Barangkali Kelulusan Memang Menyeramkan (Barangkali Pekat… II)

        Langit seperti merayu. Ketika gemintang genit menggerlip padaku, yang dipeluk gelap, dingin dan sunyi. Sesaat malam mulai layu. Di pojok stasiun Pasar Minggu, kantuk membekap kuntum-kuntum bunga yang lelap dengan kaku. Beralaskan kardus. Berselimutkan dingin yang memaku. Dini hari di pojok stasiun yang lengang itu memang membuat keping hati jadi kuyu.

        Maka ingatan wajar melayang: konstitusi menggariskan bahwa negara mesti perduli dengan bertanggung jawab mengurus mereka. Juga masyarakat. Tapi dimana kita semua saat realita itu menampar?

        Ada tentunya. Sebagian kita memang perduli dengan hal itu. Para intelektual muda. Mereka berusaha mengentaskan kemiskinan. Mencoba memberikan ruang yang pantas bagi anak-anak jalanan. Membicarakannya di balairung-balairung hotel mewah, cara mereka.

        Ya. Sarjana yang lulus sekolah itu hendak menghapus kemiskinan lewat seminar atau simposium di hotel-hotel mewah. Dibelai pendingin ruangan. Membicarakan angka-angka. Padahal manusia bukanlah angka. Kemiskinan adalah hal nyata.

        Sebenarnya, apa arti intelektualitas itu sendiri?

        Di medio 90-an, almarhum Pramoedya Ananta Toer memang pernah berceramah di Universitas Indonesia (Jakarta) atas undangan Senat Mahasiswa UI: Sikap dan peran kaum intelektual di dunia ketiga.

        Tapi kemudian, Pram sendiri kebingungan untuk menjawab dengan lugas, jelas dan tegas definisi itu. Ia malah balik bertanya: apakah intelektualitas itu menurut pengertian kamus ataukah menurut pendapat bebas dari setiap orang yang mempunyai kepentingan dengan kata tersebut? Apakah sarjana termasuk intelektual? Apakah setiap orang di antara kita intelektual atau tidak? Apakah kata intelektual itu satu atribut (sifat) dari sebahagian kecil nasion yang merasa diri berpikir lebih daripada bagian selebihnya?

        Sahibul hikayat yang dimaksudkan dengan kaum intelektual adalah kaum yang menempatkan nalar (pertimbangan akal) sebagai kemampuan pertama yang diutamakan, yang melihat tujuan akhir upaya manusia dalam memahami kebenarannya dengan penalarannya.

        Julian Brenda, pemikir Prancis yang menulis La Trahison des Cleres mengatakan, betapa kita juga butuh adanya “orang-orang yang - meskipun mereka dimarahi - mendesak sesamanya untuk menerima agama-agama yang lain dari agama kebendaan”.

        Kata Cleres ini berasal dari Abad Tengah Eropa. Orang Inggris menerjemahkannya sebagai intellectuals. Maknanya, “Orang yang berilmu”. Sang Cleres mengabadikan hidupnya untuk tujuan yang bukan duniawi. Ia mengolah terus menerus pikiran dan rohani. Ia seorang pemikir tanpa pamrih. Orang yang mengikuti panggilan jiwanya tanpa terikat kepada tendensi sosial dan ekonomi dari masanya. Atau, orang yang merasa penting untuk mengingatkan - biarpun tampak konyol - bahwa dalam mencapai suatu tujuan praktis dan darurat sekalipun, manusia harus tetap ingat hal yang mendasar dan abadi. Meski terjepit dalam kemandekan, keberanian moral menjadi aturan pertama. Moral mulia atas prinsip. Bukan hanya ingin mengingatkan akan harga diri manusia, tapi juga menangkis kesewenang-wenangan terhadap sesama. Bukan hanya berdiam diri.

        Pada akhirnya, semua kita pasti tahu, menjadi sarjana, sederhana: mengemban tugas mengubah realita yang nyata di hadapannya. Kemiskinan, misalnya. Bukan bermain hanya dengan ide atau rencana berujung hura-hura belaka.

        Sementara, disisi lain, lintasan imaji di benak anak-anak jalanan itu juga sederhana. Hanyalah soal bayangan keluarga: bermanja dalam dekap ayah dan bunda sambil menikmati secangkir susu coklat hangat atau dibuai cerita.

        Lalu tak ada lagi energi yang tersisa, kecuali semangat untuk sekedar bertanya: kenapa, apa, bagaimana hingga dimana arti lulus dan menjadi sarjana itu. Dan kenyataan menjelaskan banyak hal: nyaris kita semua, calon maupun sarjana, hanyalah manusia yang kerap berdansa-dansi di atas derita. Penuh hura-hura.

        Mungkin tanya itu sia-sia. Tokh malam tetap saja merenggutnya. Tapi, bukankah selalu ada yang mesti diguratkan dalam sejarah hidup kita? Bahwa manusia mesti selalu resah. Meski memang bukan semua kita memiliki hati.

        Dan sejarah mengajari kita, bahwa jiwa yang kering bukanlah dasar untuk terus menerus menghalalkan kepandiran. Ketidak-sempurnaan justru jadikan manusia mengerti rasa malu, dosa dan mau ditegur. Kemudian yang tertulis di palung hati ini memang tak cukup memadai untuk sekedar disesali. Tangis dan tawa kadang memang lahir terlalu pagi.

        Di sini, di kaki langit yang sama, Aku bertanya-tanya: benarkah anak-anak adalah wajah kita? Jejak dari masa yang mungkin dilupa. Gambar dari masa yang tak bisa diraba dan amanah Tuhan yang tegas harus dijaga? Masih adakah keluarga serupa semesta? Tempat merekam segala peristiwa. Kawah bergumpal cinta dan ruang bagi setiap relung asmara? Dimanakah rumah layaknya surga? Tempat segala hasrat bermuara. Asal mula gejolak cita dan ruang bagi setiap riak rasa? Pantaskah kita semua menyandang gelar sarjana jika kemudian hura-hura menjadi raja?

        Entahlah…



No Comment

No comments yet

Leave a Reply