Pulang Berperang

        Kematian Kurawa akhirnya menutup epos Bharatayudha. Epos itu, memang salah satu bagian dari kitab Mahabharata. Maka si pemenang, Pandawa, melangkahkan kaki dengan segera. Kembali menuju rumah: Istana Astina.

        Tapi apa yang menyambut mereka disana?

        Hanya balairung lengang. Sepi. Nyaris sunyi. Saudara sedarah, guru yang begitu di hormati, anak tercinta hingga rakyat Astina itu sendiri tertinggal di medan perang Kuru sana. Dan Kurusetra memerah. Penuh bangkai. Bau busuk membentang. Wangi darah. Anyir. Sedih terapung ke kaki langit.

        Lalu burung pemakai bangkai menjerit. Mengais. Merobek. Menikmati limpahan santapan yang dengan rela mereka bagi bersama pemakan jasad mati lainnya. Sisanya hanya erang sekarat para ksatria diantara sisa kereta dan senjata yang patah.

        Pekik kemenangan, di satu sisi, memang pantas menguar dari kubu Pandawa. Puluhan tahun harga diri mereka terampas dengan bentuk pengucilan diri. Mereka memang berhasil keluar dari ujian hidup itu. Bahkan menjadi lebih bijaksana.

        Tapi di sisi lain, dengan muram, Pandawa bertanya: Apakah arti kemenangan jika kemudian Istana Astina hanya berisi segelintir manusia? Apakah arti kejayaan jika saudara sedarah, guru, anak dan rakyat mereka malah berkalang tanah? Apakah arti kelulusan dari sekolah bernama hidup itu bila hanya hampa yang menanti?

        Memang, epos Mahabharata sebenarnya berakhir bukan seperti dongeng biasa khas Hollywood juga Bollywood: “akhirnya mereka hidup bahagia bersama rakyat Astina untuk selamanya.”

        R.A Kosasih, penulis komik wayang yang ciamik itu, tidak melupakan bab penutup dan paling penting dari Mahabharata: Pandawa Seda. Satu persatu anggota Pandawa wafat saat menuju Gunung Mahameru. Tempat tinggal para Dewa-Dewi. Hanya Yudhistira serta seekor anjing saja yang berhasil menemui Dewa-Dewi di Khayangan sana. Tumpahkan tanya.

        Pada akhirnya, Dewa-Dewi membuka rahasia: hidup lebih rumit ketimbang rencana. Ketimbang angan-angan. Cita-cita. Realita itu lebih kompleks ketimbang skenario. Seperti tersajikan dalam sejarah: umat manusia tak pernah ditakdirkan untuk menang mutlak. Terhadap perbedaan pendapat. Unsur-unsur yang dianggapnya menyimpang. Atau bahkan mengusai dunia yang tidak di hinggapi masalah. Hidup, atau sejarah, bukanlah kertas putih yang bisa di kembalikan sebagai kertas putih dalam cita-cita awal kita. Satu soal pasti selesai. Tapi soal lain menunggu jawaban.

        Karenanya, Sri Kresna meminta Arjuna agar memiliki sikap melepaskan diri dari kehendak memperoleh buah dari kerja. Siapa yang menghendaki buah akan cepat kecewa. Buah itu akan busuk. Tapi sikap yang menjalankan kerja seraya tak terseret oleh hasrat itu akan benar bebas. Bahagia dan lurus. Dialog itu tercatat dalam Bhagavatgita.

        Di luar epos Mahabharata, Aku teringat pesan pendek kawan lama. Dulu, saat gelar sarjana diraihnya, ia merasa seperti memasuki ruang yang lengang. Sepi. Nyaris sunyi. Juga kini. Padahal ia kini telah bekerja di salah satu media. Dan pesan itu membisikkan, “Kawan, kelulusan itu menyedihkan. Juga memasuki dunia kerja.”

Oui, comme le gloire.” Ya. Sedih, seperti halnya kemegahan.



No Comment

No comments yet

Leave a Reply