Archive for December, 2006

: Menghirup Rindu Akanmu

Dari angkasa gemuruh rusuh terlempar.
Geletarkan dinding rumah, warung, sawah, segala yang terlanjur kuyup gemetar.

Keping kenangan kembali membingkai tanpa gentar.
Dengan tegak yang rapuh Aku berdiri: tangis ini guratkan wajahmu.

Maka jauh di dalam, ada derak pekak hati yang patah.
Lindukan jiwa.

Senja Baru Saja Pecah Di Langit Ibukota

        Ini sore yang indah. Jika kemudian warna keemasan itu berpendar bersama warna ungu di tiap pojok semesta, itu wajar saja. Senja memang baru saja pecah di langit ibukota. Malam masih beberapa depa mengetuk pintu senja. Tapi kelambu sendu abu-abu terlanjur bungkus buana. Syahdu.

        Lambat Aku usaikan hening sore yang indah ini. Aku memang sudah lama tak mengunjunginya. Sudah lama tak berbagi cerita. Juga berkisah. Bahkan mengadu padanya.

        Tentang apa yang tengah menggelayuti rasa. Tentang asa. Tentang mimpi-mimpi sendiri, yang Aku dan juga Ia pasti tahu, terkadang berakhir hanya sebagai rencana. Aku memang suka membagi dengannya. Tentang apa saja. Meski Ia tak membalas sepatah kata. Tapi Aku tahu, Ia pasti memahaminya. Memahamiku. Dengan jelas juga tegas. Karena kemudian, angin semilir mengilir daun telingaku. Buatku, itu berarti Ia tengah mengerti. Juga memahami tumpahan kata yang tengah Aku utarakan. Padanya.

        Usainya, pasti ada rasa lega dan lepas dari dada. Entah mengapa. Lalu, Aku pun akan segera beranjak kembali pergi. Bersama Adzan Maghrib yang memelukku. Dengan sayup masuk dalam pendengaranku. Lamat-lamat. Tak lama, pasti ada tangis yang terurai dan mengalir mengikuti kelokan wajah. Dan Aku akan menyudahi. Lalu berjanji akan ulangi lagi. Meski tak pernah pasti.

                                                ***

        Ini sore yang indah. Jika kemudian warna keemasan berpencar juga berpendar ke tiap pojok semesta, itu wajar saja. Senja memang baru saja pecah di langit ibukota. Malam masih beberapa depa mengetuk pintu senja. Tapi kelambu sendu abu-abu terlanjur bungkus buana. Syahdu.

        Cepat-cepat Aku keluarkan payung dari tas sekolah yang tak lelah mencangklong di pundakku. Gemuruh memang telah tiba bersama titik-titik pertama air. Tapi Aku tak pernah khawatir. Payung ini, setidaknya, akan melindungiku yang tengah terkena flu.

        Dan hujan memang menderas keras usai payung terbuka. Stasiun kereta tinggal beberapa langkah. Aku pasti akan segera tiba di rumah. Tapi kemudian, Aku terpaksa terpaku di tengah jalan. Termangu. Sesosok bayang perempuan berwajah seperti bulan, kuyup. Terperangkap hujan yang gemas tercurah tumpah. Disana, Ia tengah tergagu mencari tempat berteduh. Manusia memang telah sesak menghindari hujan lebat sore ini. Dan Ia benar-benar terperangkap. Tak dapat tempat.

        Gegas langkahku tiba-tiba hampirinya. Sepatah tawaran tak perlu lama membuatnya berdiri di dalam payung ini. Berdua. Diam. Bersama hujan dan senyum pasi serta gerigilnya. Sesaat, wajahnya semakin mirip dengan bulan yang Aku pandangi malam-malam. Aku memang sering naik ke atap rumah dan berbaring disana. Lama. Dengan diam-diam. Tanpa sepengetahuan ayah dan bunda yang tengah terlelap. Pandangi bulan juga gemintang.

        Dan Aku pasti selalu-terkagum-kagum. Sekagum tatapnya padaku. Saat menerima tawaranku. Berteduh di sebuah pojok. Sekagum tatapku. Saksikan Perempuan pasi itu menghirup teh manis yang baru saja disajikan. Panas. Tandas. Ia benar-benar kedinginan, rupanya.

        “Aku suka sekali teh manis panas. Terlebih lagi, jika dingin tengah menderap keras”.

        Senyum mengembang di wajahnya yang ternyata selalu pasi. Aku hanya sunggingkan senyum dan mengangguk. Ia memang telah menjawab tanya dalam kepala. Aku pun segera kembali pada teh manis yang sudah tandas setengah itu. Teh manis kedua, segera mampir di hadapannya. Kembali. Diam pun kembali membekap kami. Bersama malam yang mulai menyelimuti.

        Pun saat Aku berpisah dengannya. Usai debat panjang terurai, tentunya. Ia menampik tawaranku mengantarkan sampai di rumah. Tidak ingin menambah kerepotanku. Demikian katanya. Dan Ia bersikeras akan hal itu. Juga Aku, tentunya. Lalu, Ia segera melompat naik ke dalam biskota. Tiba-tiba. Diam-diam, kendara itu berpihak padanya. Meninggalkan Aku yang ternganga.

        Dan itulah awal keakrabanku dengan Wulandari. Karena esoknya di sekolah, usai maaf yang disampaikannya atas kejadian itu, Aku dan Wulan semakin akrab. Canda, tawa hingga manja yang khas menguar ke udara semesta Kami berdua. Kami seperti enggan berpisah. Aku merasa nyaman disampingnya. Begitu juga dengannya.

        Tapi itu selalu terjadi usai bel sekolah mendetang keras. Hamburkan Kami keluar dari masing-masing kelas. Saat di sekolah, Ia memang jarang sekali menghampiriku. Entah kenapa. Seperti ada jarak yang membentang antara Aku dengannya. Dan jarak itu, jadi tembok penghalang yang sangat kokoh. Tak bisa tertembus. Sedikit pun olehku.

        Lalu Aku seperti dipaksa untuk tidak mencoba-coba runtuhkan itu. Aku seperti dipaksa kalah. Berakhir dengan membiarkan diam membekapku. Hingga di suatu saktu, semuanya menjadi jelas dan tegas. Bersama pilu air mata yang mengaliri kelokan wajahnya yang pasi. Ia menguraikan sesuatu. Padaku.

        “Maafkan Aku, Kekasih. Semua kini mesti harus Aku lakukan. Semua harus kembali pada sebuah keputusan. Berakhir pada sebuah pilihan. Karena pilihan adalah awal dari keputusan. Aku mencintaimu. Dengan jiwa. Dengan nada. Meski terkadang tanpa kata. Aku memang mencintaimu. Dengan sangat, bahkan. Aku percaya Kau tahu itu. Tapi Aku tak berdaya, Kekasih. Juga dengan Kau. Tak berdaya melawan segalanya yang menghadang di depan mata. Menghadang kita. Untuk mencecap rasanya satu. Dengan berat Aku sampaikan Kekasihku: ijinkan Aku undur diri dari hadapanmu. Hari ini. Ijinkan Aku menjadi yang dikalahkan, Wahai Kekasih yang Aku cintai.”

        Peluk dan kecup terakhir berlangsung lama dan erat. Tinggalkan tanya dan tangis yang terus menerus menganga dalam kisah hidupku. Merubah segalanya. Sejak saat itu. Hingga di suatu rentang waktu…

                                                ***

        Ini sore yang indah. Jika kemudian warna keemasan itu berpendar bersama warna ungu di tiap pojok semesta, itu wajar saja. Senja memang baru saja pecah di langit ibu kota. Malam masih beberapa depa mengetuk pintu senja. Tapi kelambu sendu abu-abu terlanjur bungkus buana. Syahdu.

        Gegas langkah kereta senja, bersama sedu-sedanku. Duduk dalam perut ular besi itu. Aku harus segera tiba diluar kota. Untuk bertemu dengan arti dari sebaris pesan singkat. Yang sudah mampir dan menohok lumbung hatiku.

        Aku memang diminta untuk segera datang ke sebuah kota. Malam ini. Tidak malam lain. Segera. Karena, mungkin saja tak akan ada lagi malam lain.

        Stasiun kereta dari sebuah kota mendaratkan Aku di pelatarannya. Pengirim pesan singkat itu sudah menantiku disana. Sambil menahan genangan air matanya tak tumpah ke tanah.

        Ia pun segera membawaku ke sebuah rumah. Rumah yang nyaman dan murah untuk mahasiswa seperti Aku dengan kawan pengirim pesan itu. Dan diruang tamu itu, Ia memberikan Aku sebuah amplop. Rapi terbungkus. Lembaran foto juga kliping membuatku mengeping. Sepucuk surat, benda terakhir yang Aku buka.

                                                                               Kota, Juli 99

        Kekasih, luka yang tertoreh ini pasti jadi berat untukmu. Perih dari guncangan itu, pasti akan terlalu keras untuk Kau rasakan. Semuanya tak seperti Keinginan dan Harapan. Yang selalu Kau impikan. Kau inginkan. Kau khayalkan. Dan Kau bayangkan. Dulu juga sekarang.

        Aku tahu itu, Kekasihku. Karena Aku juga merasakan apa yang Kau rasakan. Meski Kita tak lagi seiring sejalan. Terpisahkan oleh manusia-manusia angkuh yang berani membuat jurang diantara Kita. Darimu Aku meyakini: tak ada jurang yang pantas pisahkan kita. Cinta yang suci seperti Cinta Kita, hadiah semesta. Dan seharusnya, Manusia tak boleh merusaknya. Bukankah memisahkan itu hanya perbuatan manusia angkuh dan sombong belaka? Ingatkah Kau dengan ujarmu, Kekasihku?

        Tapi keluarga, Kekasihku! Ya! Keluargaku! Merekalah yang membuatku undur diri dari hadapanmu. Membuatku jadi yang dikalahkan. Dengan sebuah ancaman. Padaku. Juga terhadapmu. Dihadapanku.

        Dan itulah alasanku untuk berpisah darimu, Kekasihku. Di suatu sore yang lalu.

        Kasihku, sejak saat itu Kau pasti lelah arungi waktu dalam tiap pelukan. Karena Kau hanya ingin satu pelukan. Dan Aku tahu itu. Dengan pasti. Entah mengapa Aku selalu saja mengetahuimu.

        Tetap saja merasakan, Kau selalu datang bersama canda juga tawa khasmu. Di malam-malam kelamku. Hapus senduku. Tetap saja Aku merasakan, kecup juga usap lembutmu. Saat penat hinggap. Tetap saja Aku merasakan, Kau selalu ada disampingku. Meski Aku tahu, Kau tengah tak disampingku. Bahkan harum tubuhmu seringkali Aku tangkap melintas di penciumanku.

        Ah, kekasihku… Kau tetap nyata dihadapanku.

        Karenanya, meski airmata darahku atas perpisahan telah menggelinang. Atau Kau tengah menggelinjang atas perih hidupmu, tetap saja Kau terhadirkan. Dalam hidupku. Dan Aku juga tahu, langitmu tetap saja kembali padaku. Begitu juga denganku, Kekasihku…

        Ah, Kekasihku… Betapa indah sebenarnya Cinta Kita…

        Tapi kemudian, Aku tetap saja seorang pengecut. Pengecut yang enggan merasakan kecutnya hidup ini. Aku tetap saja diam. Bersama kelam. Muram. Buram. Jadi suram. Aku bahkan tak jua melawan, saat ruang dan waktu sempat berpihak padaku.

        Aku tetap saja ragu untuk memburu dekapmu. Dekapmu yang selalu Aku gunakan menguras sedu sedan. Dekapmu selalu menyamankan. Dekapmu selalu buatku aman. Dekapmu hempaskan kejam dunia ini. Dan Aku masih merindukan itu semua.

        Tapi kini, Aku memilih jalan itu. Aku memutuskan memilih setapak yang kerap Kau benci.

        Kasihku, Aku sudah sadari pilihan ini. Sungguh. Aku sadari dengan kesadaran hati dan logika. Seputih jernih. Bahkan, Aku telah yakinkan diri. Untuk pergi. Menjauh dari semua ini. Biarlah Aku hadapi. Sendiri.

        Ini memang setapakku. Karenanya, jangan pernah Kau hadirkan sesal di hati. Ini adalah jalan terbaik. Agar Kau tetap berdiri. Dengan tegar. Meski penyesalan yang selalu menakutkan, hadir. Setitik. Dihatiku. Tapi Aku tak pernah Kau ajarkan untuk takut bukan? Karena ketakutan itu adalah kenyataan. Dan kenyataan mesti dihadapi. Lewati.

        Duh Lelaki yang kerap menghias hari dan hati, usah Kau menangis. Aku telah putuskan sebuah pilihan. Telah Aku pikirkan semua! Segalanya tak juga menjadi apa yang Aku inginkan. Dunia ini. Semesta ini. Hidup ini. Cintaku ini. Bahkan jabang bayi ini. Tak satupun ada yang menginginkan. Meski Ia telah hadir. Dari perkosa kejam di malam kelam.

        Ah, Kekasih… Entah kenapa mereka tak menginginkan. Entah kenapa mereka yakin, Ia tak pantas hadir. Apakah karena ayah sang jabang bayi ini adalah pamanku? Entahlah… Yang pasti, Aku ingin Ia hadir. Jadi bukti: mereka lebih kejam dari ujar mereka atas cinta kita. Keluargaku itu lebih kejam dari ucap mereka atas Cinta Kita, tepatnya.

        Kekasih, tahukah Kau? Aku tak pernah cukup untuk mencintaimu. Sungguh. Tapi, Aku juga tak pernah cukup melawan mereka. Pun Aku tak akan mampu bertahan dari lisan itu. Ujar yang angkuh menunjuk hidung: “Kalian tak pantas bersatu. Tak pantas berbahagia. Karena kalian bukan untuk bersama. Matikan saja dunia kecil hasil perbuatan mesum itu!”

        Kekasih, betapa sakit terlukai. Dan sayatan demi sayatan pilu itu pun terus terukir. Tertoreh di tiap dinding-dinding kalbuku. Ah Kekasih… Mengapa manusia bisa begitu kejam? Kelam? Dan Aku hanya ingin Kau tak pernah melukai. Siapapun. Apapun. Mulai detik ini!

        Kini, tak usah Kau renungi atau juga ratapi. Semuanya telah terjadi. Aku telah pergi. Dan tak akan ada lagi manusia yang membelenggu. Karena: kini Aku telah enggan mengalah. Usah Kau tanya lagi. Yang jelas, mawar penghias malammu ini telah terbangunkan.

        Aku pamit, Kekasihku. Ingatlah: harumku kepedihan. Nyata. Tapi tidak dengan Cinta kita.

Teruntuk Kekasih, yang saat kata ini terpahat, masih menghuni relung hati.

                                                                                         - Aku -
                                                ***

        Tak butuh waktu lama hingga Aku berteriak. Kencang. Lantang. Marah. Lembaran foto, kliping dan suratnya membuatku gila. Padahal, malam telah lama tiba.

        Aku lempar semua ke arah kawan yang telah memulai isaknya. Segera Ia mengejarku yang telah berlari ke halaman. Dan disana, Kami berdua berpelukan. Menangis. Tersedu-sedu. Bersama jabang yang dikandungnya, Ia memang telah undur diri. Dari hadapanku. Selamanya. Menggantung dirinya.

                                                ***

        Ini sore yang indah. Jika kemudian warna keemasan berpencar juga berpendar ke tiap pojok semesta, itu wajar saja. Senja memang baru saja pecah di sebuah kota. Malam masih beberapa depa mengetuk pintu senja. Tapi kelambu sendu abu-abu terlanjur membungkus buana. Bungkus diriku, tepatnya.

        Sembilu sendu kembali toreh palung dada. Juga jiwa. Pedih semakin rapuhkan Aku. Kini Aku pergi. Bukan karena takut salah satu keluargamu, yang tak pernah mengizinkan Aku untuk tetap menyambangimu, memergoki Aku. Tapi karena Adzan Maghrib telah memelukku.

        Lalu, Aku hanya mampu mengusap penuh dendam rindu nisan sederhana batu kali itu.

                                                                   Aku kangen Kamu…

                                Dengan sangat…


(Dibacakan bersama dua naskah lainnya sebagai pembuka acara Teater Kinasih, November 2006)

Sekeping Hati Bolong Disundut Sendu

Senja baru saja tiba di angkasa. Mengganti terik di atas semesta. Pun Aku usai menyesapi sebaris surat pendek itu…
                                              ***
Ibuku Sayang,

     Maafkan anakmu. Ketidak-pulanganku kali ini, bukan karena tak ingin nikmati peluk dan belai. Bukan tak ingin rasai mendetiknya waktu. Bersamamu. Mendengar hari-harimu, yang Aku tahu, selalu saja begitu. Tapi tetap saja, selalu Aku dengarkan. Dengan khusyuk. Nikmat. Senikmat makan masakan dari tanganmu. Lalu menukarnya dengan cerita tentang petualanganku.

     Ibu, ada perih yang semakin pedih bila Aku pulang ke rumah. Ya, Ibu. Rasa itu selalu hinggap di dahi hati tiap kali jejakkan kaki. Semua karena rasa, Ibu. Aku selalu saja merasa asing saat berada dirumah. Bahkan saat bersama kawan-kawan di rumah. Bukan karena Aku menganggapmu, ayah juga adik serta kawan-kawan sebagai orang yang baru saja Aku kenal dipinggir jalan. Bukan asing seperti itu, Ibuku. Tapi lebih dari itu. Dan Rasa Keterasingan itu, sangat dahsyat. Juga hebat. Duh… Maafkan anak yang selalu membingungkanmu, Ibu.

Mmm… Ibu ingin Aku menjelaskan? Baiklah Ibuku Tercinta. Restui Aku kali ini untuk bercerita sesuatu. Padamu.

     Bu, diam-diam Aku menerima tawaran eksistensialismenya Sartre sebagai filosofiku. Jadi landasan hidupku. Sejarah mencatat bahwa Sartre itu pemikir Perancis, Bu. Katanya, “ Kunci menuju landasan hidup adalah konsep keyakinan yang lemah. Hidup dalam penipuan diri dan dalam keyakinan lemah, hidup dalam ketidakmurnian karena mempersalahkan mahluk berkesadaran, sama dengan hidup dalam keterasingan, terasing dari kebebasan sebagai mahluk berkesadaran dan memandang seseorang sebagai benda yang dipaksakan keadaan. “

     Lalu, Anakmu ini pun mesti berderap untuk bekerja. Sekedar mengisi perut. Agar tidak menengadahkan tangan lagi. Padamu. Tak ada yang salah dengan hal itu memang. Tapi, kenapa kemudian manusia mesti menjadi seperti mesin? Diberi listrik dahulu, baru Ia menyala. Berproduksi. Kerja dulu. Punya penghasilan. Baru bisa mengisi perut atau lainnya. Menikah, misalnya.

     Bukannya Aku tidak mau kerja, Bu. Sungguh. Bukan itu soalnya. Tokh hingga saat ini Aku masih saja mendapatkan uang bulanan. Hasil keringatku. Tapi ini lebih kepada: rasa gerah atas rakusnya sekelompok manusia memperkaya diri mereka. Dan menjadikan manusia lain sebagai mesin saja.

     Aku jadi ingat salah satu pesan Ibu: Aku mesti adil dengan adik dan siapapun juga. Bahkan sejak dalam pikiran. Jika Aku punya makanan, jangan lupa membaginya. Dan saat itu Aku langsung menghentikan tangis serta meminta pisau, membagi kue.

    Tapi, kerakusan itu memang sudah tergurat dalam tangan manusia. Jadi bagian hidup kita semua. Usai mendongengiku, Ibu pernah menyampaikan itu. Padahal, manusia itu seharusnya membangun peradaban dengan kasih sayang, kan Bu? Karena dengan hilangnya rasa itu, manusia pasti jadi hewan atau tumbuhan. Aku jadi ingat sebuah cerita lain, Ibuku Sayang.

     Suatu waktu, seorang bengawan kata bernama Gunawan Muhammad tengah bersepeda di sekitar Weesp. Tak jauh dari Amsterdam. Ia bersama kawannya. Singkat cerita, Ia dan kawannya menyaksikan tabrakan antara seorang anak belasan tahun dengan seorang pemuda. Reaksi pertama setelah tabrakan bukan memaki atau mengancam atau mengirimkan tinju atau peluru kepada pihak yang dianggap bersalah. Tapi sebatang Rokok, Bu!

     Dengan terperangah, Gunawan menyadari sesuatu. Pada pagi itu. Bahwa peradaban ialah sesuatu yang lain: kemampuan untuk menyelesaikan konflik dengan adab. Bukan itu saja. Dengan termangu Ia tertampar: peradaban tampak berhenti di sebuah titik di Indonesia – di jalan-jalan raya. Padahal negara kita terkenal karena dipenuhi oleh manusia-manusia pemberi senyum tulus. Halus. Tapi kini penuh akal bulus.

     Ada yang berkata, sebabnya adalah ketiadaan disiplin. Tapi masyarakat yang beradab bukan sebuah tangsi militer, Bu. Disiplin sebuah peradaban bukanlah dengan ketakutan. Melainkan dengan kebebasan. Maka, mungkin bukan terletak pada disiplin. Tapi dalam keyakinan bahwa tanpa tinju dan peluru – tanpa kekuatan kasar – manusia tokh bisa mencapai apa yang diinginkannya. Ada rasa terjamin bahwa setiap manusia, setiap warga, punya hak untuk mendapatkan apa yang bisa didapat. Rasa nyaman, salah satunya. Ada keyakinan bahwa soalnya hanya giliran: seperti orang antre karcis bioskop.

    Atas nama giliran itulah, Aku memahami sesuatu. Bahwa Aku juga mesti menggantikan peranmu diatas semesta, Bu. Juga peran Ayah. Dan kini Aku tahu rasanya berada diantara seperti Ibu juga Ayah saat pertama kali tiba di Jakarta: ada kangen dengan rumah. Tapi ada keharusan untuk menaklukkan rimba Ibukota. Beruntung saja waktu itu Ibu dan Ayah sudah bersatu. Bisa saling berbagi. Dengan kasih dan sayang. Tanpa pretensi. Tanpa tendensi. Dan Aku kini memang seperti seorang penyair Meksiko. Juga manusia-manusia khas masa kini.

     Namanya Octavia Paz. Pernah Meraih Nobel Sastra tahun 1990, Bu. Pada sebuah apartemen di Cambridge, Massachussets, Amerika, Ia pernah menulis sajak bagus. Judulnya: Trowbridge Street. Begini bunyinya, Ibuku Sayang:

                          Matahari sepanjang siang.
                       Mendung sepanjang matahari.
                          Tak seorang pun di jalan.
                              Mobil-mobil parkir.
                                Belum juga salju.
                             Hanya angin, angin.
                          Sebatang pohon merah,
                                Masih terbakar.
                              Dalam cuaca beku.
         Berbincang kepadanya, Aku berbincang kepadamu.

     Ibuku, betapa benar puisinya itu. Lukiskan kesendirian manusia di awal musim dingin. Bayangkan saja, Bu: Ia mengajar di Harvard. Tapi tetap saja merasa sendirian. Sama seperti Aku yang sadar dibekap sepi dan sendiri. Dimana serta kapanpun, Ibuku.

     Ingatkah Ibu saat kerap menangkap basah anakmu ini termangu sendiri? Seperti gemunung masalah tengah menimpa. Padahal saat itu, baru saja Aku usai bercanda ria denganmu. Berlawanan, ya Bu? Tapi, memang saat itu kontradiksi tengah mendekapku. Bahwa kemudian, Aku menyadari, canda ria itu hanya bisa dinikmati saat itu. Tidak berlangsung selamanya. Itulah rasa keterasingan, Ibuku. Itulah perih yang semakin pedih. Bahkan, saat Aku membantumu. Sekedar bersihkan rumah. Mengikuti dinamisnya Ayah. Suamimu itu. Atau menjahili adik Perempuanku.

     Duh Ibu… untuk beberapa saat tiba-tiba saja Aku menyadari bahwa manusia hanya bisa mencecapi apa yang tengah terjadi. Dan itu tak pernah tinggal lama. Di rumah. Diatas Semesta. Hanya jadi kenangan. Selalu membuatku hilang ingatan. Karena kemudian, manusia mesti kembali merasakan hampa. Juga Aku. Bersama sebuah tanya: Untuk apa semua peradaban ini ada? Untuk siapa sebenarnya Aku bekerja? Untuk apa dan siapa manusia hadir diatas semesta? Untuk apa kenangan hadir jika kemudian pasti akan berakhir? Untuk apa bercinta jika kemudian nanti bersedih?

     Anakmu ini lemah, ya Ibuku Sayang? Mana ada segala sesuatu berlangsung selamanya. Kenapa juga Aku harus mempertanyakan sesuatu yang ada diangkasa sana? Dan Aku ingin merasakan rasa bahagia itu selamanya. Sempurna. Tidak hanya jadi kepingan masa lalu.

     Dan inilah Aku, Ibuku. Anak yang pernah hinggap dalam perutmu selama sembilan bulan sepuluh hari itu. Selalu terperosok berada diantara. Kejamnya rimba Jakarta dan hangatnya rumah. Itulah mengapa Aku selalu saja enggan pulang kerumah. Semuanya bukan karena Aku enggan memamahi rindu yang kini sudah melindu itu… Bukan.

     Lalu sebenarnya ketika Aku pulang ke rumah dan merenung apa yang terjadi pada kehidupan, kemarin, hari ini dan esok, membawa pada kesedihan. Selalu membuat Aku menangis, Bu.

     Karenanya Ibuku Tercinta, sembah sujud maafku untukmu. Ayah. Dan salam hangatku untuk adik tercinta. Ijinkan Aku untuk mencecapi hampa itu. Disini. Sendiri. Meski Aku tahu, itu salah satu racun semesta.

                                                                              -Anakmu-

                                               ***
     Jika kemudian Aku tetap bertahan tak bertemu, bukan karena nafikan rindu. Sungguh. Aku menyayangi seisi rumahku. Dengan sangat bahkan. Mereka hidupku. Tapi sendu melulu lungkrahkan dengan irama hampa kepulangan. Kehilangan. Pingsankan jiwaku. Karenanya, Aku hanya mampu lakukan ini. Meski akhirnya berakhir pada angin. Pada gemawan. Pada dedaun. Pada tetembok. Pada nada. Pada kata. Dan surat balasan ini pun terlipat. Kembali masuk saku baju. Tak jadi Aku kirimkan. Hati ini memang telah bolong tersundut sendu…

(Selamat Hari Ibu, Bundaku Sayang…)

Barangkali Pekat Memang Menyeramkan Dan Kelam Menggetarkan

Langit seperti merayu, ketika gemintang genit mengerlip padaku yang dipeluk gelap, dingin dan sunyi. Sesaat malam mulai layu. Di pojok jalanan kantuk membekap kuntum-kuntum bunga yang memandangku nyaris kaku. Menghujamkan paku.

Pada akhirnya, semua kita pasti tahu, lintasan imaji dibenaknya hanyalah soal bayangan keluarga: bermanja dalam dekap ayah dan bunda sambil dibuai cerita atau secangkir susu coklat hangat.

Lalu tak ada lagi energi yang tersisa, kecuali semangat untuk sekedar bertanya: kenapa, apa, bagaimana hingga dimana. Mungkin sia-sia. Tokh malam tetap saja merenggutnya. Tapi, bukankah selalu ada yang mesti diguratkan dalam sejarah hidup kita? Bahwa manusia mesti selalu resah. Meski memang bukan semua kita memiliki hati.

Dan sejarah mengajari kita, bahwa jiwa yang kering bukanlah dasar untuk terus menerus menghalalkan kepandiran. Ketidak-sempurnaan justru jadikan manusia mengerti rasa malu, dosa dan mau ditegur. Kemudian yang tertulis di palung hati ini memang tak cukup memadai untuk sekedar disesali. Tangis dan tawa kadang memang lahir terlalu pagi.

Di sini, di kaki langit yang sama, Aku bertanya-tanya: benarkah anak-anak adalah wajah kita? Jejak dari masa yang mungkin dilupa. Gambar dari masa yang tak bisa diraba dan amanah Tuhan yang tegas harus dijaga? Masih adakah keluarga serupa semesta? Tempat merekam segala peristiwa. Kawah bergumpal cinta dan ruang bagi setiap relung asmara? Dimanakah rumah layaknya surga? Tempat segala hasrat bermuara. Asal mula gejolak cita dan ruang bagi setiap riak rasa?

Ah, dimanakah belahan jiwa? Makhluk yang meredam lupa. Kehangatan yang mengubah nestapa. Menjadi nikmat tiada kira. Aku hendak membagi ini semua padanya.

Buat Michelle

Padamu, sejuta puisi pernah kembali temukan makna.

Berjenak dalam relung hati yang sunyi: hanya Kau dan Aku merangkai kata yang disebut ‘Kita’.

Padamu, waktu sempat terasa jauh dari rasa dan serpihan kangen yang terajut rapi membalut dalam dingin heningnya malam.

Padamu, sempat terukir angan dan terajut harap.

Tapi kini memang hanya jadi kenangan.

Padahal ingatan adalah mahluk yang aneh.

Tidak bisa ditundukkan waktu tapi, sialnya, kerap menggoda.

Juga angan dan harap yang membuat manusia hidup.

Dan hidup itu adalah mahluk yang lebih aneh lagi: membelenggu dan hanya izinkan menengok kenangan sesekali saja.

Tidak untuk tinggal didalamnya.

Padamu, pada satu riwayat Cinta, Kau memang pernah ijinkan Aku merengkuhmu.

Padamu, ulangi lagi tiba-tiba tak jadi melindap.

Mungkin nanti, usai benahi diri:

Aku sendiri masih ngeri menyakiti hatimu.

Cinta (Synical Version)

Pada angin,

Sebuah tanya memang pernah Aku hembuskan: seperti apakah sebuah Cinta?

Seperti embun.

Setiap pagi menyapa bersama sejuknya.

Sekejap saja, lalu hilang entah kemana.

Pada air,

Sebuah tanya memang pernah Aku uraikan: seperti apakah Cinta?

Seperti sungai.

Alirannya tak henti sepanjang masa, entah mengalir kemana.

Pada seekor burung di udara,

Ada tanya terlempar: apa sih arti sebuah Cinta?

Bagai memiliki sayap.

Ada waktu dimana cinta harus hinggap, tapi suatu saat akan terbang lagi ke langit biru.

Sisakan sendu.

Pada taman bunga yang indah,

Satu tanya tertanam: apa arti Cinta?

Seperti bunga mawar.

Anggun dan indah dilihat, tapi terluka saat tergores durinya.

Pada diri,

Sebuah tanya terujar: Cinta?

Ia hadir di peluk juga kecup pelacur stasiun, terminal atau pelabuhan.

Atau dari tiap inci tangan pemijat plus-plus itu: mereka paham arti dari luka jiwa.

Chocolate = Coklat = Cokelate

Hidup itu seperti coklat, pekat tapi nikmat. Coba saja telusuri jejak yang telah ditempuh. Lihat sekat-sekat yang menjeda dalam lipatan memori. Seperti membagi kisah dalam butiran nikmat yang cepat terlumat. Bukankah tetap ada noda lekat yang selalu terlihat nikmat? Seperti duka yang selalu membuat kita tetap berharap ada. Coklat itu candu.

Swiss, Netherland ataupun Neverland, coklat selalu nikmat. Seperti khayal, coklat hadirkan memori semu tentang rasa. Entah jiwa atau raga. Masih mengingat kapan menikmati rasa raga? Seperti letupan almond yang meritme dalam komposisi yang tak pernah pasti. Alur yang membuat kita merasa perkasa, pasrah dan lega. Coklat itu ejakulasi.

Layaknya tangis sendu. Sebuah rahasia yang tak pernah terjamah, terbungkus rapi dalam dosa sepi. Seperti bungkus coklat yang menutupnya rapat. Tak disisakan ruang angin untuknya. Angin hanya bisa menyebarkan dusta dan coklat meleleh karenanya. Waktu selalu melarutkan nestapa. Coklat itu rindu.

Entah mengapa juga coklat selalu berwarna coklat. Kenapa tidak ada kontradiksi, tak ada kontroversi. Coklat memang murni, sebelum manusia membuatnya dengan berbagai komposisi.

Coklat putih? Itu bukan coklat. Coklat tak pernah berwarna putih. Coklat itu nurani, dia berkata jujur tentang dirinya sendiri. Coklat itu Nabi.

Suka coklat? Atau jangan-jangan tidak? Karena tidak, bisa jadi itu adalah tipe pe-naif yang menyingkirkannya dari nafsu karena ketakutan. Takut dia membuat menggelembung dalam bulatan lemak? Atau ketakutan akan rapuhnya tiap biji dari gigi?

Sebegitu berbahayakah coklat? Jangan pungkiri, betapa pun tak menginginkannya, tapi tetap saja dia ada dalam sempit benak manusia. Awas, coklat itu laten.

Aku suka coklat, seperti halnya lebih dari separuh dunia ini suka coklat. Coklat itu teduh. Coklat itu nyaman. Coklat itu tenang. Kadang coklat menyembuhkan luka. Kadang pula dia menjadi panah Amor: menembus inti rasa dari manusia. Coklat sangat kompleks. Coklat adalah perasaan. Coklat itu diri kita.

Eksistensi yang kadang sulit untuk diterjemahkan. Karena dia rasa. Seperti Adam dan Hawa, Coklat tak pernah membuatnya terbuang dari surga. Coklat itu bijak. Coklat itu perkasa: seperti penantian akan rasa. Coklat bukan hanya coklat: coklat adalah Tuhan dalam kemasan.

Yang Indah Dalam Hidup Ini

Bermimpi Aku,

Tentang rumah di atas kolam yang airnya hidup.

Ikan-ikan bermain memamerkan warna,

Kodok bernyanyi sepanjang malam,

Pancurannya gemericik menakutkan nyamuk.

Saat Shubuh,

Terdengar Adzan di masjid kampung.

Suara muadzin mendayu berpadu kokok ayam.

Angin dingin memeluk,

Tubuh malas tertunduk kantuk.

Tak lama pagi datang,

Burung menyanyikan lagu yang kemarin.

Pak Tani bersiap menuju sawah,

Ia lewat membagi senyum dari hati.

Sementara Kami menikmati singkong bakar dan kopi panas.

Di sini, tertidur dan terjaga adalah sebuah istirah.

Semua keindahan disimpul dalam kesederhanaan.

Tapi kata orang,

Aku akan jenuh dalam rutinitas yang indah itu.

Terlalu lama hidup dalam kebisingan.

Ketabahanmu tak setai-kuku Pak Tani.

Setelah sepekan di rumah, di atas kolam itu,

Kau akan rindu yang lain.

Rumah di atas kolam, buatmu,

Hanya untuk liburan.

Dan liburan,

Sama dengan persetubuhan.

Kau begitu menginginkannya,

Tapi tak bisa berlama-lama.

Maka yang indah dalam hidup ini adalah menjalani.

Atau atau tak ada, liburan di rumah di atas kolam.

KASIH TAK SAMPAI (3)

Jika angin memeluk dan gerahmu pergi,

Di sanalah Aku.

Jika angin menyisir rambutmu

dan hatimu berdesir,

Di sanalah Aku.

Jika bunga mekar di hadapanmu

dan hidungmu tertumbuk wanginya,

Di sanalah Aku.

Jika gemersik daun terasa merdu

dan jantungmu berdegup,

Di sanalah Aku

Jika awan beri kesejukan

dan kenanganmu menuju horisonnya,

Di sanalah Aku.

Jika ombak membelai kakimu

dan pantai meminta camar

sampaikan salam,

Di sanalah Aku

Jika senja datang

dan Kau lihat emas terhampar di atas laut,

Di sanalah Aku.

Dan jika gelap menyaput hari

sementara Kau termangu

Aku pun masih di sana.

Tapi sayang, beribu maaf,

tubuh lelahku tak bisa di sana.

Untuk bertualang sepanjang nafas

bersamamu…

KASIH TAK SAMPAI (2)

Kulewati tahun-tahun yang berwarna.

Seperti juga Kamu dan siapapun.

Aku sudah mengumpulkan banyak peristiwa

dalam waktu berlipat-lipat.

Aku juga pernah merasakan beragam degup

yang berasal dari Cinta

Semuanya, berbeda, tak ada yang sama.

Tapi Mencintai,

Adalah menikmati perjalanan jauh

yang tak melelahkan.

Mencintai adalah laku sederhana.

Hingga satu ketika,

Aku mampir di stasiun lain

untuk membuat keputusan.

Mengalirlah hidupku di atas skenario

yang tak bisa Aku kuasai.

Diri ini terlalu lelah mengelaknya.

Ketika Aku sadar,

bahwa dirimu tak bisa hilang dari hatiku.

Aku tampaknya sudah banyak kehilangan.

Dan jalan ke arahmu

hanya tinggal cahaya berkilau bernama

Cinta.

Aku harus melewati kisah yang lain,

Cinta yang lain,

Dan itu pasti,

tak akan pernah sama dengan perjalanan

yang sudah kita lalui.

Pasti.

Next Page »