…Sebuah Jawaban Untuk Dua Nona…
Sejatinya, Cinta Ibu Adalah Cinta Penuh Ketulusan.
Sementara Cinta Ayah Adalah Cinta Yang Bersyarat.
Maknanya Disini Adalah Sebuah Konsekuensi Masa Muda Dari Suami Kalian Nanti.
Dan Ijinkan Aku Menguraikan Secara Serampangan Penggalan Makna Dari Cerita2 Yang Berhasil Aku Pungut. Karena Disadari Atau Tidak, Ini Mungkin Yang Akan Terjadi Nanti Saat "Dunia Kecil" Kalian Itu Mewujud.
Tanpa Bermaksud Sexist, Nyaris Tiap Ayah Pasti Punya Keinginan Untuk Menularkan, Sekali Lagi, Menularkan Atau Juga Melindungi Anak dari Terulangnya Pengalaman Masa Muda Juga Isi Kepalanya Pada Sang Anak Dengan Gaya Khas Laki2. Kata Kuncinya Disini: Menularkan Pengalaman Masa Muda, Isi Kepala Dan Dengan Sedikit Keras.
Konkritnya, Kisah Seorang Kawan Coba Kututurkan Pada Kalian.
Seorang Kawan, Memiliki Masa Muda Yang Terhitung Pahit. Ia Berasal Dari Keluarga Yang Biasa Saja Di Luar Pulau Jawa
Sana . Datang Ke Pulau Jawa Hanya Dengan Modal Semangat Mencari Ilmu Di Sebuah Universitas. Kepahitan Saat Menjadi Anak Kost, Yang Tentunya Seringkali Kekurangan Uang, Mengajarkannya Banyak Hal. Wajar Saja Jika Kemudian Kreativitas Juga Kemandirian Lahir Dalam Kisah Hidupnya. Mulai Dari Yang Pragmatis, Mengerjakan Tugas Kawan2 Yang Sedikit Malas Hingga Bekerja Serabutan. Yang
Idealis , Ia Bergabung Dengan Sebuah Organisasi Berhaluan Marxist. Proses Kreativitas Sekaligus Kemandirian Yang Lahir Dari Pengalaman Pragmatis Juga Idealis Masa Muda, Dibawa Lekat Dalam Kepalanya. Hingga Di Suatu Waktu Ia Menikah Dan Memiliki Seorang Anak Lelaki Yang Lucu. Maka Pada Anaknya Inilah, Ia Tularkan Banyak Hal. Begitu Juga Istri Kawanku Itu. Meski Beda Pengalaman Masa Muda dan Isi Kepala, Tapi Proses Transfer Tentu Tetap Terjadi.
Yang Menarik Dan Perlu Digaris Bawahi Disini Adalah:
Cara Penularan Atau Transfer Saat Anak Mereka Bertanya Tentang Sesuatu.
Maka Istri Kawanku Dengan Ringan Dan Mudahnya Langsung Memberikan Jawaban. Meski Tak Jarang Ia Dengan Tidak Mudah Memberikan Jawaban, Tapi Tetap Saja Ia Memberikan Jawaban Dengan Mudah Layaknya Kawanku. Tentunya Jawaban Istri Kawanku Itu Bergaya Khas Seorang Ibu. Langsung Menjawab Dengan Penuh Kelembutan, Kasih Sayang, Usap Dan Belaian, Atau Bincang-bincang Ringan Yang Diambil Dari Pengalaman Masa Lalunya. Karena Tak Tega Melihat Sang Anak Penasaran, Alasannya.
Sementara Kawanku, Menularkannya Dengan Cara Khas Ayah Yang Penuh Dengan Tantangan Atau Juga Test Fisik Maupun Kepala Untuk Mendapatkan Jawaban Dari Sebuah Pertanyaan. Meski Pada Akhirnya Dijawab Juga, Tapi
Ada Unsur Mengukur Pengorbanan Sang Anak Dalam Berusaha Mencari Jawaban Dengan Keras. (Ini Merupakan Konsekuensi Dari Relevansi Pengalaman Pragmatis Masa Muda Kawanku).
Hal Unik Lainnya, Kawanku Tengah Memiliki Program Untuk Me-Marxist-kan Isi Kepala Anaknya Sebagai Bekal Ideologi. Bentuknya, Jawaban2 Dari Pertanyaan Anaknya Selalu Dijawab Dengan Konsep Marxist. (Dan Ini Merupakan Konsekuensi Dari Relevansi Pengalaman Idealis Masa Muda Kawanku Itu).
Kesimpulannya, Inilah Sepenggal Makna Yang Aku Maksud Dari Pernyataan "Cinta Ibu Adalah Cinta Penuh Ketulusan. Sementara Cinta Ayah Adalah Cinta Yang Bersyarat".
Ada Ibu Yang Langsung Memberikan Jawaban Sebagai Wujud Cinta Pada Anaknya. Dan Memang Benar-benar Hanya Sebuah Jawaban Ibu Yang Ditanya Anaknya.
Ada Ayah Yang Selalu Menantang Dalam Menjawab. Atau Dengan Kata Lain, Ayah Tak Mudah Langsung Memberikan Sebuah Jawaban Pada Sang Anak. Jika Kemudian Dijawab, Bentuk Jawaban Kawanku Selalu Bersandar Pada Konsep Marxist Yang Dipahaminya Saat Muda Dulu.
Meski Banyak Contoh Lain Dari Fenomena Ini, Atau Juga, Mungkin Ini Salah Satu Fenomena Yang Telah Serampangan Aku Tangkap, Tapi Diam-Diam Cinta Tak Bersyarat Itu Terjadi. Bukan Pada Level Antar Pasangan. Tapi Pada Tingkat, Saat Seorang Anak Hadir Dalam Kehidupan Berkeluarga. Ya. Saat Seorang Anak Hadir, Cinta Bersyarat Benar-benar Hadir. Dan Biasanya Hinggap Dalam Hubungan Antara Ayah Dan Anak.
Intinya:
"Berkeluarga Bagaikan Menggenggam Dunia Kecil Di Tangan. Kau Bisa Jadikan Apa Saja Yang Kau Inginkan Pada Dunia Kecil Itu. Kau Bisa Bereksperimen Dan Berkreasi Terhadap Isi Kepala Juga Perilaku, Layaknya Ilmuwan Di Laboratorium. Karena Dunia Kecil Itu Bernama Anak."
setelah membaca tulisan diatas, kesimpulan yg gw dapet adalah: tidak semua cinta Ayah adalah cinta yang bersyarat…
Kau termakan omongan (komentar) mu sendiri,Fat…! ^_^
oh ya, satu lagi…
CINTA ITU SAMA SEKALI TIDAK BERSYARAT… CINTA ITU SUATU KETULUSAN ABADI…
Waduh… Gw Dikeroyok Nih!!! Gak Takut!!! Ha666x…
Untuk Nona Yeye Dan Anjelly: Konteks Disini Adalah Cara Seorang Ayah Yang Tidak Membiarkan Masa Lalunya Lenyap. Artinya, Biasanya Seorang Ayah Yang Mengambil Saripati Serta Filosofi Perjalanan Hidupnya Sendiri Akan Berusaha Menularkan Pada Anaknya. Jadi, Sekali Lagi, Ini Adalah Soal Cara Seorang Ayah Menularkan Masa Lalu Pada Anaknya. Contoh Kedua, Banyak Kawan2 Masa Laluku Memperkenalkan Punk Rock Pada Anak Mereka Sejak Dini. Mulai Dari Memperdengarkan Musik, Hingga Nama Anak Mereka Yang Berbau Punk. Nah, Ini Yang Aku Maksud Sebagai Cinta Bersyarat Itu. Dan Ini Adalah Soal Cinta Yang Aku Parsialkan. Bukan Keseluruhan. Dengan Kata Lain, Ini Adalah Persoalan Cinta Dengan Huruf C Kecil. Sementara, Cinta Keseluruhan Atau Cinta Dengan Huruf C Besar Hanyalah Soal Memberi Dan Bukan Menerima.
Go…gooo
Bener Bro.. cinta itu tidak bersyarat!
pernah membaca kutipan artikel tenteng ” Ayah juga LUPA??” ?
di tulis oleh jurnalis terkenal Amerika, W Livingstone L.
Dengar Nak; Ayah mengatakan ini saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yg keriting, pirang lengket pada dahimu yg lembap. Ayah menyelinap masuk seorg diri kekamarmu. baru beberapa menit yg lalu, ketika ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yg amat dlm menerpa. dengan perasaan bersalah ayah datang masuk menghampiri pembaringan mu. ada hal2 yg ayah pikirkan, Nak; ayah selama ini bersikap kasar kepada mu. ayah membantakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena engkau hanya menyeka mukamu sekilas dgn handuk. lalu meliat kau tidak membersihkan sepatumu. ayah berteriak marah tak kala kau melempar barang2mu kelantai. sangat memakan pagi ayah juga menemuka kesalahan kau meludahkan makannanmu. kau meletakkan sikumu di atas meja. kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. dan begitu kau mulai bermain dan ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambai tangan sambil berseru, “selamat jalan, Ayah!” dan ayah mengerutkan dahi lalu menjawab ” tegakkan bahumu!!” kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. begitu ayah muncul dr jln, ayah segara mengamatimu dgn cermat, Ayah memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. kaos kaki mahal — dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati hati! bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!
Apakah kau ingat, nantinya, ketika ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? ketika ayah terus memandang koran, tidak sabar karna gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. “Kau mau apa?” semprot ayah. kau tidak berkata sepatahpun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah ayah kau melemparkan tanganmu melingkari leher saya dan mencium ayah, tangan-tanganmu yg kecil semakin erat memeluk dangan hangat, kehangatan yg telah tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yg bahkan pengabaian sekalipun tidak akan mampu melemahkannya. dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.
Nah, Nak, Sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan ayah, dan satu rasa takut yg menyakitkan menerpa ayah. kebiasaan apa yg sudah ayah lakukan? kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca — ini adalah hadiah ayah untukmu sebagai anak laki-laki. bukan berarti ayah tidak mencintaimu; Ayah melakukan ini karna ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun tahun ayah sendiri.
Dan sebenarnya begitu banyak hal yg baik dan benar dalam sifatmu. Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yg memayungi bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap sepontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ketepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!
Ini adalah sebuah rasa tobat yg lemah; Ayah tau kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. tapi esok hari ayah akan menjadi ayah sejati! ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan ikut tertawa bila kau tertawa. ayah akan menggigit lidah ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut ayah. ayah terus mengucapkan kata ini seolah-olah sebuah ritual: “Dia hanya seorang anak kecil — anak laki-laki kecil!”.
Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. namun, saat ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam tempat tidurmu, ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.
ini kutipan dari artikel itu, jd sebagai seorang ayah belajarlah mengerti, jgn terlalu bnyk menuntuk, mengeritik,mencerca atau pun mengeluh..
itu aja Bro komentar dr gw. salam
dewi