Archive for August, 2007

Aku Punya Jutaan Alasan

Aku punya jutaan alasan untuk mencarimu, sekedar mengutarakan: aku memang perlu bertemu denganmu. Untuk mendengar suaramu. Untuk berbincang denganmu meski itu hanya sesaat.

Aku punya jutaan alasan untuk menunggumu: aku tidak lagi bisa mempercayai akan ada yang lain yang bisa aku cintai.

Aku punya jutaan alasan, dan lebih banyak lagi alasan, untuk bertanya pada angin: ‘adakah kamu berkehendak kembali lagi padaku meski sebagai bayangan?’.

Aku punya jutaan alasan untuk tidak pernah melupakanmu. Karena sepotong kebahagiaan kecil itulah yang telah kamu berikan padaku.

Dan, sungguh, aku masih punya jutaan alasan untuk kamu. Hanya untuk kamu.

Tapi aku juga punya sekeping hati yang telah kamu lukai…

Let Me Sing You A Waltz

Let me sing you a waltz, out of nowhere, out of my thoughts.
Let me sing you a waltz, about this one-night stand: you were, for me, that night.
Everything I always dreamt of in life.

But now you’re gone.
You are far-gone.
All the way to your island of rain.
And it was for you, just a one-night thing.

But you were much more to me, just so you know.
I don’t care what people say.
I know what you meant for me that day.
I just want another try.
I just want another night.
Even if it doesn’t seem quite right.

You meant, for me, much more than anyone I’ve meet before. One single night with you, dear Zoel, is worth a thousand with any body.
I have no bitterness, my sweet.

I’ll never forget this one-night thing.
Even tomorrow, in other arms.
My heart will stay yours untill I die.

Let me sing you a waltz, out of nowhere, out of my blues.
Let me sing you a waltz, about this lovely one-night stand.

-Dari ia yang pernah bersamaku. Meski itu hanya semalam-

A Milkshake

Daydream delusion.

Limousine eyelash.

Oh, baby, with your pretty face, drop a tear in my wineglass.

Look at those big eyes, see what you mean to me: Sweet cakes and Milkshake.

I am delusion angel.

I am fantasy parade.

I want you to know what I think, don’t want you guessing anymore: You have no idea where I come from.

We have no idea where we’re going.

Lodged in life, like branches in the river.

Flowing downstream caught in the curent.

I carry you, you’ll carry me.

That’s how it could be.

Don’t you know me?

Don’t you know me by now?

Seseorang Menerobos Ganas (Original Version)

        Kali ini aku ingin berkisah. Bercerita tentang cerah yang hanya sesaat di angkasa sana. Lalu angin dingin datang, tandakan hujan akan segera tiba. Meriwayatkan, mengapa hembusannya yang kencang itu terasa basah dan selalu membawa bau dari beceknya tanah. Aku berharap, meski tak banyak, mungkin ini jadi salah satu warisan terindah dari seluruh dongeng tentang jiwa yang patah.

        Dan, dengan sisa patahan yang terserak itu, aku akan coba susun keping demi keping peristiwa. Lagi. Meski aku tahu, mungkin aku harus menghirup debu tebal yang menutupinya. Lalu terbatuk-batuk saat membersihkannya. Tapi, tenang saja, meski kini jadi penuh warna dan bau tua, segalanya masih tinggal dalam gudang ingatanku kok…

        Bahkan, sepertinya aku juga masih menyimpan catatan pengantar dari dongeng yang terlanjur tercabik-cabik itu. Memang, aku tahu, tidak semua kejadian bisa terekat dengan tepat di tiap bagian dari lembarannya. Sebagian detilnya telah tercecer. Sebagian lagi, hilang. Tapi, setidaknya, aku tetap berusaha keras agar guratan-guratan yang tersisa dan mulai menipis itu tidak terlalu kabur. Dan dengan senang hati, aku akan membacakan yang tersisa untukmu.

        Lalu begitulah. Satu per satu halaman pertama ini berhasil aku susun. Juga keping demi keping dari patahan itu: membentuk mozaik secercah cerah. Pembuka dari sejarah pedih yang semakin perih.

        Disana, aku susuri lagi warna-warni dan ringkik matahari serta daun-daun yang melambai dari mozaik juga catatan pengantar ini. Sejenak, ada yang mengalir di kelokan wajahku: kamu dan aku pernah terikat dalam drama sederhana itu. Kita.

        Saat itu segalanya terasa sempurna. Bahkan saat kita hanya berpegangan tangan dan biarkan hening berkuasa. Semuanya begitu sederhana.

        Tapi apa yang pernah dimulai, memang harus diakhiri. Maka yang terjadi selanjutnya: kita hanya bisa kembali menekuri sunyi. Sendiri-sendiri.

        Tak lama mereka memanggil-manggil lagi: kamu juga aku mesti mau mengusir sepi. ‘Kita’, meminta kamu juga aku segera menjemur luka itu hingga kering. Bersama. Kembali. Dan sungguh aku merindukannya: kamu. Semuanya. Sangat.

        Aku tahu, kamu juga menginginkannya. Tapi aku juga tahu, kamu mesti mematikannya. Dan aku sangat tahu, kamu lelah dengan dua rasa yang terbelah ini. Padahal, kamu sebenarnya hanya ingin hidup yang tentram saja. Kamu pun memutuskan untuk hidup dengan penuh kepastian atas satu rasa keamanan.

        Justru karena keinginanmu itu, secercah cerah gugur. Rontok helai demi helai. Kamu tahu, aku tidak bisa memberikan kepastian itu. Juga ketentraman itu. Bahkan untuk sekeping rasa aman saja, aku tidak mampu menghadiahkan bagi diriku sendiri. Akhirnya, kamu benar-benar memberikan aku gelengan. Sebuah geleng penghabisan. Semuanya selesai.

        Ternyata tidak. Aku kembali bertemu denganmu. Kamu mengajakku bertemu. Kamu mengatakan kangen padaku. Sangat. Dan di taman tempat berkumpulnya para seniman itu, kita duduk. Menikmati kopi. Menyesapi masa yang seperti kembali berpihak pada kita. Pada sebuah sore.

        Dari seberang meja, aku menatapmu. Dan aku tidak percaya dengan mataku. Seperti tak ada yang berubah darimu. Padahal sudah lebih dari setengah tahun berlalu. Aku periksa satu persatu dirimu: rambutmu masih legam tergerai. Pipimu yang gembil itu masih tetap bersemu bila tertimpa warna senja. Kulitmu masih halus dan menguarkan wangi. Senyummu juga tetap penuh.

        Tapi, apa itu? Hei… matamu! Ya. Pendar matamu tidak lagi secerah dulu! Ada kelebatan warna sendu. Mendadak aku ingin segera merapatkan tubuhku padamu. Lalu tumpahkan kata yang mungkin saja jadi simpul kita lagi: ‘kamu jangan sedih. Aku masih mencintaimu’.

        Tapi aku hanya bisa tercekat. Tenggorokan ini tiba-tiba saja seperti memiliki sekat. Ternyata itu memang perlu: semuanya mesti selalu menggunakan perhitungan. Bahkan untuk kata-kata yang seharusnya aku ucapkan dengan kejujuran.

        “Kamu tahu apa yang membuatku sedih, kan?”. Aku mengangguk. Membuang pandang. Juga kamu. Bahkan senja juga ikut-ikutan membuang terang. Malam hadir dan membawa lampu yang berpendar seperti kunang-kunang. Ternyata kita mesti kembali berpisah.

        Duh, ribuan kali aku sudah berkata padamu: berhentilah untuk selalu memiliki sedih! Berhentilah untuk terus menerus menenggak sendu. Bergembiralah! Aku hanya ingin kamu selalu tersenyum. Tertawa kecil. Kalau perlu, selalu terpingkal-pingkal.

        Biarkan kegembiraanku itu ditukarkan dengan kepedihanmu. Biarkan sendumu itu aku yang tenggak. Tandas. Tuntas. Tokh, pada akhirnya, kebahagiaanku telah usai sejak kepastianmu itu menghampiriku: undangan pernikahan yang di dalamnya mengguratkan namamu. Sekaligus pada sore itu kamu menyerahkannya padaku.

        Aku tahu, mungkin aku telah salah melontarkan impian. Mungkin aku telah salah meletakkan harapan. Mungkin aku memang telah salah mengira, pertemuan itu bisa jadi awal yang baru dari kita. Ternyata, memang tak ada lagi yang baru dari kamu juga aku. Justru sesuatu yang baru itu hanya menghampiri hidupmu.
   
        Maka pekat yang pernah membekap itu kembali menghampiriku. Cerah yang pernah membuatku gembira itu berganti kelabu. Gemuruh jadi kelambu dalam hidupku. Hari-hariku rusuh. Logika dan hatiku rancu. Aku pingsan saat waktu menggodamku. Sepertinya.

        Lalu suara ketuk hadir di pintu kontrakanku. Aku bangun kemudian membukanya dengan enggan. Dan yang berdiri itu ternyata kamu!

        Seketika hening terpaku saat kita hanya saling menatap. Gigil tiba-tiba merangsek. Menghajar tubuhmu yang kini berubah jadi kurus. Setahun telah berlalu sejak kamu serahkan undangan pernikahanmu itu. Dan kini kamu di hadapanku. Dengan tubuh terguncang kencang. Seakan hendak luruhkan seluruh sendu yang menempel di sekujur tubuhmu.

        Aku tangkap tubuhmu yang mendadak layu. Aku bawa dan selimuti kamu di tempat tidurku. Aku hidangkan coklat hangat untukmu. Kamu menggeleng.

        “Tidak! Kali ini kamu mesti mengangguk! Aku tahu berapa lama waktu dan jarak tempuh kereta api Argo Anggrek itu. Dan kamu, pasti belum mengisi perutmu. Terlebih lagi dengan peristiwa yang kamu alami dan bawa ke Jakarta ini. Kalau alasan kedatangan kamu kesini hanya untuk mendemonstrasikan penyiksaan atas dirimu lebih jauh lagi, lakukan di tempat lain! Jangan di hadapanku!”. Demikian dengusku.

        Aku pergi lagi ke dapur dan kembali ke hadapanmu dengan bubur di tanganku. Ajaib! Tiba-tiba saja kamu manut. Aku kaget, kali ini kamu mau mendengarkan kata-kataku. Dan bubur serta coklat hangat itu segera kamu habiskan. Tapi tidak semuanya. Pedihmu masih tersisa di mangkuk dan gelas itu. Berkerak di dinding kamarku. Bercampur dengan getirku.

        Lalu aku baluri sekitar matamu dengan salep pereda memar. Kamu tepis tanganku saat menyentuh bagian yang kini legam itu. Aku baluri lagi. Kamu meringis kembali.

        “Ayolah. Lebih baik sakit sekaligus dari pada kamu coba bertahan lalu perihnya berlangsung lama”. Kamu menunduk. Pendar mata yang selalu membuatku rindu itu, kini semakin biru. Kamu tambah kuyu.

        “Rasa sakitmu atas diriku pasti lebih pedih dari ini…”. Aku berhenti membaluri matamu. Diam.

        “Maafkan aku…”. Aku tatap kamu yang baru saja menggetarkan kata itu. Dulu, kamu selalu menderaikan senyum penuh padaku. Selalu membuatku merindukan kamu. Kini, di hadapanku, bibir itu pecah. Juga tangismu.

        Seharusnya, aku memelukmu. Membiarkan seluruh tangismu tumpah lalu membasahiku. Kemudian melewatkan sedih dengan diam yang sederhana. Selanjutnya mengusap punggungmu dan berbisik: ‘semuanya akan baik-baik saja’. Seperti dulu-dulu.

        Tapi itu tidak mungkin aku lakukan. Aku tidak ingin mengambil keuntungan dari kesedihanmu. Lagi pula, jika kemudian kamu mesti kembali padaku, aku tidak ingin kita melaluinya lewat lubang perselingkuhan. Meski, aku dan juga kamu tahu, kita bisa saja mewujudkannya. Sekarang.

        Aku mau kamu kembali padaku dengan kebulatan hatimu. Tanpa sebuah kecurangan. Tokh aku ini sama dengan semua manusia biasa di seluruh dunia: marah besar dengan pengkhianatan. Dan sejak awal aku tahu, kamu tidak akan bahagia dengan pernikahanmu. Begitu juga denganku. Tapi aku juga akan tambah tidak bahagia jika melihatmu bersedih. Seperti saat ini.

        Dan yang keluar dari mulutku malah kata-kata itu: ‘Kita berpisah karena kita memang mesti berpisah. Tidak ada hubungannya dengan kesalahanmu dalam memilih’.

        Kamu pun terlihat lebih tenang. Lalu aku tawari kamu melapor pada sahabat-sahabatku yang giat memerangi masalah seperti ini. Kamu menolak. Kamu tidak ingin suamimu tahu keberadaanmu. Juga dengan siapa saat ini kamu berada. Kamu tidak ingin menambah persoalan. Aku geram padamu. Dan kamu tahu itu. Kamu memang selalu tahu diriku.

        “Kamu benar-benar ingin menolongku?”. Aku mengangguk pasti.

        Kamu menarik tanganku. Meletakkannya di atas perutmu. Lalu mengajakku berbaring. Dan kamu berbaring memunggungiku. Kini, kamu yang selalu aku rindu itu, di hadapanku. Dalam pelukanku. Kamu sangat dekat. Kita begitu dekat.

        “Peluk aku. Seperti dulu. Aku ingin tidur sambil merasakan detak jantungmu. Detak jantungku”. Tak lama kamu terlelap. Tidak denganku.

        Aku bangkit perlahan dan melepas pelukanku. Aku rapihkan selimut yang menutupi tubuhmu. Aku pandangi kamu. Dan aku tak tahan lagi untuk sesenggukan menatap dirimu yang pulas.

        Kamu yang pernah membuatku cerah, kini kelabu. Kamu yang telah membuatku pecah, kini menjadikan aku mengeping dalam sendu. Tapi aku tetap mencintaimu. Sungguh. Ternyata kamu juga. Memang, lebih baik kamu terlambat mengatakannya dari pada tidak sama sekali.

        Dan selama hari-hari berikutnya, kamu selalu memintaku untuk mendekapmu. Kamu juga memanggilku seperti dulu: ‘abang’. Hingga tibalah hari itu. Kamu pamit dariku. Kembali kita mesti berpisah.

        “Aku pulang hanya untuk meminta cerai. Tepat pada ulang tahunmu nanti, sudah ada kita. Pasti. Dan ini pengikat janjiku itu padamu”. Aku kaget menerima amplop itu.

        “Aku pamit. Sebentar lagi pesawatku pergi. Kamu tunggu aku, ya…”. Kamu memelukku. Erat. Kamu menciumku. Kencang. Udara terasa gerah saat aku melepasmu. Bahkan saat taksi mengantarkanku pulang.

        Dan aku berteriak kencang saat membaca suratmu di amplop itu: ‘Aku setuju dengan nama Chris, jika ia laki-laki. Juga dengan Senja bila ia perempuan. Dua hari yang lalu, aku telah memastikannya ke dokter kandungan. Selamat, ya, bang… eh, ayah…”. Supir taksi itu pun menyelamatiku. Aku tiba di kontrakan dengan senang.

        Belum genap setengah hari kamu pergi, ada yang mengetuk pintu kontrakanku. Aku buka dengan riang. Seseorang menerobos ganas. Dua orang temannya, berdiri di samping pintu.

        “Dimana kamu sembunyikan istriku?!”. Lelaki itu langsung mendorongku ke pojok ruangan.

        “Dia sudah pulang. Dia ingin bercerai darimu. Dia tak kuat lagi selalu kamu pukuli! Dan kamu sangat mengkhianati kepercayaanku!”. Ia menatapku. Dingin.

        “Ah… sejak kecil aku mengenalmu, kamu itu masih saja banyak bicara! Aku menyesal memiliki sejarah persahabatan denganmu!!!”. Aku tak sempat menghindar saat sebutir peluru menembus jantungku. Aku hanya mendengar, saat itu air dan gemuruh benar-benar runtuh dari angkasa sana. Lalu semuanya gelap.

                                                                                        Bojonggede, 10 Juni 2007

Kisah Ini Bercerita Biasa Saja (Original Version)

        Sudah dua bulan ini aku berada dalam dekapannya. Tangan kirinya selalu memeluk pinggangku. Tangan kananku selalu di bahunya. Sementara tangan kanannya, juga tangan kiriku, selalu saling menggenggam.

        Dan begitulah. Aku, ia serta beberapa anggota kursus dansa lainnya berputar-putar mengikuti alunan musik. Kadang Beethoven. Kadang Bach. Waltz. Tango. Sesekali Rock N Roll. Bahkan Rhytm N Blues. Dua terakhir itu kami lakukan, jika kebetulan mentor kami tengah berhalangan hadir mengajar. Dan kami melakukannya tiap sore hingga petang datang di akhir pekan.

        Semua karena calon suamiku dulu, Aryo. Jika bukan karena dia, aku pasti sudah menolak mentah-mentah kursus dansa. Tapi Aryo berhasil meyakinkanku untuk mengambilnya. Pernikahan kami memang telah di rancang oleh Aryo akan menggunakan gaya internasional. Maka aku mesti bisa berdansa di akhir acara. Dengan mertuaku. Bahkan Aryo. Seperti di film-film.

        Aku juga masih ingat di sebuah sore yang lain: Aryo datang bersamaku untuk mendaftarkan aku ikut kursus dansa. Saat itu, aku masih tinggal di ibukota. Bersama dengannya, aku juga melihat-lihat tempat yang menjanjikan pesertanya menguasai tekhnik berdansa dengan cepat. Dan ruangan tempatku berputar-putar itu, ternyata cukup luas. Tak ada perabotan disana. Serupa balairung lengang sebuah istana kerajaan yang kalah perang.

        Sebenarnya, aku memang bukan Perempuan yang kenal dengan kemegahan dan kemewahan seperti itu. Hidupku, sejak kecil dulu, adalah kehidupan seorang pekerja. Dan aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengumpulkan keping rejeki daripada menghamburkannya. Maka jadilah aku seorang Perempuan yang sebenarnya pendiam, kikuk dan penyendiri. Perempuan yang serius.

        Tamasyaku tak lebih dari tempat tidur kontrakan. Membaca koran, majalah atau buku-buku perpustakaan dari kantor pusat serikat pekerjaku. Atau, kadang, di akhir pekan, patungan untuk berpesta bir dengan kawan-kawanku.

        Beberapa kali aku juga pernah diajak pergi ke diskotik oleh teman-temanku. Tapi aku lebih memilih duduk menikmati dentuman musik bersama alkohol daripada turun ke lantai dansa. Aku tak terlalu tertarik untuk meliuk mengikuti hingar-bingar musik dangdut. Juga musik lainnya.

        Dan di sanalah aku bertemu dengan Aryo. Lelaki tinggi besar dengan tatapan penuh binar dan pendar harapan. Kesopanannya membuatku mau diajaknya berbincang-bincang. Hingga akhirnya aku di wawancarainya. Aryo, ternyata, tengah membuat berita sekaligus film dokumenter soal kehidupan para Perempuan pekerja pabrik di pinggiran ibukota.

        Adalah kebetulan belaka jika kemudian aku jadi salah satu pengurus dari serikat pekerja pabrikku. Dan aku adalah orang yang selama ini selalu di cari-carinya untuk wawancara. Lalu kami bertukar nomor telepon genggam. Tak lama ia pun jadi sering berkunjung ke kontrakanku, pabrik, berkenalan dan bergaul akrab dengan teman-temanku.

        Tentu saja ia bisa di terima dengan cepat dalam lingkungan kami. Selain wajahnya yang lumayan ganteng, Aryo adalah sosok yang senang membantu orang lain. Sudah terlalu sering kami ditolongnya. Terlebih lagi saat tanggal tua tengah mencekik dompet, sementara tukang kredit tidak mau mendengar alasan kami yang kadang memang terdengar sangat klasik. Dan Aryo melakukannya tanpa memiliki keinginan agar kami mengganti saat kami menerima gaji. Bukan itu saja, ia juga sering mengajak kami ke diskotik mewah di pusat kota. Tentu saja aku dan dirinya hanya menyaksikan teman-teman kami melantai di sana.

        Dan sebagai gantinya, Aryo hanya meminta kami menyamarkan dirinya sebagai pekerja pabrik. Sesekali ia juga meminta agar di beri ijin jika serikat pekerja pabrikku tengah memiliki acara internal. Atau saat kami hendak menyiapkan demonstrasi. Mendadak aku dengannya jadi tambah dekat. Hidupku pun berubah. Kemudian Aryo melamarku.

        Sampai di situ, hidupku masih lurus saja. Orang tuanya bukan saja memberikan restunya pada kami, bahkan mereka juga menganggapku sebagai anak Perempuan yang selama ini ditunggu kehadirannya. Aku memang telah yatim piatu. Sementara Aryo adalah anak tunggal. Dan kami saling jatuh cinta. Kami berbahagia. Kebetulan, orang tuanya memiliki pemikiran yang terbuka soal pilihan anggota keluarga mereka. Jadi, tak ada hambatan berarti dalam hubungan kami.

        Hingga di suatu hari, aku mendapat kabar yang membuatku terpelanting dalam pedih yang semakin perih. Aryo ditembak mati karena meliput seorang pejabat yang melakukan korupsi. Hidupku seketika sedih. Duniaku gelap. Pekat pun membekap.

        Sesaat hujan simpati berdatangan: teman-teman dari tempat Aryo bekerja, serta beberapa orang yang simpati dengan kejadian ini, menyempatkan diri datang mengunjungi. Sebagian memang datang karena panggilan hati mereka sebagai sesama manusia. Sebagian lagi datang sambil menyampaikan simpati mereka dalam bentuk uang dan benda. Sementara yang lainnya datang untuk menyampaikan kutukan mereka atas kejadian ini.

        Lalu mereka semua berjanji tidak akan membiarkan kejadian itu hilang dari ingatan. Mereka juga berjanji akan menjebloskan pelakunya ke penjara dengan beban hukuman terberat. Mereka meyakinkan aku: pasca kejadian ini aku tak akan pernah di tinggal sendiri. Dan mereka membuktikan janji itu dengan terus membuat berita tentang kematian Aryo serta perkembangannya.

        Tapi, entah kenapa, aku seperti tahu: janji itu hanya sekedar janji. Tokh waktu kerap menyuntikkan bius lupanya pada manusia. Dan mereka pasrah untuk terlena bersama kemabukannya: semua yang pernah berjanji itu bisa jadi kembali lagi dalam kehidupan mereka semula. Kembali dalam kesibukan mereka sebelumnya. Lalu meletakkan kisah tentang seorang Perempuan yang ditinggal mati kekasihnya, sebagai sebuah riwayat belaka. Mungkin akan berakhir hanya sebagai dongeng yang penuh warna dan berbau tua. Dan yang menikmati kematian dari kekasihku itu, mereka yang telah berjanji padaku. Juga penjahat yang melesatkan peluru ke dada kekasihku.

        Aku tahu, mungkin ini hanya prasangka yang beraroma marah. Tapi kemudian, siapa yang mendapat uang iklan dari berita tentang kematian kekasihku? Media massa. Siapa yang menikmati uang iklan itu? Mereka yang bekerja di sana.

        Aku juga tahu, sepenuhnya itu bukan kesalahan mereka. Lagi pula, dari mana media massa bisa bertahan hidup jika tidak dari iklan? Tapi tetap saja, pada akhirnya kisah kematian kekasihku ini hanya berdiri di satu sisi. Sementara, uang yang mengalir dari kabar kematian kekasihku itu berdiri di sisi lainnya. Keduanya seperti jadi bagian yang terpisah jauh.

        Dan siapa yang benar-benar bisa menyentuh pejabat birokrasi di negara yang berlumuran korupsi ini? Kalau pun ada, pasti itu hanya sandiwara belaka: sekedar usaha mengelus-elus perasaan keluarga korbannya. Jika memang benar ada kabar bahwa pejabat yang jahat itu benar-benar tertangkap lalu di jebloskan dalam penjara, ia pasti tengah sial belaka. Atau sekedar kroco-kroconya saja. Bukan penjahat yang sebenarnya. Dan, sialnya, mereka yang dijebloskan dalam penjara itu, menikmati hidup di sana serupa saat mereka berada di luarnya. Kemudian bulan-bulan selanjutnya, pejabat atau kroco-kroconya itu akan kembali lenggang kangkung dari penjara. Tentu saja dengan kebebasannya yang penuh.

        Lalu siapa yang terganggu dengan kenyataan itu? Tidak mereka. Bahkan pejabat yang melesakkan peluru ke dada kekasihku. Pada akhirnya, yang tersisa hanya aku. Perempuan yang mesti menghadapi kematian calon suaminya. Sendiri.

        Maka semua amarah ini menggumpal jadi satu bukti: simpati, janji, benda atau uang duka cita atas satu peristiwa hanya formalitas belaka. Dan aku tidak butuh itu semua. Aku juga tidak perduli jika kemudian mereka tersinggung dengan kata-kataku lalu mengambil kembali apa yang telah mereka berikan padaku itu. Ambil saja lagi. Aku memang tidak menginginkannya. Aku hanya ingin Aryo hidup lagi. Aku hanya ingin keceriaan itu kembali.

        Dan calon suamiku tetap saja pergi. Tak akan pernah bisa kembali. Juga mereka semua.

        Belum genap amarah yang sepi itu menderaku, kedua orang tua angkatku ikut menyusul anak mereka ke alam baka. Kenyataan kehilangan anak yang sangat disayang, membuat mereka terpuruk dalam kesakitan. Fisik. Terutama jiwa.

        Kembali aku larut dalam pilu. Segala sendu luruh lagi dalam hari-hariku. Hampa pun bekap jiwa. Aku tidak kuat lagi menanggung beban ini. Dan aku benar-benar berjuang sendiri melewati lilitan masa agar bangkit dari kenyataan ini.

        Maka kemudian aku tinggalkan semua kisah tentang Aryo. Aku bakar semua foto, surat cinta, bahkan kartu undangan yang sudah tercetak. Aku berhenti dari kursus dansa. Aku jual seluruh warisan dari mereka. Termasuk rumah yang telah di persiapkan untuk aku dan Aryo nanti.

        Lalu aku pun pindah ke sebuah kota. Berharap bisa memulai hidup baru.

        Tapi entah kenapa, di kota baru ini, kisah indah tentang aku, Aryo dan keluarganya terus menghantui. Membayangi hidupku. Aku selalu saja disambangi oleh Aryo dan ayah-bundanya dalam tidur. Memanggil-manggilku. Mengajakku pergi. Menunjukkan sebuah taman yang indah. Hijau. Lapang. Hati dan pikiranku rancu. Hidupku pun tambah kacau.

        Akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan: aku akan menyusul mereka semua ke alam baka. Aku rancang sebuah bunuh diri. Aku putuskan untuk mati pada hari pernikahan kami. Aku hubungi pengacara keluarga kami yang masih setia itu. Aku memintanya untuk menuliskan surat wasiat. Segala yang kumiliki, aku serahkan pada panti asuhan. Termasuk seluruh uang duka cita dari media massa tempat Aryo bekerja. Kini aku benar-benar tidak butuh lagi uang atau simpati. Uang dan simpati memang tidak pernah bisa membunuh sepi.

        Dan keputusanku bulat. Tapi aku mesti menyelesaikan yang sudah aku dan Aryo mulai: lulus dari kursus dansa. Itu adalah permintaan terakhirnya. Kebetulan saja aku temukan kursus dansa di kota ini.

        Demikianlah. Aku pun bertemu dengannya. Lelaki berwajah tirus dan berkacamata minus serta selalu mendekapku tiap akhir pekan itu. Ia memang asisten dari mentor dansaku. Dan mentorku itu, selalu saja memasangkan aku dengannya.

        Sebenarnya aku takut saat mentor memasangkan aku untuk berdansa dengannya. Tatap matanya selalu saja mampu mengoyak-ngoyak hatiku. Menikam-nikam jiwaku. Tanpa perlu mengucapkan kata, aku seperti tahu banyak tentangnya. Juga dengannya. Meski dalam tiap sesi, atau usai latihan, kami jarang berbincang-bincang.

        Ia memang lelaki penyendiri dengan dunianya sendiri. Seperti rawa-rawa yang menyimpan sejuta misteri. Beberapa kali aku memang pernah menangkap sorot matanya mengawang-awang. Entah apa yang tengah diterawangnya. Tapi kemudian dengan cepat ia langsung menguasai perasaannya dengan tenang.

        Dan bukan itu saja, aku juga selalu merasakan pilu mengapung di udara saat aku tengah berdansa dengannya. Seperti sebuah dansa terakhir menjelang satu kematian yang pasti. Aku pun sering bertanya-tanya sendiri: tahukah ia tentang rencanaku bunuh diri? Atau jangan-jangan, ia sendiri juga memiliki rencana yang sama denganku? Ah, biarlah… Lagi pula, apa perduliku dengan masalahnya? Dan apa perdulinya dengan masalahku?

        Lalu hari-hari mengalir bagai dedaunan gugur yang hanyut di sungai. Kursus itu sebentar lagi berakhir. Itu berarti, aku akan bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi. Sebentar lagi. Tunggu aku di sana, sayangku…

        Tapi kemudian, lelaki itu tidak pernah muncul lagi di tempat latihan. Tak ada yang tahu kemana ia pergi. Bahkan juga mentor dansaku. Maka dalam hening aku coba kuatkan hati untuk menjalankan aksiku. Meski diam-diam, aku selalu bertanya-tanya keberadaan lelaki itu. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menemaniku berdansa selama ini.

        Dan di sebuah sore yang sendu, aku bertemu dengannya di bandara itu. Saat itu, aku baru saja melepas salah satu sahabatku pergi. Dia pengacara keluarga Aryo. Maka aku menemukan lelaki itu tengah duduk di bangku ruang tunggu. Mengapit tas ransel di kakinya. Menatap senja. Termangu.

        ”Ternyata kamu benar-benar pergi.” Ia kaget menatapku yang telah berdiri di hadapannya.

        ”Kamu? Sedang apa kamu disini?”.

        ”Mengantarkan Sinta. Sahabatku. Kamu?”. Ia hanya menatapku sebentar lalu membuang tatapannya.

        ”Baiklah. Jika kamu memang tidak ingin memberitahuku. Itu memang urusanmu sendiri. Sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan. Terima kasih telah menemaniku berdansa selama ini.”

        Sebenarnya, aku telah siap untuk beranjak pergi. Tapi tiba-tiba, ia menarik tanganku. Keras. Hingga wajahku dengan wajahnya begitu dekat. Ia menatapku. Sebuah tatapan yang tiba-tiba saja mengguncangku.

        ”Aku ini bukan orang yang romantis. Sungguh. Meski dulu aku kerap membuatkan puisi pesanan teman-temanku. Atau juga cerpen indah beraroma cinta. Tetap saja aku bukan orang yang romantis. Aku ini seperti tokoh bernama Roman dalam buku Picisan.

        “Seseorang pernah berkata padaku: romantisme adalah soal yang tidak pernah masuk akal. Intuitif. Bahkan gila. Aku setuju dengannya. Dan aku kerap mendengar bahkan menyaksikan banyak Perempuan mencari romantisme pada lelakinya: lelaki yang benar-benar menginginkan dirinya. Lelaki yang mau menghempaskan harga dirinya saat berada di hadapan perempuannya. Lelaki yang bersedia melakukan apa saja demi kekasihnya. Atau melamar Perempuannya dengan menyiapkan lilin, bunga, makan malam, dansa lalu bersimpuh di atas lutut saat memberikan cincin pernikahan mereka. Tapi kemudian, usai mendapatkan keinginannya, semuanya kembali seperti sedia kala: Perempuan melayani suaminya.

        “Sungguh. Aku muak akan standard ganda dunia busuk patriarkhi yang merusak ini. Sekaligus juga mual dengan romantisme. Bukankah seharusnya kita menghormati satu sama lainnya sebagai manusia saja? Dengan kejujuran, kepolosan serta harga diri yang kita punya. Lalu meletakkan esensi cinta lebih tinggi dari romantisme atau patriarkhi.

        “Dan seseroang juga pernah memberitahuku: itu semua serupa dengan sebuah dansa. Maka aku pun belajar berdansa. Dan dansa bukanlah soal menggerakkan badan mengikuti alunan musik. Berdansa adalah soal menyatukan irama jiwa pasangan dansa. Jika kamu terlalu toleran pada pasangan dansamu, maka dansamu itu akan kacau balau. Sementara, jika kamu terlalu egois, dansa itu juga akan kacau balau. Maka berdansa adalah soal berdiri di antara toleransi dan egoisme pribadi.

        “Lucunya, aku malah dianggap aneh oleh banyak orang. Mungkin aku telah serampangan memaknai setara. Maka beberapa tahun ini aku mengintrospeksi diri. Dan, ternyata, kuntum bunga untuk perempuan itu punya arti. Mawar adalah cinta yang posesif dan mudah layu. Edelweiss berarti kesederhanaan dan selamanya. Anggrek adalah cinta yang kuat tapi mesti terus di jaga. Dan sebagainya. Seperti itulah rasa dari manusia.

        “Maka aku ingin kamu tahu, semua yang aku lakukan itu berdasarkan jeritan untuk mencari esensi cinta pertama dan terakhirku yang hilang karena telah di rampok orang. Dan mencari berarti menemukan. Maka beberapa hari ini, aku menziarahi masa laluku. Lalu aku bertemu dengan banyaknya kenyataan: Perempuan pertamaku pasti tengah berbahagia di surga sana. Perempuan kedua dan ketigaku telah berbahagia, dengan suami juga buah hati yang mencintai mereka. Dulu, kami berjanji akan selalu saling menjaga.

        “Dan demikianlah. Semesta mempertemukanku dengan hal itu: mereka bahagia dengan pilihannya. Seperti juga kamu, berbahagia dengan pilihanmu sendiri. Aku tahu, kamu akan bunuh diri usai kursus dansa ini selesai.

        “Awalnya hati ini terbakar kegetiran saat tahu kamu memilih hendak menghabisi hidupmu yang indah itu. Tapi pada akhirnya, kamu juga aku sudah sama-sama dewasa. Maka aku mesti adil: apapun pilihanmu atas hidupmu sendiri, itu adalah pilihanmu. Dan aku mesti menghormatinya.

        “Maka aku ingin kamu tahu: pernah ada laki-laki yang sangat mencintaimu. Meski dalam hening.

        “Berdansa denganmu, aku merasakan gelora itu. Denyar-denyar kehidupan. Entah dengan kamu. Karena kamu, selalu mengunci mulutmu. Karenanya, usai itu semua, segalanya menjadi abu. Maka kini, aku undur diri dari hadapanmu: jadi ombak soliton dengan kesoliterannya di samudera kehidupan. Suatu saat nanti, kita mungkin bertemu lagi. Di dunia ini. Atau juga ujung waktu nanti. Pasti.

        “Dan dimana pun aku juga kamu, aku ikut bahagia dengan pilihanmu. Apapun itu. Bahkan jika kemudian kamu memutuskan untuk melanjutkan hidupmu lagi. Lalu bertemu dengan lelaki yang selalu berada di sisimu, tentu aku juga ikut bahagia.

        “Semua karena satu hal: Perempuan baik itu seperti lelaki yang baik. Mereka selalu berada di samping seseorang. Sang Pencipta atau juga pasangannya. Dan aku tahu, aku ini bukan lelaki yang baik. Aku tidak berhasil mewujudkan keinginan sahabatku, Aryo.”

        ”Aryo?”. Aku tergeragap dan menganga mendengar seluruh kata-katanya. Ia tahu niatku. Ia tahu banyak hal tentang aku. Ia menyebut-nyebut telah jatuh cinta padaku. Terlebih lagi ia mengenal Aryo. Ada bening tiba-tiba jatuh mengaliri kelokan wajahku. Aku menangis.

        ”Ya. Aryo”. Ia tidak memberikanku kesempatan untuk berbuat lebih banyak.

        ”Aku sahabatnya. Pada hari penembakan itu, aku yang mengantarkan lelakimu itu ke rumah sakit. Hari itu adalah hari pertama aku kembali ke ibukota. Kami memang bekerja di media massa yang berbeda. Tapi persahabatan kami sudah berlangsung sejak lama. Aku telah dianggap saudara oleh Aryo dan keluarganya. Juga dengan Sinta, pengacara yang baru saja kamu lepas pergi itu.

        “Selama ini aku memang berada di luar negeri. Kuliah lagi. Tapi aku dan Aryo tidak pernah kehilangan kontak satu sama lainnya. Kami kerap mengirim surat elektronik. Dari situ aku tahu tentang kamu. Aku tahu tentang rencana pernikahan kalian. Dan aku berbahagia untuk kalian.

        “Tapi kemudian peluru itu merenggut sahabatku. Mencabut kebahagiaanmu. Pejabat yang jahat itu membunuhnya. Dan pejabat itu tetap bebas hingga kini. Padahal ia benar-benar terbukti korupsi.

        “Aku tahu kamu sangat marah. Begitu marahnya. Tentu juga aku. Bahkan, hingga kini aku tetap tidak bisa terima kenyataan ini. Dan, nyaris saja aku melaksanakan niatku meminta balas atas darah yang telah muncrat dari tubuh sahabatku: aku hampir saja membunuh pejabat itu.

        “Tapi kemudian aku selalu teringat: menjelang kematiannya Aryo memintaku untuk menjagamu. Perempuan yang dicintainya. Aku memang berhutang nyawa padanya: Aryo pernah menyelamatkan aku dari kematian saat meliput sebuah konflik bersenjata. Tapi kemudian, kamu tiba-tiba saja pindah ke kota ini. Jauh dari ibukota. Dan janji adalah janji. Aku harus menepati.

        “Aku pun pindah ke kota ini. Meninggalkan semua yang aku miliki di Ibukota. Dari Sinta aku tahu keberadaan kamu. Bahkan niatmu untuk menuntaskan kursus dansa, sebelum kamu membunuh dirimu. Maka aku melamar jadi asisten kursus dansa itu. Semuanya untuk memenuhi janjiku pada Aryo. Lalu, tiba-tiba saja aku jatuh cinta padamu. Aku jatuh cinta pada Perempuan dari sahabatku!

        “Aku tahu ini semua salah. Terlebih lagi, aku tidak berhasil mewujudkan keinginan sahabatku: mematahkan keinginan kelam Perempuan yang dicintainya, menyusul lelakinya di alam baka. Aku sadar, kalian memang ditakdirkan bersatu. Kalian saling mencintai. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

        “Maka sampai jumpa lagi, Perempuan. Terima kasih atas semuanya. Segalanya tentang kamu, akan aku kenang sebagai yang sempurna dalam salah satu riwayat hidupku. Karena cinta yang indah dan selalu di cari oleh manusia itu, cinta sejati, selalu tinggal di dalam hati. Meski telah berakhir atau juga mati.”

        Aku tersedu-sedu mendengar penjelasannya. Aku tak mampu berbuat banyak atas seluruh kejutannya hari ini. Lelaki yang selama ini jadi pasangan dansaku adalah sahabat dari almarhum calon suamiku. Ia berjanji pada Aryo akan menjagaku. Ia menyusul kepindahanku di kota ini. Ia menceritakan hidupnya padaku. Dan ia mencintaiku. Semuanya terasa begitu cepat. Seperti kilat.

        ”Terlukakah kamu atas semua kejadian ini?” hanya kata itu yang keluar dari sesegukanku.

        ”Ya. Tentu saja jiwaku terluka. Sangat bahkan. Tapi sebenarnya luka itu juga yang membuat manusia semakin mengerti, hidup adalah soal perjalanan panjang atas pencarian Cinta: luka itu ingatkan manusia bahwa ia masih hidup sebagai manusia.

        “Dan aku tahu pasti, kehilangan orang yang kamu cintai membuat dunia ini jadi gelap. Seperti masuk ke dalam lubang yang sangat hitam dan dalam. Terus menghisapmu hingga ke dasarnya bersama kelam. Hitam seperti mengelilingimu. Aku tahu betapa kamu ingin untuk mengakhiri segala pekat. Maka kamu memutuskan untuk membunuh dirimu. Aku tahu posisi itu. Aku pernah dalam posisimu. Bahkan aku pernah tidak bisa berbicara pada siapa-siapa selama berbulan-bulan. Lalu akhirnya aku pahami sesuatu: keadaan memang tak pernah kembali seperti semula. Tapi segalanya akan baik-baik saja.

        “Maka kini aku pastinya akan terus berjalan. Meski kadang mulus. Kadang tersaruk-saruk. Tapi hening pasti akan jawab segala tanya. Dan aku percaya itu: harapanlah yang membuat manusia bisa melanjutkan hidupnya. Maka Perempuan, aku tuntaskan kamu hari ini. Apapun pilihanmu, itu hidupmu. Dan aku berbahagia sepenuhnya untukmu. Aku pergi. Pesawat itu telah menungguku.”

        Ia pun melepaskan genggaman tangannya. Kemudian berbalik dan mencangklong tas ranselnya. Lalu berjalan cepat menuju pintu masuk bandara. Meninggalkan aku yang berdiri sendiri dan tersedu.

        Untuk sesaat aku terpaku. Seluruh peristiwa juga kata melintas lalu saling bertabrakan. Tiba-tiba aku tak dapat mengendalikan diriku. Aku berlari mengejar lelaki itu. Aku cengkram pundaknya. Ia pun membalikkan badannya. Menatapku. Mukanya basah. Ternyata ia berjalan sambil tersedu. Dan anehnya, aku tersenyum sambil sesegukan.

        ”Aku lupa bertanya padamu, maukah kamu menjagaku?”
                                                        ***
        Message has been sent.

        Sinta menekan tombol sign out dari e-mailnya. Wasiat terakhir sahabatnya, sudah ia kirimkan ke media massa. Sebuah cerpen yang berakhir bahagia. Tapi Sinta tahu yang sebenarnya: dua hari yang lalu polisi memberi tahu dirinya bahwa mereka menemukan sahabatnya telah bunuh diri. Di hari yang sama, sebuah pesawat jatuh menghantam bumi. Dan hanya Sinta yang tahu. Hanya Sinta.

        Tangis Sinta tumpah…

                                                                                        Bojonggede, 18 Maret 2007

Laki-laki Yang Menanti Di Udara (Original Version)

        Duh, mengapa semuanya menghitam? Kelam. Kenapa tiba-tiba pekat menyapa saat aku membuka mata? Kamu yang padamkan lampunya, ya? Atau, jangan-jangan, tengah ada pemadaman? Ah, sepertinya tidak. Karena, biasanya, akan didahului pengumuman. Di media massa. Atau lewat corong mesjid sana. Tak jauh dari sini.

        Aku yakin kamu yang matikan pelitanya. Pasti. Dan kamu lagi-lagi lupa: betapa takutnya aku dengan gelap. Mengingatkan aku pada kematian. Dan manusia selalu mati tidak sempurna. Hadirnya kenangan penyebabnya. Karenanya, aku dulu selalu mengingatkan: aku tidur dengan lampu yang dinyalakan. Tapi kenapa kini kamu matikan?

        Padahal, sudah ratusan hari kita bersama. Banyak yang sudah kita bagi. Tapi untuk beberapa hal kecil, kamu memang pelupa yang akut! Contohnya saja tentang lampu itu.

        Bahkan, empat bulan lalu kamu pernah mengantarkan aku pulang ke rumah. Saat itu aku tengah asyik menonton film tengah malam. Di bioskop. Bersamamu. Di sampingku. Lalu, tiba-tiba saja kamu terperanjat. Mendelik hebat.

        ‘Sudah lewat dari jam malam!’. Demikian katamu.

        Dan dengan tergopoh-gopoh, kamu menarikku dari tempat duduk. Beranjak pergi. Kembali pulang. Segera. Dan di depan orangtuaku yang terkantuk-kantuk, kamu memohon maaf karena memulangkan aku terlalu larut.

        Kamu ingat apa yang kemudian terjadi? Tawa mereka malam itu bergemuruh. Membahana. Diselingi gelak yang tak tertahankan, ayah memeluk dan mengusap punggungmu. Mengajakmu duduk di ruang tamu. Dengan senyum, ibu juga aku ke dapur. Menyeduh kopi. Untuk dua lelaki yang masing-masing kami cintai.

        ‘Kamu itu sudah menikahi anakku. Kini ia berada di bawah tanggung jawabmu sepenuhnya. Jadi, tidak usah memulangkannya lagi. Atau takut mengajaknya pergi. Meski hari semakin dini’. Demikian ayah memberi tahumu. Lalu kita semua kembali terguncang dalam tawa. Bersama.

        Dasar! Kamu memang pelupa yang parah!

        Dan karena itu aku menerimamu. Sebagai suamiku. Dari seluruh riwayat cintaku, kamu yang mampu membuatku merasakan dekapan cinta. Denyut-denyut kehidupan.

        Awalnya aku memang tak berani simpulkan itu. Tapi, kerap kali kamu mampu membuatku terpingkal-pingkal. Bahagia. Hadirkan kembali rindu. Meski kamu baru saja pulang. Usai bertandang.

        Tapi kamu juga bisa membuatku terperosok. Jatuh dengan tersedu-sedu. Kehilangan harapan, saat amarah jadi bahan bakar pertengkaran. Terkadang seperti gelombang pasang. Terkadang hanya satu cipakan air. Terkadang meriap-meriap. Tapi semuanya tak pernah menetap dalam sekam. Akhirnya aku mampu simpulkan: Cinta hadir di antara kita.

        Dari beberapa lelaki yang pernah menghampiri dan menawariku cinta, kamu itu memang berbeda. Kontradiktif. Dengan kurus badanmu dulu, tatap mata digelayuti rindu, hati yang sendu, tapi dengan isi kepala yang tanpa ragu-ragu, kamu berhasil memikatku. Terlebih lagi saat kamu mengenakan seragam tentara berwarna senja itu: darahku pasti berdesir. Kamu itu memang tentara yang unik. Komandan nyentrik. Bagi hidupku. Juga perjumpaan kita.

        Kamu satu-satunya penumpang yang tahu, aku ingin memiliki sebuah buku. Padahal saat itu aku hanya lewat. Sedikit melirik kumpulan puisi yang tengah kamu baca. Dengan khusyuk.

        Lalu saat aku menghampirimu, suguhkan makanan ringan, kamu menanyakan pendapatku tentang buku itu. Padahal aku belum pernah membacanya. Menyentuhnya saja hanya mimpi.
        Mendadak kita sudah terlibat perbincangan tentang sedikit hal. Tapi artinya sangat banyak. Buatku. Sementara teman-teman pramugariku hanya mampu menatap penuh cemburu.

        Lalu kamu memberi aku buku itu. Saat pesawat terbang telah mendarat mulus di landasan pacu. Sebagai ucapan terima kasih. Di dalamnya, ada nomer telepon genggammu.

        Dari situ kita sering bertemu. Habiskan waktu. Berbincang tentang apa saja. Mulai dari soal yang ada di langit biru. Atau juga masalah-masalah lucu. Sepele. Khas sendal jepit. Segalanya. Menikmati patahan dari mendetiknya masa. Berdua.

        Hingga di suatu waktu, kamu lulus dari akademi. Ditasbihkan jadi pilot pesawat tempur. Kamu pun datang ke rumahku. Dengan tatap yang mekar. Senyum yang tak kenal gentar. Kamu meminangku. Tentu saja hatiku melambung. Kebahagiaanku gembung. Aku menikah dengan lelakiku. Ia mencintaiku. Dengan sangat. Juga aku. Dan siang juga malam kita berlalu. Bersama janji yang telah diikat dengan hati.

        Hari? Janji? Oh ya, hari apa ini? Penyakit lupamu itu sudah menular padaku. Sepertinya. Aku harus segera bangun. Berangkat. Terbang. Melayani penumpang.

        Tapi kenapa hari ini aku jadi malas bangun, ya? Bukan! Aku bukan malas bangun. Tapi kenapa aku tidak bisa bangun? Belum lagi rasa pegal dan perih. Mereka hadir membekap seluruh tubuh ini. Lalu mengapa ada rintih yang sedih? Memanggil-manggil nama yang asing di telingaku. Seperti ada banyak orang di kamar kita. Kamu pasti lupa mematikan televisi.

        Dan sudah pukul berapa ini? Mengapa terang tak juga datang? Sepertinya, bohlam kamar kita putus. Kamu harus menggantinya besok, sayangku. Aku tidak mau tidur di kamar ini bila gelap tetap menyergap. Kamu tahu alasanku, bukan?

        Lalu, apa ini? Ada gemericik air. Dari mana tetesannya? Apakah di luar tengah hujan? Sekarang mereka menerobos ganas. Suamiku, airnya membuat kepalaku terasa pedih. Perih. Rintik air itu juga berbau amis. Wangi darah. Jangan-jangan ada tikus yang telah diterkam kucing. Di loteng rumah kita. Berdarah-darah. Kini tengah meregang nyawa.

        Suamiku, secepatnya kamu mesti membetulkan genting rumah yang bocor. Juga memeriksa isi plafon kamar kita. Kamu mesti memeriksanya. Dengan teliti. Hati-hati.

        Jika memang benar ada bangkai tikus disana, kamu mesti segera menguburkannya. Nanti aku siapkan kain putih pembungkus mayatnya. Kita mesti berbuat baik, suamiku. Pada siapa juga apa saja. Dan berbuat baik bukan sebuah kewajiban. Tapi karena kita memang manusia.

        Nanti, usai itu semua, akan aku buatkan kamu pisang goreng. Juga kopi. Serta senyum juga kecup manis. Khusus untukmu.

        Lalu kita makan siang dengan sambal goreng ikan yang berenang dengan senyum di hadapanku ini. Dekat sekali. Mereka seperti tidak takut lagi dengan manusia. Mereka menghampiriku. Menggodaku. Satu persatu. Berbagai macam jenis. Juga warna. Indah sekali.

        Wah, Aku mungkin tengah di alam mimpi. Ini semua pasti hanya imaji. Tapi kenapa kemudian aku merasakan dingin di kaki? Merayap ke atas. Pelan tapi pasti. Menambah perih kaki. Seperti luka yang disirami air garam. Rasanya nyata.

        Kamu dimana, sih? Mengapa tidak juga menjawabku? Lalu, mengapa kemudian aku tiba-tiba mengantuk? Begitu mengantuk, suamiku. Sangat mengantuk. Aku seperti ingin kembali lelap. Dan, kenapa kemudian semuanya tiba-tiba terasa dingin, suamiku? Begitu dingin. Sangat dingin.

        Ah… selimuti saja aku, suamiku. Aku mau tidur. Aku sangat lelah. Begitu penatnya. Dekap aku. Tenggelamkan aku dalam dadamu. Hari ini aku tidak ingin kerja dulu. 
                                            ***
        Tiap kali melintas di atas perairan ini, Raka tahu bahwa ia mesti mengambil kendali kemudi dari kapten pesawat terbang yang duduk di depannya. Lalu, Raka akan membiarkan kaptennya itu melakukan hening sunyinya. Sejenak. Raka tahu, juga teman-teman co-pilot pesawat tempur lainnya, perbuatan kaptennya ini menyalahi prosedur tugas yang telah di berikan. Tapi, ia tidak akan pernah melaporkan perbuatan kaptennya ini. Bukan hanya karena kapten itu adalah sahabatnya. Tapi, kaptennya itu telah kehilangan sebagian jiwanya.

        Dan demikianlah. Kapten dari pesawat tempur itu menghadap jendela. Menatap samudera. Mengambil teropong yang selalu dibawa saat tengah patroli di udara. Dan di atas perairan ini, teropong itu pasti tak pernah lepas dari tangannya. Sedetik juga. Pun jerit hatinya.

        ‘Tuhan, hari ini aku kembali pergi. Mencari istriku. Bimbing aku menemukannya. Meski hari telah berganti. Masa telah datang dan pergi. Bahkan pencarian itu telah terhenti. Tapi, Tuhan, tetaplah tolong aku untuk temukan ia. Bunda juga tolong ayah! Beri tanda pada ayah keberadaan bunda! Ayah kehilangan arah tanpa bunda! Lilin ulang tahun pernikahan kita, belum juga ayah padamkan! Bahkan genting rumah kita juga sudah ayah betulkan. Istriku, dimana sih kamu?! Wahai lautan luas, dimana kamu simpan jasad teman hidupku itu?!’.

                                                                                                    Kelapa Dua, 2006

Nuzda Ne Poznaje Zakona*

        “Kalian para pengacau bodoh! Ayo tinggalkan tempat sialan ini. Cepat! SEKARANG!”.

        Mendadak seseorang muncul sambil melangkahi ambang pintu lalu menyemburkan perintah dengan nada penuh ancaman itu. Seragamnya tidak berhasil menutupi perutnya yang buncit. Giginya yang kuning, mungkin terlalu sering mencecapi kopi, dan bibirnya yang legam kebanyakan merokok, serta matanya yang selalu menatap jalang, menjelaskan sejarah kelam hidupnya: pergumulan dengan nasib, mengharuskannya jadi kepala sipir.

        Lalu setelah berhenti sebentar untuk menarik napas dan membetulkan letak rokoknya, ia bergumam: ‘kalau pecahan-pecahan kaca ini sudah dibersihkan, kami akan memanggil kalian orang-orang brengsek! Tapi sebelum itu, masuklah ke kamar kalian’.

        Di bawah tatapan dingin, kelompok kecil ini bangkit dari kursi yang keras, dan berjalan seperti mayat hidup ke luar ruangan. Tak lama bunyi dentang pintu-pintu besi yang besar itu terdengar. Pria-pria tanpa ekspresi, yang mengenakan handuk di pundak seperti supir angkutan umum di jalan raya, berjalan semakin pelan. Tapi para penjaga yang berbadan besar dan memegang senjata di tangan, menyuruh mereka bergegas dengan suara penuh gelegar. Serupa lecutan ikat pinggang kulit yang lebar.

        Ah, jangan dulu kamu langsung berbicara soal menghormati kemanusiaan. Tokh memang tidak ada sama sekali penghargaan: kekuasaan telah diberikan terlalu berlimpah di sini. Dan, serupa dengan tabiat korup dari rumah kekuasaan, mereka yang jadi penguasa selalu melindungi sesamanya: perangai yang minim simpati apalagi empati. Maka, kata siapa fasis itu sudah tumbang? Malahan kini ia kembali tumbuh subur di balik dinding penjara.

        Bahkan ‘nilai’, ‘kedalaman’ dan ‘isi’ dari manusia di luar penjara berhasil diracik sedemikian rupa. Kemudian mereka mengubahnya jadi sejenis obat psikotropika. Serupa dengan obat-obatan yang telah beredar di luar sana. Atau yang kamu temui tengah di jajakan di pasar.

        Dan mereka semua memaksa para penghuninya untuk tidak pernah lupa menelannya: mereka selalu ingin memastikan kepatuhan yang amat ketat tetap berjalan. Dan, sialnya, obat-obatan itu tersedia di sini layaknya permen. Kami pun mesti memakannya tiga kali sehari. Jika menolak, dosis itu malah di tambah. Tak lama, ruang isolasi menunggu.

        Lalu sebenarnya, apa ‘nilai’, ‘kedalaman’, dan ‘isi’ yang mereka gembar-gemborkan itu, jika kemudian artinya tak jauh berbeda dengan tradisi, kawanku? Bahwa tiap orang pasti memilikinya, dan bukan hanya karena masa depan telah menyediakan. Tapi juga warisan dari masa lalunya.

        Duh… memang sudah tidak ada lagi kemanusiaan di sini. Tapi aku juga hampir lupa: kami tidak punya hak untuk mencopot label di kepala sebagai bukan manusia. Bahkan mengargumentasikannya dengan jernih soal ini. Siapa sih yang mau dengan benar-benar mendengarkan ucapan para penghuni penjara?

        Jika ada, mereka pasti akan kembali menyerang lebih dahsyat dengan ‘nilai’, ‘kedalaman’, dan ‘isi’ yang serupa obat psikotropika dan wajib kami telan ini. Sebenarnya itu semua sungguh luar biasa!

        Rasanya aku dan para penghuni di sini pantas kagum pada orang yang mampu menyelam ke kedalaman, mempersembahkan nilai dalam sebuah pesan yang berisi.

        Sayangnya, kami tidak membawa itu semua: segalanya telah hilang dirampok oleh banyak hal ketika kami memulai perjalanan ini.

        Ya. Kami memang orang yang mengigau itu, yang menjadi tanda pada segala omong kosong, sebagaimana kami memahami pada banyak hal: hidup ini juga omong kosong.

        Tiba-tiba, klang!

        Mendadak setiap sendi dalam tubuhku seperti kaku dan membeku ketika aku melangkah memasuki kamar dua setengah kali tiga meter yang klaustrofobis ini. Dan seseorang menggemerincingkan sesuatu. Lalu, cekrek!

        Aku pun beringsut untuk duduk di atas lantai semen, yang di atasnya, terhampar ranjangku: tikar daun pandan yang rombeng. Entah mengapa, aku seperti dapat mengetahui, semakin hari, pekerjaan sederhana itu terasa sebagai tugas berat. Meski pada akhirnya, tetap saja akan kami lakoni. Jika tidak, dosis obat sejenis psikotropika itu pasti ditambah sebelum kami benar-benar dilempar ke ruang isolasi.

        Lalu di dalam kamar yang sunyi ini, aku merebahkan diri di atas ranjangku. Dengan kekosongan ini, aku memutuskan untuk menerapkan imajinasiku pada kata yang terangkai dan kini mulai banyak yang mengelupas di dinding di hadapanku. Aku ciptakan siluet drama untuk menghibur diri dan mencoba mengenali bentuknya. Terus dan terus begitu.

        Dan hari ini, kebetulan hanya wajah saja. Wajah-wajah cantik atau tampan, pintar dan bergelimang harta yang pada akhirnya membuatku tersadar: ternyata sebagian besar telah menghalusinasiku. Membohongiku dengan dalih. Argumentasi tanpa nurani. Lalu berakhir dengan memporandakannya jadi serpihan-serpihan sebuah dongeng berumur serta beraroma tua yang tercecer. Mula-mula memang menakutkan. Tapi aku membiarkannya. Tokh selama ini aku memang sering melakukannya.

        Ternyata itu salah. Terlebih lagi saat aku membiarkannya terlalu lama: saat aku sedang jatuh cinta, aku mudah tertipu. Dan di akhir cerita itu, jelas saja aku lebur. Lalu aku merasa dingin, mati rasa dan membeku. Untuk beberapa lama.

        Kemudian mereka berkata pada diriku, ‘kamu harus melupakannya. Kamu juga harus melupakan perbuatannya padamu. Kamu harus mengeliminasi kemarahanmu, meski saat itu, mungkin kamu telah terlambat menumpahkan sumpah atau salah sasaran mengirimkan serapah. Bahkan kamu tidak berhak menganggap Perempuan seperti dirinya persis seperti kamu memandang kini mereka yang telah jadi masa lalumu. Perempuan-perempuan yang telah meninggalkanmu sendirian dan hanya meninggalkan semua beban pengkhianatan mereka agar hanya kamu saja yang menanggungkannya. Dalam kesepianmu. Dengan kesendirianmu. Bersama kepahitanmu. Tokh mereka kini sudah punya keluarga atau urusannya sendiri-sendiri’.

        Aku pun menyanggupinya. Lagi pula, aku tetap mencintai mereka yang pernah membuatku sangat tersentuh. Sungguh.

        Sebentar saja aku langsung mendengar suara tawa. Awalnya sayup. Tapi lama kelamaan semakin jelas. Ah, ternyata mereka tengah menertawakan sambil menunjuk-nunjuk di belakangku! Tentu saja aku berhasil mendengar bisik mereka: ‘bukankah setiap kesalahan itu juga melibatkan individu lainnya? Juga dengan setiap kejadian? Bukankah akibat berawal dari sebab? Reaksi dari aksi? Dan setiap individu yang terlibat, punya tanggung jawab untuk menyelesaikannya. Caranya, sepenuhnya pilihan masing-masing dari mereka. Tapi, lihatlah, betapa bodoh ia yang mau memikulkan beban dari seluruh kesalahan kita! Sementara dengan entengnya, kita di sini, kembali merajut kisah hidup berikutnya. Lalu berkoar-koar di hadapannya, bahkan tanpa malu, mempertontonkan kebahagiaan pada ia yang tengah memanggul seluruh kesedihan itu. Bahkan, ia menambah ketololannya itu dengan menghukum dirinya sendiri saat menyaksikan keriangan kita. Dan, tanpa sadar, sebenarnya ia juga pantas meledak. Ia juga punya hak untuk memaki-maki. Ia juga boleh hanya menghayati apa yang telah terjadi: mundur sesaat untuk melihat, menganalisa, mengambil kesimpulan, lalu langsung melakukan perubahan dari seluruh kesalahan yang pernah terjadi dalam hidupnya. Atau dengan kata lain, ramah dengan kesalahan yang diperbuat olehnya, Perempuan masa lalunya bahkan orang lain. Ya, ia pantas melakukan semua itu. Dan ini bukan untuk siapa-siapa: semestinya ia juga hanya memikirkan dirinya sendiri. Dan tidak pernah ada kata terlambat untuk melepas beban kesalahan lalu membaginya dengan orang yang sebenarnya melakukan kesalahan itu. Tokh pada akhirnya ia hanya melampiaskan melalui amarahnya yang sunyi: kata. Tapi kita tahu, kita mesti memberangusnya. Karena kata adalah senjata. Dan ia tidak boleh memberondongkannya pada kita: biasanya itu lebih jernih dan jujur karena telah melewati pencarian juga penghayatan. Dan akhirnya, kita memang berhasil memberangus katup kemarahannya yang pantas dan wajar itu dengan ilusi bernama nilai, kedalaman dan isi. Kita berhasil memotong sejarah yang sebenarnya satu-kesatuan. Kita berhasil mempecundanginya!’.

        Dan salah seorang dari mereka juga mengatakan, ‘Sederhananya, ia tidak boleh menumpahkan amarah. Meski ia mulai menemukan dan menyadari bahwa selama ini Perempuan dari masa lalunya itu, sebenarnya, tidak mencintainya dengan tulus. Dan bukti-bukti akan hal itu sangat jelas dan tegas: mulai dari tidak dibolehkannya ia mengunjungi rumah Perempuannya, hingga ilusi janji bahwa ia tidak akan pernah ditinggalkan. Maka ia pun harus kita hipnotis menjadi seperti porter yang polos dan lugu di stasiun atau pelabuhan, yang memanggul seluruh barang bawaan penyewanya. Lalu kita membayar tenaganya itu dengan ongkos yang serendah-rendahnya. Dan ia mesti menerima tanpa membantah’.

        Sesaat aku tergeragap. Aku tersadar. Kebencian pun langsung mekar: ‘huh, terkutuklah mereka semua itu!’. Aku membalikkan badan dan menatap mereka semua dengan marah yang bergolak.

        Mereka mendengarnya lalu bergerak mendekatiku. Semakin dekat. Tambah dekat. Dengan telunjuk yang semakin tegang. Juga tawa yang tambah kencang. Keringat dari dahi lalu masuk ke mataku. Tapi aku paksa mataku tetap terbuka. Aku harus mengawasi mereka. Atau mereka akan menghantamku, merasukiku lalu meremukkanku.

        Dan benar saja!

        Tak lama aku hanya bisa diam membeku. Lalu menyaksikan mereka yang busuk dan tertawa dengan keras itu berlalu. Kini mereka tertawa lebih kencang, usai tadi menghajarku sambil memerintahkan agar aku tidak boleh marah oleh apa yang telah mereka lakukan. Sambil berjalan pergi, mereka juga mengatakan bahwa aku hanya orang gila yang mencari sensasi di lubang yang telah dilupakan Tuhan ini.

        Akhirnya aku meledak pada fakta bahwa mereka berani menyebut diri sendiri sebagai manusia! Tapi, klang! Cekrek!

        Kemudian… prang!

        Keheningan meliputi semesta kecuali suara denting dan gesekan jendela yang pecah. Seseorang sudah memecahkan jendela kecil di ruangan tempat kami tadi duduk bersandar ke dinding. Di ruangan tempat kursi-kursi kayu yang tebal dan keras itu dan pada jam-jam tertentu mesti kami duduki. Di ruangan yang sebenarnya hanya berlaku tanda seru: ‘kamu duduk dengan anteng, mereka tidak akan mengganggumu merokok. Kamu tidak berbicara atau berbicara hanya yang manis saja, mereka tidak akan merepetimu dengan sumpah serapah. Kedua kakimu mesti selalu menapak pada lantai. Dan lain sebagainya. Jika tidak, hidup akan sangat berat untukmu’.

        Mendadak aku kembali teringat pertanyaan tentang ‘nilai’, ‘kedalaman’, dan ‘isi’ yang aku anut. Aku kembali bingung atas pertanyaan itu. Mengapa mereka tidak pernah bertanya saja tentang hal-hal yang tidak aku sukai? Orang sepertiku lebih gampang menyebut dan menunjuk hal-hal yang tidak aku sukai ketimbang hal-hal yang aku sukai. Aku lebih bisa mengatakan artis mana yang paling aku benci daripada aku harus mengatakan artis mana yang paling aku sukai. Itu untuk semua hal, juga untuk makanan, tempat tinggal, jenis minuman, acara, peristiwa dan yang lainnya.

        Aku memang lebih bisa memastikan bahwa ada sesuatu yang berjalan tidak beres. Tapi aku selalu kesulitan jika ditanya apa yang seharusnya berjalan. Hanya saja, satu hal ketidaksukaanku yang aku rasa mereka perlu tahu: aku tidak suka dipetakan, dirumuskan, dimasukkan dalam kategori-kategori. Tapi aku sadar, itu akan tetap dilakukan. Bahkan aku juga masih melakukannya pada orang di luar diriku. Tak jauh beda dengan mereka, bukan?

        Dan masihkah aku perlu menandaskan mengapa aku suka menghindar dari banyak orang termasuk kamu? Sebab pertemuan akan menghasilkan percakapan dan setiap percakapan akan semakin mudah untuk membuat orang merumuskan kita.

        Lalu seseorang telah memecahkan jendela!

        Ah, sekarang mereka pasti sedang kesal karena ketentramanmya terganggu. Nanti, salah seorang pasti diperintahkan untuk tinggal di ruang duduk. Kekejaman akan kembali terjadi saat mereka mengijinkan kami keluar dari petak-petak kecil ini.

        Lalu aku hanya bisa terdiam sambil membiarkan bayangan ngeri itu merangsekku. Bahkan aku tidak bisa mendengar apapun selama terpaku dalam keadaan linglung yang seperti kerasukan ini. Tubuhku kembali kebas dan kosong. Kata-kata yang sialannya telah berubah dan mewujud jadi mereka yang gemar menunjuk-nunjuk sambil tertawa itu, kini sudah berhenti. Kini kata itu sekedar kata yang mengelupas dalam helaian kenangan. Kedua tanganku dingin tapi lembab. Dengung jantungku bergema dari tubuhku yang kosong ini. Kegelisahan karena selama ini hanya menunggu, mulai mencekikku. Aku menanti untuk keluar dari kotak kecilku ini. Tapi aku tetap membeku di ranjang sambil menatap dinding yang diam dan geming.

        Harus aku akui, saat ini sudah terlalu banyak bergelimpangan mayat hidup yang hampa. Dalam kotak kesunyian. Dalam neraka kekosongan. Mereka ada di sampingku. Mereka adalah juga aku. Dan yang paling pedih dari itu semua: saat tengah bahagia, tidak ada seorang pun di sampingmu untuk dibagi keriangan itu. Seseorang yang selalu menghuni hati juga kepalamu. Seseorang yang selalu mewarnai harimu.

        Tapi, aku harap, kamu jangan jadikan ini sebagai alasan untuk berpindah dengan cepat dari satu kisah cinta ke lainnya. Sementara, luka itu belum kering dan sembuh benar. Karena, jika kamu tetap melakukannya, itu sama saja dengan terus menerus mengopeki luka. Atau sama saja dengan menanam bom waktu, yang suatu saat nanti, pasti akan meledak dengan hebat dan merusak banyak pihak. Atau seperti kera saat datangnya musim kawin mereka. Maka jalani saja kesepian, meski baru saja kamu tercabik-cabik dan ditinggal sendirian. Lalu sentuhlah waktu agar ia ikut membantu.

        Persekutuan kalian itu nanti, pasti akan membuat segalanya lebih cepat berakhir dan dengan lebih entengnya. Pada akhirnya, di ujung sana, kamu pasti akan menemukan seseorang yang selama ini kamu cari untuk melewati sepi.

        Seseorang yang benar-benar mengerti mengapa kamu menangis. Seseorang yang tulus merawat seluruh lukamu. Seseorang yang tertawa pada leluconmu, padahal sebenarnya itu tidak lucu.

        Seorang Perempuan yang berkata, ‘sebenarnya saat ini aku tidak perduli dengan apa yang ada dalam pikiranmu dan apa yang tengah kamu katakan. Yang jelas, genteng kontrakan kita, bocor’.

        Atau, ‘aku punya hadiah untukmu. Kamu duduk dan tunggu di sini dulu, ya…’. Tak lama ia kembali sambil melemparkan sesuatu: ‘ini, khusus buat kamu!’. Sarung, sajadah dan baju koko yang masih di dalam kotaknya jatuh di pangkuanku. ‘Oh ya, kamar mandi kontrakan kita di sebelah situ. Kiblat mengarah ke sana. Waktu shalat masih lama habisnya. Lantai juga baru aku pel tadi sore. Dan itu sarung, sajadah serta baju koko yang baru aku beli tadi pagi di pasar. Juga shampoo, sikat gigi dan sabun mandi. Sekarang kamu tidak punya alasan lagi, kan? Jadi, cepat sana masuk ke kamar mandi sebelum aku sendiri yang menyeretmu! Aku tunggu kamu di sini bersama mukena hadiahmu’.

        Seorang Perempuan yang tersenyum saat kamu tengah serius menulis di akhir pekan, lalu pergi ke dapur dan kembali lagi dengan segelas susu hangat serta secarik catatan di tatakannya: ‘maaf, kopimu aku ganti. Sudah dua hari, dua malam kamu menghirupnya’. Perempuan yang tiba-tiba datang saat kamu tengah asyik di depan komputer kantor, lalu memintamu agar mengajaknya pergi untuk menyaksikan senja di sebuah pantai, lapangan, gunung, kendaraan atau hanya di tempat kerjamu saja. Atau hanya mendekapmu saat menyaksikan hujan tiba. Lalu berbisik: ‘aku menyayangimu seperti air yang menyayangi api’.

        Seorang Perempuan yang menarik lalu menutup buku yang tengah kamu baca, dan memintamu untuk menemaninya kemana saja selama seharian penuh. Perempuan yang membiarkan pundaknya dipenuhi jentik-jentik keringat, saat mengganti tanah dari tiap pot bunga di depan kontrakanmu, kamu kecup. Lalu membalikkan badan dan kamu pun berbisik: ‘itu untuk semua masa yang hilang saat aku belum bertemu juga berpisah oleh kematian kita nanti’. Perempuan yang meminta satu dari enam hari liburmu agar kamu tidak menghisap rokok, menghirup kopi, membaca, menulis, lalu mengajakmu untuk menemaninya berolahraga yang sederhana. Dan kamu pun tertular untuk sedikit lebih memperhatikan kesehatan. Perempuan yang menggitimu sebelum bertanya, ‘kamu kemana saja, sih?! Menghilang tanpa kabar berita. Tahu gak sih kalau aku di sini nyaris mampus merindumu!’. Lalu ia pun tidak memperdulikan potensi dari satu kemungkinan bahwa lelakinya itu baru saja bersetubuh dengan Perempuan lain di luar rumah mereka: ‘di luar, kamu boleh saja menjadi milik orang lain. Tapi di rumah ini, sepenuhnya kamu milikku. Dan, satu hal lagi, jangan pernah melakukannya di atas tempat tidur kita. Itu saja!’. Tak lama, kalian pun menuntaskannya dengan bercinta seharian penuh.

        Atau seorang Perempuan yang selalu menghadiahi kamu ucapan ‘selamat datang lagi’, saat kamu membuka mata di atas ranjang yang masih menyisakan hangatnya persetubuhan. Kemudian memanaskan kembali ranjang, di awal dari setiap hari kalian. Tentu saja usai ia mengirimkan satu kecupan juga tatapan yang kamu tahu bahwa ia mencintaimu. Meski kalian tidak mengucapkannya. Akhirnya, kalian memulai ritual di luar rumah dengan senyum mengembang di sekujur hari itu.

        Seorang Perempuan yang tahu bahwa ia adalah pelatuk sementara lelakinya adalah peluru. Dan paham benar arah dan kapan waktu yang tepat melesatkan peluru itu ke sasarannya. Ya, seorang Perempuan yang bijak.

        Dan adakah yang lebih indah selain hal itu? Aku rasa, tidak ada.

        Tapi aku kembali terhentak saat menyadari air ludah yang mencoba mengalir dari bibir-bibir yang kering juga retak adalah pertanda nyata: obat yang di awal telah dipaksakan agar aku terus menelannya, ikut berjuang ingin mengendalikan pikiran, jiwa serta tubuhku.

        Kini, apakah aku harus benar-benar melawannya? Atau membiarkan terhisap ke dalam dunia dari kaum paling minoritas agar realita yang sebenarnya dan terhampar di balik kerangkengku sendiri itu tidak terungkap? Apakah aku harus menjadikan diriku semakin palsu dengan tidak mengakui salah satu bagian dari seluruh ruangan dalam diriku yang bernama kemarahan? Apakah aku harus tetap menyayat-nyayat luka baru di atas duka lama, lalu terlempar semakin jauh di gurun sakit jiwa? Dan itu semua demi ketentraman mereka?

        Jika memang demikian, apakah hidup ini pantas dijalani dalam pagutan tong sampah masyarakat yang disediakan bagi pikiran-pikiran yang kata mereka salah tempat? Apa yang mungkin aku capai atau aku sumbangkan bagi umat manusia jika mereka tetap memaksaku tidak boleh keluar dari kerangkengku ini, yang teralinya dibuat oleh mereka dari bahan nilai, kedalaman dan isi, yang juga memiliki pahatan kata di dinding sialan yang tertawa keras? Jangan-jangan aku memang harus menyerah?

        Lebih banyak lagi pertanyaan berpacu melintasi pikiranku seperti pembalap jalanan yang pindah ke arena sirkuit profesional: semakin lama tambah bergelora.

        Mendadak suatu kejutan yang mengerikan mengalir melalui tubuhku, membuat bahuku melesak turun dan tubuhku semakin kaku. Kenyataan yang memaksakan dirinya padaku ini, seperti tamparan keras dan kejam di mukaku, buyarkan kerasukanku dan retakkan sendi-sendiku yang kaku. Sesuatu rayapi tulang punggungku. Mungkinkah aku tengah berkhayal?

        Setelah mengumpulkan sedikit demi sedikit indra yang masih tinggal, aku tahu itu bukan imaji. Memang ada sesuatu yang merayapi tulang punggungku. Aku bereaksi dengan menarik kemejaku ke atas kepala, dengan mengabaikan fakta: kemeja itu ada kancingnya.

        Ah… apapun rasa yang buta, memang tidak memperdulikan benda-benda materi. Bahkan pertanda-pertanda yang sederhana. Jadi, berhentilah berharap agar ada yang mau menggetarkan simpati bahkan empatinya.

        Dan tiga kancing terlepas. Setelah kemeja itu aku lempar ke ujung lantai, rasa sakit meninggalkan punggungku. Aku intip kemeja itu dan aku lihat si penyusup: kecoak hitam sepanjang kira-kira tiga sentimeter tadi telah berdansa di tulang-tulang punggungku.

        Serangga jorok itu memang tidak berbahaya. Tapi mengejutkan. Dan si pengerat itu juga yang akhirnya membulatkan hatiku: rasa sakit tidak harus dikubur dan dibuang dari ingatan, melainkan justru mesti dimasuki untuk kemudian dilewati. Rasa sakit mesti dikunyah, lalu dicecap hingga habis pedih perihnya. Karena pada akhirnya, hidup adalah proses keluar-masuk dari getir nasib yang satu ke lainnya, dan masih banyak hal yang dapat dilakukan selain melarikan diri atau membayangkan sesuatu di luar jangkauan rasa sakit. Usainya, semua pasti terasa lebih enteng**.

        Dan sebenarnya kini aku hanya tengah memamahi kembali ngilu di ulu hati. Melalui kata. Memahat kalam dari rasa. Di dinding-dinding waktuku sendiri.

        Bukan untuk mereka. Bukan untuk menyesali bahkan merengeki lagi kehilanganku atas sesuatu. Tokh semua itu sudah hilang sejak lama. Juga Perempuan-perempuan dari masa laluku. Dan tak ada yang bisa mengingkari itu. Tak ada yang bisa membalikkan lagi waktu. Aku sangat sadar itu.

        Maka ini semua hanya tentang aku. Ini semua hanya soal keinginanku untuk sembuh. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk kesembuhan penuhku itu, jika kemudian apa yang hanya aku bisa - menulis - balik mereka cerca bahkan larang? Bahkan balik marah lalu menghajarku? Padahal pemicunya sudah jelas.

        Mungkin tumbuhan yang berkembang dengan subur di balik dari tiap dinding penjara itu, sulur-sulurnya kini sudah menggapai mereka. Ah… semoga saja aku salah.

        Dan tanpa sadar, peluru itu akhirnya terlepas. Menebas sesuatu yang awalnya sangat bias. Aku pun melesat meninggalkan selongsonganku.

        Lalu aku pun kembali ke sisi kenyataan ini sambil tetap memikirkan pergulatan dalam diriku. Aku biarkan mahluk kecil itu pergi. Diam-diam aku puas dengan kesadaran diri yang aku miliki: aku semakin mengenali, mengerti serta memahami tentang nilai, kedalaman dan isi hidupku sendiri.

        Secara mental, aku memang telah lebur. Bahkan yang tersisa kini hanya serpihan-serpihan yang mengonggok dan aku jaga dari terpaan angin dengan posesifnya. Menggunakan berbagai macam caraku sendiri. Tapi aku bukannya tidak punya harapan lagi. Bahkan aku punya semangat hidup yang baru. Pun nafasku kini sudah tidak tersengal-sengal lagi. Terkadang juga aku bisa ngakak kembali.

        Ya! Ternyata aku belum sepenuhnya kalah. Aku juga mesti mengakui bahwa aku bukan mencari kemenangan: aku hanya ingin menyaksikan diriku yang hancur itu dalam keadaan benar-benar sadar, usai terhisap lalu terperangkap dalam mata sebuah badai. Lalu mencoba untuk bertemu dengan diriku yang tercerai berai itu. Bahkan, jika perlu dengan mengais-ngais di antara puing-puingnya.

        Dengan kata lain, sku hanya ingin menyatukan lagi seluruh bagian diriku yang tercecer usai terhantam segala peristiwa. Aku hanya ingin membangun sesuatu dalam diriku lagi, meski itu hanya dengan serpihan-serpihan yang tersisa. Dan aku mencoba melakukan segalanya itu, dimulai melalui kata: kemarahan, logika dan cintaku. Tentu saja agar aku tidak tambah sakit jiwa.

        Terserah jika kemudian mereka tidak menganggap atau tersinggung dengan ucapanku. Tokh apa perduliku dan perduli mereka? Sekedar menanyakan kabarku saja, tidak. Bahkan malah balik menyumpah-nyumpah saat aku marah. Dan, di mataku kini, itu membuktikan telah matinya getaran simpati atau juga empati di balik dada mereka.

        Lalu sebenarnya siapa yang paling bukan manusia di sini?

        Tapi, sudahlah. Memang sudah saatnya aku yang memulai untuk menghentikan harapan, bahwa orang lain mau mengerti apa yang tengah aku jalani dan hendak lewati ini. Tokh pada akhirnya, aku pun telah merelakan diri untuk masuk dalam rombongan penuh dendang yang senang berbisik dengan mesra: ‘realistislah! Pinta pada mereka yang tidak mungkin. Sebab mereka tidak akan memberikan apa yang seharusnya kita miliki. Mereka tidak akan mengikhlaskan sesederhana apapun permintaan kita. Karena mereka memang barisan kaum penagih. Maka suatu waktu nanti, akan tiba masa dimana kita berhasil merampas apapun yang telah mereka rampok dari kita. Suatu saat nanti, akan tiba masa dimana kita adalah pihak terakhir yang selalu melewatkan seluruh waktu dengan ngakak. Suatu waktu nanti, akan tiba masa dimana kita adalah pihak terakhir yang benar-benar lepas saat terbahak sambil mengacungkan botol-botol bir dengan setinggi-tingginya. Karena ini serupa dengan pemberontakan kaum papa: tidak akan kehilangan apa-apa kecuali rantai yang mengikat tubuh mereka. Lalu nanti ada seorang penyayang di sebelah kita yang percaya bahwa hidup akan terus berlangsung, dan yang ada hanya pergantian jalur serta perpindahan bentuk. Seseorang yang paham betul bagaimana cara mengembalikan kita ke dunia yang sebenarnya sederhana: Perempuan yang bijak itu’.

        Maka kali ini aku harus benar-benar minta maaf pada mereka. Dan tentang ‘nilai’, ‘kedalaman’, dan ‘isi’ mereka itu, begini saja, anggap itu semua tradisi kalian, dan aku tidak memilikinya. Bahkan enggan menelannya. Jika kalian tidak puas dengan jawaban itu, anggap saja bahwa sebetulnya aku punya ketiga hal itu, tapi kalian dan banyak orang yang lain terlalu bebal untuk menangkapnya. Kalau masih saja hal itu belum memuaskan, anggap saja bahwa inilah yang bisa aku lakukan, dan masih boleh kan jika orang berbeda? Bukankah kalian masih menghargai perbedaan? Dan aku pikir itu sudah cukup. Sebab bila kalian mulai menuntutku lagi, aku merasa kalian mulai membiarkan tumbuhan yang berkembang subur di balik dari tiap dinding penjara, benar-benar mekar di tubuh kalian. Dan aku tidak pernah mau bicara pada orang-orang yang seperti itu.

        Lalu… lalu memang aku yang memecahkan jendela. Tapi kini aku tahu alasannya kenapa: aku menyayangi mereka semua dengan genap. Dengan romantisme, logika sekaligus kemarahanku. Dan hanya itu yang bisa aku berikan.

        Oh ya, Perempuan-perempuan dari masa laluku itu juga memang benar atas satu hal: mereka telah menyakitiku dengan meninggalkanku. Sangat menyakitiku. Bagiku, mereka memang begitu keji. Tapi, tenang saja, pada akhirnya aku juga tahu akan sesuatu: segalanya ini terjadi, mungkin, karena aku memang sengaja diberi peran sebagai bocah yang gemar mencoret-coret serta mewarnai dinding kehidupan mereka.

        Sayangnya, Perempuan-perempuan dari masa laluku - yang kini bergabung dengan kelompok mereka itu - enggan memahami bahwa potensiku ini semestinya diolah. Serupa dengan setiap kisah anak-anak yang autis. Serupa dengan setiap cerita bocah-bocah indigo. Serupa dengan seniman jalanan yang gemar menghiasi tembok kota dengan mural-muralnya.

        Maka pantas rasanya jika tiap bocah autis, indigo atau seniman jalanan itu tidak dicerca bahkan ditinggalkan. Mereka seharusnya didekati, dipeluk, lalu seluruh energinya itu disalurkan. Bukankah ini yang namanya simpati dan empati?

        Lalu sebenarnya, aku merasa sungguh beruntung karena Perempuan-perempuan dari masa laluku itu menyerah: diam-diam mereka telah memberikan contoh sebagai calon ibu yang buruk. 

        Terakhir, aku ucapkan terima kasih. Semoga kalian, juga Perempuan-perempuan masa laluku itu, berbahagia di sana. Aku tulus mengucapkannya, kok… Sungguh.

        Nah, sampai sini dulu. Para penjaga itu juga sudah mulai menghampiri tiap pintu besi dari petak kecil kami dengan wajah memerah, sekaligus memerintahkan kami untuk masuk ke ruang duduk. Doakan agar kekejaman paling keji itu tidak akan menimpaku kali ini, ya…

Cekrek! Klang! ***

                                                        Bandung, di akhir Juni 2007

Catatan:
* Dari bahasa Serbia-Kroasia: keterdesakan tidak mengenal aturan.
** Dari seorang kawan yang menggratiskanku sebagai pasien di klinik psikiatrinya (seandainya seluruh psikiater sepertimu, kawan…).
*** Kisah ini adalah gubahan dari surat seorang sahabat berinisial W. S. M. Juga kata-kata yang aku kumpulkan dari sahabat-sahabatku. Terima kasih telah mengijinkan aku menyatukan semuanya. Dan, jika ada kesamaan tokoh, karakter atau kisah, maaf: ini hanya cerita yang aku persembahkan untuk diriku saja.