…Saat Aku Tengah Dibekap Sensitif…
Ini Adalah Sekian Kalinya Kata-kata Tergurat Untukmu. Setelah Sebelumnya, Aku Menyesapi Tiap Nada Dari Kisah Yang Terlontar Dari Lisan Juga Abjad Yang Kau Pahat. Anehnya, Tak Bosan-bosannya Aku Melakukan Ini. Menjadi Bertambah Aneh Saat Sedih, Perih Juga Pedih Menghampiriku Tiba-tiba. Semuanya Larut. Saat Aku Diam-diam “Menyadari”, Bahwa Hati Dari Masa Lalumu Itu Masih Mendekam Di Kepala Bahkan Hatimu. Maaf Jika Aku Menangkap Kesan Bahwa Kau Belum Bisa Menjadikannya Benar-benar Hanya Sebuah Kisah Dari Masa Lalu. Maafkan Aku Jika Aku Merasakan Bahwa Kini Kau Hanya Ingin Berbicara Soal:
“ Bagaimana Membalas Apa Yang Kau Rasakan Di Masa Lalu, Karena Kini Kau Tengah Diatas Angin Bersama Kebahagiaanmu. “
“ Bagaimana Membuatnya Tersungkur Bahkan Membuat Dirinya Mati Untuk Membalaskan Kesumat Yang Dibuatnya. “
Intinya, Dendam Itu Masih Membara Di Hatimu. Dengan Kata Lain, Hati Dari Masa Lalumu Itu Masih Menggetarkan Hati Juga Kepalamu.
Tahukah Kau?
Bahwa Seorang Bijak Menyebut Ini Sebagai Sebuah Ideologi. Dan Ideologi Yang Kau Biarkan Berhasil Menyusup Masuk Itu, Bisa Sangat Merusak Bahkan Menghancurkan. Tentunya Jika Tidak Segera Disadari Dengan Sebuah Kesadaran Penuh.
Wajar Saja Jika Kemudian Pertanyaan Meletup-letup.
“ Berhargakah Jika Aku Menunggu, Jika Kemudian Nanti, Permainan Itu Melibatkan Bahkan Bisa Saja Menghancurkan “Mimpi Kita” Yang Tengah Dibangun?. “
Memang, Itu Konsekuensi Dari Resiko Yang Harus Aku Ambil.
Tapi Aku, Ya, Aku, Kini Bukan Dalam Masa Bermain. Masaku Kini Adalah Memilih.
Memilih Dimana Aku Melabuhkan Ombak Hati Ini Dan Kepada Pantai Siapa. Dan Aku Pun Telah Memilih Kau.
Tapi, Entah Dengan Kau. Mungkin Kau Masih Ingin Sebebas Angin Juga Ombak. Mungkin Kau Masih Ingin Menjadi Apa Yang Ingin Kau Ingin Menjadi. Mungkin Kau Memang Masih Ingin Bermain2 Dengan Dendammu Yang Berkarat Itu. Mungkin Kau Memang Masih, Juga Belum Bisa Melupakan Hati Masa Lalumu Dan Berharap, Ia Berubah.
Untuk Kemudian , Ia Kembali Dan Menjadi Lebih Baik Dari Sebelumnya. Mungkin…
Ah, Memang Banyak Kemungkinan Disana. Dan Aku Enggan Menduganya.
Aku Pun Teringat Pada Suatu Masa Juga Kata. Masa Dimana Aku “ Masih Belum Bisa Melupakan Hati Masa Laluku ". Saat Itu, Kita Berseteru Usai Bertemu Seorang Kawan Tuk Pertama Kali. Kau Masih Ingat Bukan?. Perbincangan Di Tempat Biasa Kita Bertemu Itu? Dan Di Tempat Biasa Kita Bertemu Itu, Hati Dari Masa Lalumu Itu Bahkan Sempat Membuat Perseteruan Curang Denganku. Dan Berakhir Dengan: Lebam Juga Dendam. Kau Masih Ingat Itu, Bukan?
Saat Itu Aku Tak Sengaja Dianggap Telah Menyinggung Tentang Hati Masa Laluku. Kau Pun Cemburu. Cemburumu Karena Asumsi: Aku Belum Bisa Menjadikan Hati Masa Laluku Itu Sebagai Hanya Sebuah Kisah Dari Masa Lalu. Dan Kau Kembali Berasumsi, Aku Telah Jadikan Kau Sebagai Pelarianku Saja. Dan Aku Pun Marah Padamu.
Marah Karena Realitasnya Kini Adalah:
“ Aku Telah Bersamamu Dan Benar2 Hendak Membangun "Rumah Mungil" Bernama Keluarga Bersamamu. “
Mendiplomasikannya Pada Ayah Serta Bundaku Jadi Buktinya.
Tentunya Aku Telah Benar2 Melupakan Hati Masa Laluku Itu.
Dan Kini, Keadaan Seperti Berbalik.
Haruskah Aku Marah?
Aku Pikir Tidak. Karena Hati Dari Masa Lalumu Itu Dan Juga Kau, Tidak Pantas Mendapat Amarahku.
Haruskah Aku Berlaku Sama, Yaitu Cemburu?.
Aku Pikir Tidak. Karena Hati Dari Masa Lalumu Itu Tidak Pantas Mendapat Kecemburuanku.
Semuanya Karena Persoalan, Setara Tidaknya Manusia Yang Patut Aku Cemburui. Semuanya Karena Persoalan, Siapa Manusia Yang Patut Juga Tepat Menerima Amarahku. Semuanya Karena, Hati Dari Masa Lalumu Itu Tak Sebanding Dengan Apapun Dariku.
Ya. Kau Boleh Memanggilku Arogan. Tapi Semesta Memang Akan Menjadi Arogan Saat Membalas Siapapun Yang Telah Menyakitinya.
Dan Aku Membalasnya Dengan Diam Pada Hati Dari Masa Lalumu Itu. Aku Membalas Hati Dari Masa Lalumu Itu, Dengan Tidak Menganggap Keberadaan Dari Eksistensinya. Aku Membalas Hati Dari Masa Lalumu Itu Dengan Menghapus Identitasnya Dari Kepalaku Bahkan Hidupku. Intinya, Aku Membalasnya Dengan Menyerang Langsung Kemanusiaan Paling Mendasar Dari Manusia. Karena Kemanusiaan Paling Mendasar Dari Manusia, Memang Hanya Persoalan Tentang Pengakuan Identitas Dari Eksistensinya.
Lalu Apa?. Haruskah Aku Adil Jika Kemudian Kini Kau Berlaku Tidak Adil Padaku?
Haruskah Aku Menantimu?
Ada Dan Apakah Jaminannya Bahwa Kau Tak Menyakiti Hatiku Nanti?
Atau, Jangan-jangan "Rumah Mungil" Itu Harus Di Pending Hingga Kau Sudah Membawa Kemenangan Dari Pertarunganmu?
Aku Pun Tak Tahu Jawabannya.
Sungguh Aku Tak Tahu Jawaban Itu.
Aku Persilahkan Kau Memilih Sekaligus Menjawabnya.
Maafkan Aku, Kekasihku Jika Sedih, Perih Juga Pedih Menghantamku…
Aku Menyayangimu…
-Kekasihmu-
Ya. Kau Boleh Memanggilku Arogan. Tapi Semesta Memang Akan Menjadi Arogan Saat Membalas Siapapun Yang Telah Menyakitinya.
(dikutip dari tulisan diatas!!!)
Wah kayaknya seru nih…. Lempar piring dong… duar..duar… mungkin bukan hak gw campurin ini semua. tapi inget, mbak, mas, ada sesuatu yang indah menunggu kalian di depan. heheheheheh… Sok tau gw ya?
iya,Ga!!!
lo sok tau!!
Banget!!!
hahahaha…
Btw, pengen sih gw ngelempar piring seperti saran lo diatas…tapi gw maunya piring kontrakan…boleh gak??