Sekeping Hati Bolong Disundut Sendu

Senja baru saja tiba di angkasa. Mengganti terik di atas semesta. Pun Aku usai menyesapi sebaris surat pendek itu…
                                              ***
Ibuku Sayang,

     Maafkan anakmu. Ketidak-pulanganku kali ini, bukan karena tak ingin nikmati peluk dan belai. Bukan tak ingin rasai mendetiknya waktu. Bersamamu. Mendengar hari-harimu, yang Aku tahu, selalu saja begitu. Tapi tetap saja, selalu Aku dengarkan. Dengan khusyuk. Nikmat. Senikmat makan masakan dari tanganmu. Lalu menukarnya dengan cerita tentang petualanganku.

     Ibu, ada perih yang semakin pedih bila Aku pulang ke rumah. Ya, Ibu. Rasa itu selalu hinggap di dahi hati tiap kali jejakkan kaki. Semua karena rasa, Ibu. Aku selalu saja merasa asing saat berada dirumah. Bahkan saat bersama kawan-kawan di rumah. Bukan karena Aku menganggapmu, ayah juga adik serta kawan-kawan sebagai orang yang baru saja Aku kenal dipinggir jalan. Bukan asing seperti itu, Ibuku. Tapi lebih dari itu. Dan Rasa Keterasingan itu, sangat dahsyat. Juga hebat. Duh… Maafkan anak yang selalu membingungkanmu, Ibu.

Mmm… Ibu ingin Aku menjelaskan? Baiklah Ibuku Tercinta. Restui Aku kali ini untuk bercerita sesuatu. Padamu.

     Bu, diam-diam Aku menerima tawaran eksistensialismenya Sartre sebagai filosofiku. Jadi landasan hidupku. Sejarah mencatat bahwa Sartre itu pemikir Perancis, Bu. Katanya, “ Kunci menuju landasan hidup adalah konsep keyakinan yang lemah. Hidup dalam penipuan diri dan dalam keyakinan lemah, hidup dalam ketidakmurnian karena mempersalahkan mahluk berkesadaran, sama dengan hidup dalam keterasingan, terasing dari kebebasan sebagai mahluk berkesadaran dan memandang seseorang sebagai benda yang dipaksakan keadaan. “

     Lalu, Anakmu ini pun mesti berderap untuk bekerja. Sekedar mengisi perut. Agar tidak menengadahkan tangan lagi. Padamu. Tak ada yang salah dengan hal itu memang. Tapi, kenapa kemudian manusia mesti menjadi seperti mesin? Diberi listrik dahulu, baru Ia menyala. Berproduksi. Kerja dulu. Punya penghasilan. Baru bisa mengisi perut atau lainnya. Menikah, misalnya.

     Bukannya Aku tidak mau kerja, Bu. Sungguh. Bukan itu soalnya. Tokh hingga saat ini Aku masih saja mendapatkan uang bulanan. Hasil keringatku. Tapi ini lebih kepada: rasa gerah atas rakusnya sekelompok manusia memperkaya diri mereka. Dan menjadikan manusia lain sebagai mesin saja.

     Aku jadi ingat salah satu pesan Ibu: Aku mesti adil dengan adik dan siapapun juga. Bahkan sejak dalam pikiran. Jika Aku punya makanan, jangan lupa membaginya. Dan saat itu Aku langsung menghentikan tangis serta meminta pisau, membagi kue.

    Tapi, kerakusan itu memang sudah tergurat dalam tangan manusia. Jadi bagian hidup kita semua. Usai mendongengiku, Ibu pernah menyampaikan itu. Padahal, manusia itu seharusnya membangun peradaban dengan kasih sayang, kan Bu? Karena dengan hilangnya rasa itu, manusia pasti jadi hewan atau tumbuhan. Aku jadi ingat sebuah cerita lain, Ibuku Sayang.

     Suatu waktu, seorang bengawan kata bernama Gunawan Muhammad tengah bersepeda di sekitar Weesp. Tak jauh dari Amsterdam. Ia bersama kawannya. Singkat cerita, Ia dan kawannya menyaksikan tabrakan antara seorang anak belasan tahun dengan seorang pemuda. Reaksi pertama setelah tabrakan bukan memaki atau mengancam atau mengirimkan tinju atau peluru kepada pihak yang dianggap bersalah. Tapi sebatang Rokok, Bu!

     Dengan terperangah, Gunawan menyadari sesuatu. Pada pagi itu. Bahwa peradaban ialah sesuatu yang lain: kemampuan untuk menyelesaikan konflik dengan adab. Bukan itu saja. Dengan termangu Ia tertampar: peradaban tampak berhenti di sebuah titik di Indonesia – di jalan-jalan raya. Padahal negara kita terkenal karena dipenuhi oleh manusia-manusia pemberi senyum tulus. Halus. Tapi kini penuh akal bulus.

     Ada yang berkata, sebabnya adalah ketiadaan disiplin. Tapi masyarakat yang beradab bukan sebuah tangsi militer, Bu. Disiplin sebuah peradaban bukanlah dengan ketakutan. Melainkan dengan kebebasan. Maka, mungkin bukan terletak pada disiplin. Tapi dalam keyakinan bahwa tanpa tinju dan peluru – tanpa kekuatan kasar – manusia tokh bisa mencapai apa yang diinginkannya. Ada rasa terjamin bahwa setiap manusia, setiap warga, punya hak untuk mendapatkan apa yang bisa didapat. Rasa nyaman, salah satunya. Ada keyakinan bahwa soalnya hanya giliran: seperti orang antre karcis bioskop.

    Atas nama giliran itulah, Aku memahami sesuatu. Bahwa Aku juga mesti menggantikan peranmu diatas semesta, Bu. Juga peran Ayah. Dan kini Aku tahu rasanya berada diantara seperti Ibu juga Ayah saat pertama kali tiba di Jakarta: ada kangen dengan rumah. Tapi ada keharusan untuk menaklukkan rimba Ibukota. Beruntung saja waktu itu Ibu dan Ayah sudah bersatu. Bisa saling berbagi. Dengan kasih dan sayang. Tanpa pretensi. Tanpa tendensi. Dan Aku kini memang seperti seorang penyair Meksiko. Juga manusia-manusia khas masa kini.

     Namanya Octavia Paz. Pernah Meraih Nobel Sastra tahun 1990, Bu. Pada sebuah apartemen di Cambridge, Massachussets, Amerika, Ia pernah menulis sajak bagus. Judulnya: Trowbridge Street. Begini bunyinya, Ibuku Sayang:

                          Matahari sepanjang siang.
                       Mendung sepanjang matahari.
                          Tak seorang pun di jalan.
                              Mobil-mobil parkir.
                                Belum juga salju.
                             Hanya angin, angin.
                          Sebatang pohon merah,
                                Masih terbakar.
                              Dalam cuaca beku.
         Berbincang kepadanya, Aku berbincang kepadamu.

     Ibuku, betapa benar puisinya itu. Lukiskan kesendirian manusia di awal musim dingin. Bayangkan saja, Bu: Ia mengajar di Harvard. Tapi tetap saja merasa sendirian. Sama seperti Aku yang sadar dibekap sepi dan sendiri. Dimana serta kapanpun, Ibuku.

     Ingatkah Ibu saat kerap menangkap basah anakmu ini termangu sendiri? Seperti gemunung masalah tengah menimpa. Padahal saat itu, baru saja Aku usai bercanda ria denganmu. Berlawanan, ya Bu? Tapi, memang saat itu kontradiksi tengah mendekapku. Bahwa kemudian, Aku menyadari, canda ria itu hanya bisa dinikmati saat itu. Tidak berlangsung selamanya. Itulah rasa keterasingan, Ibuku. Itulah perih yang semakin pedih. Bahkan, saat Aku membantumu. Sekedar bersihkan rumah. Mengikuti dinamisnya Ayah. Suamimu itu. Atau menjahili adik Perempuanku.

     Duh Ibu… untuk beberapa saat tiba-tiba saja Aku menyadari bahwa manusia hanya bisa mencecapi apa yang tengah terjadi. Dan itu tak pernah tinggal lama. Di rumah. Diatas Semesta. Hanya jadi kenangan. Selalu membuatku hilang ingatan. Karena kemudian, manusia mesti kembali merasakan hampa. Juga Aku. Bersama sebuah tanya: Untuk apa semua peradaban ini ada? Untuk siapa sebenarnya Aku bekerja? Untuk apa dan siapa manusia hadir diatas semesta? Untuk apa kenangan hadir jika kemudian pasti akan berakhir? Untuk apa bercinta jika kemudian nanti bersedih?

     Anakmu ini lemah, ya Ibuku Sayang? Mana ada segala sesuatu berlangsung selamanya. Kenapa juga Aku harus mempertanyakan sesuatu yang ada diangkasa sana? Dan Aku ingin merasakan rasa bahagia itu selamanya. Sempurna. Tidak hanya jadi kepingan masa lalu.

     Dan inilah Aku, Ibuku. Anak yang pernah hinggap dalam perutmu selama sembilan bulan sepuluh hari itu. Selalu terperosok berada diantara. Kejamnya rimba Jakarta dan hangatnya rumah. Itulah mengapa Aku selalu saja enggan pulang kerumah. Semuanya bukan karena Aku enggan memamahi rindu yang kini sudah melindu itu… Bukan.

     Lalu sebenarnya ketika Aku pulang ke rumah dan merenung apa yang terjadi pada kehidupan, kemarin, hari ini dan esok, membawa pada kesedihan. Selalu membuat Aku menangis, Bu.

     Karenanya Ibuku Tercinta, sembah sujud maafku untukmu. Ayah. Dan salam hangatku untuk adik tercinta. Ijinkan Aku untuk mencecapi hampa itu. Disini. Sendiri. Meski Aku tahu, itu salah satu racun semesta.

                                                                              -Anakmu-

                                               ***
     Jika kemudian Aku tetap bertahan tak bertemu, bukan karena nafikan rindu. Sungguh. Aku menyayangi seisi rumahku. Dengan sangat bahkan. Mereka hidupku. Tapi sendu melulu lungkrahkan dengan irama hampa kepulangan. Kehilangan. Pingsankan jiwaku. Karenanya, Aku hanya mampu lakukan ini. Meski akhirnya berakhir pada angin. Pada gemawan. Pada dedaun. Pada tetembok. Pada nada. Pada kata. Dan surat balasan ini pun terlipat. Kembali masuk saku baju. Tak jadi Aku kirimkan. Hati ini memang telah bolong tersundut sendu…

(Selamat Hari Ibu, Bundaku Sayang…)



1 Comment so far

  1.    lyeza on January 14th, 2007

    hik..hiks…hiks…… jul, kenapa begitu satir kau maknai kehidupan ini. kebahagiaan adanya di hati mu sendiri, sejatinya, tak perlu kau cari di lorong2 kota yang memang tak pernah ramah ini. kenangan adalah bagian indah yang dianugrahkan kepada, pernah terbayang kita hidup tanpa sedikitpun jejak dan ceceran kisah masa lampau????? itu baru Kesunyian…kesendirian……

Leave a Reply