011006-041006
Suatu Malam Diawal Bulan Keringnya Oktober …
Pun Bibirnya Membiru Bahkan Kecup Malah Membuatnya Kuncup. Tiba-tiba Saja Ia Hadir Dalam Mimpiku. Padahal Tengah Jauh. {Aku} Menuju Baka? Bersama Kelamnya Cahaya? Mengapa Tiba-tiba Kau Hadir Dalam Mimpiku? Padahal Tengah Jauh.
{Kau}
Tak Lagi Ada Tempat Bagiku. Tak Lagi Ada Pendekapku. Tak Lagi Ada Pembelaiku. Tak Lagi Ada Kecup Lembut Itu. Tak Lagi Ada, Kamu… Aku Harus Pergi. Jauh. Sendu. Sendiri. Bersama Sepi. Tapi Tidak Bersama Hatiku Yang Tetap Padamu. Selamat Tinggal. Ijinkan Aku Menikmati Putihnya Sinar Itu. Dengan Sayap Ini. {Aku} Aku Tak Merestui Kepergianmu. Kali Ini. Karena Amarah Itu Adalah Pekatnya Rindu Yang Telah Jadi Dendam. Percayakah Kau?
{Kau}
Ya. Aku Percaya. Tapi Entahlah. Aku Telah Lelah. Penat. Tersengat. Entah Kenapa. Entah Oleh Apa. {Aku} Baiklah. Restui Aku Menghadap Sinar Itu. Aku Akan Bertanya.
{Kau}
Aku Restui. {Aku Pada Sinar Itu} Mengapa Tak Jua Menyatu? Karena Manusia-manusia Angkuh Itu Yang Menghadang, Jadi Penghalang? Atau Karena Kau Cemburu? Mengapa Kau Masih Saja Mencandai, Meski Tak Lagi Lucu? Mengapa Kau Masih Juga Membisu, Padahal Ini Sudah Saatnya Kau Berbicara! Ah, Kau Memang Hanya Mampu Mencabik-cabik. Kau Memang Hanya Mampu Merobek-robek. Kau Memang Hanya Mampu Memisahkan. Kau Memang Hanya Mampu Cemburu. Pada Kreasimu. Itu Kerjamu, Bukan? Kau Lebih Angkuh Dari Keangkuhan Itu Sendiri! FUCK YOU!!! Ya. Aku Memang Patut Mencercamu! Patut Aku Menghinamu! Patut Aku Meludahimu! Bahkan Mengencingimu!!! Bodoh! Tolol! Dungu! Keparat! Bangsat! CIH! Tunjukkan Bahwa Kau Memang Pemilik Semesta!!! Atau Jangan-jangan, Kau Memang Bukan Seperti Yang Diceritakan Ibuku, Ayahku, Adikku, Guruku Dan Semesta Ini?!!! Teriakku! {Kau} Hentikan!!! {Aku} Tak Akan Pernah! {Kau} {Aku} Tidak! Bukan Kau! {Kau} Apa Alasanmu? {Aku} Kau Telah Jadi Agamaku! Ya! Agamaku Adalah Perempuanku Dan Kebenaranku! Bukan Dia! Lihatlah Apa Yang Diperbuatnya! Lihatlah Apa Yang Mereka Lakukan! Sama Sekali Tak Pantas Memisahkan Kita, Bukan?! Karena Entah Mengapa, Aku Percaya Kita Memang Mesti Bersatu! Seperti Juga Kau Mempercayai Itu! {Kau Juga Aku} Tersedu… Pekat Keburu Mendekap… Lalu Hari Lainnya Mendentang. Bersama Pesan Singkat Itu: Kau Telah Belalakkan Matamu! Ah… Aku Tunggu Kamu Di Ibu Kota. Untuk Bertemu. Segera Bertemu. Untuk Menyatu. Karena: Aku Telah Membutuhkanmu. Sungguh! Tanyakan Saja Hatimu. Karena Aku Telah Menanyakan Hatiku… — Untuk Perempuan Yang Biasa Memanggilku Liebe…
Sinar Itu Tak Salah! Aku!