KASIH TAK SAMPAI (1)
Di mana ujung jalan ini?
Inilah pertanyaanku,
Saat menyadari
Aku berada di atas titian cinta
yang demikian panjang.
Jika akhirnya Aku temukan dirimu di sana,
Pasti bukan sekadar kebetulan.
Meski Aku juga tak bisa memastikan
karena apa.
Mungkin,
angin memang sengaja membawa pesan.
Mungkin,
langit kangen melihat dua pasang mata
tulus saling menatap.
Dan begitulah.
Kata dan waktu membuat satu kesimpulan:
bahwa pertautan Kita adalah takdir.
Siapa bisa keluar dari takdir?
Harap dan keluh
membuat satu pernyataan:
bahwa ini adalah Cinta.
Dan siapa, siapa,
siapa yang bisa mengelak darinya?
Merasakanmu,
Aku tak pernah setinggi itu terbang.
Menikmatimu,
Aku tak pernah sedalam itu menyelam.
Menerima kehadiranmu,
Aku tak pernah sejauh itu berjalan.
Dan mengingkarimu,
Aku tak pernah sesakit itu mengurai hari.
Kadang Aku sesali,
mengapa setelah lama,
Kita terjaga dan tak bisa bersama?
Sementara hatiku,
sesungguhnya tak bisa lagi memilih
atau menyisakan ruang untuk yang lain?
Tapi, Aku, Kita, tak boleh menyesali.
Jadi,
Aku pilih saja kata
yang juga diucapkan rumput pada matahari
yang tak pernah bisa disentuhnya:
tetaplah bersinar.
Comments(2)