260806
Aku Bisa Saja Menuliskan Bait-bait Pedih Yang Semakin Perih Detik Ini.
Malam Terpaku Kelam Sedang Bintang Yang Mengerlip Tak Jua Entaskan Gelap, Misalnya.
Pun Angin Tetap Angin Yang Berhembus Di Angkasa.
Bersiul Kemudian Ikut Bernyanyi.
Bersamaku Sendu Telah Melagu.
Aku Bisa Saja Menuliskan Bait-bait Pedih Yang Semakin Perih Detik Ini.
Diam-diam Aku Mencintainya.
Begitu Juga
Ia.
Ah, Diam-diam Kami Berdua Telah Jatuh Cinta.
Di
Malam Kelam , Ia Biasa Tertidur Di Bahuku.
Atau Juga: Aku Yang Lelap Memeluknya.
Usai Membagi Gerahnya Kecup, Tentunya.
Dibawah Kedip Bintang.
Hanya Untuk Mencoba Bagi Desah Lelah.
Ia Mencintaiku.
Begitu Juga Denganku.
Bagaimana Tidak,
Peluknya Seperti Tajam Matanya!
Aku Bisa Saja Menuliskan Bait-bait Pedih Yang Semakin Perih Detik Ini.
Ceritakan Bahwa Aku Kemudian Tak Bisa Memilikinya.
Kisahkan Rasa Terpisahkan.
Mendengarkan Semilir Yang Mengilir Suaranya Di Telingaku.
Pandangi Menguningnya Daun Hati Terjerembab Di Selokan Kehidupan.
Ah…
Mengapa Aku Mesti Merasa Bahwa Hidup Mengalir Seperti Sampah Di Got Samping Kontrakkanku?
Dan Sampah Itu Adalah Kita Semua.
Manusia.
Pun Malam Tetap Kelam Pendekap Semesta.
Itu Saja.
Bersama Sendu Melagu.
Dari Penyanyi Parau Tak Ragu Bernyanyi.
Bernadakan Lantang:
Sepasang Hati Tak Ingin Berpisah!
Sepasang Hati Ingin Bersatu!
Sepasang Hati Tengah Mencipta Dunia Mereka!
Tapi, Sepasang Hati Kemudian Mesti Menjadi Keping.
Oleh Manusia Angkuh Juga Sombong Yang Sengaja Pisahkan Mereka.
Bersama tuhannya Bernama Uang Dan Kuasa.
Pun Siang Tetap Terang Pendekap Semesta.
Aku Dengannya, Sejak Saat Itu, Tak Lagi Serupa.
Sesaat Kami Terhenyak.
Sesak.
Dan Disini Diam-diam Aku Tetap Mencintainya.
Begitu Juga
Ia.
Seperti Janjinya.
Seperti Janjiku.
Meski Tahu Kami Berdua Tak Mungkin Bersatu.
Lalu Untuk Saat Ini, Aku Hanya Bisa Hantarkan Sebuah Kecup Pada Angin Yang Semilirkan Suaranya.
Dan Harum Tubuhnya.
Juga Tatap Rindu Dari Matanya.
Bahkan Peluk Tajam Seperti Ledakan Amarahnya.
Ah, Cinta Memang Indah
Tapi Banyak Hal Menyebalkan Ikut Hadir Disana.
Padanya, Detik Ini, Aku Hanya Bisa Titipkan Hatiku.
Karena Aku Tak Bisa Melupakannya.
Entah Kenapa.
Dan Entah Kapan Bait-bait Pedih Yang Semakin Perih Ini Usai Aku Tuliskan…
—
Taman Ismail Marzuki,
Sesaat Sebelum Pagi Mengetuk Pintu Malam.
Comments(3)