Mengapa Kemudian Memilih Hidup Serumah
Adalah seorang kawan yang agak mabuk bir dingin di Taman Ismail Marzuki hamburkan tanya: Ah, mengapa kemudian harus menikah? Mengapa kemudian harus ada diksi itu dalam bahasa kita? Mengapa kemudian kata cinta yang seharusnya syahdu nan khusyuk itu, kini menjadi begitu mudahnya tercampur dan terlontar oleh manusia? Padahal, begitu banyak perceraian terdaftarkan. Begitu banyak pernikahan berantakan. Begitu banyak korban berceceran. Ah… mengapa menikah kini jadi sebuah keyakinan dengan mitos-mitosnya itu? Mengapa, kawan?! Mengapa?!
Dengan terperangah Aku menjawabnya. Mendelik. Menganga. Semabuk Akukah Ia? Entahlah. Yang jelas, ceracaunya itu telah mampu guncangkan sensasi berada diantara imaji dan realita itu. Jika kemudian keping demi keping ingatan kembali muncul dikepalaku, ini memang bukan salahnya. Aku tahu, Ia sebenarnya telah membangkitkan kembali gemuruh tanya. Yang kini kembali meruap. Dari balik lipatan dada. Jiwa. Rasa. Masa.
Telah lama Aku tak tahu lagi apa arti menikah itu sebenarnya. Aku tak tahu lagi, apa benar cinta itu memang nyata. Dan pelbagai alasan, hadir disana. Perintah Agama, desakan orang tua hingga persetubuhan tanpa logika. Meski diawal pernikahan itu mereka memiliki alasannya masing-masing, tapi tetap saja perkawinan itu banyak yang berguguran. Seperti dedaunan dihempas angin kering musim kemarau. Aku tak tahu untuk apa sebenarnya pernikahan itu-jika kemudian realita hadirkan maraknya perceraian. Sampai Agustus 2006 saja sudah 3.172 kasus perceraian di Jakarta. Sialnya, sekitar 66,2%-nya adalah kasus cerai gugat. Pengadilan Tinggi Agama Jakarta mencatatnya. Padahal, Sang Pemilik Semesta membenci tragedi perceraian.
Sejatinya, yang terasa kini bagiku: pernikahan sudah jadi permainan belaka. Lihat saja sekitar kita. Bahkan, nyalakan saja layar kaca berita. Polah pesohor kita, buktinya. Semuanya dengan mengatas-namakan cinta. Wajar saja jika kemudian pernikahan lebih banyak berakhir sebagai: Pelarian, hasrat sesaat dan sekedar aksi unjuk materi, wajah atau juga tahta seorang manusia pada manusia lainnya. Khas masa kini.
Aku tahu, nada igauku ini beraroma marah. Menyumpah-nyumpah. Tapi sebenarnya, Aku tetap berlindung dibalik baju baja bernama Cinta. Meski Aku kini terasa seperti tengah melempar panah racun berupa kata. Tapi Aku, tetap mengikuti Chairil Anwar untuk percaya pada sumpah dan cinta. Dan semua berhulu serta menghilir pada kata.
Ketika kata menikah berbaur dengan rasa cinta, lalu meluncur deras jadi lembing merobek angkasa, hidup memang jadi indah. Segala keterasingan manusia di atas semesta, lenyap. Bergabung bersama udara. Jadi hembusan pembantah bagi Erich Fromm dan almarhum Friedriech Nietsche diatas sana.
Dan dibawah sini, para calon pengantin meminang kekasih mereka. Dengan kata "menikahlah denganku", tentunya. Tapi tanpa rasa seperti Kahlil Gibran pada kekasihnya. Tanpa cerita tragis almarhum Lady Diana dan Doddy Al-Fayeed yang meninggal bersama. Tanpa kisah Dewi Soekarno yang enggan kembali menikah usai meninggalnya Bapak bangsa, Soekarno. Tanpa legenda Resi Bhisma yang mesti menolak pekatnya rasa Srikandi. Kata yang terujar itu, seakan menjadikan alasan dari pembangunan Taj Mahal tak perlu dicatat sejarah.
Tapi sebenarnya, waktu tetap berputar. Pun bulan masih tetap satelit dari bumi. Bahkan tata surya tetap saja dalam garis edarnya. Masing-masing. Dan pahat sejarah, kembali tergurat. Untuk mencatat. Meski mata terpejam atau membelalak.
Ada banyak manusia kini yang lebih memilih tinggal bersama kekasih mereka. Dalam satu ruang. Dalam satu waktu. Dalam satu rumah. Bersama rasa. Juga logika dan tanggung jawab yang jelas serta tegas: Bahwa ini adalah salah satu usaha untuk mengenal dengan sebenarnya, siapa manusia calon teman hidup mereka itu. Sedari pagi hingga keesokkan hari. Tak perduli asal-usul pasangan mereka. Bahkan agama mereka. Tak perduli harta, tahta dan wajah mereka. Bahkan juga sebuah persetubuhan. Karena tokh bersetubuh hanyalah bumbu rasa dari diri. Bukan esensi. Karena tokh negara tetap saja enggan untuk perduli, saat rasa hadir diantara dua manusia yang memeluk agama berbeda. Sementara, rasa datang dari Sang Maha Penguasa. Bukan manusia atau negara. Karena tokh kita semua sebenarnya malas mengakui, bahwa hidup bersama merupakan sebuah jawaban. Menekan angka perceraian. Karena tokh hidup bersama adalah ujian awal memasuki lembaga pernikahan yang nyata. Bahwa hidup bersama, dapat memberangus maraknya korban perceraian. Bahwa hidup bersama, merupakan usaha manusia temukan kualitas Cinta yang sebenarnya. Dalam keterasingannya. Diatas semesta.
Karenanya, atas nama kata juga rasa yang syahdu serta khusyuk itu, Aku lebih memilih tawaran untuk hidup serumah. Bersama Perempuan. Tanpa pernikahan. Tanpa ikatan. Hanya bersama rasa. Mencari dan biarkan sang waktu hampiri. Berikan kekuatan. Suatu waktu nanti.
Ya. Aku yakin bahwa suatu saat nanti mampu nyanyikan nada palung hati. Bersama segenap jiwa. Lontarkan Cinta. Menikah. Dan kini hidup serumah adalah pilihan awalku. Seyakinku pada penggalan puisi Pablo Neruda, Aku tak mencintaimu seandainya kamu adalah mawar-tawar, topaz atau tangkai anyelir yang menyemai api. Aku mencintaimu seperti benda hitam yang dicintai, secara rahasia, antara bayangan dan jiwa. Aku mencintaimu seperti tanaman yang tidak mekar dan menyebar tersembunyi di dalam dirinya cahaya dari bunga-bunga, dan berkat cintamu, yang gelap di dalam tubuhku hiduplah wewangi pekat yang terbit dari bumi. Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa persoalan atau kebanggaan. Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tak tahu cara lain untuk mencinta. Tapi inilah, di mana tiada aku atau kamu. Begitu lekat tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu rapat. Ketika Aku jatuh lelap adalah matamu yang melindap.
Dan malam larut bersama muram. Dikunangi lelampu temaram. Sendu yang syahdu memang telah lama jatuh di langit ibukota. Membekap serta mendera manusia. Juga Aku.
Mau komen dikit atas “ungkapa hati” diatas…
Sungguh egois dikau…
Mengatasnamakan Cinta lal menghalalkan segala cara
Beginilah klo agama sudah ditinggalkan…
Jadi saranku,..pilihlah wanita berdasarkan agamanya,..bukan kecantikan, harta atau tahta…
no comment ahhh