Jerit Sunyi (Part III)
Ha… ha… ha… Kamu bilang, hening akan jawab segala tanya.
Tidak. Ia tidak akan pernah memberikannya padamu jika kamu tidak pernah berani menyentuhnya. Dan Sang waktu menyampaikan saat aku duduk sambil menyeruput kopi dengannya.
Ha… ha… ha… Kamu bilang, tak ingin lagi sendiri.
Sudahkah kamu siap menjawab: ‘seberapa yakin hatinya adalah milikmu?’. Pun sebaliknya.
Ha… ha… ha… Kamu bilang, tidak menyukai lagi lelaki yang sensitifitasnya tinggi.
Ternyata kamu tak jauh beda dengan Perempuan yang kini jadi masa laluku. Mereka yang kini aku labeli ‘terkalahkan’ itu: lebih memilih lelaki yang baik hati ketimbang kamu cintai! Lelaki yang hanya menawarkan keamanan. Sementara aku memang hanya mampu memberikan kamu kenyamanan. Ah, suatu saat nanti kamu pasti memahami: keamanan jarang memberikan kenyamanan. Sedangkan kenyamanan pasti menghadiahkan keamanan. Lalu semuanya terlambat untukmu.
Ha… ha… ha… Kamu bilang, tak ada yang sia-sia di dunia ini.
Kamu tak mungkin serius dan tulus mengatakannya: manusia kerap menyia-nyiakan segalanya. Dan kamu sendiri telah mengkhianati ucapanmu sendiri padaku untuk tidak pernah meninggalkanku! Aku masih mengingatnya. Semesta pasti mencatatnya: aku tidak memiliki apa-apa lagi kini. Bahkan sekeping harga diri yang tersisa dan terakhir aku punyai itu telah menyerpih. Kamu rampok segala yang telah aku miliki! Pada akhirnya, hidupmu sendiri adalah omong kosong.
Ha… ha… ha… Kamu bilang, apa yang tersisa adalah jejak-jejak dan patut untuk di ziarahi.
Segalanya memang tinggal dalam hati. Tapi menyiksaku lewat hari bersama imaji. Dan kamu juga lupa satu hal lagi: ada jiwa yang semakin terbelah dan berjuang untuk bangkit. Sendiri. Di sini. Sementara di sana, kamu hanya melambai sambil tersenyum sambil beranjak pergi. Jahanamnya, kamu tidak lagi sendiri!
Ha… ha… ha… Kamu bilang, mengasihi diri ini serupa dengan manusia lain di luar sana.
Sudahkah kamu mengasihi dirimu sendiri jika kemudian kamu hanya menutup diri bahkan komunikasi? Lagi pula, aku tidak pernah sudi di kasihani!
Ha… ha… ha… Kamu bilang, aku sangat kejam dengan kata-kataku ini.
Aku hanya terinspirasi oleh apa yang telah kamu lakukan padaku.
Ha… ha… ha… Kamu bilang, Tuhan punya rencana bagi kita berdua.
Sudahlah. Jangan kamu bawa-bawa Ia yang hanya diam di atas sana dan menyerahkan segalanya pada partnernya di dunia: manusia.
Ha… ha… ha… Kamu bilang, aku tidak adil mengucapkan itu semua.
Mengertilah, bahwa hidup tak semudah yang kamu kira: aku telah berlari mengejarnya. Dan kamu hanya menggeleng saat aku tiba di hadapanmu.
Ha… ha… ha… Kamu bilang, hentikan semua ini.
Kamu yang mesti mengakhirinya karena kamu telah memulainya.
Ha… ha… ha… Kamu bilang, apa sih maumu sebenarnya?
Kembalikan hidupku. Sederhana, bukan?
Maka, sudahlah. Lebih baik kamu diam saja: kamu tidak punya otoritas atas kata-kata yang kamu ucapkan di hadapanku.