Archive for July, 2006

Lalu…

Aku Bersumpah,

Bisa Saja Pergi Selamanya Dari Hadapanmu.

Menghilang Bersama Asap Tembakau Mengulung Dan Lenyap Saat Dihembus Semilir Angin Yang Bersetubuh Dengan Dingin.

Atau Dengan Pekat Kopi Kental Terhirup Masuk Kerongkongan Ibu

Kota

Yang Semakin Memuakkan Dengan Muntah Dari Bacot

Para

Pendusta.

Aku Bersumpah,

Bisa Saja Pergi Selamanya Dari Hadapanmu.

Membiarkan Anjing-anjing Penjaga Menghampiri Dan Menghujam Leher Bersama Mulut Mereka Yang Berbusa.

Atau Dengan Pecinta Malam Yang Tak Lelah Mencari Pagi Sebuah Desa Di Kaki Bukit Dan Pinggir Pantai.

Aku Bersumpah,

Jika Saat Itu Tiba,

Ijinkan Bibir Mungil Itu Aku Kecup Tuk Terakhir Kali.

Agar Menjelma,

“Ruang Jiwa Yang Terbuka Tanpa Amarah Dan Dipenuhi Jingga Hanya Untukmu”,

“Dan Mata Yang Sabar Serta Perlahan Mengerdip Hanya Untukmu”.

“Segalanya”

Tapi Jika Saat Itu Tak Kunjung Tiba,

Katakan Padaku:

“Bahwa Hari-hari Menyeramkan Itu Telah Usai!”.

Dan Tiba-tiba,

Hati Meringis Saat Mata Kucurkan Tangis Atas Sebuah Tanya

“Dimana Kau Sekarang?”

Karena Aku,

Tiba-tiba Saja Membauimu,

Dalam Terik Mentari Yang Meringkik Alirkan Peluh

Karena Aku,

Tiba-tiba Saja Mendengar Langkah-langkah Serupa Langkahmu,

Menghampiriku Bersama Tatihan Penat Kesendirian

Karena Aku,

Tiba-tiba Saja Melihat Dirimu Menghampiri Tuk Berbagi Cerita Juga Rahasia Sendu.

Ah…

Adakah Aku Tengah Berimaji?

Jika Memang Ya,

Berkehendakkah Tak Seorang Pun Membangunkan?

Agar Aku Tetap Terbuai Khayali Yang Teriakkan:

“Beranikah Aku Dengan Kesendirian?”

“Beranikah Kau Dengan Kesendirian?”

“Beranikah Aku Didekap Kelam?”

“Beranikah Kau Didekap Kelam?”

"Beranikah Manusia?"

“Beranikah Aku Juga Kau?”

# Entahlah… #

Gadis Kecil

Ada

Gadis Kecil Diseberangkan Gerimis

Ditangan Kanannya Bergoyang Payung

Tangan Kirinya Mengibaskan Tangis

Di Pinggir Padang

Ada

Pohon Dan Seekor Burung.

Dalam Bis

Langit Di Kaca Jendela Bergoyang Terarah Kemana Wajah Di Kaca Jendela Yang Dahulu Juga Mengerdil Dalam Pesona Sebermula Adalah Kata Baru Perjalanan Dari Kota Ke Kota Demikian Cepat Kita Pun Terperanjat Waktu Henti, Ia Pun Tiada.

Hatiku Selembar Daun

Hatiku Selembar Daun,

Melayang Jatuh Di Rumput.

Nanti Dulu,

Biarkan Aku Sejenak Terbaring Disini.

Ada

Yang Masih Ingin Ku Pandang,

Yang Selama Ini Senantiasa Luput.

Sesaat Adalah Abadi.

Sebelum Kau Sapu Tamanmu,

Setiap Pagi.

Ketika Jari-jari Bunga Terbuka

Ketika Jari-jari Bunga Terbuka,

Mendadak,

Terasa Betapa Sengit Cinta Kita.

Cahaya Bagai Kabut,

Kabut Cahaya.

Dilangit Menyisih Awan Hari Ini,

Di Bumi Meriap Sepi Yang Purba,

Ketika Kemarau Terasa Ke Bulu2 Mata.

Suatu Pagi,

Di Sayap Kupu2,

Di Sayap Warna.

Suara Burung Di Ranting2 Cuaca,

Bulu2 Cahaya.

Betapa Parah Cinta Kita.

Mabuk Berjalan.

Di Antara Jerit Bunga2 Rekah.

Buat…

Pasti Datangkah Semua Yang Ditunggu

Detik2 Berjajar Pada Mistar Yang Panjang

Barangkali Tanpa Salam Terlebih Dahulu

Januari Mengeras Di Tembok Itu Juga

Lalu Desember

Musim Pun Masak Sebelum Menyala Cakrawala

Tiba2 Kita Bergegas Pada Jemputan Itu

Hutan Kelabu

Hutan Kelabu Dalam Hujan

Lalu Ku Sebut Kembali Kau Pun Kekasihku

Langit Dimana Berakhir Setiap Pandangan

Bermula Kepedihan Rindu Itu

Temaram Tlah Masak Pada Ku Semata

Memutih Dari Seribu Warna

Hujan Senandung Dalam Hutan

Lalu Kelabu Mengabur Nyanyian

Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai Angin Harus Menjadi Nyiur

Mencintai Air Harus Menjadi Gemericik

Mencintai Gunung Harus Menjadi Terjal

Mencintai Api Harus Menjadi Jilat

Mencintai Cakrawala Harus Menebas Jarak

Mencintaimu Harus Menjelma Aku

Dalam Diriku

Dalam Diriku Mengalir Sungai Panjang,

Darah Namanya.

Dalam Diriku Mengenal Telaga Darah,

Sukma Namanya.

Dalam Diriku Meriap Gelombang Sukma,

Hidup Namanya.

Dan Karena Hidup Itu Indah,

Aku Menangis Sepuas-puasnya.

Nokturno

Kubiarkan Cahaya Bintang Memilikimu

Kubiarkan Angin Yang Pucat

Dan Tak Habis2nya Gelisah

Tiba2 Menjelma Isyarat Merebutmu

Entah Kapan Kau Bisa Ku Tangkap.

Hujan Bulan Juni

Tak Ada Yang Lebih Tabah Dari Hujan Bulan Juni,

Dirahasiakannya Rintik Rindu Yang Kemana Pohon Berbuah Itu.

Tak Ada Yang Lebih Bijak Dari Hujan Bulan Juni,

Dihapusnya Jejak2 Kaki Yang Ragu2 Di Jalan Itu.

Tak Ada Yang Lebih Arif Dari Hujan Bulan Juni,

Dibiarkannya Yang Tak Terucapkan Diserap Akar Pohon Bunga Itu.

Aku Ingin

Aku Ingin Mencintaimu.

Dengan Senang,

Hangat,

Dengan Kata Yang Tak Sempat Diucapkan Kayu Kepada Api,

Yang Menjadikannya Abu.

Aku Ingin Mencintaimu.

Dengan Senang,

Hangat,

Dengan Isyarat Yang Tak Sempat Disampaikan Awan Kepada Hujan,

Yang Menjadikannya Tiada.