Archive for June, 2006

~ Sebuah Siang Di Pusat Kota ~

Kelambu Kelabu Sendu Hinggap Di Pundak

Jakarta

.

Gegas Langkah Manusia Kota (?), Entah ‘Tuk Apa.

Bahkan Kemana,

Juga Kenapa.

Teriak Tanya Hantam Dinding Dingin Bangunan Tua,

Nan

Angkuh Serta Tolol.

Sumpah Serapah Berbabur Jadi Ludah.

Basuh Tanah,

Tak Kunjung Basah.

Malah Tontonkan Resah

Yang Tak Jua Mendesah.

Tawa

Para

Penjaga Seringai Perobek Angkasa?

Mungkin Saja.

Karena Mereka,

Sama.

Wahai Semesta…

Aku Sudah Muak Pada Kemuakkan Itu !

Aku Sudah Lelah Pada Kepenatan !

Aku Terlanjur Perih Pada Kepedihan !

Duhai Semesta…

Bilakah Aku Pulang Ke Desa?

Mendengar Angin Mengusik Batang-batang Padi,

Sebelum Senja Ditinggalkan Mentari.

Mendengar Senandung Dari Balik Jendela,

Sebelum Sunyi Mengetuk Dunia.

Duhai Semesta…

Bilakah Rumah Kecil Itu Pintu Pagarnya Terbuka?

Aku Hanya Ingin Mengajak Perempuan Itu Meninggalkan Kamarnya.

Memetik Kembang-kembang Rumput Liar

Di Pematang Di Sisi Kali.

Wahai Semesta…

Bilakah Aku Pulang Ke Desa?

Makan Dari Racikan Perempuanku Tercinta.

Lalu Bercinta Tanpa Kenal Lelah

Bangga Dengan Desah Yang Bergema

Undang

Para

Tetangga Turut Serta

Bercinta Di Lumpur Bersama Istri Mereka.

Tak Jua Lelah

Ah, Semesta…

Kapan Aku Pulang Ke Rumahku Di Desa ?!!

Aku Telah Membenci Ibu

Kota

!!!

Catatan Jumat Di Pinggir HI Yang Semakin Aneh…

!!! PURITAN (Untuk Milisi2 Agama Tai Anjing Di Indonesia) !!!

Adalah bagaimana manusia menyebut nama tuhannya : “tebas lehernya dahulu baru beri dia kesempatan untuk bertanya”

Pastikan setiap tema legitimasi agama seperti hak cipta

Supaya dapat kucuci seluruh kesucianmu dengan sperma

Persetan dengan Surga® sejak parameter pahala

Diukur dengan seberapa banyak kepala yang kau pisahkan dengan nyawa

Kini leherku-lah yang membuat golokmu tertawa

Target operasi di antara segudang fasis seperti FBR di Karbala

Karena aku adalah libido amarahmu yang terangsang dalam genangan darah

Selangkangan Shanty jika kau menyebut parang bagian dari dakwah

Melahap dunia menjadi pertandingan sepakbola

Penuh suporter yang siap membunuh jika papan skor tak sesuai selera

Para

manusia-unggul warisan Pekan Orientasi Mahasiswa

Paranoia statistika agama, wacana-phobia ala F.A.K

B-A-K-I-N tak pernah bubar, mewujud dalam nafas kultural

Persis wakil parlemen yang kau coblos dan kau tuntut bubar

Partai bisa ular, belukar liberal

Gengis Khan mana yang coba definisikan moral

Persetankan argumentasi membakar bara masalah

Dengan kunci pembuka anti dialektika komprehensi satu bahasa

Instruksi air raksa mereduksi puisi hingga level yang paling fatal

Kehilangan amunisi, sakral adalah ambisi

Wadal modernisasi, program labelisasi Abu Jahal

Distopia yang tak pernah sabar untuk menuai badai

Untuk setiap kebenaran dan keagungan yang kau bela dengan dakwah dan membuat orang lain mati bersamamu

Untuk setiap ide yang kalian berangus atas nama surga yang kalian halalkan

Fuck You!!!

Aku bersumpah untuk setiap jengkal markas yang kalian anggap layak bongkar

Dan setiap buku yang nampak lebih berguna jika terbakar

Jika setiap hal harus bergerak dalam alurmu yang sakral

Sampai api terakhir pun, neraka bertukar tempat dengan aspal

Batalyon pembenci Gommorah sucikan dunia dengan darah

Menipiskan batas antara kotbah dengan gundukan sampah

Jika membaca Albert Camus menjadi alasan badan-leher terpisah

Lawan api dengan api dan biarkan semua rata dengan tanah

Lubang tai sejarah, memang dunia adalah

Kakus raksasa nikahi bongkah kranium kerdil berpinak ludah

Jika idealisme-mu tawaran untuk mengundang surga mampir

Berikan bendera dan seragammu,

kan

kubakar sampai arang terakhir

Seratus kali lebih dangkal dari kolom Atang Ruswita

Seribu kali lebih busuk dari tajuk majalah Garda

Untuk semua idiot yang berfikir semua ide dapat berakhir diperapian

Tak ada dunia yang begitu mudah untuk kalian hitamputihkan

Mendukung keagungan layak Heidegger mendukung Nazi

Propaganda basi, wahyu surgawi dengan bau tengik terasi

Jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap

Maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap

Yo, fasis yang baik adalah fasis yang mati!

Fasis yang baik adalah fasis yang mati!

Fasis yang baik adalah fasis yang mati!

Tunggu di ujung jalan yang sama saat kalian mengancam kami!

Ku untung karena merasa bukan

Dengan atau tanpa label agama, fasis tetaplah fasis!

Begitu seragam pada nisan yang mereka salin

Pastikan semua berakhir hingga langit menghitam!

!!! BOOMBOX MONGER !!!

Jika konsumen adalah raja maka industri adalah Kasparov

Dan setiap vanguard lapangan tak lebih Lenin dari Ulyanov

Mencari poros molotov

Yang tak lebih busuk dari kritik kapitalisme George Soros

Senyawa dari nyawa kreator dan sendawa para insureksionis berkosmos

Ruang diluar buruh dan boss, dan kertas Pemilu yang kau coblos

Dimana komrad ku mengganti logos dan kamus dengan batu Sisifus

Memutus selang infus negara dan institusi sampai mampus

Pada lahan bertendensi kooptasi Sony dan empty-V dan para radio penyedot phallus

Fasis bertitah ‘harus’, mengayunkan pedang pada sayap setiap Ikarus

Dengan hirarki dalam modus operandi layak Kopassus

Microphone bagi kami adalah pemisah kalam dengan pembebasan yang mengkhianati

Milisi tanpa seragam koloni, hiphop philantrophy seperti Upski

Resureksi boombox yang sama pada Madison Park awal delapan puluhan

Membawa ribuan playlist dari

Chiapas

, Kosovo dan Jalur Gaza

Seattle

dan Praha, Checnya,

Genoa

, Yerusalem, Dili dan

Tripoli

Untuk api militansi aktivisme yang meredup pasca molotov terakhir terlempar di Semanggi

Obituari pada lini terdepan milisi pada garis batas demarkasi

Jelaga resistansi lulabi penghitam langit tanpa teritori

Logika tanpa kuasa perwakilan yang layak dikremasi

Ketika senjata bermediasi, ketika ekonomi dan valas berubah sosok menjadi tirani

Jelajahi setiap kemungkinan dengan kain kafan modernisasi

P

rosa

beraliansi dengan

Dekonstruksi surga-neraka rakitan, militansi tanpa puritan

Verbal Homicide, Rock-Steady Bakunin, MC Klandestin

Pada peta sirkuit boombox para B-boy kami adalah Fretilin dalam kacamata Bakin /

Makhnovist yang melukis realisme sosialis diatas kanvas Dada

Post-Mortem Hip-Hop takkan pernah berkaca bersama

Fukuyama

Dialektika kami tanpa radio dan visualisasi anti-HBO

Tanpa agenda politik partai yang membuat Mussolini membantai D’Annunzio

Juga korporasi multinasional yang menjadikanmu lubang senggama

Kooptasi kultur tandingan yang berunding dalam gedung parlemen Partai Komunis Cina

Yang mereproduksi Walter Benjamin ke tangan setiap seniman Keynesian

Yang mensponsori festival insureksi dengan molotov cap Proletarian®

Instruksi harian dalam mekanisme kontrol pergulatan menuju amnesia

Lupakan Colombus, karena Bush dan Nike® telah menemukan Amerika®

Inkuisisi mikrofonik dalam kuasa estetika

Yang merevolusikan pola konsumsi menjadi intelektualisme organik seperti Gramsci

Ekonomi membuat kami mendefinisikan otonomi pada mesin foto kopi

Rima anti-otoritarian memandikan bangkai Hiphop® yang tak pernah kau otopsi

Membaca peta kekuasaan seperti KRS-ONE dan MC Shan

Sambil meludahi modernitas seperti Foucault diatas neraka Panopticon

Ketika Moralitas® telah berubah menjadi candu seperti Marxisme® dan Agama®

Maka MC mengambil mikrofon dan melahirkan tragedi dari puncak

Valhalla

Karena Ardan® dan kalian hanya akan melahirkan kombinasi busuk seperti Iwan

Dan Djody, dikotomi antara Farakhan, Amrozy, dan Nazi

Bongkar paksa setiap parodi labirin eforia sensasional Harry Roesli

B-boy semiotika artifak simultan antara ekstasi dan revolusi

Setiap properti privat adalah galeri dan merubah eksistensi

Menjadi pertahanan paling ofensif para Darwinis yang menolak menjadi partisan /

!!! SEMIOTIKA RAJATEGA (Untuk Para Pemimpin Bangsa Keparat Ini) !!!

MC hari ini lebih banyak memakai topeng dari Zapatista

Hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin logika

Bicara tentang skill dan kompetisi, mengobral sompral

Jatuh setelah berkoar, lari dengan ujung kontol terbakar

MC butuh federasi dan breakbeats berdasi

Untuk sekantung wacana basi dan eksistensi

MC Tampon, mencoba membuat mall menjadi

Saigon

Amunisi tanpa kanon, mucikari martir yang gagal mencari bondon

Sarat kritik, kosong esensi seperti kotbah kyai Golkar

Bongkar essay kacangan lulabi usang pasca makar

Gelora manuver rima Kahar Muzakar

Tak akan pernah dapat menyentuh beat pembebasan B-Boy Ali Asghar

Hiphop chauvinis, kontol kalian bau amis, memang tak akan pernah habis

Persis duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis

Krisis identitas, menyebut teman nongkrongnya ‘niggaz’

Sebut dan diss nama kami, kubuat bacot kalian karam seperti Tampomas

Berusaha setengah mati menjadi negasi

Berlindung dibelakang pembenaran interpretasi, buang basa-basi

Mengobarkan kebanggaan dengan microphone terseret

Tak sabar menunggu saat monumental kalian berduet dengan Eurrico Guterrez /

Ternyata rencana invasimu lebih meleset dari konsepsi

Dan prediksi partai marxist akan kematian borjuasi

Melemparkan invitasi MC pada setiap rima

Dan Homicide masih mendominasi sensus kematian populasi akibat rajasinga

MC adalah negara yang membuat  kontradiksi tak pernah final

Tanpa menifestasi yang sesubstansial gerilyawan maoist di

Nepal

Lirikal neoliberal, yang memaksa indeks lirikmu turun drastis

Dan terlihat lebih dungu dari logika formal, terlalu tipikal

Dan masih jauh dibawah horizon minimal

Memiliki nasib yang sama dengan PSSI dalam kancah internasional

Hadirkan konfrontasi maka MC lari mencari pengacara

Dan mengakhiri argumen dengan histeria seperti Yudhistira tanpa hak cipta

Jangan berharap unggul dengan skill bualan ala TV Media

Yang membuat kau dan Iwa tersungkur dalam satu kriteria

///Representasi yang membuatmu nampak seperti fatamorgana

Membuat setiap microphone battle berakhir dengan wajah yang sama

Persetan dengan persatuan, hiphop hanya memiliki empat unsur

Dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur /

Memang memuakkan melayani diplomasi scene lawakan

Tapi pasti kalian dapatkan jika kalian menginginkan konflik atas nama kebanggaan

Bidani bacot murahan tentang imortalitas hiphop seperti liang dubur

Pahlawan kesiangan yang membuat lagu lama konservatif keluar liang kubur

Karena aku adalah seorang kapiten neraka

Mematahkan pedang panjang para lokalis duplikat dan plagiat para Wu-Tang

Arwah objek kritik lapuk layak sosialisme ilmiah

Kalian ancam kami dengan lulabi akidah

Paku dalam bingkai kaca keagungan moralitas, persetan kuantitas

Kematian memang identitas yang tak perlu imortalitas

Label adalah reduksi, komoditas residu industri

Kultural hegemoni, membidani oponen dalam posisi

Prosa pramudya yang bukan Ananta Toer

Mengepal jemari meski dengan batas teritori yang terkubur

Memenej kalbu tanpa retorika Aa Gymnastiar

Menembus urat nadi distribusi tanpa harus membuat izinku terdaftar

MC menabur bensin dan tak pernah punya nyali menyalakan korek

Membacot dibelakang punggung lebih parah dari CekNRicek

[] MC Yang sama petantang-petenteng

Sekarang membawa aikon biz lebih banyak daripada anggota Slank

Kalian para martir hiphop, patriot tai kucing

Yang membela lubang pantat logika dengan darah

Siapkan microphone kalian dan siapkan untuk menutup lubang tai sejarah

Dan bagi kalian yang menginterpretasikan lagu ini untuk kalian…

Lebok tah Anjing! []

…Sebuah Jawaban Untuk Dua Nona…

Sejatinya, Cinta Ibu Adalah Cinta Penuh Ketulusan.

Sementara Cinta Ayah Adalah Cinta Yang Bersyarat.

Maknanya Disini Adalah Sebuah Konsekuensi Masa Muda Dari Suami Kalian Nanti.

Dan Ijinkan Aku Menguraikan Secara Serampangan Penggalan Makna Dari Cerita2 Yang Berhasil Aku Pungut. Karena Disadari Atau Tidak, Ini Mungkin Yang Akan Terjadi Nanti Saat "Dunia Kecil" Kalian Itu Mewujud.

Tanpa Bermaksud Sexist, Nyaris Tiap Ayah Pasti Punya Keinginan Untuk Menularkan, Sekali Lagi, Menularkan Atau Juga Melindungi Anak dari Terulangnya Pengalaman Masa Muda Juga Isi Kepalanya Pada Sang Anak Dengan Gaya Khas Laki2. Kata Kuncinya Disini: Menularkan Pengalaman Masa Muda, Isi Kepala Dan Dengan Sedikit Keras.

Konkritnya, Kisah Seorang Kawan Coba Kututurkan Pada Kalian.

Seorang Kawan, Memiliki Masa Muda Yang Terhitung Pahit. Ia Berasal Dari Keluarga Yang Biasa Saja Di Luar Pulau Jawa

Sana

. Datang Ke Pulau Jawa Hanya Dengan Modal Semangat Mencari Ilmu Di Sebuah Universitas. Kepahitan Saat Menjadi Anak Kost, Yang Tentunya Seringkali Kekurangan Uang, Mengajarkannya Banyak Hal. Wajar Saja Jika Kemudian Kreativitas Juga Kemandirian Lahir Dalam Kisah Hidupnya. Mulai Dari Yang Pragmatis, Mengerjakan Tugas Kawan2 Yang Sedikit Malas Hingga Bekerja Serabutan. Yang

Idealis

,

Ia

Bergabung Dengan Sebuah Organisasi Berhaluan Marxist. Proses Kreativitas Sekaligus Kemandirian Yang Lahir Dari Pengalaman Pragmatis Juga Idealis Masa Muda, Dibawa Lekat Dalam Kepalanya. Hingga Di Suatu Waktu Ia Menikah Dan Memiliki Seorang Anak Lelaki Yang Lucu. Maka Pada Anaknya Inilah, Ia Tularkan Banyak Hal. Begitu Juga Istri Kawanku Itu. Meski Beda Pengalaman Masa Muda dan Isi Kepala, Tapi Proses Transfer Tentu Tetap Terjadi.

Yang Menarik Dan Perlu Digaris Bawahi Disini Adalah:

Cara Penularan Atau Transfer Saat Anak Mereka Bertanya Tentang Sesuatu.

Maka Istri Kawanku Dengan Ringan Dan Mudahnya Langsung Memberikan Jawaban. Meski Tak Jarang Ia Dengan Tidak Mudah Memberikan Jawaban, Tapi Tetap Saja Ia Memberikan Jawaban Dengan Mudah Layaknya Kawanku. Tentunya Jawaban Istri Kawanku Itu Bergaya Khas Seorang Ibu. Langsung Menjawab Dengan Penuh Kelembutan, Kasih Sayang, Usap Dan Belaian, Atau Bincang-bincang Ringan Yang Diambil Dari Pengalaman Masa Lalunya. Karena Tak Tega Melihat Sang Anak Penasaran, Alasannya.

Sementara Kawanku, Menularkannya Dengan Cara Khas Ayah Yang Penuh Dengan Tantangan Atau Juga Test Fisik Maupun Kepala Untuk Mendapatkan Jawaban Dari Sebuah Pertanyaan. Meski Pada Akhirnya Dijawab Juga, Tapi

Ada

Unsur Mengukur Pengorbanan Sang Anak Dalam Berusaha Mencari Jawaban Dengan Keras. (Ini Merupakan Konsekuensi Dari Relevansi Pengalaman Pragmatis Masa Muda Kawanku).

Hal Unik Lainnya, Kawanku Tengah Memiliki Program Untuk Me-Marxist-kan Isi Kepala Anaknya Sebagai Bekal Ideologi. Bentuknya, Jawaban2 Dari Pertanyaan Anaknya Selalu Dijawab Dengan Konsep Marxist. (Dan Ini Merupakan Konsekuensi Dari Relevansi Pengalaman Idealis Masa Muda Kawanku Itu).

Kesimpulannya, Inilah Sepenggal Makna Yang Aku Maksud Dari Pernyataan "Cinta Ibu Adalah Cinta Penuh Ketulusan. Sementara Cinta Ayah Adalah Cinta Yang Bersyarat".

Ada

Ibu Yang Langsung Memberikan Jawaban Sebagai Wujud Cinta Pada Anaknya. Dan Memang Benar-benar Hanya Sebuah Jawaban Ibu Yang Ditanya Anaknya.

Ada Ayah Yang Selalu Menantang Dalam Menjawab. Atau Dengan Kata Lain, Ayah Tak Mudah Langsung Memberikan Sebuah Jawaban Pada Sang Anak. Jika Kemudian Dijawab, Bentuk Jawaban Kawanku Selalu Bersandar Pada Konsep Marxist Yang Dipahaminya Saat Muda Dulu.

Meski Banyak Contoh Lain Dari Fenomena Ini, Atau Juga, Mungkin Ini Salah Satu Fenomena Yang Telah Serampangan Aku Tangkap, Tapi Diam-Diam Cinta Tak Bersyarat Itu Terjadi. Bukan Pada Level Antar Pasangan. Tapi Pada Tingkat, Saat Seorang Anak Hadir Dalam Kehidupan Berkeluarga. Ya. Saat Seorang Anak Hadir, Cinta Bersyarat Benar-benar Hadir. Dan Biasanya Hinggap Dalam Hubungan Antara Ayah Dan Anak.

Intinya:

"Berkeluarga Bagaikan Menggenggam Dunia Kecil Di Tangan. Kau Bisa Jadikan Apa Saja Yang Kau Inginkan Pada Dunia Kecil Itu. Kau Bisa Bereksperimen Dan Berkreasi Terhadap Isi Kepala Juga Perilaku, Layaknya Ilmuwan Di Laboratorium. Karena Dunia Kecil Itu Bernama Anak."

SURAT AYAH DARI JOGJA…..

Hai cinta ayah……

apa kabar kalian? kalian pasti main terus ya? kejar-kejaran kesana-kemari repotin bunda yang nyuapin mamam kalian

Hai sayang ayah…..

disini banyak sekali ayah melihat anak-anak seperti kalian yang terluka kepalanya biasanya kepala mereka di perban seperti juga anak temen ayah yang masih bayi jadi ‘pitakan’ karena tertimpa kayu….

ada lagi yang patah kaki atau tangan terpaksa di gips, tidak bisa bergerak banyak dan tak bisa sekolah

Sayang Ayah…..

perasaan ayah pilu sekali sekarang disini banyak juga anak-anak yang kehilangan ayah atau bundanya juga ada yang kehilangan keduanya….

bahkan kemarin ada anak yang jadi sebatang kara karena selain ayah dan bunda….

adiknyapun meninggal karena gempa hampir sekeluarga mereka jadi korban duh….

perasaan ayah tak menentu saat itu …..

Sayang Ayah…..

orang-orang disini banyak yang tak punya rumah mereka tinggal di tenda-tenda darurat ( itu kalau sudah kebagian ) dengan makan seadanya ( lebih sering makan mie instan daripada nasi ) Ada juga yang terpaksa harus di Rumah Sakit walau tak sedikit yang terluka dan tetap di tenda setelah kakinya yang bolong kena paku dan ketiban besi dijahit pak dokter lapangan

Sayang…..

do’akan mereka ya…..

agar hati mereka mengkristal bagai pualam makin bersinar meski dijatuhkan dilumpur kotor seperti juga karang dilautan yang tetap kokoh meski dihantam ombak menggulung geram

Sayang…..

kalau kalian jadi pemimpin kelak ayah do’akan kalian selalu jadi orang pertama yang selalu berada disamping mereka yang membutuhkan yang kesusahan seperti mereka sekarang Jangan kayak model pejabat yang suka pamer sumbangan dan pinter kasih janji-janji juga acara seremonial agar dipotret para wartawan tersenyum senang karena wajahnya masuk tv padahal masih banyak yang kesusahan masih banyak yang merintih….kelaparan mengerang sedih di kegelapan diantara tenda yang kehujanan

Jadilah pemimpin nak…..

yang hati dan jiwanya ada juga dibenak rakyatnya sepenuhnya terpatri indah di lubuk mereka karena memang kalian berikan seutuh-utuhnya cinta dan pengorbanan……….

…Saat Aku Tengah Dibekap Sensitif…

Ini Adalah Sekian Kalinya Kata-kata Tergurat Untukmu. Setelah Sebelumnya, Aku Menyesapi Tiap Nada Dari Kisah Yang Terlontar Dari Lisan Juga Abjad Yang Kau Pahat. Anehnya, Tak Bosan-bosannya Aku Melakukan Ini. Menjadi Bertambah Aneh Saat Sedih, Perih Juga Pedih Menghampiriku Tiba-tiba. Semuanya Larut. Saat Aku Diam-diam “Menyadari”, Bahwa Hati Dari Masa Lalumu Itu Masih Mendekam Di Kepala Bahkan Hatimu. Maaf Jika Aku Menangkap Kesan Bahwa Kau Belum Bisa Menjadikannya Benar-benar Hanya Sebuah Kisah Dari Masa Lalu. Maafkan Aku Jika Aku Merasakan Bahwa Kini Kau Hanya Ingin Berbicara Soal:

“ Bagaimana Membalas Apa Yang Kau Rasakan Di Masa Lalu, Karena Kini Kau Tengah Diatas Angin Bersama Kebahagiaanmu. “

“ Bagaimana Membuatnya Tersungkur Bahkan Membuat Dirinya Mati Untuk Membalaskan Kesumat Yang Dibuatnya. “

Intinya, Dendam Itu Masih Membara Di Hatimu. Dengan Kata Lain, Hati Dari Masa Lalumu Itu Masih Menggetarkan Hati Juga Kepalamu.

Tahukah Kau?

Bahwa Seorang Bijak Menyebut Ini Sebagai Sebuah Ideologi. Dan Ideologi Yang Kau Biarkan Berhasil Menyusup Masuk Itu, Bisa Sangat Merusak Bahkan Menghancurkan. Tentunya Jika Tidak Segera Disadari Dengan Sebuah Kesadaran Penuh.

Wajar Saja Jika Kemudian Pertanyaan Meletup-letup.

“ Berhargakah Jika Aku Menunggu, Jika Kemudian Nanti, Permainan Itu Melibatkan Bahkan Bisa Saja Menghancurkan “Mimpi Kita” Yang Tengah Dibangun?. “

Memang, Itu Konsekuensi Dari Resiko Yang Harus Aku Ambil.

Tapi Aku, Ya, Aku, Kini Bukan Dalam Masa Bermain. Masaku Kini Adalah Memilih.

Memilih Dimana Aku Melabuhkan Ombak Hati Ini Dan Kepada Pantai Siapa. Dan Aku Pun Telah Memilih Kau.

Tapi, Entah Dengan Kau. Mungkin Kau Masih Ingin Sebebas Angin Juga Ombak. Mungkin Kau Masih Ingin Menjadi Apa Yang Ingin Kau Ingin Menjadi. Mungkin Kau Memang Masih Ingin Bermain2 Dengan Dendammu Yang Berkarat Itu. Mungkin Kau Memang Masih, Juga Belum Bisa Melupakan Hati Masa Lalumu Dan Berharap, Ia Berubah.

Untuk Kemudian

,

Ia

Kembali Dan Menjadi Lebih Baik Dari Sebelumnya. Mungkin…

Ah, Memang Banyak Kemungkinan Disana. Dan Aku Enggan Menduganya.

Aku Pun Teringat Pada Suatu Masa Juga Kata. Masa Dimana Aku “ Masih Belum Bisa Melupakan Hati Masa Laluku ". Saat Itu, Kita Berseteru Usai Bertemu Seorang Kawan Tuk Pertama Kali. Kau Masih Ingat Bukan?. Perbincangan Di Tempat Biasa Kita Bertemu Itu? Dan Di Tempat Biasa Kita Bertemu Itu, Hati Dari Masa Lalumu Itu Bahkan Sempat Membuat Perseteruan Curang Denganku. Dan Berakhir Dengan: Lebam Juga Dendam. Kau Masih Ingat Itu, Bukan?

Saat Itu Aku Tak Sengaja Dianggap Telah Menyinggung Tentang Hati Masa Laluku. Kau Pun Cemburu. Cemburumu Karena Asumsi: Aku Belum Bisa Menjadikan Hati Masa Laluku Itu Sebagai Hanya Sebuah Kisah Dari Masa Lalu. Dan Kau Kembali Berasumsi, Aku Telah Jadikan Kau Sebagai Pelarianku Saja. Dan Aku Pun Marah Padamu.

Marah Karena Realitasnya Kini Adalah:

“ Aku Telah Bersamamu Dan Benar2 Hendak Membangun "Rumah Mungil" Bernama Keluarga Bersamamu. “

Mendiplomasikannya Pada Ayah Serta Bundaku Jadi Buktinya.

Tentunya Aku Telah Benar2 Melupakan Hati Masa Laluku Itu.

Dan Kini, Keadaan Seperti Berbalik.

Haruskah Aku Marah?

Aku Pikir Tidak. Karena Hati Dari Masa Lalumu Itu Dan Juga Kau, Tidak Pantas Mendapat Amarahku.

Haruskah Aku Berlaku Sama, Yaitu Cemburu?.

Aku Pikir Tidak. Karena Hati Dari Masa Lalumu Itu Tidak Pantas Mendapat Kecemburuanku.

Semuanya Karena Persoalan, Setara Tidaknya Manusia Yang Patut Aku Cemburui. Semuanya Karena Persoalan, Siapa Manusia Yang Patut Juga Tepat Menerima Amarahku. Semuanya Karena, Hati Dari Masa Lalumu Itu Tak Sebanding Dengan Apapun Dariku.

Ya. Kau Boleh Memanggilku Arogan. Tapi Semesta Memang Akan Menjadi Arogan Saat Membalas Siapapun Yang Telah Menyakitinya.

Dan Aku Membalasnya Dengan Diam Pada Hati Dari Masa Lalumu Itu. Aku Membalas Hati Dari Masa Lalumu Itu, Dengan Tidak Menganggap Keberadaan Dari Eksistensinya. Aku Membalas Hati Dari Masa Lalumu Itu Dengan Menghapus Identitasnya Dari Kepalaku Bahkan Hidupku. Intinya, Aku Membalasnya Dengan Menyerang Langsung Kemanusiaan Paling Mendasar Dari Manusia. Karena Kemanusiaan Paling Mendasar Dari Manusia, Memang Hanya Persoalan Tentang Pengakuan Identitas Dari Eksistensinya.

Lalu Apa?. Haruskah Aku Adil Jika Kemudian Kini Kau Berlaku Tidak Adil Padaku?

Haruskah Aku Menantimu?

Ada

Dan Apakah Jaminannya Bahwa Kau Tak Menyakiti Hatiku Nanti?

Atau, Jangan-jangan "Rumah Mungil" Itu Harus Di Pending Hingga Kau Sudah Membawa Kemenangan Dari Pertarunganmu?

Aku Pun Tak Tahu Jawabannya.

Sungguh Aku Tak Tahu Jawaban Itu.

Aku Persilahkan Kau Memilih Sekaligus Menjawabnya.

Maafkan Aku, Kekasihku Jika Sedih, Perih Juga Pedih Menghantamku…

Aku Menyayangimu…

-Kekasihmu-