Chocolate = Coklat = Cokelate
Hidup itu seperti coklat, pekat tapi nikmat. Coba saja telusuri jejak yang telah ditempuh. Lihat sekat-sekat yang menjeda dalam lipatan memori. Seperti membagi kisah dalam butiran nikmat yang cepat terlumat. Bukankah tetap ada noda lekat yang selalu terlihat nikmat? Seperti duka yang selalu membuat kita tetap berharap ada. Coklat itu candu.
Swiss, Netherland ataupun Neverland, coklat selalu nikmat. Seperti khayal, coklat hadirkan memori semu tentang rasa. Entah jiwa atau raga. Masih mengingat kapan menikmati rasa raga? Seperti letupan almond yang meritme dalam komposisi yang tak pernah pasti. Alur yang membuat kita merasa perkasa, pasrah dan lega. Coklat itu ejakulasi.
Layaknya tangis sendu. Sebuah rahasia yang tak pernah terjamah, terbungkus rapi dalam dosa sepi. Seperti bungkus coklat yang menutupnya rapat. Tak disisakan ruang angin untuknya. Angin hanya bisa menyebarkan dusta dan coklat meleleh karenanya. Waktu selalu melarutkan nestapa. Coklat itu rindu.
Entah mengapa juga coklat selalu berwarna coklat. Kenapa tidak ada kontradiksi, tak ada kontroversi. Coklat memang murni, sebelum manusia membuatnya dengan berbagai komposisi.
Coklat putih? Itu bukan coklat. Coklat tak pernah berwarna putih. Coklat itu nurani, dia berkata jujur tentang dirinya sendiri. Coklat itu Nabi.
Suka coklat? Atau jangan-jangan tidak? Karena tidak, bisa jadi itu adalah tipe pe-naif yang menyingkirkannya dari nafsu karena ketakutan. Takut dia membuat menggelembung dalam bulatan lemak? Atau ketakutan akan rapuhnya tiap biji dari gigi?
Sebegitu berbahayakah coklat? Jangan pungkiri, betapa pun tak menginginkannya, tapi tetap saja dia ada dalam sempit benak manusia. Awas, coklat itu laten.
Aku suka coklat, seperti halnya lebih dari separuh dunia ini suka coklat. Coklat itu teduh. Coklat itu nyaman. Coklat itu tenang. Kadang coklat menyembuhkan luka. Kadang pula dia menjadi panah Amor: menembus inti rasa dari manusia. Coklat sangat kompleks. Coklat adalah perasaan. Coklat itu diri kita.
Eksistensi yang kadang sulit untuk diterjemahkan. Karena dia rasa. Seperti Adam dan Hawa, Coklat tak pernah membuatnya terbuang dari surga. Coklat itu bijak. Coklat itu perkasa: seperti penantian akan rasa. Coklat bukan hanya coklat: coklat adalah Tuhan dalam kemasan.
Remind me Of FOREST GUMP!!!!
yup…live is like a box of chocolate, you never know what kind you get…..
gw sepakat, coklat memang membawa keteduhan, dan kadang bisa menyingkirkan duka. lo tahu kenapa, karena coklat mengandung zat-zat (gw lupa namanya) yang membuat otak melepas serotonin, yang membuat kita bisa lebih ceria…… i love chocolate…. eating them,..it’s a must!!!!