Laki-laki Yang Menanti Di Udara
Duh, mengapa semuanya menghitam? Kelam. Kenapa tiba-tiba pekat menyapa saat aku membuka mata? Kamu yang padamkan lampunya, ya? Atau jangan-jangan tengah ada pemadaman? Ah, sepertinya tidak. Karena, biasanya, akan didahului pengumuman. Di media massa. Atau lewat corong mesjid sana. Tak jauh dari sini.
Aku yakin kamu yang matikan pelitanya. Pasti. Dan kamu lagi-lagi lupa: betapa takutnya aku dengan gelap. Ingatkanku pada kematian. Sementara manusia selalu mati tidak sempurna. Hadirnya kenangan, penyebabnya. Karenanya, aku dulu selalu mengingatkan: aku tidur dengan lampu yang dinyalakan. Tapi kenapa kini kamu matikan?
Padahal, sudah ratusan hari kita bersama. Banyak sudah yang kita bagi. Tapi untuk beberapa hal kecil, kamu memang pelupa yang akut! Contohnya saja tentang lampu itu.
Bahkan, empat bulan lalu kamu pernah mengantarkan aku pulang ke rumah. Saat itu aku tengah asyik menonton film tengah malam. Di bioskop. Bersamamu. Di sampingku. Tapi tiba-tiba saja kamu terperanjat. Mendelik hebat. Sudah lewat dari jam malam! Demikian katamu.
Lalu dengan tergopoh-gopoh, kamu menarik aku dari tempat duduk. Beranjak pergi. Kembali pulang. Segera. Dan di depan orangtuaku yang terkantuk-kantuk, kamu memohon maaf: memulangkan aku terlalu larut.
Kamu ingat apa yang kemudian terjadi? Tawa mereka malam itu muncrat. Membahana. Diselingi gelak yang tak tertahankan, ayah memeluk dan mengusap punggungmu. Mengajakmu duduk di ruang tamu. Dengan senyum ibu juga aku ke dapur. Menyeduh kopi. Buat dua lelaki yang masing-masing kami cintai.
Kamu itu sudah menikahi anakku. Ia kini sepenuhnya berada di bawah tanggung jawabmu. Jadi, tak usah memulangkannya lagi. Atau takut mengajaknya pergi. Meski hari semakin dini. Demikian ayah memberi tahumu. Lalu kita semua kembali buncahkan tawa. Bersama.
Dasar! Kamu memang pelupa yang parah!
Dan karena itu aku menerimamu. Sebagai suamiku. Dari seluruh riwayat cintaku, kamu yang telah membuatku merasakan dekapan cinta. Denyut-denyut kehidupan.
Awalnya, aku memang tak berani simpulkan itu. Tapi kerap kali kamu mampu membuatku terpingkal-pingkal. Bahagia. Hadirkan kembali rindu. Meski kamu baru saja pulang. Usai bertandang.
Tapi kamu juga bisa membuatku terperosok. Jatuh dengan tersedu-sedu. Kehilangan harapan. Saat amarah jadi bahan bakar pertengkaran. Kadang seperti gelombang pasang. Kadang hanya satu cipakan air. Kadang meriap-meriap. Tapi tak pernah menetap dalam sekam. Akhirnya aku mampu simpulkan: Cinta hadir diantara kita.
Dari beberapa lelaki yang pernah menghampiri dan menawariku cinta, kamu itu memang berbeda. Kontradiktif. Dengan kurus badanmu dulu, tatap mata digelayuti rindu, hati yang sendu, tapi dengan isi kepala yang tanpa ragu-ragu, kamu berhasil memikatku. Terlebih lagi saat kamu mengenakan seragam tentara berwarna senja itu: darahku pasti berdesir. Kamu itu memang tentara yang unik. Komandan nyentrik. Bagi hidupku. Juga perjumpaan kita.
Kamu satu-satunya penumpang yang tahu aku ingin memiliki sebuah buku. Padahal saat itu aku hanya lewat. Sedikit melirik kumpulan puisi yang tengah kamu baca. Dengan khusyuk.
Lalu saat aku menghampirimu, suguhkan makanan ringan, kamu menanyakan pendapatku tentang buku itu. Padahal aku belum pernah membacanya. Menyentuhnya saja hanya mimpi.
Dan tiba-tiba kita sudah terlibat perbincangan tentang sedikit hal. Tapi artinya sangat banyak. Buatku. Sementara teman-teman pramugariku hanya mampu menatap penuh cemburu.
Lalu kamu memberi aku buku itu. Saat pesawat terbang telah mendarat mulus di landasan pacu. Sebagai ucapan terima kasih. Di dalamnya, ada nomer telepon genggammu.
Dari situ kita sering bertemu. Habiskan waktu. Berbincang tentang apa saja. Mulai dari soal apa yang ada di langit biru. Atau juga masalah-masalah lucu. Sepele. Khas sendal jepit. Segalanya. Menikmati patahan dari mendetiknya masa. Berdua.
Hingga di suatu waktu, kamu lulus dari akademi. Ditahbiskan jadi pilot pesawat tempur. Kamu pun datang ke rumahku. Dengan tatap yang mekar. Senyum yang tak kenal gentar. Kamu meminangku. Tentu saja hatiku melambung. Kebahagiaanku gembung. Aku menikah dengan lelakiku. Ia mencintaiku. Dengan sangat. Juga aku. Dan siang juga malam Kita berlalu. Bersama janji yang telah diikat dengan hati.
Hari? Janji? Oh ya, hari apa ini? Penyakit lupamu itu sudah menular padaku. Sepertinya. Aku harus segera bangun. Berangkat. Terbang. Melayani penumpang. Sebagai pramugari.
Tapi kenapa hari ini aku jadi malas bangun, ya? Bukan! Aku bukan malas bangun! Tapi kenapa aku tidak bisa bangun? Belum lagi rasa pegal dan perih. Mereka hadir membekap seluruh tubuh ini. Lalu, mengapa ada rintih yang sedih? Memanggil-manggil nama yang asing di telingaku. Seperti ada banyak orang di kamar kita. Kamu pasti lupa mematikan televisi.
Dan sudah pukul berapa ini? Mengapa terang tak juga datang? Sepertinya bohlam lampu kamar kita, putus. Kamu harus menggantinya besok, sayangku. Aku tidak mau tidur di kamar ini bila gelap tetap menyergap.
Lalu apa ini? Ada tetes-tetes air. Menerabas ganas. Dari mana datang gemericiknya? Apakah di luar tengah hujan? Suamiku, airnya membuat kepalaku terasa pedih. Perih. Rintik air itu juga berbau amis. Wangi darah. Jangan-jangan ada tikus yang telah diterkam kucing. Di loteng rumah kita. Berdarah-darah. Kini tengah meregang nyawa.
Suamiku, kamu mesti secepatnya membetulkan genting rumah yang bocor. Juga memeriksa isi plafon kamar kita. Kamu mesti memeriksanya. Dengan teliti. Hati-hati.
Jika memang benar ada bangkai tikus disana, kamu mesti segera menguburkannya. Nanti aku siapkan kain putih pembungkus mayatnya. Kita mesti berbuat baik, suamiku. Pada siapa juga apa saja. Dan berbuat baik bukan sebuah kewajiban. Tapi karena kita memang manusia.
Nanti, usai itu semua, akan aku buatkan kamu pisang goreng. Juga kopi. Serta senyum juga kecup manis. Khusus untukmu.
Lalu kita makan siang dengan sambal goreng ikan yang berenang dengan senyum di hadapanku ini. Dekat sekali. Mereka seperti tidak takut lagi dengan manusia. Mereka menghampiriku. Menggoda. Satu persatu. Berbagai macam jenis. Juga warna. Indah sekali.
Wah, Aku mungkin tengah di alam mimpi. Ini semua pasti hanya imaji. Tapi kenapa kemudian aku merasakan dingin di kaki? Merayap ke atas. Pelan tapi pasti. Menambah perih kaki. Seperti luka yang disirami air garam. Rasanya nyata.
Kamu dimana, sih? Mengapa tidak juga menjawabku? Lalu mengapa kemudian aku tiba-tiba mengantuk? Begitu mengantuk, suamiku. Sangat mengantuk. Aku seperti ingin kembali lelap. Dan kenapa kemudian semuanya tiba-tiba terasa dingin, suamiku? Begitu dingin. Sangat dingin.
Selimuti aku, suamiku. Aku mau tidur. Aku sangat lelah. Begitu penatnya. Dekap aku. Tenggelamkan aku dalam dadamu. Hingga hari akhir nanti.
***
Sudah sepekan lebih burung besi itu berputar-putar. Di angkasa sana. Ada lelaki duduk dalam perutnya. Menghadap jendela. Menatap samudera. Dengan teropong tak pernah lepas dari tangannya. Sedetik juga. Pun jerit hatinya.
“Tuhan, hari ini aku kembali pergi. Mencari istriku. Bimbing aku menemukannya. Tuhan, tolong aku temukan Ia. Bunda juga tolong ayah! Beri tanda pada ayah keberadaan bunda! Ayah kehilangan arah tanpa bunda! Lilin ulang tahun empat bulan pernikahan kita, belum juga ayah padamkan! Bahkan genting rumah kita juga sudah ayah betulkan. Istriku, dimana Kamu?! Wahai lautan luas, dimana kau simpan jasad teman hidupku itu?!”
pasti banyak yang akan jatuh cinta sama lo gara2 tulisan ini:p
keren!
Sebelumnya, gue belum pernah meneteskan air mata cuma karena sesuatu yang gue baca…
Dan sekarang, gue baru saja melakukannya…
Michelle benar, pasti akan ada yang jatuh cinta…
Sadarkah Michelle?
Dia sendirilah orangnya…
Hahaha