Lalu…
Aku Bersumpah,
Bisa Saja Pergi Selamanya Dari Hadapanmu.
Menghilang Bersama Asap Tembakau Mengulung Dan Lenyap Saat Dihembus Semilir Angin Yang Bersetubuh Dengan Dingin.
Atau Dengan Pekat Kopi Kental Terhirup Masuk Kerongkongan Ibu
Kota Yang Semakin Memuakkan Dengan Muntah Dari Bacot
Para Pendusta.
Aku Bersumpah,
Bisa Saja Pergi Selamanya Dari Hadapanmu.
Membiarkan Anjing-anjing Penjaga Menghampiri Dan Menghujam Leher Bersama Mulut Mereka Yang Berbusa.
Atau Dengan Pecinta Malam Yang Tak Lelah Mencari Pagi Sebuah Desa Di Kaki Bukit Dan Pinggir Pantai.
Aku Bersumpah,
Jika Saat Itu Tiba,
Ijinkan Bibir Mungil Itu Aku Kecup Tuk Terakhir Kali.
Agar Menjelma,
“Ruang Jiwa Yang Terbuka Tanpa Amarah Dan Dipenuhi Jingga Hanya Untukmu”,
“Dan Mata Yang Sabar Serta Perlahan Mengerdip Hanya Untukmu”.
“Segalanya”
Tapi Jika Saat Itu Tak Kunjung Tiba,
Katakan Padaku:
“Bahwa Hari-hari Menyeramkan Itu Telah Usai!”.
Dan Tiba-tiba,
Hati Meringis Saat Mata Kucurkan Tangis Atas Sebuah Tanya
“Dimana Kau Sekarang?”
Karena Aku,
Tiba-tiba Saja Membauimu,
Dalam Terik Mentari Yang Meringkik Alirkan Peluh
Karena Aku,
Tiba-tiba Saja Mendengar Langkah-langkah Serupa Langkahmu,
Menghampiriku Bersama Tatihan Penat Kesendirian
Karena Aku,
Tiba-tiba Saja Melihat Dirimu Menghampiri Tuk Berbagi Cerita Juga Rahasia Sendu.
Ah…
Adakah Aku Tengah Berimaji?
Jika Memang Ya,
Berkehendakkah Tak Seorang Pun Membangunkan?
Agar Aku Tetap Terbuai Khayali Yang Teriakkan:
“Beranikah Aku Dengan Kesendirian?”
“Beranikah Kau Dengan Kesendirian?”
“Beranikah Aku Didekap Kelam?”
“Beranikah Kau Didekap Kelam?”
"Beranikah Manusia?"
“Beranikah Aku Juga Kau?”
Comments(4)