Archive for December, 2006

KASIH TAK SAMPAI (1)

Di mana ujung jalan ini?

Inilah pertanyaanku,

Saat menyadari

Aku berada di atas titian cinta

yang demikian panjang.

Jika akhirnya Aku temukan dirimu di sana,

Pasti bukan sekadar kebetulan.

Meski Aku juga tak bisa memastikan

karena apa.

Mungkin,

angin memang sengaja membawa pesan.

Mungkin,

langit kangen melihat dua pasang mata

tulus saling menatap.

Dan begitulah.

Kata dan waktu membuat satu kesimpulan:

bahwa pertautan Kita adalah takdir.

Siapa bisa keluar dari takdir?

Harap dan keluh

membuat satu pernyataan:

bahwa ini adalah Cinta.

Dan siapa, siapa,

siapa yang bisa mengelak darinya?

Merasakanmu,

Aku tak pernah setinggi itu terbang.

Menikmatimu,

Aku tak pernah sedalam itu menyelam.

Menerima kehadiranmu,

Aku tak pernah sejauh itu berjalan.

Dan mengingkarimu,

Aku tak pernah sesakit itu mengurai hari.

Kadang Aku sesali,

mengapa setelah lama,

Kita terjaga dan tak bisa bersama?

Sementara hatiku,

sesungguhnya tak bisa lagi memilih

atau menyisakan ruang untuk yang lain?

Tapi, Aku, Kita, tak boleh menyesali.

Jadi,

Aku pilih saja kata

yang juga diucapkan rumput pada matahari

yang tak pernah bisa disentuhnya:

tetaplah bersinar.

Bunda

Bunda,

Ia yang terjaga di bolongan malam.

Menyeduh kopi lalu shalat.

Membaca Qur’an hingga shubuh datang.

Masuk ke dapur dan menanak nasi.

Semua berjalan ringan tanpa beban.

Bunda,

Ia yang mengajak kami

menikmati hangat pagi di jalanan kecil.

Menyusuri pinggiran sungai menuju ladang.

Ia bercerita di perjalanan:

Tentang Cinta Adam dan Hawa,

Konflik Habil dan Qabil,

Derita Ayyub,

Daud yang pemberani,

Pengkhianatan sahabat Isa,

Perahu Nuh

dan berepisode perjalanan Muhammad.

Sesekali,

Bapak membandingkannya

dengan perjuangan para pendiri negara ini.

Bunda,

Ia pulang ke rumah menjelang siang.

Mandi dan Shalat Zuhur pada waktunya.

Istirahatnya hanya sekerjapan kantuk

dan makan siang.

Lalu pergi ke sekolah mengajarkan

huruf demi huruf dan doa-doa.

Jerit dan tingkah nakal anak-anak

membuatnya bahagia.

Yang diajarnya kini,

adalah cucu dari murid-muridnya dulu.

Bunda,

Gadaikan sawah

atau jual hasil panen cengkeh.

Berlari di tengah hujan

menggenggam receh,

hasil penjualan beberapa butir kelapa.

Tak perlu lagi.

Kini.

Telapak tanganmu diatas kepalaku,

Membuatku mampu larungi hidup ini.

Pasti.

« Previous Page