Kisah Ini Bercerita Biasa Saja
Sudah dua bulan ini aku berada dalam dekapannya. Tangan kirinya selalu memeluk pinggangku. Tangan kananku selalu di bahunya. Sementara tangan kanannya, juga tangan kiriku, selalu saling menggenggam.
Dan begitulah. Aku, ia serta beberapa anggota kursus dansa lainnya berputar-putar mengikuti alunan musik. Kadang Beethoven. Kadang Bach. Waltz. Tango. Sesekali Rock N Roll. Bahkan Rhytm N Blues. Dua terakhir itu kami lakukan, jika kebetulan mentor kami tengah berhalangan hadir mengajar. Dan kami melakukannya tiap sore hingga petang datang di akhir pekan.
Semua karena calon suamiku dulu, Aryo. Jika bukan karena dia, aku pasti sudah menolak mentah-mentah kursus dansa. Tapi Aryo berhasil meyakinkanku untuk mengambilnya. Pernikahan kami memang telah di rancang oleh Aryo akan menggunakan gaya internasional. Maka aku mesti bisa berdansa di akhir acara. Dengan mertuaku. Bahkan Aryo. Seperti di film-film.
Aku juga masih ingat sebuah sore. Aryo bersamaku datang untuk mendaftarkan aku ikut kursus dansa. Saat itu, aku masih tinggal di ibukota. Bersama dengannya aku juga melihat-lihat tempat yang menjanjikan pesertanya menguasai tekhnik berdansa dengan cepat. Dan ruangan tempatku berputar-putar itu, ternyata cukup luas. Tak ada perabotan disana. Serupa balairung lengang sebuah istana kerajaan yang kalah perang.
Sebenarnya, aku memang bukan Perempuan yang kenal dengan kemegahan dan kemewahan seperti itu. Hidupku, sejak kecil dulu, adalah kehidupan seorang pekerja. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengumpulkan keping rejeki daripada menghamburkannya. Maka jadilah aku seorang Perempuan yang sebenarnya pendiam, kikuk dan penyendiri. Perempuan yang serius.
Tamasyaku tak lebih dari tempat tidur kontrakkan. Membaca buku. Atau kadang, di akhir pekan, patungan untuk berpesta bir dengan kawan-kawanku. Memang beberapa kali aku pernah di ajak pergi ke diskotik oleh teman-temanku. Tapi aku lebih memilih duduk menikmati dentuman musik bersama alkohol, daripada turun ke lantai dansa. Aku tak terlalu tertarik untuk meliuk mengikuti hingar-bingar musik dangdut.
Di sanalah aku bertemu dengan Aryo. Lelaki tinggi besar dengan tatapan penuh binar dan pendar harapan. Kesopanannya membuatku mau diajaknya berbincang-bincang. Hingga akhirnya aku di wawancarainya. Aryo ternyata tengah membuat berita soal kehidupan para Perempuan pekerja pabrik pinggiran ibukota. Lalu ia jadi sering berkunjung ke kontrakkanku, pabrik dan berkenalan dengan teman-temanku. Sesekali ia mengajak aku dan teman-temanku ke diskotik mewah di pusat kota. Tetap saja aku tak pernah tertarik berada di lantai dansa. Dari situlah aku dengannya dekat. Hidupku pun berubah. Kemudian Aryo melamarku.
Sampai di situ, hidupku masih lurus saja. Orang tuanya bukan saja memberikan restunya pada kami, bahkan mereka juga menganggapku seperti anak Perempuan mereka yang selama ini ditunggu kehadirannya. Aku memang telah yatim piatu. Sementara Aryo adalah anak tunggal. Dan kami saling jatuh cinta. Kami berbahagia. Bukan itu saja, orang tuanya juga memiliki pemikiran yang terbuka soal pilihan anggota keluarga mereka. Jadi tak ada hambatan berarti dalam hubungan kami.
Hingga di suatu hari, aku mendapat kabar yang membuatku terpelanting dalam pedih yang perih. Aryo tertembak saat meliput sebuah demonstrasi. Hidupku seketika sedih. Duniaku gelap. Calon suamiku pergi dan tak akan pernah kembali lagi.
Berbulan-bulan aku berjuang untuk bangkit dari kenyataan itu. Tapi aku tetap saja terpuruk dalam pilu. Segala sendu meluruh dalam hari-hariku. Hampa pun bekap jiwa. Kedua orang tua angkatku akhirnya ikut menyusul anak mereka ke alam baka. Kenyataan kehilangan anak yang sangat disayang, membuat mereka terpuruk dalam kesakitan. Fisik. Terutama jiwa.
Lalu aku tinggalkan semua kisah tentang Aryo. Aku bakar semua foto, surat cinta, bahkan kartu undangan yang sudah tercetak. Aku berhenti dari kursus dansa. Aku jual seluruh warisan dari mereka. Termasuk rumah yang telah di persiapkan untuk aku dan Aryo nanti. Lalu pindah ke sebuah kota. Memulai hidup baru.
Tapi entah kenapa, di kota baru ini, kisah indah tentang aku, Aryo dan keluarganya terus menghantui. Membayangi hidupku. Aku selalu saja disambangi oleh Aryo dan ayah-bundanya dalam tidur. Memanggil-manggilku. Mengajakku pergi. Menunjukkan sebuah taman yang indah. Hijau. Lapang. Hati dan pikiranku pun rancu. Hidupku kacau.
Akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan: aku akan menyusul mereka ke alam baka. Aku rancang sebuah bunuh diri. Aku putuskan untuk mati pada hari pernikahan kami. Aku hubungi pengacara keluarga kami yang masih setia itu. Aku memintanya untuk menuliskan surat wasiat. Segala yang kumiliki, aku serahkan pada panti asuhan. Keputusanku bulat. Tapi aku mesti menyelesaikan yang sudah aku dan Aryo mulai: lulus dari kursus dansa. Itu adalah permintaan terakhir Aryo. Kebetulan saja aku temukan kursus dansa di kota ini.
Demikianlah. Aku pun bertemu dengannya. Lelaki berwajah tirus dan berkacamata minus serta selalu mendekapku tiap akhir pekan itu. Ia memang asisten dari mentor dansaku. Dan mentorku itu selalu saja memasangkan aku dengannya.
Sebenarnya aku takut saat mentor memasangkan aku untuk berdansa dengannya. Tatap matanya selalu saja mampu mengoyak-ngoyak hatiku. Menikam-nikam jiwaku. Tanpa perlu mengucapkan kata atau memainkan bahasa tubuh. Aku seperti tahu banyak tentangnya. Juga dengannya. Meski dalam tiap sesi, atau usai latihan, kami jarang berbincang-bincang.
Ia memang lelaki penyendiri dengan dunianya sendiri. Lelaki yang tenang. Seperti rawa-rawa yang menyimpan sejuta misteri. Beberapa kali aku sering menangkap sorot matanya mengawang-awang. Entah apa yang tengah diterawangnya.
Tapi kemudian, selalu saja ada pilu yang mengapung di udara saat aku tengah berdansa dengannya. Seperti sebuah dansa terakhir menjelang satu kematian yang pasti. Aku pun sering bertanya-tanya sendiri: tahukah ia tentang rencanaku bunuh diri? Ah, biarlah…
Lalu hari-hari mengalir bagai dedaunan gugur yang hanyut di sungai. Kursus itu sebentar lagi berakhir. Itu berarti, sebentar lagi aku akan bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi. Tapi lelaki itu tidak pernah muncul lagi di tempat latihan. Tak ada yang tahu kemana ia pergi. Bahkan juga mentor dansaku. Maka dalam hening aku coba kuatkan hati untuk menjalankan aksiku. Meski diam-diam, aku selalu bertanya-tanya keberadaan lelaki itu. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menemaniku berdansa selama ini.
Dan di sebuah sore yang sendu, aku bertemu dengannya di bandara. Saat itu, aku baru saja melepas salah satu sahabatku pergi. Dia pengacara keluarga Aryo. Aku menemukan dia tengah duduk di bangku ruang tunggu. Mengapit tas ransel di kakinya. Menatap senja. Termangu.
”Ternyata kamu benar-benar pergi.”
Dengan kaget ia menatapku yang telah berdiri di hadapannya.
”Kamu? Sedang apa kamu disini?”
”Mengantarkan Sinta. Sahabatku. Kamu?”.
Ia hanya menatapku sebentar lalu membuang tatapannya.
”Baiklah. Jika kamu memang tidak ingin memberitahuku. Itu memang urusanmu sendiri. Sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan. Terima kasih telah menemaniku berdansa selama ini.”
Sebenarnya aku telah siap beranjak pergi. Tapi tiba-tiba, ia menarik tanganku. Keras. Hingga wajahku dengan wajahnya begitu dekat. Ia menatapku. Sebuah tatapan yang selalu menggetarkanku.
”Aku ini bukan orang yang romantis. Sungguh. Meski dulu aku kerap membuatkan puisi pesanan teman-temanku. Atau juga cerpen indah beraroma cinta. Tetap saja aku bukan orang yang romantis. Aku ini seperti tokoh bernama Roman dalam buku Roman Picisan.
Seseorang pernah berkata padaku: romantisme adalah soal yang tidak pernah masuk akal. Intuitif. Bahkan gila. Aku setuju dengannya. Dan Perempuan mencari itu semua pada lelakinya: lelaki yang benar-benar menginginkan dirinya. Lelaki yang kadang mau meletakkan egonya, saat berada di hadapan Perempuannya, di bawah standar dunia busuk pathriarki. Dan aku muak akan hal itu. Aku mual dengan romantisme juga patriarkhi.
Tapi beberapa tahun ini, aku mengintrospeksi diri. Dan ternyata, kuntum bunga untuk Perempuan itu punya arti. Mawar adalah cinta yang posesif dan mudah layu. Edelweiss berarti kesederhanaan dan selamanya. Anggrek adalah cinta yang kuat tapi mesti terus di jaga. Dan sebagainya.
Aku pun belajar berdansa. Dan dansa bukanlah soal menggerakkan badan mengikuti alunan musik. Berdansa adalah soal menyatukan irama jiwa pasangan dansa. Jika kamu terlalu toleran pada pasangan dansamu, maka dansamu itu akan kacau balau. Sementara, jika kamu terlalu egois, dansa itu juga akan kacau balau. Maka berdansa adalah soal berdiri di antara toleransi dan egoisme pribadi.
Kamu tahu? Semua aku lakukan untuk mencari cinta pertama dan terakhirku yang hilang. Dan mencari berarti menemukan. Maka beberapa hari ini, aku menziarahi masa laluku. Lalu aku bertemu dengan banyaknya kenyataan: Perempuan pertamaku pasti tengah berbahagia di surga sana. Perempuan kedua dan ketigaku telah berbahagia, dengan suami juga buah hatinya yang mencintai mereka. Dulu, kami berjanji akan selalu saling menjaga.
Dan demikianlah. Semesta mempertemukanku dengan hal itu: mereka bahagia dengan pilihannya. Seperti juga kamu, berbahagia dengan pilihanmu sendiri. Aku tahu, kamu akan bunuh diri usai kursus dansa ini selesai.
Awalnya hati ini terbakar kegetiran saat tahu kamu memilih hendak menghabisi hidupmu yang indah itu. Tapi pada akhirnya, kamu juga aku sudah sama-sama dewasa. Maka aku mesti adil. Bahkan sejak dalam pikiran: apapun pilihanmu atas hidupmu sendiri, itu adalah pilihanmu. Dan aku mesti menghormatinya.
Maka aku ingin kamu tahu: pernah ada laki-laki yang sangat mencintaimu. Meski dalam hening.
Berdansa denganmu, aku merasakan gelora itu. Denyar-denyar kehidupan. Entah dengan kamu. Karena kamu, selalu mengunci mulutmu. Maka usai kita berdansa aku merasa segalanya hanya jadi abu.
Karenanya, kini, aku undur diri dari hadapanmu: jadi ombak soliton dengan kesoliterannya di samudera kehidupan. Suatu saat nanti, kita mungkin bertemu lagi. Di dunia ini. Atau juga ujung waktu nanti. Pasti.
Dan dimana pun aku juga kamu, aku ikut bahagia dengan pilihanmu. Apapun itu. Bahkan jika kemudian kamu memutuskan untuk melanjutkan hidupmu lagi. Lalu bertemu dengan lelaki yang selalu berada di sisimu, tentu aku juga ikut bahagia.
Semua karena satu hal: Perempuan baik itu seperti lelaki yang baik. Mereka selalu berada di samping seseorang. Sang Pencipta atau juga pasangannya. Dan aku tahu, aku ini bukan lelaki yang baik. Aku tidak berhasil mewujudkan keinginan sahabatku, Aryo.”
”Aryo?”.
Aku tergeragap dan menganga mendengar seluruh kata-katanya. Ia tahu niatku. Ia tahu banyak hal tentang aku. Ia menyebut-nyebut telah jatuh cinta padaku. Terlebih lagi ia mengenal Aryo. Ada bening tiba-tiba jatuh mengaliri kelokan wajahku. Aku menangis.
”Ya. Aryo.”
Ia tidak memberikanku kesempatan untuk berbuat lebih banyak.
”Aku sahabatnya. Pada hari penembakan itu, aku yang mengantarkan lelakimu itu ke rumah sakit. Hari itu adalah hari pertama aku kembali ke ibukota. Kami memang bekerja di media massa yang berbeda. Tapi persahabatan kami sudah berlangsung sejak lama. Aku telah dianggap saudara oleh Aryo dan keluarganya. Juga dengan Sinta, pengacara yang baru saja kamu lepas pergi itu.
Selama ini aku memang berada di luar negeri. Kuliah lagi. Tapi aku dan Aryo tidak pernah kehilangan kontak satu sama lainnya. Kami kerap mengirim surat elektronik. Dari situ aku tahu tentang kamu. Aku tahu tentang rencana pernikahan kalian. Dan aku berbahagia untuk kalian.
Tapi peluru itu telah merenggut sahabatku. Dan menjelang kematiannya, Aryo memintaku untuk menjagamu. Perempuan yang di cintainya. Aku memang berhutang nyawa padanya. Aryo pernah menyelamatkan aku dari kematian saat meliput sebuah konflik bersenjata. Tapi kemudian, kamu tiba-tiba saja pindah ke kota ini. Jauh dari ibukota. Dan janji adalah janji. Aku harus menepati.
Aku pun pindah ke kota ini. Meninggalkan semua yang aku miliki di Ibukota. Dari Sinta aku tahu keberadaan kamu. Bahkan niatmu untuk menuntaskan kursus dansa, sebelum kamu membunuh dirimu. Maka aku melamar jadi asisten kursus dansa itu. Semuanya untuk memenuhi janjiku pada Aryo. Lalu tiba-tiba saja aku jatuh cinta padamu. Aku jatuh cinta pada Perempuan dari sahabatku!
Aku tahu ini semua salah. Terlebih lagi, aku tidak berhasil mewujudkan keinginan sahabatku: mematahkan keinginan kelam perempuan yang dicintainya, menyusul lelakinya di alam baka. Di satu sisi aku sadar, kalian memang ditakdirkan bersatu. Kalian saling mencintai. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Tapi di sisi lain, ada yang kembali patah dalam dadaku. Hatiku ini. Seandainya saja kamu tahu rasa patah itu, kamu pasti akan melakukan seperti yang aku lakukan. Pergi dari tempat ini. Dari hadapanmu. Membebaskan kamu menentukan hidupmu.
Maka sampai jumpa lagi, Perempuan. Terima kasih atas semuanya. Segalanya tentang kamu, akan aku kenang sebagai yang sempurna dalam salah satu riwayat hidpku. Karena ternyata, cinta yang indah dan selalu di cari oleh manusia itu, cinta sejati, selalu tinggal di dalam hati. Meski telah berakhir atau juga mati.”
Aku tersedu-sedu mendengat penjelasannya. Aku tak mampu berbuat banyak atas seluruh kejutannya hari ini. Lelaki yang selama ini jadi pasangan dansaku adalah sahabat dari almarhum calon suamiku. Ia berjanji pada Aryo akan menjagaku. Ia menyusul kepindahanku di kota ini. Ia menceritakan hidupnya padaku. Dan ia mencintaiku. Semuanya terasa begitu cepat. Seperti kilat.
”Terlukakah kamu atas semua kejadian ini?” hanya kata itu yang keluar dari sesegukanku.
”Ya. Tentu saja jiwaku terluka. Tapi sebenarnya luka itu juga yang membuat manusia semakin mengerti, hidup adalah soal perjalanan panjang atas pencarian Cinta: luka itu ingatkan manusia bahwa ia masih hidup sebagai manusia.
Dan aku tahu pasti, kehilangan orang yang kamu cintai membuat dunia ini jadi gelap. Seperti masuk ke dalam lubang yang sangat hitam dan dalam. Terus menghisapmu hingga ke dasarnya bersama kelam. Hitam seperti mengelilingimu. Aku tahu betapa kamu ingin untuk mengakhiri segala pekat. Maka kamu memutuskan untuk membunuh dirimu. Aku tahu posisi itu. Aku pernah dalam posisimu. Bahkan aku pernah tidak bisa berbicara pada siapa-siapa selama berbulan-bulan. Lalu akhirnya aku pahami sesuatu: keadaan memang tak akan pernah kembali seperti semula. Tapi segalanya akan baik-baik saja.
Maka kini aku pastinya akan terus berjalan. Meski kadang mulus. Kadang tersaruk-saruk. Tapi hening pasti akan jawab segala tanya. Dan aku percaya itu: harapanlah yang membuat manusia bisa melanjutkan hidupnya. Maka Perempuan, aku tuntaskan kamu hari ini. Apapun pilihanmu, itu hidupmu. Dan aku berbahagia sepenuhnya untukmu. Aku pergi. Pesawat itu telah menungguku.”
Ia pun melepaskan genggaman tangannya. Kemudian berbalik dan mencangklong tas ranselnya. Lalu berjalan cepat menuju pintu masuk bandara. Meninggalkan aku yang berdiri sendiri dan tengah tersedu.
Untuk sesaat aku terpaku. Seluruh peristiwa juga kata melintas lalu saling bertabrakan. Tiba-tiba aku tak dapat mengendalikan diriku. Aku berlari mengejar lelaki itu. Aku cengkram pundaknya. Ia pun membalikkan badannya. Menatapku. Mukanya basah. Ternyata ia berjalan sambil tersedu. Dan anehnya, aku tersenyum sambil sesegukan.
”Aku lupa bertanya padamu, maukah kamu menjagaku?”
- Bojonggede, 18 Maret 2007 -
Comments(3)