Archive for October, 2006

Mengapa Kemudian Memilih Hidup Serumah

Adalah seorang kawan yang agak mabuk bir dingin di Taman Ismail Marzuki hamburkan tanya: Ah, mengapa kemudian harus menikah? Mengapa kemudian harus ada diksi itu dalam bahasa kita? Mengapa kemudian kata cinta yang seharusnya syahdu nan khusyuk itu, kini menjadi begitu mudahnya tercampur dan terlontar oleh manusia? Padahal, begitu banyak perceraian terdaftarkan. Begitu banyak pernikahan berantakan. Begitu banyak korban berceceran. Ah… mengapa menikah kini jadi sebuah keyakinan dengan mitos-mitosnya itu? Mengapa, kawan?! Mengapa?!

Dengan terperangah Aku menjawabnya. Mendelik. Menganga. Semabuk Akukah Ia? Entahlah. Yang jelas, ceracaunya itu telah mampu guncangkan sensasi berada diantara imaji dan realita itu. Jika kemudian keping demi keping ingatan kembali muncul dikepalaku, ini memang bukan salahnya. Aku tahu, Ia sebenarnya telah membangkitkan kembali gemuruh tanya. Yang kini kembali meruap. Dari balik lipatan dada. Jiwa. Rasa. Masa.

Telah lama Aku tak tahu lagi apa arti menikah itu sebenarnya. Aku tak tahu lagi, apa benar cinta itu memang nyata. Dan pelbagai alasan, hadir disana. Perintah Agama, desakan orang tua hingga persetubuhan tanpa logika. Meski diawal pernikahan itu mereka memiliki alasannya masing-masing, tapi tetap saja perkawinan itu banyak yang berguguran. Seperti dedaunan dihempas angin kering musim kemarau. Aku tak tahu untuk apa sebenarnya pernikahan itu-jika kemudian realita hadirkan maraknya perceraian. Sampai Agustus 2006 saja sudah 3.172 kasus perceraian di Jakarta. Sialnya, sekitar 66,2%-nya adalah kasus cerai gugat. Pengadilan Tinggi Agama Jakarta mencatatnya. Padahal, Sang Pemilik Semesta membenci tragedi perceraian.

Sejatinya, yang terasa kini bagiku: pernikahan sudah jadi permainan belaka. Lihat saja sekitar kita. Bahkan, nyalakan saja layar kaca berita. Polah pesohor kita, buktinya. Semuanya dengan mengatas-namakan cinta. Wajar saja jika kemudian pernikahan lebih banyak berakhir sebagai: Pelarian, hasrat sesaat dan sekedar aksi unjuk materi, wajah atau juga tahta seorang manusia pada manusia lainnya. Khas masa kini.

Aku tahu, nada igauku ini beraroma marah. Menyumpah-nyumpah. Tapi sebenarnya, Aku tetap berlindung dibalik baju baja bernama Cinta. Meski Aku kini terasa seperti tengah melempar panah racun berupa kata. Tapi Aku, tetap mengikuti Chairil Anwar untuk percaya pada sumpah dan cinta. Dan semua berhulu serta menghilir pada kata.

Ketika kata menikah berbaur dengan rasa cinta, lalu meluncur deras jadi lembing merobek angkasa, hidup memang jadi indah. Segala keterasingan manusia di atas semesta, lenyap. Bergabung bersama udara. Jadi hembusan pembantah bagi Erich Fromm dan almarhum Friedriech Nietsche diatas sana.

Dan dibawah sini, para calon pengantin meminang kekasih mereka. Dengan kata "menikahlah denganku", tentunya. Tapi tanpa rasa seperti Kahlil Gibran pada kekasihnya. Tanpa cerita tragis almarhum Lady Diana dan Doddy Al-Fayeed yang meninggal bersama. Tanpa kisah Dewi Soekarno yang enggan kembali menikah usai meninggalnya Bapak bangsa, Soekarno. Tanpa legenda Resi Bhisma yang mesti menolak pekatnya rasa Srikandi. Kata yang terujar itu, seakan menjadikan alasan dari pembangunan Taj Mahal tak perlu dicatat sejarah.

Tapi sebenarnya, waktu tetap berputar. Pun bulan masih tetap satelit dari bumi. Bahkan tata surya tetap saja dalam garis edarnya. Masing-masing. Dan pahat sejarah, kembali tergurat. Untuk mencatat. Meski mata terpejam atau membelalak.

Ada banyak manusia kini yang lebih memilih tinggal bersama kekasih mereka. Dalam satu ruang. Dalam satu waktu. Dalam satu rumah. Bersama rasa. Juga logika dan tanggung jawab yang jelas serta tegas: Bahwa ini adalah salah satu usaha untuk mengenal dengan sebenarnya, siapa manusia calon teman hidup mereka itu. Sedari pagi hingga keesokkan hari. Tak perduli asal-usul pasangan mereka. Bahkan agama mereka. Tak perduli harta, tahta dan wajah mereka. Bahkan juga sebuah persetubuhan. Karena tokh bersetubuh hanyalah bumbu rasa dari diri. Bukan esensi. Karena tokh negara tetap saja enggan untuk perduli, saat rasa hadir diantara dua manusia yang memeluk agama berbeda. Sementara, rasa datang dari Sang Maha Penguasa. Bukan manusia atau negara. Karena tokh kita semua sebenarnya malas mengakui, bahwa hidup bersama merupakan sebuah jawaban. Menekan angka perceraian. Karena tokh hidup bersama adalah ujian awal memasuki lembaga pernikahan yang nyata. Bahwa hidup bersama, dapat memberangus maraknya korban perceraian. Bahwa hidup bersama, merupakan usaha manusia temukan kualitas Cinta yang sebenarnya. Dalam keterasingannya. Diatas semesta.

Karenanya, atas nama kata juga rasa yang syahdu serta khusyuk itu, Aku lebih memilih tawaran untuk hidup serumah. Bersama Perempuan. Tanpa pernikahan. Tanpa ikatan. Hanya bersama rasa. Mencari dan biarkan sang waktu hampiri. Berikan kekuatan. Suatu waktu nanti.

Ya. Aku yakin bahwa suatu saat nanti mampu nyanyikan nada palung hati. Bersama segenap jiwa. Lontarkan Cinta. Menikah. Dan kini hidup serumah adalah pilihan awalku. Seyakinku pada penggalan puisi Pablo Neruda, Aku tak mencintaimu seandainya kamu adalah mawar-tawar, topaz atau tangkai anyelir yang menyemai api. Aku mencintaimu seperti benda hitam yang dicintai, secara rahasia, antara bayangan dan jiwa. Aku mencintaimu seperti tanaman yang tidak mekar dan menyebar tersembunyi di dalam dirinya cahaya dari bunga-bunga, dan berkat cintamu, yang gelap di dalam tubuhku hiduplah wewangi pekat yang terbit dari bumi. Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa persoalan atau kebanggaan. Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tak tahu cara lain untuk mencinta. Tapi inilah, di mana tiada aku atau kamu. Begitu lekat tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu rapat. Ketika Aku jatuh lelap adalah matamu yang melindap.

Dan malam larut bersama muram. Dikunangi lelampu temaram. Sendu yang syahdu memang telah lama jatuh di langit ibukota. Membekap serta mendera manusia. Juga Aku.

Elegi Sepi Di Cikini Hingga Tebet Sini

Ada Suara Beduk Menalu-nalu Di Penghujung Senja Yang Sendu.

Tetabuh Merdu Itu Memang Syahdu Sungguh.

Ujarkan Gempita Kemenangan Lantang:

“Sebentar Lagi Hari Kemenangan! Mari Kawan, Rayakan!”

Ada

Senyum Terkulum Mengalun Dari Wajah Jernih Sebentar Lagi Jadi Bersih Diantara Tumpukan Parsel Stasiun Cikini.

Ada Gegas Langkah Lekas Telah jadi Kebas ‘tuk Selalu Kembali Pulang Sekedar Cecap Aroma Kemenangan Bersama Yang Tercinta.

Ada Kerlip Lampu Ibukota Mengedip Jenaka Saksikan Polah Manusia Di Atas Semesta Tak Lupa Suguhkan Deru Debu Kadang Terhenti Diam Karena Sesaknya Kuda-kuda Besi Dijalan Raya.

Ada Rengek Khas Anak-anak Berganti Bahagia Atas Karunia Kasih Orang Tua Layani Permintaan Baju, Celana Dan Sepatu Baru Mereka.

Serupai Pesohor Cantik Di Televisi.

Ada Ramai Anak Muda Tanpa Orang Tua Mereka Tentunya Tukarkan Kertas Penukar Dengan Aksesori Trendi Beristirahat Dengan Segelas Kopi Dari Café Tak Lupa Sebatang Rokok Menyelip Saat Menjejerkan Kuda-kuda Mewah Mereka.

Ada

Uang Berputar Deras Juga Keras Menyambut Hari Kemenangan.

Pantas Hadirkan Rona Bahagia Dari

Para

Penjaja Atas Lakunya Dagangan Dan Resto Mereka.

Ada

Mudik Berujung Hilir Manusia Penuh Senyum Dari Rona Bahagia Jelang Hari Yang Merdeka.

Ah…

Pokoknya Hari Kemenangan Nyaris Tiba Dan Manusia Memang Mesti Berbahagia.

Persetan Dengan Mereka Di Pojok Yang Retak Nyaris Pecah

Sana

Tokh, Siapa Suruh Mereka Tak Kenal Sanak Saudara?!

Siapa Suruh Mereka Tak Kenal Ayah Bunda?!

Malah Menyapu Kereta Atau Mengamen Di Atas Kendara?!

CIH! Mental Pengemis!!!

Siapa Suruh Mereka Tak Mencari Kerja Di Ruang Pendingin Berhembus?!

Malah Menempa Jiwa Juga Darah Diatas Sawah Bahkan Samudera?!

Siapa Suruh

Ada

Manusia Yang Tetap Rela Menjajakan Dirinya Demi Si Buyung Yang Tengah Merengek Baju, Celana Dan Sepatu Baru?!

Siapa Suruh Mereka Menerima Tergusurnya Rumah Mereka?!

Malah Memilih Hidup Dalam Gerobak Beratap Langit?!

Mereka Memang Hanya Perusak Keindahan Ibukota Bahkan Suasana Hari Raya!

Najis!!!

Dan Aku Pun Hanya Bisa Tersenyum.

Kecut.

Kalut.

Bersama Mereka Yang Berada Di Pojok Yang Retak Dan Nyaris Pecah Itu.

Duh Bunda…

Aku Telah Malu Beragama Dan Berhari Raya…

Taman

Ismail Marzuki Lewat Kawasan Cikini Membelok Ke Arah Matraman Lurus Menuju Jatinegara Turun Di Kampung Melayu Menuju Tebet.

011006-041006

Suatu Malam Diawal Bulan Keringnya Oktober

Pun Bibirnya Membiru

Bahkan Kecup Malah Membuatnya Kuncup.

Tiba-tiba Saja Ia Hadir Dalam Mimpiku.

Padahal Tengah Jauh.

{Aku}

Menuju Baka?

Bersama Kelamnya Cahaya?

Mengapa Tiba-tiba Kau Hadir Dalam Mimpiku?

Padahal Tengah Jauh.

{Kau}

Tak Lagi Ada Tempat Bagiku.

Tak Lagi Ada Pendekapku.

Tak Lagi Ada Pembelaiku.

Tak Lagi Ada Kecup Lembut Itu.

Tak Lagi Ada,

Kamu…

Aku Harus Pergi.

Jauh.

Sendu.

Sendiri.

Bersama Sepi.

Tapi Tidak Bersama Hatiku Yang Tetap Padamu.

Selamat Tinggal.

Ijinkan Aku Menikmati Putihnya Sinar Itu.

Dengan Sayap Ini.

{Aku}

Aku Tak Merestui Kepergianmu.

Kali Ini.

Karena Amarah Itu Adalah Pekatnya Rindu Yang Telah Jadi Dendam.

Percayakah Kau?

{Kau}

Ya. Aku Percaya.

Tapi Entahlah.

Aku Telah Lelah.

Penat.

Tersengat.

Entah Kenapa.

Entah Oleh Apa.

{Aku}

Baiklah.

Restui Aku Menghadap Sinar Itu.

Aku Akan Bertanya.

{Kau}

Aku Restui.

{Aku Pada Sinar Itu}

Mengapa Tak Jua Menyatu?

Karena Manusia-manusia Angkuh Itu Yang Menghadang,

Jadi Penghalang?

Atau Karena Kau Cemburu?

Mengapa Kau Masih Saja Mencandai, Meski Tak Lagi Lucu?

Mengapa Kau Masih Juga Membisu, Padahal Ini Sudah Saatnya Kau Berbicara!

Ah, Kau Memang Hanya Mampu Mencabik-cabik.

Kau Memang Hanya Mampu Merobek-robek.

Kau Memang Hanya Mampu Memisahkan.

Kau Memang Hanya Mampu Cemburu.

Pada Kreasimu.

Itu Kerjamu, Bukan?

Kau Lebih Angkuh Dari Keangkuhan Itu Sendiri!

FUCK YOU!!!

Ya. Aku Memang Patut Mencercamu!

Patut Aku Menghinamu!

Patut Aku Meludahimu!

Bahkan Mengencingimu!!!

Bodoh!

Tolol!

Dungu!

Keparat!

Bangsat!

CIH!

Tunjukkan Bahwa Kau Memang Pemilik Semesta!!!

Atau Jangan-jangan, Kau Memang Bukan Seperti Yang Diceritakan Ibuku, Ayahku, Adikku, Guruku Dan Semesta Ini?!!!

Teriakku!

{Kau}

Hentikan!!!

{Aku}

Tak Akan Pernah!

{Kau}
Sinar Itu Tak Salah! Aku!

{Aku}

Tidak! Bukan Kau!

{Kau}

Apa Alasanmu?

{Aku}

Kau Telah Jadi Agamaku!

Ya!

Agamaku Adalah Perempuanku Dan Kebenaranku!

Bukan Dia!

Lihatlah Apa Yang Diperbuatnya!

Lihatlah Apa Yang Mereka Lakukan!

Sama Sekali Tak Pantas Memisahkan Kita, Bukan?!

Karena Entah Mengapa, Aku Percaya Kita Memang Mesti Bersatu!

Seperti Juga Kau Mempercayai Itu!

{Kau Juga Aku}

Tersedu…

Pekat Keburu Mendekap…

Lalu Hari Lainnya Mendentang.

Bersama Pesan Singkat Itu:

Kau Telah Belalakkan Matamu!

Ah…

Aku Tunggu Kamu Di Ibu Kota.

Untuk Bertemu.

Segera Bertemu.

Untuk Menyatu.

Karena: Aku Telah Membutuhkanmu.

Sungguh!

Tanyakan Saja Hatimu.

Karena Aku Telah Menanyakan Hatiku…

Untuk Perempuan Yang Biasa Memanggilku Liebe…