Order dan Chaos
Konon, Benoit Mandelbort - seorang matematikawan Prancis yang dengan revolusioner membuka gerbang baru untuk memahami ilmu turbulensi - menemukan penemuannya saat ia tengah mabuk berat. Dalam alam imaji dan nyata yang tipis itu, ia merasakan secercah keindahan: harmonisasi antara dua sisi cermin kehidupan. Antara keteraturan dan ketidakteraturan. Yang tertebak dan tidak tertebak… order dan chaos.
Dalam kemabukannya itu, tiba-tiba ia menyadari bahwa sesempurna apapun tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada. Membayangi. Seperti gegap-gempita kelahiran awal Komunisme: ada hantu baru di eropa juga dunia…
Dan begitu Kapitalisme mencapai titik kritisnya, maka Komunisme lepas, mengobrak-abrik. Juga bila ramalan Marx itu benar adanya: akan lahir masyarakat baru. Negara Sosialis. Lalu impian Engels dan Marx, bahwa era itu adalah masa puncak manusia dengan kediktaturan proletariatnya, keadaan nanti mungkin nampak ekuilibrium, tenang. Padahal, order dan chaos tetap saja ada.
Maka bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, ia harus siap-siap terguncang. Relativitas adalah abu-abu. Tidak memperdulikan atau mencoba menghapusnya, seperti menepuk air di pendulangan. Dan ini artinya kiamat bagi penyembah obyektifitas, ideologi.
Tapi apa sebenarnya arti ideologi?
Esei Louis Althusser yang nikmat itu: Ideology And Ideological State Aparatus (ISA) menjelaskan, sejak kehadiran kita telah dinanti waktu janin kita menjadi pada rahim, ada sebuah realita yang akan menunggu dan membentuk kita sebagai individu dan subyek di dunia, yaitu ideologi.
Dan memang, penafsiran terhadap politik sebuah negara selalu diwarnai oleh cita-cita atau keinginan, nilai-nilai dan bias. Atau dalam kalimat yang sederhana: ideologi senantiasa melekat pada setiap orang. Kata “ideologi“ sendiri ditemukan oleh Cabanis, Destutt de Tracy dan kawan-kawan mereka yang menggunakan kata itu terhadap sebuah obyek dari teori (genetik) mengenai ide-ide. Ketika pertama kali muncul istilah ideologi di era pasca pencerahan (enligtenment) kalangan teoritis & ideolog mengartikannya sebagai “ilmu gagasan“ (science of ideas): suatu cara menemukan kebenaran dan mengenyahkan ilusi.
Kemudian Marx mengambil alih istilah tersebut lima puluh tahun kemudian. Ia memberinya sebuah makna yang cukup berbeda. Di sini, ideologi menjadi sistem ide-ide dan gambaran-gambaran yang mendominasi pikiran seseorang atau sebuah kelompok sosial.
Dalam The German Ideology, rumusan itu muncul dalam sebuah konteks yang nyata-nyata bersifat positivis. Ideologi dipandang sebagai sebuah ilusi semata. Sebuah mimpi sepenuhnya. Dengan kata lain sebuah kekosongan. Segenap realitasnya bersifat eksternal darinya. Jadi, ideologi dianggap sebagai sebuah konstruksi imajiner yang statusnya sama persis dengan status teoritis dari mimpi seperti yang diajukan oleh para pemikir sebelum Freud.
Maka, ideologi menurut Marx merupakan sebuah mimpi, yang kosong dan hampa, yang dibentuk oleh “residu-residu siang hari“ yang bersumber dari kenyataan yang nyata dan utuh, yaitu dari sejarah kongkret individu-individu yang kongkret dan material yang secara material membangun eksistensi mereka. Karena itulah, dalam The German Ideology, Tesis bahwa ideologi tak punya sejarah merupakan sebuah tesis yang sepenuhnya bersifat negatif: Ideologi itu tak lain dari sebuah mimpi semata (yang dibangun oleh mereka yang mengerti tentang kekuasaan atau oleh keterasingan yang disebabkan oleh pembagian kerja. Dan penyebab itu sendiri merupakan sebuah penyebab yang berwatak negatif).
Ideologi juga tak punya sejarah. Yang secara tegasnya tidak berati bahwa tak ada sejarah didalamnya (justru sebaliknya, ideologi tak lain dari refleksi pucat, hampa dan terbalik dari sejarah yang riil). Ideologi tak punya sejarah dalam dirinya.
Karl Mannheim meskipun tidak secara fundamental mengubah definisi Marx, membedakan dua pengertian ideologi. Konsepsi ideologi yang bersifat khusus adalah “penyembunyian situasi secara sadar“, sedangkan konsepsi yang lebih bersifat inklusif adalah “pandangan khas dari suatu generasi atau kelompok sosial historis kongkret, misalnya kelas, kalau kita tidak mempersoalkan karakteristik dan komposisi keseluruhan struktur pikiran generasi atau kelompok ini.”
Dan Negara, apapun ideologinya, hanya sekedar pendongeng belaka. Karena penguasa kini, pada akhirnya, seperti yang Milan Kundera maktubkan: mementingkan Citra. Ini adalah zaman “imagologi”: era dimana Ideologi telah kalah oleh Realitas dan Realitas dikalahkan oleh Citra. Menghadirkan melulu Transjakarta di jalur hijau ibukota, jadi “usaha” agar kemacetan dapat ditekan.
Maka sebenarnya sains ternyata memang tidak selamanya obyektif. Sains dan angka-angka seringkali harus subyektif. Seperti pidato Bang Yos November 2006 bahwa banjir bandang tidak akan datang mengunjungi Jakarta. Karena para ahli, juga Bang Yos tentunya, telah menghitung dengan cermat dan tepat penanggulangan banjir. Jika kemudian alam memutuskan untuk mengetuk pintu-pintu rumah penduduk Jakarta dengan banjir, itu wajar saja. Alam punya subyektifitasnya sendiri. Dan siapa yang bisa melawan keinginan alam?
Diam-diam Keteraturan, kali ini mau tak mau harus kembali berkaca: dirinya ternyata berasal dari sebuah Maha Ketidakteraturan. Dan Chaos selalu siap mengerkah leher Order.