Barangkali Pekat Memang Menyeramkan Dan Kelam Menggetarkan
Langit seperti merayu, ketika gemintang genit mengerlip padaku yang dipeluk gelap, dingin dan sunyi. Sesaat malam mulai layu. Di pojok jalanan kantuk membekap kuntum-kuntum bunga yang memandangku nyaris kaku. Menghujamkan paku.
Pada akhirnya, semua kita pasti tahu, lintasan imaji dibenaknya hanyalah soal bayangan keluarga: bermanja dalam dekap ayah dan bunda sambil dibuai cerita atau secangkir susu coklat hangat.
Lalu tak ada lagi energi yang tersisa, kecuali semangat untuk sekedar bertanya: kenapa, apa, bagaimana hingga dimana. Mungkin sia-sia. Tokh malam tetap saja merenggutnya. Tapi, bukankah selalu ada yang mesti diguratkan dalam sejarah hidup kita? Bahwa manusia mesti selalu resah. Meski memang bukan semua kita memiliki hati.
Dan sejarah mengajari kita, bahwa jiwa yang kering bukanlah dasar untuk terus menerus menghalalkan kepandiran. Ketidak-sempurnaan justru jadikan manusia mengerti rasa malu, dosa dan mau ditegur. Kemudian yang tertulis di palung hati ini memang tak cukup memadai untuk sekedar disesali. Tangis dan tawa kadang memang lahir terlalu pagi.
Di sini, di kaki langit yang sama, Aku bertanya-tanya: benarkah anak-anak adalah wajah kita? Jejak dari masa yang mungkin dilupa. Gambar dari masa yang tak bisa diraba dan amanah Tuhan yang tegas harus dijaga? Masih adakah keluarga serupa semesta? Tempat merekam segala peristiwa. Kawah bergumpal cinta dan ruang bagi setiap relung asmara? Dimanakah rumah layaknya surga? Tempat segala hasrat bermuara. Asal mula gejolak cita dan ruang bagi setiap riak rasa?
Ah, dimanakah belahan jiwa? Makhluk yang meredam lupa. Kehangatan yang mengubah nestapa. Menjadi nikmat tiada kira. Aku hendak membagi ini semua padanya.