Senja Baru Saja Pecah Di Langit Ibukota
Ini sore yang indah. Jika kemudian warna keemasan itu berpendar bersama warna ungu di tiap pojok semesta, itu wajar saja. Senja memang baru saja pecah di langit ibukota. Malam masih beberapa depa mengetuk pintu senja. Tapi kelambu sendu abu-abu terlanjur bungkus buana. Syahdu.
Lambat Aku usaikan hening sore yang indah ini. Aku memang sudah lama tak mengunjunginya. Sudah lama tak berbagi cerita. Juga berkisah. Bahkan mengadu padanya.
Tentang apa yang tengah menggelayuti rasa. Tentang asa. Tentang mimpi-mimpi sendiri, yang Aku dan juga Ia pasti tahu, terkadang berakhir hanya sebagai rencana. Aku memang suka membagi dengannya. Tentang apa saja. Meski Ia tak membalas sepatah kata. Tapi Aku tahu, Ia pasti memahaminya. Memahamiku. Dengan jelas juga tegas. Karena kemudian, angin semilir mengilir daun telingaku. Buatku, itu berarti Ia tengah mengerti. Juga memahami tumpahan kata yang tengah Aku utarakan. Padanya.
Usainya, pasti ada rasa lega dan lepas dari dada. Entah mengapa. Lalu, Aku pun akan segera beranjak kembali pergi. Bersama Adzan Maghrib yang memelukku. Dengan sayup masuk dalam pendengaranku. Lamat-lamat. Tak lama, pasti ada tangis yang terurai dan mengalir mengikuti kelokan wajah. Dan Aku akan menyudahi. Lalu berjanji akan ulangi lagi. Meski tak pernah pasti.
***
Ini sore yang indah. Jika kemudian warna keemasan berpencar juga berpendar ke tiap pojok semesta, itu wajar saja. Senja memang baru saja pecah di langit ibukota. Malam masih beberapa depa mengetuk pintu senja. Tapi kelambu sendu abu-abu terlanjur bungkus buana. Syahdu.
Cepat-cepat Aku keluarkan payung dari tas sekolah yang tak lelah mencangklong di pundakku. Gemuruh memang telah tiba bersama titik-titik pertama air. Tapi Aku tak pernah khawatir. Payung ini, setidaknya, akan melindungiku yang tengah terkena flu.
Dan hujan memang menderas keras usai payung terbuka. Stasiun kereta tinggal beberapa langkah. Aku pasti akan segera tiba di rumah. Tapi kemudian, Aku terpaksa terpaku di tengah jalan. Termangu. Sesosok bayang perempuan berwajah seperti bulan, kuyup. Terperangkap hujan yang gemas tercurah tumpah. Disana, Ia tengah tergagu mencari tempat berteduh. Manusia memang telah sesak menghindari hujan lebat sore ini. Dan Ia benar-benar terperangkap. Tak dapat tempat.
Gegas langkahku tiba-tiba hampirinya. Sepatah tawaran tak perlu lama membuatnya berdiri di dalam payung ini. Berdua. Diam. Bersama hujan dan senyum pasi serta gerigilnya. Sesaat, wajahnya semakin mirip dengan bulan yang Aku pandangi malam-malam. Aku memang sering naik ke atap rumah dan berbaring disana. Lama. Dengan diam-diam. Tanpa sepengetahuan ayah dan bunda yang tengah terlelap. Pandangi bulan juga gemintang.
Dan Aku pasti selalu-terkagum-kagum. Sekagum tatapnya padaku. Saat menerima tawaranku. Berteduh di sebuah pojok. Sekagum tatapku. Saksikan Perempuan pasi itu menghirup teh manis yang baru saja disajikan. Panas. Tandas. Ia benar-benar kedinginan, rupanya.
“Aku suka sekali teh manis panas. Terlebih lagi, jika dingin tengah menderap keras”.
Senyum mengembang di wajahnya yang ternyata selalu pasi. Aku hanya sunggingkan senyum dan mengangguk. Ia memang telah menjawab tanya dalam kepala. Aku pun segera kembali pada teh manis yang sudah tandas setengah itu. Teh manis kedua, segera mampir di hadapannya. Kembali. Diam pun kembali membekap kami. Bersama malam yang mulai menyelimuti.
Pun saat Aku berpisah dengannya. Usai debat panjang terurai, tentunya. Ia menampik tawaranku mengantarkan sampai di rumah. Tidak ingin menambah kerepotanku. Demikian katanya. Dan Ia bersikeras akan hal itu. Juga Aku, tentunya. Lalu, Ia segera melompat naik ke dalam biskota. Tiba-tiba. Diam-diam, kendara itu berpihak padanya. Meninggalkan Aku yang ternganga.
Dan itulah awal keakrabanku dengan Wulandari. Karena esoknya di sekolah, usai maaf yang disampaikannya atas kejadian itu, Aku dan Wulan semakin akrab. Canda, tawa hingga manja yang khas menguar ke udara semesta Kami berdua. Kami seperti enggan berpisah. Aku merasa nyaman disampingnya. Begitu juga dengannya.
Tapi itu selalu terjadi usai bel sekolah mendetang keras. Hamburkan Kami keluar dari masing-masing kelas. Saat di sekolah, Ia memang jarang sekali menghampiriku. Entah kenapa. Seperti ada jarak yang membentang antara Aku dengannya. Dan jarak itu, jadi tembok penghalang yang sangat kokoh. Tak bisa tertembus. Sedikit pun olehku.
Lalu Aku seperti dipaksa untuk tidak mencoba-coba runtuhkan itu. Aku seperti dipaksa kalah. Berakhir dengan membiarkan diam membekapku. Hingga di suatu saktu, semuanya menjadi jelas dan tegas. Bersama pilu air mata yang mengaliri kelokan wajahnya yang pasi. Ia menguraikan sesuatu. Padaku.
“Maafkan Aku, Kekasih. Semua kini mesti harus Aku lakukan. Semua harus kembali pada sebuah keputusan. Berakhir pada sebuah pilihan. Karena pilihan adalah awal dari keputusan. Aku mencintaimu. Dengan jiwa. Dengan nada. Meski terkadang tanpa kata. Aku memang mencintaimu. Dengan sangat, bahkan. Aku percaya Kau tahu itu. Tapi Aku tak berdaya, Kekasih. Juga dengan Kau. Tak berdaya melawan segalanya yang menghadang di depan mata. Menghadang kita. Untuk mencecap rasanya satu. Dengan berat Aku sampaikan Kekasihku: ijinkan Aku undur diri dari hadapanmu. Hari ini. Ijinkan Aku menjadi yang dikalahkan, Wahai Kekasih yang Aku cintai.”
Peluk dan kecup terakhir berlangsung lama dan erat. Tinggalkan tanya dan tangis yang terus menerus menganga dalam kisah hidupku. Merubah segalanya. Sejak saat itu. Hingga di suatu rentang waktu…
***
Ini sore yang indah. Jika kemudian warna keemasan itu berpendar bersama warna ungu di tiap pojok semesta, itu wajar saja. Senja memang baru saja pecah di langit ibu kota. Malam masih beberapa depa mengetuk pintu senja. Tapi kelambu sendu abu-abu terlanjur bungkus buana. Syahdu.
Gegas langkah kereta senja, bersama sedu-sedanku. Duduk dalam perut ular besi itu. Aku harus segera tiba diluar kota. Untuk bertemu dengan arti dari sebaris pesan singkat. Yang sudah mampir dan menohok lumbung hatiku.
Aku memang diminta untuk segera datang ke sebuah kota. Malam ini. Tidak malam lain. Segera. Karena, mungkin saja tak akan ada lagi malam lain.
Stasiun kereta dari sebuah kota mendaratkan Aku di pelatarannya. Pengirim pesan singkat itu sudah menantiku disana. Sambil menahan genangan air matanya tak tumpah ke tanah.
Ia pun segera membawaku ke sebuah rumah. Rumah yang nyaman dan murah untuk mahasiswa seperti Aku dengan kawan pengirim pesan itu. Dan diruang tamu itu, Ia memberikan Aku sebuah amplop. Rapi terbungkus. Lembaran foto juga kliping membuatku mengeping. Sepucuk surat, benda terakhir yang Aku buka.
Kota, Juli 99
Kekasih, luka yang tertoreh ini pasti jadi berat untukmu. Perih dari guncangan itu, pasti akan terlalu keras untuk Kau rasakan. Semuanya tak seperti Keinginan dan Harapan. Yang selalu Kau impikan. Kau inginkan. Kau khayalkan. Dan Kau bayangkan. Dulu juga sekarang.
Aku tahu itu, Kekasihku. Karena Aku juga merasakan apa yang Kau rasakan. Meski Kita tak lagi seiring sejalan. Terpisahkan oleh manusia-manusia angkuh yang berani membuat jurang diantara Kita. Darimu Aku meyakini: tak ada jurang yang pantas pisahkan kita. Cinta yang suci seperti Cinta Kita, hadiah semesta. Dan seharusnya, Manusia tak boleh merusaknya. Bukankah memisahkan itu hanya perbuatan manusia angkuh dan sombong belaka? Ingatkah Kau dengan ujarmu, Kekasihku?
Tapi keluarga, Kekasihku! Ya! Keluargaku! Merekalah yang membuatku undur diri dari hadapanmu. Membuatku jadi yang dikalahkan. Dengan sebuah ancaman. Padaku. Juga terhadapmu. Dihadapanku.
Dan itulah alasanku untuk berpisah darimu, Kekasihku. Di suatu sore yang lalu.
Kasihku, sejak saat itu Kau pasti lelah arungi waktu dalam tiap pelukan. Karena Kau hanya ingin satu pelukan. Dan Aku tahu itu. Dengan pasti. Entah mengapa Aku selalu saja mengetahuimu.
Tetap saja merasakan, Kau selalu datang bersama canda juga tawa khasmu. Di malam-malam kelamku. Hapus senduku. Tetap saja Aku merasakan, kecup juga usap lembutmu. Saat penat hinggap. Tetap saja Aku merasakan, Kau selalu ada disampingku. Meski Aku tahu, Kau tengah tak disampingku. Bahkan harum tubuhmu seringkali Aku tangkap melintas di penciumanku.
Ah, kekasihku… Kau tetap nyata dihadapanku.
Karenanya, meski airmata darahku atas perpisahan telah menggelinang. Atau Kau tengah menggelinjang atas perih hidupmu, tetap saja Kau terhadirkan. Dalam hidupku. Dan Aku juga tahu, langitmu tetap saja kembali padaku. Begitu juga denganku, Kekasihku…
Ah, Kekasihku… Betapa indah sebenarnya Cinta Kita…
Tapi kemudian, Aku tetap saja seorang pengecut. Pengecut yang enggan merasakan kecutnya hidup ini. Aku tetap saja diam. Bersama kelam. Muram. Buram. Jadi suram. Aku bahkan tak jua melawan, saat ruang dan waktu sempat berpihak padaku.
Aku tetap saja ragu untuk memburu dekapmu. Dekapmu yang selalu Aku gunakan menguras sedu sedan. Dekapmu selalu menyamankan. Dekapmu selalu buatku aman. Dekapmu hempaskan kejam dunia ini. Dan Aku masih merindukan itu semua.
Tapi kini, Aku memilih jalan itu. Aku memutuskan memilih setapak yang kerap Kau benci.
Kasihku, Aku sudah sadari pilihan ini. Sungguh. Aku sadari dengan kesadaran hati dan logika. Seputih jernih. Bahkan, Aku telah yakinkan diri. Untuk pergi. Menjauh dari semua ini. Biarlah Aku hadapi. Sendiri.
Ini memang setapakku. Karenanya, jangan pernah Kau hadirkan sesal di hati. Ini adalah jalan terbaik. Agar Kau tetap berdiri. Dengan tegar. Meski penyesalan yang selalu menakutkan, hadir. Setitik. Dihatiku. Tapi Aku tak pernah Kau ajarkan untuk takut bukan? Karena ketakutan itu adalah kenyataan. Dan kenyataan mesti dihadapi. Lewati.
Duh Lelaki yang kerap menghias hari dan hati, usah Kau menangis. Aku telah putuskan sebuah pilihan. Telah Aku pikirkan semua! Segalanya tak juga menjadi apa yang Aku inginkan. Dunia ini. Semesta ini. Hidup ini. Cintaku ini. Bahkan jabang bayi ini. Tak satupun ada yang menginginkan. Meski Ia telah hadir. Dari perkosa kejam di malam kelam.
Ah, Kekasih… Entah kenapa mereka tak menginginkan. Entah kenapa mereka yakin, Ia tak pantas hadir. Apakah karena ayah sang jabang bayi ini adalah pamanku? Entahlah… Yang pasti, Aku ingin Ia hadir. Jadi bukti: mereka lebih kejam dari ujar mereka atas cinta kita. Keluargaku itu lebih kejam dari ucap mereka atas Cinta Kita, tepatnya.
Kekasih, tahukah Kau? Aku tak pernah cukup untuk mencintaimu. Sungguh. Tapi, Aku juga tak pernah cukup melawan mereka. Pun Aku tak akan mampu bertahan dari lisan itu. Ujar yang angkuh menunjuk hidung: “Kalian tak pantas bersatu. Tak pantas berbahagia. Karena kalian bukan untuk bersama. Matikan saja dunia kecil hasil perbuatan mesum itu!”
Kekasih, betapa sakit terlukai. Dan sayatan demi sayatan pilu itu pun terus terukir. Tertoreh di tiap dinding-dinding kalbuku. Ah Kekasih… Mengapa manusia bisa begitu kejam? Kelam? Dan Aku hanya ingin Kau tak pernah melukai. Siapapun. Apapun. Mulai detik ini!
Kini, tak usah Kau renungi atau juga ratapi. Semuanya telah terjadi. Aku telah pergi. Dan tak akan ada lagi manusia yang membelenggu. Karena: kini Aku telah enggan mengalah. Usah Kau tanya lagi. Yang jelas, mawar penghias malammu ini telah terbangunkan.
Aku pamit, Kekasihku. Ingatlah: harumku kepedihan. Nyata. Tapi tidak dengan Cinta kita.
Teruntuk Kekasih, yang saat kata ini terpahat, masih menghuni relung hati.
- Aku -
***
Tak butuh waktu lama hingga Aku berteriak. Kencang. Lantang. Marah. Lembaran foto, kliping dan suratnya membuatku gila. Padahal, malam telah lama tiba.
Aku lempar semua ke arah kawan yang telah memulai isaknya. Segera Ia mengejarku yang telah berlari ke halaman. Dan disana, Kami berdua berpelukan. Menangis. Tersedu-sedu. Bersama jabang yang dikandungnya, Ia memang telah undur diri. Dari hadapanku. Selamanya. Menggantung dirinya.
***
Ini sore yang indah. Jika kemudian warna keemasan berpencar juga berpendar ke tiap pojok semesta, itu wajar saja. Senja memang baru saja pecah di sebuah kota. Malam masih beberapa depa mengetuk pintu senja. Tapi kelambu sendu abu-abu terlanjur membungkus buana. Bungkus diriku, tepatnya.
Sembilu sendu kembali toreh palung dada. Juga jiwa. Pedih semakin rapuhkan Aku. Kini Aku pergi. Bukan karena takut salah satu keluargamu, yang tak pernah mengizinkan Aku untuk tetap menyambangimu, memergoki Aku. Tapi karena Adzan Maghrib telah memelukku.
Lalu, Aku hanya mampu mengusap penuh dendam rindu nisan sederhana batu kali itu.
Aku kangen Kamu…
Dengan sangat…
—
(Dibacakan bersama dua naskah lainnya sebagai pembuka acara Teater Kinasih, November 2006)
huahahaa aduh aku membacanya sambil dengerin lagunya Commodores - Still_ hyaaa hya…berasa ngaca Fat.
Indah.
Terima kasih, Nona Mona.

Salam,
f_z