Archive for February, 2007

Laki-laki Yang Menanti Di Udara

        Duh, mengapa semuanya menghitam? Kelam. Kenapa tiba-tiba pekat menyapa saat aku membuka mata? Kamu yang padamkan lampunya, ya? Atau jangan-jangan tengah ada pemadaman? Ah, sepertinya tidak. Karena, biasanya, akan didahului pengumuman. Di media massa. Atau lewat corong mesjid sana. Tak jauh dari sini.

        Aku yakin kamu yang matikan pelitanya. Pasti. Dan kamu lagi-lagi lupa: betapa takutnya aku dengan gelap. Ingatkanku pada kematian. Sementara manusia selalu mati tidak sempurna. Hadirnya kenangan, penyebabnya. Karenanya, aku dulu selalu mengingatkan: aku tidur dengan lampu yang dinyalakan. Tapi kenapa kini kamu matikan?

        Padahal, sudah ratusan hari kita bersama. Banyak sudah yang kita bagi. Tapi untuk beberapa hal kecil, kamu memang pelupa yang akut! Contohnya saja tentang lampu itu.

        Bahkan, empat bulan lalu kamu pernah mengantarkan aku pulang ke rumah. Saat itu aku tengah asyik menonton film tengah malam. Di bioskop. Bersamamu. Di sampingku. Tapi tiba-tiba saja kamu terperanjat. Mendelik hebat. Sudah lewat dari jam malam! Demikian katamu.

        Lalu dengan tergopoh-gopoh, kamu menarik aku dari tempat duduk. Beranjak pergi. Kembali pulang. Segera. Dan di depan orangtuaku yang terkantuk-kantuk, kamu memohon maaf: memulangkan aku terlalu larut.

        Kamu ingat apa yang kemudian terjadi? Tawa mereka malam itu muncrat. Membahana. Diselingi gelak yang tak tertahankan, ayah memeluk dan mengusap punggungmu. Mengajakmu duduk di ruang tamu. Dengan senyum ibu juga aku ke dapur. Menyeduh kopi. Buat dua lelaki yang masing-masing kami cintai.

        Kamu itu sudah menikahi anakku. Ia kini sepenuhnya berada di bawah tanggung jawabmu. Jadi, tak usah memulangkannya lagi. Atau takut mengajaknya pergi. Meski hari semakin dini. Demikian ayah memberi tahumu. Lalu kita semua kembali buncahkan tawa. Bersama.

        Dasar! Kamu memang pelupa yang parah!

        Dan karena itu aku menerimamu. Sebagai suamiku. Dari seluruh riwayat cintaku, kamu yang telah membuatku merasakan dekapan cinta. Denyut-denyut kehidupan.

        Awalnya, aku memang tak berani simpulkan itu. Tapi kerap kali kamu mampu membuatku terpingkal-pingkal. Bahagia. Hadirkan kembali rindu. Meski kamu baru saja pulang. Usai bertandang.

        Tapi kamu juga bisa membuatku terperosok. Jatuh dengan tersedu-sedu. Kehilangan harapan. Saat amarah jadi bahan bakar pertengkaran. Kadang seperti gelombang pasang. Kadang hanya satu cipakan air. Kadang meriap-meriap. Tapi tak pernah menetap dalam sekam. Akhirnya aku mampu simpulkan: Cinta hadir diantara kita.

        Dari beberapa lelaki yang pernah menghampiri dan menawariku cinta, kamu itu memang berbeda. Kontradiktif. Dengan kurus badanmu dulu, tatap mata digelayuti rindu, hati yang sendu, tapi dengan isi kepala yang tanpa ragu-ragu, kamu berhasil memikatku. Terlebih lagi saat kamu mengenakan seragam tentara berwarna senja itu: darahku pasti berdesir. Kamu itu memang tentara yang unik. Komandan nyentrik. Bagi hidupku. Juga perjumpaan kita.

        Kamu satu-satunya penumpang yang tahu aku ingin memiliki sebuah buku. Padahal saat itu aku hanya lewat. Sedikit melirik kumpulan puisi yang tengah kamu baca. Dengan khusyuk.

        Lalu saat aku menghampirimu, suguhkan makanan ringan, kamu menanyakan pendapatku tentang buku itu. Padahal aku belum pernah membacanya. Menyentuhnya saja hanya mimpi.

        Dan tiba-tiba kita sudah terlibat perbincangan tentang sedikit hal. Tapi artinya sangat banyak. Buatku. Sementara teman-teman pramugariku hanya mampu menatap penuh cemburu.

        Lalu kamu memberi aku buku itu. Saat pesawat terbang telah mendarat mulus di landasan pacu. Sebagai ucapan terima kasih. Di dalamnya, ada nomer telepon genggammu.

        Dari situ kita sering bertemu. Habiskan waktu. Berbincang tentang apa saja. Mulai dari soal apa yang ada di langit biru. Atau juga masalah-masalah lucu. Sepele. Khas sendal jepit. Segalanya. Menikmati patahan dari mendetiknya masa. Berdua.

        Hingga di suatu waktu, kamu lulus dari akademi. Ditahbiskan jadi pilot pesawat tempur. Kamu pun datang ke rumahku. Dengan tatap yang mekar. Senyum yang tak kenal gentar. Kamu meminangku. Tentu saja hatiku melambung. Kebahagiaanku gembung. Aku menikah dengan lelakiku. Ia mencintaiku. Dengan sangat. Juga aku. Dan siang juga malam Kita berlalu. Bersama janji yang telah diikat dengan hati.

        Hari? Janji? Oh ya, hari apa ini? Penyakit lupamu itu sudah menular padaku. Sepertinya. Aku harus segera bangun. Berangkat. Terbang. Melayani penumpang. Sebagai pramugari.

        Tapi kenapa hari ini aku jadi malas bangun, ya? Bukan! Aku bukan malas bangun! Tapi kenapa aku tidak bisa bangun? Belum lagi rasa pegal dan perih. Mereka hadir membekap seluruh tubuh ini. Lalu, mengapa ada rintih yang sedih? Memanggil-manggil nama yang asing di telingaku. Seperti ada banyak orang di kamar kita. Kamu pasti lupa mematikan televisi.

        Dan sudah pukul berapa ini? Mengapa terang tak juga datang? Sepertinya bohlam lampu kamar kita, putus. Kamu harus menggantinya besok, sayangku. Aku tidak mau tidur di kamar ini bila gelap tetap menyergap.

        Lalu apa ini? Ada tetes-tetes air. Menerabas ganas. Dari mana datang gemericiknya? Apakah di luar tengah hujan? Suamiku, airnya membuat kepalaku terasa pedih. Perih. Rintik air itu juga berbau amis. Wangi darah. Jangan-jangan ada tikus yang telah diterkam kucing. Di loteng rumah kita. Berdarah-darah. Kini tengah meregang nyawa.

        Suamiku, kamu mesti secepatnya membetulkan genting rumah yang bocor. Juga memeriksa isi plafon kamar kita. Kamu mesti memeriksanya. Dengan teliti. Hati-hati.

        Jika memang benar ada bangkai tikus disana, kamu mesti segera menguburkannya. Nanti aku siapkan kain putih pembungkus mayatnya. Kita mesti berbuat baik, suamiku. Pada siapa juga apa saja. Dan berbuat baik bukan sebuah kewajiban. Tapi karena kita memang manusia.

        Nanti, usai itu semua, akan aku buatkan kamu pisang goreng. Juga kopi. Serta senyum juga kecup manis. Khusus untukmu.

        Lalu kita makan siang dengan sambal goreng ikan yang berenang dengan senyum di hadapanku ini. Dekat sekali. Mereka seperti tidak takut lagi dengan manusia. Mereka menghampiriku. Menggoda. Satu persatu. Berbagai macam jenis. Juga warna. Indah sekali.

        Wah, Aku mungkin tengah di alam mimpi. Ini semua pasti hanya imaji. Tapi kenapa kemudian aku merasakan dingin di kaki? Merayap ke atas. Pelan tapi pasti. Menambah perih kaki. Seperti luka yang disirami air garam. Rasanya nyata.

        Kamu dimana, sih? Mengapa tidak juga menjawabku? Lalu mengapa kemudian aku tiba-tiba mengantuk? Begitu mengantuk, suamiku. Sangat mengantuk. Aku seperti ingin kembali lelap. Dan kenapa kemudian semuanya tiba-tiba terasa dingin, suamiku? Begitu dingin. Sangat dingin.

        Selimuti aku, suamiku. Aku mau tidur. Aku sangat lelah. Begitu penatnya. Dekap aku. Tenggelamkan aku dalam dadamu. Hingga hari akhir nanti.
                                                            ***
        Sudah sepekan lebih burung besi itu berputar-putar. Di angkasa sana. Ada lelaki duduk dalam perutnya. Menghadap jendela. Menatap samudera. Dengan teropong tak pernah lepas dari tangannya. Sedetik juga. Pun jerit hatinya.

        “Tuhan, hari ini aku kembali pergi. Mencari istriku. Bimbing aku menemukannya. Tuhan, tolong aku temukan Ia. Bunda juga tolong ayah! Beri tanda pada ayah keberadaan bunda! Ayah kehilangan arah tanpa bunda! Lilin ulang tahun empat bulan pernikahan kita, belum juga ayah padamkan! Bahkan genting rumah kita juga sudah ayah betulkan. Istriku, dimana Kamu?! Wahai lautan luas, dimana kau simpan jasad teman hidupku itu?!”

Pulang Berperang

        Kematian Kurawa akhirnya menutup epos Bharatayudha. Epos itu, memang salah satu bagian dari kitab Mahabharata. Maka si pemenang, Pandawa, melangkahkan kaki dengan segera. Kembali menuju rumah: Istana Astina.

        Tapi apa yang menyambut mereka disana?

        Hanya balairung lengang. Sepi. Nyaris sunyi. Saudara sedarah, guru yang begitu di hormati, anak tercinta hingga rakyat Astina itu sendiri tertinggal di medan perang Kuru sana. Dan Kurusetra memerah. Penuh bangkai. Bau busuk membentang. Wangi darah. Anyir. Sedih terapung ke kaki langit.

        Lalu burung pemakai bangkai menjerit. Mengais. Merobek. Menikmati limpahan santapan yang dengan rela mereka bagi bersama pemakan jasad mati lainnya. Sisanya hanya erang sekarat para ksatria diantara sisa kereta dan senjata yang patah.

        Pekik kemenangan, di satu sisi, memang pantas menguar dari kubu Pandawa. Puluhan tahun harga diri mereka terampas dengan bentuk pengucilan diri. Mereka memang berhasil keluar dari ujian hidup itu. Bahkan menjadi lebih bijaksana.

        Tapi di sisi lain, dengan muram, Pandawa bertanya: Apakah arti kemenangan jika kemudian Istana Astina hanya berisi segelintir manusia? Apakah arti kejayaan jika saudara sedarah, guru, anak dan rakyat mereka malah berkalang tanah? Apakah arti kelulusan dari sekolah bernama hidup itu bila hanya hampa yang menanti?

        Memang, epos Mahabharata sebenarnya berakhir bukan seperti dongeng biasa khas Hollywood juga Bollywood: “akhirnya mereka hidup bahagia bersama rakyat Astina untuk selamanya.”

        R.A Kosasih, penulis komik wayang yang ciamik itu, tidak melupakan bab penutup dan paling penting dari Mahabharata: Pandawa Seda. Satu persatu anggota Pandawa wafat saat menuju Gunung Mahameru. Tempat tinggal para Dewa-Dewi. Hanya Yudhistira serta seekor anjing saja yang berhasil menemui Dewa-Dewi di Khayangan sana. Tumpahkan tanya.

        Pada akhirnya, Dewa-Dewi membuka rahasia: hidup lebih rumit ketimbang rencana. Ketimbang angan-angan. Cita-cita. Realita itu lebih kompleks ketimbang skenario. Seperti tersajikan dalam sejarah: umat manusia tak pernah ditakdirkan untuk menang mutlak. Terhadap perbedaan pendapat. Unsur-unsur yang dianggapnya menyimpang. Atau bahkan mengusai dunia yang tidak di hinggapi masalah. Hidup, atau sejarah, bukanlah kertas putih yang bisa di kembalikan sebagai kertas putih dalam cita-cita awal kita. Satu soal pasti selesai. Tapi soal lain menunggu jawaban.

        Karenanya, Sri Kresna meminta Arjuna agar memiliki sikap melepaskan diri dari kehendak memperoleh buah dari kerja. Siapa yang menghendaki buah akan cepat kecewa. Buah itu akan busuk. Tapi sikap yang menjalankan kerja seraya tak terseret oleh hasrat itu akan benar bebas. Bahagia dan lurus. Dialog itu tercatat dalam Bhagavatgita.

        Di luar epos Mahabharata, Aku teringat pesan pendek kawan lama. Dulu, saat gelar sarjana diraihnya, ia merasa seperti memasuki ruang yang lengang. Sepi. Nyaris sunyi. Juga kini. Padahal ia kini telah bekerja di salah satu media. Dan pesan itu membisikkan, “Kawan, kelulusan itu menyedihkan. Juga memasuki dunia kerja.”

Oui, comme le gloire.” Ya. Sedih, seperti halnya kemegahan.

Order dan Chaos

        Konon, Benoit Mandelbort - seorang matematikawan Prancis yang dengan revolusioner membuka gerbang baru untuk memahami ilmu turbulensi - menemukan penemuannya saat ia tengah mabuk berat. Dalam alam imaji dan nyata yang tipis itu, ia merasakan secercah keindahan: harmonisasi antara dua sisi cermin kehidupan. Antara keteraturan dan ketidakteraturan. Yang tertebak dan tidak tertebak… order dan chaos.

        Dalam kemabukannya itu, tiba-tiba ia menyadari bahwa sesempurna apapun tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada. Membayangi. Seperti gegap-gempita kelahiran awal Komunisme: ada hantu baru di eropa juga dunia

        Dan begitu Kapitalisme mencapai titik kritisnya, maka Komunisme lepas, mengobrak-abrik. Juga bila ramalan Marx itu benar adanya: akan lahir masyarakat baru. Negara Sosialis. Lalu impian Engels dan Marx, bahwa era itu adalah masa puncak manusia dengan kediktaturan proletariatnya, keadaan nanti mungkin nampak ekuilibrium, tenang. Padahal, order dan chaos tetap saja ada.

        Maka bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, ia harus siap-siap terguncang. Relativitas adalah abu-abu. Tidak memperdulikan atau mencoba menghapusnya, seperti menepuk air di pendulangan. Dan ini artinya kiamat bagi penyembah obyektifitas, ideologi.

        Tapi apa sebenarnya arti ideologi?

        Esei Louis Althusser yang nikmat itu: Ideology And Ideological State Aparatus (ISA) menjelaskan, sejak kehadiran kita telah dinanti waktu janin kita menjadi pada rahim, ada sebuah realita yang akan menunggu dan membentuk kita sebagai individu dan subyek di dunia, yaitu ideologi.

        Dan memang, penafsiran terhadap politik sebuah negara selalu diwarnai oleh cita-cita atau keinginan, nilai-nilai dan bias. Atau dalam kalimat yang sederhana: ideologi senantiasa melekat pada setiap orang. Kata “ideologi“ sendiri ditemukan oleh Cabanis, Destutt de Tracy dan kawan-kawan mereka yang menggunakan kata itu terhadap sebuah obyek dari teori (genetik) mengenai ide-ide. Ketika pertama kali muncul istilah ideologi di era pasca pencerahan (enligtenment) kalangan teoritis & ideolog mengartikannya sebagai “ilmu gagasan“ (science of ideas): suatu cara menemukan kebenaran dan mengenyahkan ilusi.

        Kemudian Marx mengambil alih istilah tersebut lima puluh tahun kemudian. Ia memberinya sebuah makna yang cukup berbeda. Di sini, ideologi menjadi sistem ide-ide dan gambaran-gambaran yang mendominasi pikiran seseorang atau sebuah kelompok sosial.

        Dalam The German Ideology, rumusan itu muncul dalam sebuah konteks yang nyata-nyata bersifat positivis. Ideologi dipandang sebagai sebuah ilusi semata. Sebuah mimpi sepenuhnya. Dengan kata lain sebuah kekosongan. Segenap realitasnya bersifat eksternal darinya. Jadi, ideologi dianggap sebagai sebuah konstruksi imajiner yang statusnya sama persis dengan status teoritis dari mimpi seperti yang diajukan oleh para pemikir sebelum Freud.

        Maka, ideologi menurut Marx merupakan sebuah mimpi, yang kosong dan hampa, yang dibentuk oleh “residu-residu siang hari“ yang bersumber dari kenyataan yang nyata dan utuh, yaitu dari sejarah kongkret individu-individu yang kongkret dan material yang secara material membangun eksistensi mereka. Karena itulah, dalam The German Ideology, Tesis bahwa ideologi tak punya sejarah merupakan sebuah tesis yang sepenuhnya bersifat negatif: Ideologi itu tak lain dari sebuah mimpi semata (yang dibangun oleh mereka yang mengerti tentang kekuasaan atau oleh keterasingan yang disebabkan oleh pembagian kerja. Dan penyebab itu sendiri merupakan sebuah penyebab yang berwatak negatif).

        Ideologi juga tak punya sejarah. Yang secara tegasnya tidak berati bahwa tak ada sejarah didalamnya (justru sebaliknya, ideologi tak lain dari refleksi pucat, hampa dan terbalik dari sejarah yang riil). Ideologi tak punya sejarah dalam dirinya.

        Karl Mannheim meskipun tidak secara fundamental mengubah definisi Marx, membedakan dua pengertian ideologi. Konsepsi ideologi yang bersifat khusus adalah “penyembunyian situasi secara sadar“, sedangkan konsepsi yang lebih bersifat inklusif adalah “pandangan khas dari suatu generasi atau kelompok sosial historis kongkret, misalnya kelas, kalau kita tidak mempersoalkan karakteristik dan komposisi keseluruhan struktur pikiran generasi atau kelompok ini.”

        Dan Negara, apapun ideologinya, hanya sekedar pendongeng belaka. Karena penguasa kini, pada akhirnya, seperti yang Milan Kundera maktubkan: mementingkan Citra. Ini adalah zaman “imagologi”: era dimana Ideologi telah kalah oleh Realitas dan Realitas dikalahkan oleh Citra. Menghadirkan melulu Transjakarta di jalur hijau ibukota, jadi “usaha” agar kemacetan dapat ditekan.

        Maka sebenarnya sains ternyata memang tidak selamanya obyektif. Sains dan angka-angka seringkali harus subyektif. Seperti pidato Bang Yos November 2006 bahwa banjir bandang tidak akan datang mengunjungi Jakarta. Karena para ahli, juga Bang Yos tentunya, telah menghitung dengan cermat dan tepat penanggulangan banjir. Jika kemudian alam memutuskan untuk mengetuk pintu-pintu rumah penduduk Jakarta dengan banjir, itu wajar saja. Alam punya subyektifitasnya sendiri. Dan siapa yang bisa melawan keinginan alam?

        Diam-diam Keteraturan, kali ini mau tak mau harus kembali berkaca: dirinya ternyata berasal dari sebuah Maha Ketidakteraturan. Dan Chaos selalu siap mengerkah leher Order.

Barangkali Kelulusan Memang Menyeramkan (Barangkali Pekat… II)

        Langit seperti merayu. Ketika gemintang genit menggerlip padaku, yang dipeluk gelap, dingin dan sunyi. Sesaat malam mulai layu. Di pojok stasiun Pasar Minggu, kantuk membekap kuntum-kuntum bunga yang lelap dengan kaku. Beralaskan kardus. Berselimutkan dingin yang memaku. Dini hari di pojok stasiun yang lengang itu memang membuat keping hati jadi kuyu.

        Maka ingatan wajar melayang: konstitusi menggariskan bahwa negara mesti perduli dengan bertanggung jawab mengurus mereka. Juga masyarakat. Tapi dimana kita semua saat realita itu menampar?

        Ada tentunya. Sebagian kita memang perduli dengan hal itu. Para intelektual muda. Mereka berusaha mengentaskan kemiskinan. Mencoba memberikan ruang yang pantas bagi anak-anak jalanan. Membicarakannya di balairung-balairung hotel mewah, cara mereka.

        Ya. Sarjana yang lulus sekolah itu hendak menghapus kemiskinan lewat seminar atau simposium di hotel-hotel mewah. Dibelai pendingin ruangan. Membicarakan angka-angka. Padahal manusia bukanlah angka. Kemiskinan adalah hal nyata.

        Sebenarnya, apa arti intelektualitas itu sendiri?

        Di medio 90-an, almarhum Pramoedya Ananta Toer memang pernah berceramah di Universitas Indonesia (Jakarta) atas undangan Senat Mahasiswa UI: Sikap dan peran kaum intelektual di dunia ketiga.

        Tapi kemudian, Pram sendiri kebingungan untuk menjawab dengan lugas, jelas dan tegas definisi itu. Ia malah balik bertanya: apakah intelektualitas itu menurut pengertian kamus ataukah menurut pendapat bebas dari setiap orang yang mempunyai kepentingan dengan kata tersebut? Apakah sarjana termasuk intelektual? Apakah setiap orang di antara kita intelektual atau tidak? Apakah kata intelektual itu satu atribut (sifat) dari sebahagian kecil nasion yang merasa diri berpikir lebih daripada bagian selebihnya?

        Sahibul hikayat yang dimaksudkan dengan kaum intelektual adalah kaum yang menempatkan nalar (pertimbangan akal) sebagai kemampuan pertama yang diutamakan, yang melihat tujuan akhir upaya manusia dalam memahami kebenarannya dengan penalarannya.

        Julian Brenda, pemikir Prancis yang menulis La Trahison des Cleres mengatakan, betapa kita juga butuh adanya “orang-orang yang - meskipun mereka dimarahi - mendesak sesamanya untuk menerima agama-agama yang lain dari agama kebendaan”.

        Kata Cleres ini berasal dari Abad Tengah Eropa. Orang Inggris menerjemahkannya sebagai intellectuals. Maknanya, “Orang yang berilmu”. Sang Cleres mengabadikan hidupnya untuk tujuan yang bukan duniawi. Ia mengolah terus menerus pikiran dan rohani. Ia seorang pemikir tanpa pamrih. Orang yang mengikuti panggilan jiwanya tanpa terikat kepada tendensi sosial dan ekonomi dari masanya. Atau, orang yang merasa penting untuk mengingatkan - biarpun tampak konyol - bahwa dalam mencapai suatu tujuan praktis dan darurat sekalipun, manusia harus tetap ingat hal yang mendasar dan abadi. Meski terjepit dalam kemandekan, keberanian moral menjadi aturan pertama. Moral mulia atas prinsip. Bukan hanya ingin mengingatkan akan harga diri manusia, tapi juga menangkis kesewenang-wenangan terhadap sesama. Bukan hanya berdiam diri.

        Pada akhirnya, semua kita pasti tahu, menjadi sarjana, sederhana: mengemban tugas mengubah realita yang nyata di hadapannya. Kemiskinan, misalnya. Bukan bermain hanya dengan ide atau rencana berujung hura-hura belaka.

        Sementara, disisi lain, lintasan imaji di benak anak-anak jalanan itu juga sederhana. Hanyalah soal bayangan keluarga: bermanja dalam dekap ayah dan bunda sambil menikmati secangkir susu coklat hangat atau dibuai cerita.

        Lalu tak ada lagi energi yang tersisa, kecuali semangat untuk sekedar bertanya: kenapa, apa, bagaimana hingga dimana arti lulus dan menjadi sarjana itu. Dan kenyataan menjelaskan banyak hal: nyaris kita semua, calon maupun sarjana, hanyalah manusia yang kerap berdansa-dansi di atas derita. Penuh hura-hura.

        Mungkin tanya itu sia-sia. Tokh malam tetap saja merenggutnya. Tapi, bukankah selalu ada yang mesti diguratkan dalam sejarah hidup kita? Bahwa manusia mesti selalu resah. Meski memang bukan semua kita memiliki hati.

        Dan sejarah mengajari kita, bahwa jiwa yang kering bukanlah dasar untuk terus menerus menghalalkan kepandiran. Ketidak-sempurnaan justru jadikan manusia mengerti rasa malu, dosa dan mau ditegur. Kemudian yang tertulis di palung hati ini memang tak cukup memadai untuk sekedar disesali. Tangis dan tawa kadang memang lahir terlalu pagi.

        Di sini, di kaki langit yang sama, Aku bertanya-tanya: benarkah anak-anak adalah wajah kita? Jejak dari masa yang mungkin dilupa. Gambar dari masa yang tak bisa diraba dan amanah Tuhan yang tegas harus dijaga? Masih adakah keluarga serupa semesta? Tempat merekam segala peristiwa. Kawah bergumpal cinta dan ruang bagi setiap relung asmara? Dimanakah rumah layaknya surga? Tempat segala hasrat bermuara. Asal mula gejolak cita dan ruang bagi setiap riak rasa? Pantaskah kita semua menyandang gelar sarjana jika kemudian hura-hura menjadi raja?

        Entahlah…