aku tersedu-sedu mendengar penjelasannya. Aku tak mampu berbuat banyak atas seluruh kejutannya hari ini. Lelaki yang selama ini jadi pasangan dansaku adalah sahabat dari almarhum calon suamiku. Ia berjanji pada Aryo akan menjagaku. Ia menyusul kepindahanku di kota ini. Ia menceritakan hidupnya padaku. Dan ia mencintaiku. Semuanya terasa begitu cepat. Seperti kilat.
”Terlukakah kamu atas semua kejadian ini?” hanya kata itu yang keluar dari sesegukanku.
”Ya. Tentu saja jiwaku terluka. Sangat bahkan. Tapi sebenarnya luka itu juga yang membuat manusia semakin mengerti, hidup adalah soal perjalanan panjang atas pencarian Cinta: luka itu ingatkan manusia bahwa ia masih hidup sebagai manusia.
“Dan aku tahu pasti, kehilangan orang yang kamu cintai membuat dunia ini jadi gelap. Seperti masuk ke dalam lubang yang sangat hitam dan dalam. Terus menghisapmu hingga ke dasarnya bersama kelam. Hitam seperti mengelilingimu. Aku tahu betapa kamu ingin untuk mengakhiri segala pekat. Maka kamu memutuskan untuk membunuh dirimu. Aku tahu posisi itu. Aku pernah dalam posisimu. Bahkan aku pernah tidak bisa berbicara pada siapa-siapa selama berbulan-bulan. Lalu akhirnya aku pahami sesuatu: keadaan memang tak pernah kembali seperti semula. Tapi segalanya akan baik-baik saja.
“Maka kini aku pastinya akan terus berjalan. Meski kadang mulus. Kadang tersaruk-saruk. Tapi hening pasti akan jawab segala tanya. Dan aku percaya itu: harapanlah yang membuat manusia bisa melanjutkan hidupnya. Maka Perempuan, aku tuntaskan kamu hari ini. Apapun pilihanmu, itu hidupmu. Dan aku berbahagia sepenuhnya untukmu. Aku pergi. Pesawat itu telah menungguku.”
Ia pun melepaskan genggaman tangannya. Kemudian berbalik dan mencangklong tas ranselnya. Lalu berjalan cepat menuju pintu masuk bandara. Meninggalkan aku yang berdiri sendiri dan tersedu.
Untuk sesaat aku terpaku. Seluruh peristiwa juga kata melintas lalu saling bertabrakan. Tiba-tiba aku tak dapat mengendalikan diriku. Aku berlari mengejar lelaki itu. Aku cengkram pundaknya. Ia pun membalikkan badannya. Menatapku. Mukanya basah. Ternyata ia berjalan sambil tersedu. Dan anehnya, aku tersenyum sambil sesegukan.
”Aku lupa bertanya padamu, maukah kamu menjagaku?”
***
Message has been sent.
Sinta menekan tombol sign out dari e-mailnya. Wasiat terakhir sahabatnya, sudah ia kirimkan ke media massa. Sebuah cerpen yang berakhir bahagia. Tapi Sinta tahu yang sebenarnya: dua hari yang lalu polisi memberi tahu dirinya bahwa mereka menemukan sahabatnya telah bunuh diri. Di hari yang sama, sebuah pesawat jatuh menghantam bumi. Dan hanya Sinta yang tahu. Hanya Sinta.
Tangis Sinta tumpah…
Bojonggede, 18 Maret 2007