Selembar Kertas Kusut Yang Aku Temukan Di Sebuah Pantai

Perempuan dan Pejantan gemar berciuman serta bertengkar,
diantara kelembutan memabukkan juga bisa pengkhianatan.
Cinta itu jelmaan binatang liar yang jinak dalam kehangatan yang tak sepenuhnya terengkuh dan mengabulkan harapan.

Meski kepasrahan tercurah menguyupkan kerontang dunia,
darah kecewa terus tertumpah mengaramkan dalam hampa.
Barangkali percintaan adalah perang besar di balik kenyataan,
terselubung suara bisikan sejujur dusta dan setulus keculasan.
Dan kebencian mereguk kekosongan di genangan asin pantai,
seteguh berahi menimba sumur sepi sekujur perawan dahaga.
Mungkin semua bukan apa-apa yang bermakna selain mimpi yang sirna bersama harum anggur dan lenguh persetubuhan.

Di pantai cuma pasir yang menghisap waktu dan gelombang,
di tubuh bersemayam semesta yang melulu diam menunggu.
Keraguan hanya keyakinan yang belum sempurna,
menyiksa berahi yang mengendus batas tubuh dan impian.
Setia dan ingkar memijar dalam lenguh gairah pergumulan,
membakar semak kesangsian dan menghapus kepercayaan.
Buih terapung seumur ombak lautan yang gundah,
menatap daratan terkapar telanjang belum juga tenggelam seluruhnya.

Tamparan ombak merobek daun nyiur dan sekujur ketenangan,
bersarang di penjuru cuaca yang poranda arah dan nasibnya.
Terumbu karang bertapa di kedalaman bersama bangkai kapal,
mengerami waktu yang tumpas dan tumbuh di liang porinya.
Rahasia sembunyi di dasar samudera hingga puncak gunung dan tubuh kepayang mencari jejaknya sampai mati berahinya.

                                                        ~ Pantai Marina, Ancol. Pada sebuah sore ~



No Comment

No comments yet

Leave a Reply