Archive for July, 2007

Jerit Sunyi (Part IV)

… Si pengerat itulah yang akhirnya membulatkan hatiku: rasa sakit tidak harus dikubur dan dibuang dari ingatan, melainkan justru mesti dimasuki untuk kemudian dilewati. Rasa sakit mesti dikunyah, lalu dicecap hingga habis pedih perihnya. Tokh pada akhirnya, hidup adalah proses keluar-masuk dari getir nasib yang satu ke lainnya. Dan masih banyak hal yang dapat dilakukan selain melarikan diri atau membayangkan segala sesuatu di luar rasa pedih. Usainya, semua akan terasa lebih enteng. Pasti.

Kamu Di Pojok Itu

Kemarilah, kemarilah…
Ceritakan semua padaku sendu yang bergulung-gulung lalu pecah dan merangkak menuju pantai sunyi serta temaram itu.

Kemarilah, kemarilah…
Kisahkan padaku seluruh buih amarahmu yang sebenarnya selalu dihisap habis oleh bibir pantai bercelemotan pasir itu.

Kemarilah, kemarilah…
Riwayatkan padaku buntalan gempita yang melesat lalu meledak di wajah raksasa angkasa dari harimu.

Kemarilah, kemarilah…
Dongengkan padaku hidupmu yang mungkin telah terlewatkan olehku.

Kemarilah, kemarilah…
Kuyupi aku dengan tangis juga tawa sederhana yang mampu membuatku selalu merindukan kamu itu.

Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku menyelipi kamu dengan cerah yang selalu kamu ingini.

Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku untuk mengelus punggungmu, sesuatu yang kamu sukai, nanti.

Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku untuk mengulas pipimu yang penuh gurat sejarah luka itu nanti.

Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku untuk merangseki pedih di ujung matamu yang sudah tak pantas lagi kamu beceki.

Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku saat merayap memeluk lalu membantai sepi yang selalu membekapmu ini.

Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku untuk menghisap setiap anyir nyeri melalui tekstur bibirmu itu nanti.

Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi apapun yang kemudian terjadi pada kita nanti: ijinkan aku membantu menjaga semua puing jiwamu ini.

Kemarilah, kemarilah, sayangku…
Kemarilah jika kamu tidak merasa semua ini hanya ilusi: aku akan merawatmu.

===
Terima kasih atas air mata di Lembang beberapa waktu lalu. Terima kasih membiarkan aku bergelung di pangkuanmu. Terima kasih atas senyum juga kecup saat aku membuka mata di pagi hari itu. Terima kasih atas segalanya, Perempuan…

Selembar Kertas Kusut Yang Aku Temukan Di Sebuah Pantai

Perempuan dan Pejantan gemar berciuman serta bertengkar,
diantara kelembutan memabukkan juga bisa pengkhianatan.
Cinta itu jelmaan binatang liar yang jinak dalam kehangatan yang tak sepenuhnya terengkuh dan mengabulkan harapan.

Meski kepasrahan tercurah menguyupkan kerontang dunia,
darah kecewa terus tertumpah mengaramkan dalam hampa.
Barangkali percintaan adalah perang besar di balik kenyataan,
terselubung suara bisikan sejujur dusta dan setulus keculasan.
Dan kebencian mereguk kekosongan di genangan asin pantai,
seteguh berahi menimba sumur sepi sekujur perawan dahaga.
Mungkin semua bukan apa-apa yang bermakna selain mimpi yang sirna bersama harum anggur dan lenguh persetubuhan.

Di pantai cuma pasir yang menghisap waktu dan gelombang,
di tubuh bersemayam semesta yang melulu diam menunggu.
Keraguan hanya keyakinan yang belum sempurna,
menyiksa berahi yang mengendus batas tubuh dan impian.
Setia dan ingkar memijar dalam lenguh gairah pergumulan,
membakar semak kesangsian dan menghapus kepercayaan.
Buih terapung seumur ombak lautan yang gundah,
menatap daratan terkapar telanjang belum juga tenggelam seluruhnya.

Tamparan ombak merobek daun nyiur dan sekujur ketenangan,
bersarang di penjuru cuaca yang poranda arah dan nasibnya.
Terumbu karang bertapa di kedalaman bersama bangkai kapal,
mengerami waktu yang tumpas dan tumbuh di liang porinya.
Rahasia sembunyi di dasar samudera hingga puncak gunung dan tubuh kepayang mencari jejaknya sampai mati berahinya.

                                                        ~ Pantai Marina, Ancol. Pada sebuah sore ~