Kemarilah, kemarilah…
Ceritakan semua padaku sendu yang bergulung-gulung lalu pecah dan merangkak menuju pantai sunyi serta temaram itu.
Kemarilah, kemarilah…
Kisahkan padaku seluruh buih amarahmu yang sebenarnya selalu dihisap habis oleh bibir pantai bercelemotan pasir itu.
Kemarilah, kemarilah…
Riwayatkan padaku buntalan gempita yang melesat lalu meledak di wajah raksasa angkasa dari harimu.
Kemarilah, kemarilah…
Dongengkan padaku hidupmu yang mungkin telah terlewatkan olehku.
Kemarilah, kemarilah…
Kuyupi aku dengan tangis juga tawa sederhana yang mampu membuatku selalu merindukan kamu itu.
Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku menyelipi kamu dengan cerah yang selalu kamu ingini.
Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku untuk mengelus punggungmu, sesuatu yang kamu sukai, nanti.
Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku untuk mengulas pipimu yang penuh gurat sejarah luka itu nanti.
Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku untuk merangseki pedih di ujung matamu yang sudah tak pantas lagi kamu beceki.
Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku saat merayap memeluk lalu membantai sepi yang selalu membekapmu ini.
Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi aku untuk menghisap setiap anyir nyeri melalui tekstur bibirmu itu nanti.
Kemarilah, kemarilah…
Jangan halangi apapun yang kemudian terjadi pada kita nanti: ijinkan aku membantu menjaga semua puing jiwamu ini.
Kemarilah, kemarilah, sayangku…
Kemarilah jika kamu tidak merasa semua ini hanya ilusi: aku akan merawatmu.
===
Terima kasih atas air mata di Lembang beberapa waktu lalu. Terima kasih membiarkan aku bergelung di pangkuanmu. Terima kasih atas senyum juga kecup saat aku membuka mata di pagi hari itu. Terima kasih atas segalanya, Perempuan…