Mimpi Zulaikha

                                                                                                         Kota, 2007

Dan gaung riwayat tentang kita itu masih juga bergema. Menabraki punggung gunung yang hijau sekaligus hening. Basahi tanah lebih deras dari jentik-jentik embun yang bening. Gugurkan tiap kelopak sore yang kuning. Lalu akhirnya cacing-cacing pun menikmati hingga perut mereka jadi bunting. Ya. Aku masih mendengarnya. Aku memang tetap mendengarnya. Aku setia mendengarnya. Meski samar. Entah dengan kamu.

Maka kemudian aku tuliskan padamu. Lagi. Lagi. Lagi dan lagi. Melalui huruf-huruf tak berdosa tapi liar juga ganas. Lewat kalam polos jadi penuh dentam kelam. Hingga kini mereka memang masih setia menemani. Lewati masa yang telah berlalu itu. Kadang mewujud jadi sebongkah prasasti rasa dari dalam dadaku. Kadang indah. Lebih banyak hancur. Lebur.

Maka kini aku akan awali segalanya dengan menyelesaikan pekerjaan paling ringan lebih dulu. Dan, kamu tahu kan, aku akan memulainya dengan bicara. Tetap bicara. Selalu bicara. Bercerita. Dan aku tahu, kamu pasti selalu ingin mendengar sebuah cerita. Tokh sejarah pertemuan kita itu juga di mulai melalui sebuah perbincangan. Maka ijinkanlah aku berkisah.

Kamu pasti masih ingat sebuah sore yang sederhana di satu stasiun dulu: kamu juga aku bertemu oleh satu buku. Dan di sana juga kita berbicara. Saling melempar kata. Di atas bangku kayu atau besi yang dingin itu. Danau itu. Tempat makan itu. Trotoar itu. Kita menyukai perbincangan yang tidak terhela itu. Sangat. Lalu kita mulai segalanya dengan bersahaja. Penuh canda tawa. Segalanya terasa indah.

Tapi kemudian aku juga ingat: pada sebuah sore yang lain kita mesti berpisah. Kita tersengat. Segalanya patah. Aku juga masih ingat bagaimana badai itu mulai menghisap jiwaku. Mungkin juga kamu.

Semua kamu awali dengan mengaku tak lagi kuat bersamaku. Menghadapiku. Menjalani hidup ini bersamaku. Hanya itu alasanmu. Kamu lalu undur diri dari hadapanku. Aku pun rontok di sore itu.

Maka melalui sebuah amarah yang pasrah, aku patahkan kunci lisanku. Dengan sebuah tanda baca. Dengan sebuah kata. Semua aku lakukan karena sudah tak tahu mesti berbuat apa. Melakukan apa. Apakah aku mesti kembali meminta waktumu? Mencuri masa untuk cairkan suasana? Atau menjelaskan padamu bahwa sekeping hati yang rontok itu adalah kepingan terakhir? Ah, itu adalah pekerjaan terberat. Aku juga telah lelah mencari jawab.

Kemudian semuanya sunyi. Sepi. Orang bilang sih, ada waktunya untuk sembuh. Pasti.

Dan, sialnya, aku langsung percaya hal itu. Dengan kekanak-kanakan. Seperti bocah yang meyakini ibu peri adalah Sang Pencipta. Lalu merapalkan mantra-mantra agar malam ini bertemu dengan ibu peri dalam mimpi. Kemudian mengadukan semua masalah padanya. Maka saat bangun nanti wajahnya kembali berseri: ibu peri berkenan menyulap sirna semua masalah.

Tapi kemudian yang sebenarnya terjadi: masalah itu tidak juga pergi. Taringnya malah semakin menancap kuat di ulu hati. Tokh Sang Pencipta memang bukan ibu peri. Mereka dua hal yang sama sekali berbeda.

Maka kemudian melewati waktu untuk sembuh itu adalah hari-hari terberat. Sungguh. Badai itu juga semakin hebat menggulung jiwaku. Membuatku terpelanting ke segala penjuru. Pun sekujur tubuh ini telah habis dilahap warna biru. Hariku kelabu. Dan aku lelah terperangkap hal itu. Aku ingin segalanya segera reda. Kembali seperti semula: kamu juga aku kembali melanjutkan lagi riwayat tentang kita.

Maka diam-diam, aku sempatkan diri menziarahi tempat-tempat yang masih menyisakan aroma dari riwayat tentang kita itu. Tentu saja dadaku bergemuruh. Jiwa dan kepalaku rusuh. Kamu pun muncul dari tiap senti tempat-tempat itu: harum rambut dan parfummu, lembut kulit juga tatapmu, pingkal tawa dari keusilanmu, amarahmu, tanyamu, debatmu. Segalanya tentang kamu yang pernah mampu membuatku merasa jadi sangat berarti. Kembali aku tenggelam dalam senyum. Sendiri. Sesaat.

Tiba-tiba saja aku mulai nyaman berbicara pada tembok kamar. Bahkan aku tidak akan tenang saat aku sehat. Malah aku senang dengan ketidakwarasanku itu. Aku pun membiarkan diri ini di bekap perih. Semua karena satu hal: aku tak ingin orang lain selain dirimu. Aku hanya ingin kamu saja yang selalu menyayangiku.

Lalu aku tak bisa mencegahnya lagi: menjadikan kamu sebagai sosok nyata dalam hari-hariku. Menghidangkan kopi juga pisang goreng untukku. Melepas dan menantiku dari pergi. Mengisi hidupku. Dalam gurat pena tuturkan hati. Dalam larik kata tanpa nada. Dalam setiap keputusanku. Dalam kegembiraanku. Dalam kesedihanku. Kamu itu masih ada. Aku masih menganggap kamu sebagai orang yang paling aku sayangi. Meski itu terjadi hanya dalam kepala. Dalam ingatanku.

Tentu saja  badai itu semakin bergemuruh. Jiwaku pun semakin lusuh. Aku semakin tidak berdaya menghadapinya. Bahkan melawannya. Maka aku tekuri saja seluruh peluh yang meluruh itu. Dan aku genapi semuanya dengan pergi. Menenteng sendu. Sendiri. Menghilang. Bersama gamang. Dengan diam. Membawa serta ketidakwarasan itu dengan riang. Demikianlah saat itu aku melaju.

Kini kamu pasti heran atau mungkin saja ngeri dengan kenyataan baru ini. Tapi sudahlah. Jangan heran atau takut lagi. Aku juga tak ingin kamu bingung atau ngeri. Tokh aku memang mesti melewatinya. Lagi pula, ini memang keputusanku. Ini pilihanku. Ini nerakaku. Untuk menjalani semuanya.

Dan kamu mesti menghormatinya. Seperti aku menghormati kamu. Maka biarkan aku saja yang larut dalam sendu. Tokh pada akhirnya kini aku mulai terbiasa menikmati luka jiwa ini: tetap mencintaimu dalam diam. Di sini. Entah dengan kamu di sana. Maka perlahan tapi pasti badai itu mulai reda. Secercah cerah hadir di cakrawala.

Tapi tiba-tiba saja kamu kembali. Tumpahkan kata sekaligus tanya. Aku pun kembali tercengang: kamu ingin agar aku tidak lagi pergi dan mengunci mulutku dengan rapat. Kamu juga menginginkan satu hal dariku: semuanya menjadi biasa. Seperti teman bahkan sahabat.

Lalu kamu juga aku langsung bergumul hebat. Saat itu juga kita bertarung dalam jarak yang sangat dekat. Dan untuk terakhir kalinya aku kembali meledak: kamu tahu, simpul itu sudah tak lagi erat. Sudah tak ada lagi tali yang tersisa. Segalanya terlanjur terburai. Semuanya terlanjur tercerai. Membuat kembali simpul dari tali yang terlanjur tercerai berai bukanlah pekerjaan yang gampang. Pekerjaan itu membutuhkan tenaga, pikiran, dan rasa yang besar. Kamu pasti tahu hal itu.

Maka maafkan aku: menolak jadi sahabatmu. Semua karena satu hal, perasaan. Entah hingga kapan itu ada. Tapi, yang pasti, kamu membenci hal ini: persahabatan dengan naluri cinta yang bergelora. Kamu tidak pernah suka dengan cinta yang di bungkus oleh persahabatan, bukan? Dan kamu tahu, aku sangat menghormati sikapmu ini.

Tentu saja badai yang telah reda itu kembali rusuh. Maka aku kembali terhisap masuk dalam pusarannya. Tapi aku telah belajar dari pengalaman sebelumnya: nikmati saja putarannya. Aku pun terpelanting ke sini dan sana.

Lalu mendadak badai itu memberi jeda. Entah apa sebabnya. Dan di ujung sana, pintu untuk menyudahi dirimu terbuka. Dengan sendirinya. Tentu saja aku heran: ternyata aku tengah berdiri sambil menatap pintu yang terbuka. Juga pekat yang menghiasi dinding-dinding waktunya.

Maka selanjutnya yang hadir bukanlah tentang menunggu agar bersama-sama lagi denganmu. Bukan itu. Karena itu pasti menyita waktuku. Atau menjadikanmu sebagai satu ritual ziarah. Itu juga memerlukan waktu. Maka bukan itu. Bukan. Semuanya ini bukan tentang hal itu.

Segalanya itu hanya sebuah keinginan dariku agar kenangan tentang kamu tumpul dengan sempurna. Lalu segera masuk ke dalam kamar harapan yang pintunya telah terbuka itu. Tak sengaja aku temukan cara. Dan ternyata sederhana: seperti hendak menumpulkan pisau di dapur. Benturkan saja pisau itu ke dinding. Semakin keras dan sering kamu melakukannya, tumpulnya pasti sempurna. Terus saja benturkan. Terus. Terus. Dan terus. Jika kemudian pisau itu patah, itu berarti kamu tengah beruntung karena bisa membuangnya ke tempat sampah.

Maka aku segera melakukan itu: menghantamkan segala kenangan tentang kamu ke dinding waktu. Tapi tiba-tiba saja penat menyergapku. Ternyata waktu ingin memberitahuku sesuatu: luka hati itu tidak pernah mati. Jika jiwa masih saja tetap menari juga bermimpi.

Lalu aku istirahat. Sejenak. Aku ambil jeda dari menghantamkan tajamnya pisau ke dinding waktu. Dan aku melakukannya bukan karena tidak ingin menuntaskan semua dengan cepat. Bukan. Bukan itu. Sekali lagi, ini semua bukan tentang itu. Meski kamu tahu, aku memang bisa saja melakukan semua: mengakhiri segalanya ini dengan cepat.

Maka kemudian aku biarkan sisa kilat dari kenangan tentang kamu itu melesat lalu merobek pori-pori jiwaku. Tidak terlalu lebar memang. Tapi artinya cukup bagiku: sebuah penghormatan terakhir padamu. Pada riwayat tentang kita. Pada harap dan asa yang pernah terajut rapi.

Maka kini aku katakan padamu. Di sini. Jauh dari sana. Aku masih menyayangimu. Mencintaimu. Terlalu bahkan. Tapi kemudian cinta itu perlahan jadi beku. Cintaku kepadamu itu jadi tua dan sakit-sakitan. Semuanya karena badaimu itu.

Lalu yang tertinggal kini hanya sintesis dari sejarah antara kamu dan aku: sekedar rasa sayang saja. Atau, dengan kata lain, yang tertinggal kini hanyalah anak dari cinta kita itu sendiri: sayang.

Rasa sayang itu sudah tak dapat aku hindarkan. Seperti juga aku yang tak bisa menghindar terhisap masuk bahkan menghentikan badaimu itu. Siapa sih yang bisa menghindar atau menghentikan badai dari rasa yang bergemuruh?

Dan pada akhirnya sayangku padamu sekarang, sepertinya, adalah gagang dari pintu kisah jatuh cintaku padamu. Perasaan sayang itulah yang muncul setelah melewati ujian-ujian ketat yang mungkin saja dikatakan orang sebagai “cinta.”

Meski kemudian, di saat ini, tak terlalu jelas lagi bagiku apa itu cinta. Apakah seperti embun yang setiap pagi menyapa bersama sejuknya? Tapi embun hanya datang sekejap saja lalu hilang entah kemana. Apakah seperti sungai yang alirannya tak henti sepanjang masa? Bersatu entah dengan siapa. Apakah seperti seekor burung di udara? Memiliki sayap. Maka ada waktu dimana cinta harus hinggap. Tapi suatu saat akan terbang lagi ke langit biru. Sisakan sendu. Apakah seperti bunga mawar yang tumbuh di taman? Anggun dan indah dilihat, tapi terluka saat tergores durinya. Atau, jangan-jangan, seperti peluk juga kecup pelacur stasiun, terminal dan pelabuhan? Atau dari tiap inci tangan pemijat plus-plus itu: mereka lebih paham makna luka jiwa. Sepertinya sih, iya.

Dan begitulah. Semestaku yang pernah berantakan itu berhasil aku rapikan. Perlahan tapi pasti aku pun berjalan menuju pintu untuk menyudahi dirimu yang telah terbuka itu. Membawa sekedar rasa sayang yang masih tersisa.

Tentu saja aku melaju dengan terseok-seok. Tapi biarlah. Tokh pada akhirnya aku justru jadi bahagia di hantam oleh badaimu itu. Setidaknya, aku telah menghardikmu agar tak menyentuh lagi hatiku.

Dan aku juga yakin, setiap langkah besar pasti di awali dengan satu langkah kecil. Mungkin langsung berhasil. Mungkin teratuk lalu jatuh lagi. Tapi yang pasti bangkit dan berjalan kembali. Meski sedikit tertatih-tatih. Atau juga tersaruk-saruk lalu jatuh ke tanah lagi. Tidak mengapa. Tokh, tak ada yang sia-sia di dunia ini. Karena pada akhirnya setiap bayi pasti melangkahkan kaki di atas semesta. Hampiri hari yang telah disediakan untuk mereka.

Maka kemarin hanya sekedar mimpi. Mungkin juga esok. Jadi, aku pun memilih hidup hanya untuk hari ini. Maka kini lihatlah aku sebagai aku yang baru.

Aku yang hari ini, semoga juga esok, adalah aku yang teramat sayang kepadamu. Aku yang menyadari sejarah. Aku yang mulai perduli bahwa cinta itu tak selalu melupakan habis-habisan masa lalu. Tak perlu lagi mengenyahkan kamu dalam diriku. Meski dulu aku menghendaki hal itu. Dengan sangat.

Aku yang sejenak tengah beristirahat ini memang masih terikat padamu dalam nuansa cinta. Bolehlah dikatakan cinta yang agak unik: pernah berangkat dari pusat badai cintaku padamu. Dan kini sayang itu yang tersisa serta jadi simpul padamu.

Maka kemudian ijinkan aku saat ini memilih jalan itu: menyayangimu dari sini saja. Jauh dari sana. Dengan diam. Dalam hening yang dahsyat. Penuh riuh rendah di dalam. Dan yang menjadi modal untuk menjalankan itu hanya satu rasa sayang yang aku rasakan padamu. Hari ini. Tidak kemarin. Semoga juga esok.

Lalu apa kabarmu sekarang? Masihkah perasaanmu yang hebat itu kamu kuras sampai titik terakhirnya? Kamu juga masih jelmakan rasa menghimpit itu jadi air yang membanjiri kelokan wajahmu? Kadang, saat aku tengah menatap tirai hujan, aku kembali ingat kamu. Lalu aku pun ingin menghancurkan kembali tanggul pertahananku: aku ingin segera menghampiri dan melibas kesedihanmu. Menghalau agar pipi hatimu tidak kembali tirus.

Belum lagi saat menyaksikan sinar matamu yang kerap aku tangkap tengah bermuram durja: mengibakan hatiku. Seolah-olah kamu adalah bagian dari diriku yang harus aku kenangkan.

Duh, dari sini sebenarnya aku berharap kamu tidak lagi seperti itu. Bergembiralah! Dengan penuh kegembiraan yang kadang muncul dan aku nikmati melalui pingkalmu itu. Atau saat kamu tengah menyenandungkan lagu. Bahkan saat berjoget di lantai dansa. Kamu lepas. Kamu jujur. Kamu tertawa. Kamu tersenyum. Maka nikmati saja hidupmu itu tanpa kepalsuan. Meski hidup kadang menuntut kita untuk menjadi palsu. Tapi, bagiku, hidup terburuk adalah hidup penuh dengan kepalsuan.

Maka demikianlah. Tokh pada akhirnya kamu juga aku sudah sama-sama dewasa. Jadi kini aku ingin lanjutkan lagi membenturkan sisa kilat terakhir dari pisau kenangan tentang kamu. Tentang kita. Baik-baiklah kamu di tempatmu. Hayati hidupmu seperti yang kamu inginkan.

Satu pesanku, carilah cinta yang benar-benar membuat kamu masuk dalam cinta itu. Jika suatu saat kamu putus dengan kekasihmu, jangan terburu-buru menerima lelaki yang mendekatimu. Pikirkanlah dengan sungguh-sungguh. Sendiri dalam beberapa waktu, untuk memikirkan dirimu secara benar-benar, kan tidak salah. Jomblo beberapa saat itu tak mengapa, lho…

Tokh semua itu hanya untuk kamu: agar benar-benar bisa menguji dirimu sendiri dalam memandang cinta juga laki-laki. Dan itu juga yang akan jadi modal bagi keutuhan anak-anakmu. Suatu saat nanti.

Ah, akhirnya aku tak menyangka berhasil melakukannya: menuliskan penggalan rasa. Sebab, dulu, aku selalu kelimpungan memahat kamu. Susah payah! Tapi itulah keperkasaan waktu. Semua bisa diatasi olehnya.

Jadi, selamat tinggal. Aku ingin lanjutkan lagi hidupku, Perempuan. Gagang pintu untuk menyudahimu itu telah aku buka. Kini aku mau masuk ke dalamnya. Entah apa yang tengah menungguku di sana. Tapi yang pasti, masih banyak sudut-sudut samudera kehidupan ini yang belum aku jelajahi. Maka maaf dan terima kasih untuk segalanya, Senjaku…

-Aku-
                                                ***
   
“Abang… Maaf, yah menunggu lama… Tadi aku mesti mengantarkan Ratri membeli kado. Adiknya ulang tahun. Bang, kok abang diam saja?! Abang marah, yah?”

Bersama semilir angin sore itu, Ika, segera hujamkan kata. Keringat banjiri dahinya. Ia memang baru saja tiba di sebuah danau. Satu tempat bertemu di hari ini juga hari-hari lainnya. Dengan lelaki yang di panggilnya abang itu. Mereka memang sering berada di sana. Sekedar menikmati sore bersama. Atau juga saat Ika meminta lelakinya itu menjemput usai pulang kerja.

Dan Ika baru sadar, kekasihnya itu tengah memegang lembaran kertas. Ika tahu isi kertas itu. Lelakinya itu bahkan pernah membacakan untuk Ika. Maka ia membatalkan niat berbicara lebih banyak lagi: Ika tahu lelakinya saat ini pasti tengah terhisap masuk dalam pusaran kenangan. Lagi.

Dengan diam, Ika duduk di samping lelaki yang hanya menatap kosong ke arah danau. Tapi tak lama. Lelaki itu kemudian sadar bahwa Perempuan yang tengah di tunggunya telah tiba.

“Hei… Kamu… Kok tiba-tiba sudah di sini? Kamu muncul dari mana?”

“Dari bawah tanah. Wekk…” dengan mimik wajah yang lucu saat menjulurkan lidahnya, Ika menjawab pertanyaan itu. 

“Kok gak lucu yah?” Sambil tersenyum simpul, lelaki itu berkata dan menatap Ika.

“Tapi kok abang tersenyum?” Ika membalas. Ada nada kemenangan saat ia bicara.

“Abang baca surat itu lagi, ya?”

Laki-laki yang dipanggil Ika dengan Abang itu menunduk. Terdiam. Membuang tatap. Memandangi langit sore yang juga tengah melemparkan warna kuning. Syahdu. Pelan lelaki itu mengangguk. Keduanya pun diam. Hening.
   
    “Kenapa kamu mau aku ajak hidup bersama tanpa pernikahan, Ika?” tiba-tiba saja lelaki itu memecah kebuntuan.

    “Ha…ha…ha…” mendadak Ika tertawa.

    “Lho… apanya yang lucu, Ika?” lelaki itu menatap Ika dengan heran.

    “Ya, itu. Pertanyaan abang itu yang lucu. Aku juga sebetulnya selalu bertanya hal yang sama: kenapa ya aku mau diajak hidup bersama? Terlebih lagi dengan seorang lelaki yang menyebalkan: saat tengah terjebak kenangan ia seperti jauh sekali. Dan itu sering kali terjadi. Seperti saat ini.

Belum lagi, pekerjaan lelakiku itu yang tidak jelas. Penulis lepas! Kadang ia punya uang. Tapi lebih banyak tidak. Huh! Mengesalkan! Bahkan saat ia ingin merokok, tapi tidak punya uang, pasti rokokku di lahapnya. Tandas.

Padahal, aku tahu sekali, lelaki itu punya keahlian. Juga kemampuan menjadi kaya-raya. Lelaki itu punya ijazah sarjana. Bahkan, ia dulu juga punya riwayat kerja dan posisi yang menyenangkan: wartawan di satu tempat dan penulis naskah sekaligus asisten produser pelaksana di tempat lainnya. Bahkan lelakiku itu berhasil melakoninya dalam waktu yang bersamaan. Dan ia memulai semuanya dari bawah.

Lalu tiba-tiba saja lelaki itu mengaku di bekap lelah dengan seluruh pekerjaannya. Ia merasa terpenjara. Maka ia pun meninggalkan karirnya dan memilih jadi orang bebas. Tapi, dasar, lelakiku itu memang kontradiktif! Maunya jadi orang bebas. Tapi mengirimkan surat untuk seseorang dari masa lalunya saja ia tidak bisa! Dan tambah menyebalkannya: ia selalu saja punya alasan untuk tidak mengirimkan! Huh!”

    “Jadi kamu menyesal aku ajak hidup bersama, Ika?” lelaki itu kembali bertanya.

    “Ha…ha…ha… Menyesal? Ha…ha…ha…” Ika pun terpingkal-pingkal. Hebat. Kembali lelaki itu memandang Ika dengan heran. Usai mengusap air mata dan membetulkan duduknya, Ika kembali menatap lelakinya dan berkata.

    “Abang… abang… Masa sih aku mesti menjelaskan semuanya?” Ika memandang sambil mengedip-ngedipkan mata dengan jenaka.

    “Tentu saja harus.” lelaki itu menjawab pendek.

“Naluri ingin tahumu itu masih juga belum mati, ya, bang? Padahal, kamu tahu kan, keingin-tahuan itu terkadang membunuh. Tapi, baiklah, aku akan coba jelaskan semuanya dengan cara yang sederhana.

Abang, aku justru menyesal jika kemudian tidak menerima tawaran kamu dulu: keluar dari tempat pelacuran itu. Kamu tahu kan, hidup di lokalisasi pelacuran itu tidak pernah pasti. Hidup dan mati tipis sekali. Juga begitu dekat serta nyata di sana. Bisa saja hari ini aku sudah mati di bekap penyakit kelamin. Atau juga di tangan germoku yang rakus itu. Lalu berakhir jadi busuk dalam kesendirian yang akut, bang. Sendirian.

Tapi, di banyak tempat laknat itu aku telah belajar sesuatu: tetaplah bermimpi. Meski redup dan kamu terus terluka. Lalu abang tahu kan, aku ini hidup dengan mimpiku: menjadi manusia normal. Kembali bersekolah, memiliki kekasih, pekerjaan, menikah, lalu beranak-pinak. Dan aku telah memupuk mimpiku itu sejak jadi budak di sebuah tambak ikan.

Abang masih ingat cerita hidupku sebagai korban penculikan dari sindikat penjualan anak, kan? Aku memang berhasil kabur dari jeratan cukong-cukong penjual anak. Tapi kemudian, aku kembali masuk dalam mulut buaya: aku terperangkap dalam jurang prostitusi.

Lalu satu hari abang menyewaku. Kemudian jadi langgananku. Dan dari sekian laki-laki aneh yang pernah aku jumpai, abang yang paling aneh. Kadang abang menyewaku hanya untuk berbincang-bincang. Atau membacakan puisi juga cerpen yang telah abang buat.

Awalnya sih aku senang-senang saja. Tokh abang tetap membayar juga memberikan aku tips yang lumayan besar. Tapi saat abang berhasil membujukku datang ke kontrakan abang, lalu kita berbincang banyak di sana, tiba-tiba aku tahu, sebentar lagi mimpiku terwujud. Abang masih ingat, saat itu kita saling menukar cerita tentang mimpi masing-masing: abang ingin jadi orang bebas. Dan itu juga mimpiku, bang. Manusia yang lepas. Merdeka. Mendadak kita jadi sahabat.

Lalu abang menawariku untuk kembali melanjutkan sekolah. Abang rela membayarinya. Bahkan menemaniku mengurus semuanya. Padahal abang tahu, itu penuh dengan bahaya. Dan bekas luka tusuk dari germoku itu kini jadi cinderamata di perut abang. Tapi abang tetap meyakinkanku agar terus menjalani semua mimpiku.

Aku lalu berjanji suatu saat nanti akan menggantinya. Apa dan bagaimana pun caranya. Tapi kemudian, abang tidak pernah memintanya. Abang senang melakukan segalanya. Buat abang, semua manusia mesti membagi yang mereka punya pada yang tidak memiliki. Manusia mesti berbuat baik karena kita adalah manusia. Bukan karena kewajiban.

    Maka perlahan tapi pasti aku berhasil keluar dari tempat terkutuk itu. Lagi-lagi abang rela menampungku. Tapi bahaya masih mengincar kita. Germoku tidak puas dengan menusuk abang. Lalu kita pindah dari ibu kota. Ke kota ini. Di sini, lagi-lagi, abang masih mau menampungku hingga aku bisa mandiri.
   
    Dan begitulah, bang. Diam-diam aku selalu menangis menyaksikan kisah hidupku ini. Bukan itu saja, hatiku yang telah lama mati dan dulu hanya bisa bermimpi, kembali menggeliat. Hidup. Penuh semangat. Aku kembali punya harapan jadi manusia normal. Aku bisa menjalani lagi mimpiku.

Lalu mendadak abang mengajakku hidup bersama. Aku pun mengangguk. Jangan tanya alasan pastinya kenapa kemudian aku setuju saat abang mengajakku. Mungkin karena aku sudah muak dan mual dengan hidup seperti itu: selalu bersama getirnya kesendirian yang pekat. Mungkin juga karena aku telah jatuh cinta pada abang. Entahlah, bang. Aku tidak punya jawaban pasti.

Yang sebenarnya hadir malah satu pertanyaan: adakah alasan yang tepat bagiku untuk menolak abang? Tidak. Aku tidak punya alasan untuk itu. Maka kemudian aku langsung setuju. Meski di sisi lain, aku tahu abang itu bukan pangeran yang dengan kudanya menyelamatkan tuan puteri dari kurungan istana. Bukan. Aku bukan tuan puteri. Abang juga bukan pangeran. Kita hanya manusia biasa.

Maka aku sangat memahami hal itu: masa lalu yang tidak bisa abang hilangkan.

Di satu sisi, sebenarnya abang ingin membuang surat itu. Melupakan kenangan tentang dirinya. Tapi, di sisi lain, abang juga ingin mengirimkannya. Lalu abang ragu memilih. Abang bingung hendak memutuskan apa.

Semua karena dia adalah Perempuan kedua yang mampu membuat abang masuk dalam cinta sekaligus terlempar dari sana, bukan? Sudahlah, bang. Jangan ragu lagi. Aku tahu abang masih mencintainya. Dan, seperti yang selalu aku katakan pada abang, kirimkan saja surat itu. Jika kemudian abang dan ia mesti kembali bersatu, buatku tidak mengapa. Semua yang telah abang berikan padaku saat ini, itu sudah lebih dari cukup. Sungguh.

Sejatinya aku bahagia, bang. Sangat. Mimpiku terwujud. Dan aku yakin, mimpi abang jadi penulis itu akan nyata. Pelan tapi pasti. Percaya saja pada mimpi abang sendiri. Sisanya, biarkan mimpi itu yang membimbing abang. Hiduplah untuk mimpi abang hari ini.

Bukankah abang juga yang mengajariku: hidup yang sebenarnya adalah yang terjadi hari ini. Sementara kemarin adalah mimpi. Mungkin juga esok. Maka kemudian hiduplah dalam kemiskinan hari ini. Hayati kemiskinan itu. Suatu saat nanti pasti ada gunanya. Aku yakin akan hal itu. Juga pada abang. Aku yakin abang bisa melaluinya. Melewati semuanya.

Dan aku ingin abang tahu, buatku kemiskinan itu bukan satu masalah besar. Abang tahu kan, aku sendiri sudah terlalu dalam menyelam di kemiskinan itu. Begitu juga dengan hidup abang sendiri. Jadi tak ada lagi yang mesti aku takuti.

Maka kemudian hari ini aku bahagia karena masih memiliki abang. Aku juga bahagia karena saat ini masih membutuhkan abang. Bahkan aku bangga masih bisa mendampingi abang saat ini. Membangun segalanya ini dari puing-puing kehancuran. Sungguh. Meski yang kita lakukan itu hanya sekedar membagi. Apa saja. Di dunia yang pernah membuat kita jadi gila ini. Tidak lebih. Tidak juga kurang. Tokh pada akhirnya manusia saling bertemu hanya untuk membagi. Demikianlah, bang…”

Ika tersenyum sambil menghela nafas. Panjang. Beban di dadanya lepas. Terbang bersama angin di sore itu. Ia lalu membuang pandang. Menikmati langit yang kini mulai memburaikan warna ungu.

    “Demikianlah alasan yang sebenarnya mengapa kamu mencintaiku dengan sangat? Ngomong-ngomong, sederhana apanya ya? Penjelasan kamu itu seperti buku. Panjang di kali lebar sama dengan luas!!!”

    Ika mendelik pada lelaki yang kini tengah terbahak-bahak itu. Ia baru menyadari, lelakinya itu telah berhasil menggodanya. Dengan geram ia mendaratkan gigitan di tubuh kurus lelakinya itu. Lalu tiba-tiba saja angin berhembus. Meniup lembaran-lembaran kertas di tangan lelaki yang berusaha menghindar dari gigitan kekasihnya itu. Dan kertas-kertas itu pun mendarat mulus di atas air danau.

    “Abang!!! Suratnya!!!” Ika panik melihat kertas-kertas yang berhamburan. Tanpa disadari, ia mengejar surat-surat itu. Tapi kemudian langkahnya tercekat. Tangan lelakinya itu menahan diri Ika.

    “Biar. Biarkan saja surat itu tenggelam dimakan air.”

    “Tapi, bang… Itu kan…”

    “Ssssttt… Zulaikha…” lelaki itu menatap mata Ika. Memintanya untuk diam. Ika pun memandang heran. Dengan matanya ia meminta penjelasan. Laki-laki itu hanya diam. Lalu meraih bahu Ika dan memeluknya. Dan keduanya kembali menatap kertas-kertas yang rakus dilahap air danau itu.

    “Ah, memang sudah saatnya aku melupakan surat-surat itu. Sudah saatnya aku melupakan masa laluku. Sudah saatnya ia tinggal di dasar sana. Jadi kenangan. Tokh pada akhirnya aku memiliki kamu. Perempuan yang kini memahami makna luka jiwaku. Semua karena riwayat hidup kita yang nyaris serupa: mesti melewati hidup seperti kematian itu.

Lucunya, kita selalu bisa keluar dari sana. Meski kamu juga aku tidak jadi pemenang. Tapi, diam-diam, kita selalu yakin: kemenangan sebenarnya selalu mengangkat topi pada manusia yang berhasil di kalahankannya. Kita juga selalu tahu bahwa hening hanya menyembunyikan keberhasilan kita. Dan saat ini, entah mengapa, aku yakin kita tengah menetas jadi pemenang.

Mungkin ini hadiah dari hidup: kita masih saja tetap berdiri meski segala peristiwa kerap menghempaskan kamu juga aku. Meninggalkan jejak luka yang baluri sekujur jiwa serta hati kita. Atau mungkin hening telah memberikan jawaban atas satu soal pada kita. Dan telah menyiapkan soal lain untuk kamu juga aku. Entahlah. Aku memang sudah malas mencari jawabannya.

Tapi yang pasti, aku hanya ingin kamu tahu: aku tidak lagi memiliki sekeping hati untuk di berikan padamu. Yang aku punyai kini hanyalah secuil hari dari sisa pemberontakan atas mimpiku kemarin: untuk kita larungi malam*. Terima kasih karena hingga saat ini masih mau menemaniku renangi kelam. Terima kasih karena kamu benar-benar tulus mencintaiku, Ika…” ada air bening menggenangi pelupuk mata lelaki itu usai berkata. Dan Ika tersenyum mendengarnya.

    “Ah, dasar kamu memang laki-laki perayu!!!”

    “Ha…ha…ha…”

Ika senang bisa membalas dan melihat lelakinya itu kembali ngakak. Hari ini ia memang pantas bahagia: mulai saat ini dirinya tidak lagi sendiri. Juga esok.

“Nah, nak, kapan kita beri tahu ayahmu yah? Bunda yakin ia pasti gembira mendengar kehadiranmu yang sudah sebulan ini. Dan, bila saat itu tiba, kamu pasti akan tersenyum menyaksikan ayahmu yang pingsan. Lihat saja nanti. Oh ya, nak, nama ayahmu itu Zoel. Kamu sudah tahu, kan, ayahmu itu seperti apa? Kamu harus bangga padanya yah. Juga benar-benar mencintainya. Seperti bunda.” Ika berkata melalui hati sambil mengelus perutnya. Diam-diam. Dengan di temani sahabatnya, Ratri, hari ini Ika telah tahu sesuatu: sekerat daging tengah tumbuh dalam perutnya.

“Perutmu kenapa, Ika? Kamu lapar ya? Aduh… kamu kok malah menggigitku lagi?”

                                                ***

~ Satu kado awal untuk diriku sendiri yang tetap berdiri meski telah dihantam banyak peristiwa setelah 26 tahun mengitari matahari. Jakarta, Jogja dan Bojonggede: Agustus 2005-May 2006. ~

*Di comot serta di gubah dari sebuah puisi milik seorang kawan bernama Cindy. Terima kasih atas ijinnya, kawan…



1 Comment so far

  1.    LeTtErBoMb on May 28th, 2007

    menarik…….

Leave a Reply