Selalu ada yang terasa bergulung dalam perutku, saat tiba di batas kotamu. Selalu ada debar serupa gemuruh, saat bus malam yang aku naiki telah parkir di terminal kotamu. Selalu saja ada kilatan peristiwa, saat aku susuri lagi trotoar menuju gang rumahmu.
Dan pada saat seperti itu, senyum pasti terkulum di wajahku. Memaksaku agar segera tiba di rumahmu lalu langsung memelukmu. Membisikkan selamat pagi dengan riang saat kamu membukakan pintu untukku. Lalu mengacak-acak rambutmu yang khas bila kamu bangun dari tidur.
Tapi pagi tadi, jantungku berdegup tambah kencang saat turun dari bus keparat itu. Maafkan jika kali ini aku mengumpat. Tokh aku memang pantas melakukannya: kamu tahu, kan, bagaimana rasanya naik bus malam yang ugal-ugalan?
Dan bus itu juga bukan hanya keparat. Tapi sekaligus jahanam: di tengah jalan tadi, seorang bapak yang baru pulang dari pasar sambil memboncengkan sayur mayur di motornya, terjerembab dalam got di pinggir jalan karena di kageti oleh klakson bus ini! Lalu supir bus yang kami tumpangi, tertawa senang saat menyaksikan adegan itu. Bukan itu saja, seorang ibu yang duduk di belakang kursiku, muntah berkali-kali karena zig-zagnya bus yang kami tumpangi. Padahal, ibu itu sudah biasa naik bus dan selalu bolak-balik ke kotamu tiap dua minggu sekali. Sopir bus ini memang senang membuat segalanya jadi tidak nyaman!
Kamu tahu, jalanan selalu saja menyuntikkan bius lupa pada para pengendara: mereka selalu meremehkan nyawa. Bukan hanya nyawa para penumpangnya. Tapi juga pengendara dari kendaraan lainnya.
Maka wajar saja jika pagi ini aku dan penumpang lain turun dari bus malam itu dengan menyumpah-nyumpah. Sambil menenteng lelah ditambah tegang yang tercipta usai naik bus keparat dan jahanam itu. Sesaat.
Lalu biru tua langit kotamu menyambutku. Pun kicau burung dan udara segar dari kotamu, yang aku tahu, siang nanti nyaris serupa Kurusetra khas masa kini: mengambil-alih harta, tahta dan wajah hanya untuk diri sendiri. Sisanya, tak jauh beda dengan epos Bharatayudha. Aku masih ingat saat kamu hanya tertawa bila aku tanyakan kabarmu: ‘Tidak mungkin pernah sehat dengan keadaan kotaku yang seperti ini, bukan?’.
Ah… untuk beberapa hal kamu itu memang selalu mampu membuatku kembali tersenyum. Bahkan kamu pernah membuatku ngakak di trotoar yang kini kembali aku tapaki ini: ‘Kamu tahu, kemarin aku bertemu dengan seorang peramal. Ia mengatakan bahwa di kehidupan sebelumnya, aku ini sebenarnya seorang pelawak terkenal!’.
‘Bagaimana mungkin, kamu yang tetap tidak bisa berbincang dengan lepas, saat seseorang yang bahkan sudah kamu kenal cukup lama, jadi pelawak? Bagaimana mungkin, kamu yang lebih senang untuk tidak perduli dengan sekitarmu, lalu memilih membaca buku atau menulis di sebuah sudut, mau berdiri di atas panggung untuk mengocok perut? Bagaimana mungkin, kamu yang lebih senang mempertanyakan segalanya, lebih sering dengan sinis atau satir, di pahami banyolanmu oleh para penonton? Sudahlah, kamu jangan mengada-ada. Jadi seorang ilmuwan, mungkin itu lebih tepat untukmu. Atau, jangan-jangan, kamu memang pelawak terkenal yang lahir tidak untuk dan di negara ini? Sepertinya sih, iya’. Kamu hanya mengangkat bahu dan malah balik bertanya padaku: ‘memangnya aku harus menanyakan selengkap itu, ya?’. Lalu kamu cengar-cengir menyaksikan aku yang kembali tergelak mendengar balasanmu itu.
Dan akhirnya kita malah duduk di atas trotoar ini. Menatap kendaraan yang melaju dikejar malam. Membeli minuman ringan. Kemudian menghabiskan waktu bersama canda juga berbungkus rokok. Tak lama kita memesan nasi goreng yang kebetulan lewat. Makan dengan lahap. Lalu kembali mengumbar tawa hingga larut tiba.
Aku juga masih ingat betapa konyolnya perseteruan kita.
Di ujung trotoar ini, tepat di gang menuju rumahmu, kita pernah bertengkar hebat: kamu juga aku berdebat soal perselingkuhan salah satu sahabatmu.
Kamu menganggap hidup sahabatmu itu memang sudah di gariskan dengan kebusukan. ‘Sudah dari sananya’. Demikian katamu. Maka, sama seperti trotoar yang sudah di persiapkan, manusia hanya tinggal berjalan di atasnya saja. Lalu di ujung sana, sesuatu pasti telah menantinya. Mungkin sebuah hukuman. Mungkin juga sebuah hadiah.
Sementara aku menganggap bahwa kata-katamu itu hanya ilusi belaka: manusia juga punya hak menentukan sendiri garis hidupnya. Ia bisa saja menerima kebusukan itu atau menolak dengan menghindarinya.
Perselingkuhan sahabatmu itu serupa dengan motor yang tiba-tiba melaju dari belakangmu, meski saat itu kamu tengah berjalan di atas trotoar: bisa saja kamu lebih menepi agar tidak terlanggar. Atau kamu tetap bersikeras atas jalanmu itu lalu akibatnya pasti fatal. Dan memang tidak ada sesuatu di ujung trotoar sana. Hanya ada pemberhentian sementara untuk satu petualangan baru berikutnya.
Lalu kamu juga aku memperlakukan masalah sahabatmu itu sebagai masalah yang tengah kita hadapi. Lucunya, selama seminggu kamu juga aku saling menarik urat kepala karena sesuatu yang seolah-olah sudah pernah kita lewati. Padahal, sebenarnya, kita berseteru hanya karena ingin menghindari. Dan kita berdebat selama seminggu penuh itu karena kamu juga aku serupa: keras kepala.
Dan pada akhirnya, kita sama-sama sepakat bahwa tidak sekali pun kamu juga aku menginginkan untuk menduakan cinta kita.
Duh, mengenangkan itu semua, aku tambah kangen kamu. Aku ingin segera memelukmu. Aku ingin segera mengecupmu. Dan trotoar ini sudah aku lewati setengahnya. Aku harus mempercepat langkahku!
Tapi tunggu dulu, di depan sana ada yang melambaikan tangannya dan meneriakkan namaku. Hei… ternyata tukang ojek langgananku! Dulu, ia selalu jadi andalanku bila terlambat menuju rumahmu.
Kami sempatkan diri untuk menyapa. Sekedar menukar kabar. Ternyata anak pertamanya kini sudah masuk sekolah dasar. Dan pagi ini, ia baru saja mengantarkan anaknya. Aku juga sempat kaget saat ia memperlihatkan memar-memar di tubuhnya: istrinya kini tengah mengidam. Maka setiap kali ia dekat dengan istrinya, pasti selalu digigiti.
Aku pun tersenyum membayangkan jika suatu saat nanti kamu hamil.
Dan seorang tukang bajaj pun menghampiri kami. Bergabung bersama. Ia pengemudi kendaraan roda tiga yang biasa mengantarmu kemana-mana. Kamu ingat dia, kan? Ia menawariku kopi kentalnya.
Tentu saja aku menolak. Debur jantungku masih belum reda karena bus jahanam itu. Lagi pula, aku tengah bergegas menuju rumahmu. Tak jauh dari belokan di ujung trotoar yang baru saja aku masuki ini. Aku segera pamit pada mereka.
Fiuhh… sebentar lagi aku bertemu dengan kamu. Peluk aku nanti dengan kencang dan lama, kekasihku…
Lalu para pengasong koran pun menyambutku! Lho, sekarang di depan pintu pagar rumahmu sudah jadi tempat transaksi distributor dengan lopernya toh… Kamu hebat telah mau merelakannya!
Aku membalas senyum mereka dan masuk ke rumahmu. Tapi orang-orang berseragam muncul, langsung menyergapku.
“Kamu mesti membeli karcis!”. Aku melongo.
Aduh, apa-apan sih ini! Kamu bercanda, yah? Isengmu pasti kambuh lagi. Tapi aku mengalah. Aku ingin segera bertemu kamu. Aku harus segera mengumbar rinduku padamu. Aku pun membeli karcis. Selanjutnya, beres… Aku pun segera naik tangga menuju rumahmu. Tapi, apa itu? Sahabat-sahabat tanpa rumah menyambutku di salah satu sisi terasmu.
Wah, rupanya kamu mulai benar-benar sadar. Aku senang dengan hal ini. Begitu gembiranya menyaksikan ini. Kamu masih ingat, dulu kamu juga aku pernah menyeterukan hal itu.
“Buat apa sih hura-hura?”. Kamu mencibir.
“Apa sih nikmatnya, mmm, apa itu yang dansa-dansa di pub, kafe atau diskotik? Bogem, namanya, ya?”. Kamu melotot.
“Aduh… Cape’ deh!”. Aku mengangguk.
“Ooo… itu toh namanya…”. Kamu tersenyum simpul.
“Memangnya tidak boleh yah?”. Aku tatap matamu.
“Boleh saja. Tapi tidak mesti tiap malam, kan? Lebih baik uangnya kamu tabung. Atau kamu hambur-hamburkan buat mereka yang lebih membutuhkan”. Kamu kembali mencibir.
“Idealistik!”. Aku tersenyum.
“Kamu gak punya bahasan lain ya?!”. Aku tertawa.
“Kenapa tertawa?! Aku serius bertanya!” Aku terpingkal-pingkal.
“Kenapa sih kamu selalu mengganggu kesenanganku yang satu itu? Kamu boleh saja menggangguku dengan masalah lainnya. Tapi jangan satu-satunya hiburanku saat aku sedang tidak bersama kamu. Dan, aku ingin kamu tahu, sudah tidak tiap malam aku melakukannya!”. Aku mengangkat bahu.
“Kamu memang benar-benar melarangku untuk bersenang-senang, kan?!”. Aku menggeleng.
“Huh! Kamu itu kejam! Asal kamu tahu, itu hiburanku untuk mengalihkan rasa kangenku padamu!”. Aku mengangguk.
“Dasar…!”. Aku mengedipkan mata padamu.
“Kamu itu tambah cantik kalau marah”. Kamu melotot.
“Sialan!”. Kamu mengalihkan pandang. Aku pun ngakak saat masih bisa melihat sisa rautmu yang tiba-tiba memerah itu.
Dan aku menyukai itu. Kamu. Semuanya. Sungguh.
Pun dengan orang-orang yang kini aku saksikan duduk di sisi lain teras rumahmu. Sebagian diam. Mungkin karena masih mengantuk. Sebagian lagi berbincang-bincang. Mungkin membicarakan soal mimpi atau sinetron semalam. Sebagian lagi berbisik-bisik sambil cekikikan. Dan aku jengah saat tanpa sengaja mencuri dengar perbincangan di antara kikik geli itu: mereka membicarakan tentang variasi di atas tempat tidur semalam! Tapi biarlah. Tujuanku bukan untuk mendengar cerita mereka. Aku ke kotamu hanya untuk kamu. Mendengar kisah-kisahmu yang sudah lama tidak kamu bagi padaku lagi. Mengumbar sesaknya rindu dalam dadaku ini.
Lalu kamu pun muncul dengan senyum sumringah. Bukan hanya dari balik pintu. Tapi juga dari tiap senti rumahmu. Serta dari tiap pori-pori rumahmu. Kamu pun memelukku dengan erat. Mengecupku dengan kencang. Membimbingku masuk ke dalam rumahmu yang tak pernah kamu ijinkan untuk aku kunjungi!
Entah apa alasanmu sebenarnya. Kamu memang tidak pernah memberitahuku. Lalu membiarkan aku menduga-duganya saja. Bahkan hingga kisah kita itu kini sudah berakhir. Dan ternyata ini memang bukti bahwa kamu tidak mencintaiku. Tidak menginginkanku. Hanya ingin mempermainkan ‘kita’.
Bukankah mengijinkan seseorang yang benar-benar kamu cintai mengunjungi rumahmu berarti mengijinkan orang itu masuk ke dalam suatu hal yang paling privat serta dalam dari dirimu sendiri? Karena rumah adalah akar dari seseorang. Dan kamu tidak pernah mengijinkan aku mengunjungi sejarahmu itu.
Tentu saja hingga kini aku masih memendam harap akan jawaban atas hal itu.
Tapi tak lama, pengeras suara mengumumkan bahwa kereta kedua menuju Bogor di persilahkan untuk berangkat.
Sialan! Ternyata aku nyaris ketinggalan kereta karena membiarkan diri dihajar kenangan tentang kamu di stasiun ini! Kurang ajar!
Lalu aku hanya mampu menyampaikan kata ini pada angin yang berputar dalam kereta yang kini aku naiki: kamu tahu gak sih kalau pagi ini aku kangen sama kamu?
Stasiun Tebet, 05.30 pagi, 08 Juni 2007