~ Sebuah Siang Di Pusat Kota ~

Kelambu Kelabu Sendu Hinggap Di Pundak

Jakarta

.

Gegas Langkah Manusia Kota (?), Entah ‘Tuk Apa.

Bahkan Kemana,

Juga Kenapa.

Teriak Tanya Hantam Dinding Dingin Bangunan Tua,

Nan

Angkuh Serta Tolol.

Sumpah Serapah Berbabur Jadi Ludah.

Basuh Tanah,

Tak Kunjung Basah.

Malah Tontonkan Resah

Yang Tak Jua Mendesah.

Tawa

Para

Penjaga Seringai Perobek Angkasa?

Mungkin Saja.

Karena Mereka,

Sama.

Wahai Semesta…

Aku Sudah Muak Pada Kemuakkan Itu !

Aku Sudah Lelah Pada Kepenatan !

Aku Terlanjur Perih Pada Kepedihan !

Duhai Semesta…

Bilakah Aku Pulang Ke Desa?

Mendengar Angin Mengusik Batang-batang Padi,

Sebelum Senja Ditinggalkan Mentari.

Mendengar Senandung Dari Balik Jendela,

Sebelum Sunyi Mengetuk Dunia.

Duhai Semesta…

Bilakah Rumah Kecil Itu Pintu Pagarnya Terbuka?

Aku Hanya Ingin Mengajak Perempuan Itu Meninggalkan Kamarnya.

Memetik Kembang-kembang Rumput Liar

Di Pematang Di Sisi Kali.

Wahai Semesta…

Bilakah Aku Pulang Ke Desa?

Makan Dari Racikan Perempuanku Tercinta.

Lalu Bercinta Tanpa Kenal Lelah

Bangga Dengan Desah Yang Bergema

Undang

Para

Tetangga Turut Serta

Bercinta Di Lumpur Bersama Istri Mereka.

Tak Jua Lelah

Ah, Semesta…

Kapan Aku Pulang Ke Rumahku Di Desa ?!!

Aku Telah Membenci Ibu

Kota

!!!

Catatan Jumat Di Pinggir HI Yang Semakin Aneh…



No Comment

No comments yet

Leave a Reply