* Aku “Baik-baik” Saja *

Ya. Disini Aku Baik2 Saja. Tak Ada Yang Berubah Dariku. Mungkin Sedikit. Tapi Semuanya Mungkin Masih Tetap Seperti Yang Kau Kenal Dulu. Masih Tetap Menyukai Dan Menyesapi Malam. Masih Tetap Tertidur Saat Mentari Pagi Menyapa Hari. Masih Tetap Sama Menatap Bintang Yang Biasa Kita Tatap Saat Malam2 Hingga Pagi Datang. Dan Saat Aku Hantarkan Kau Pulang Kerumahmu, Tak Lama Pesan Singkat Pasti Mampir Di Telpon Genggamku: ‘Papah Dan Mamah Marah!. Tapi Aku Cuek Saja. :).’ Aku Masih Suka Dengan Buku2 Yang Kadang Kita Pertukar Juga Perkarakan Saat Salah Satu Dari Kita Merusaknya. Aku Masih Tetap Menyukai Jus Jambu Merahku. Aku Masih Tetap Dan Bersama Guratan Penaku. Aku Masih Tetap Penuh Canda Tawa Yang Sering Membuatmu Tergelak Hingga Berurai Air Mata. Aku Masih Tetap Dengan Bulu Lenganku Yang Biasa Kau Cabuti. Aku Masih Tetap Dengan Mandi Sekali Sehariku. Aku Masih Tetap Dengan Kaca Mata Minusku. Aku Masih Tetap Dengan… Ah, Kau Pasti Masih Mengingatku. Karena Kau Pasti Tahu. Tak

Ada

Perubahan Berarti Dariku.

Bagaimana Dengan Kau? Apa Kabarmu? Masih Tetap Dengan Kejutek-an Penanda Kecerdasan Juga Sikapmu? Masih Tetap Dengan, Ehem, Kecantikanmu? Masih Tetap Dengan ‘Grasak-Grusukmu’? Masih Tetap Dengan Kebaikan Hatimu? Masih Tetap Teriris Saat Bersua Dengan ‘Sahabat-sahabat Kecil’? Masih Tetap Menyukai Teh Melati? Masih Tetap Suka Rokok Menthol? Masih Suka Terkaget-kaget? Masih Tetap Dengan Kacamatamu? Masih Tetap Mampu Membuat Pembaca Tulisanmu Ketakutan Dan Merasa Tersesat Dalam Alam Pikiran Dan Belantara Idemu? Masih Dengan Buku Juga Pena Yang Selalu Kau Bawa Kemana2? Hei, Apa Kabar Anjingmu? Masih Sering Kau Cabuti Bulunya? Kau Memang Jahil. :). Apa Kabar Papah, Mamah Dan Adik Lelaki Yang Sering Kau Curi Parfum Mahalnya? Ah, Kau Ini Memang Luar Biasa. Salam Cinta Kasihku Untuk Mereka. Oh, Ya. Seharusnya Pertanyaan Tentang Keluarga, Adalah Milikku. Bagaimana Kabar Suamimu? Anak2mu? Apakah Kau Selalu Menceritakan Dongeng Saat Mereka Menjelang Tidur? Apakah Kau Masih Mengajarkan ‘Hening Sunyi’ Di Pinggir Tempat Tidur Pada Mereka? Salam Manisku Untuk Mereka. Suatu Saat Nanti Aku Akan Berkunjung Ke Rumahmu Untuk Sekedar Bertamu. Kapan? Entahlah. Aku Tak Tahu Pasti. Semuanya Memang Tak

Ada

Yang Pasti. Hanya Mati Yang Terpasti. Karena Di Hutan Ini, Aku Tak Pernah Bisa Meyakinkan Kau Bahwa Aku Juga Masih Mencintaimu. Tak Bisa Meyakinkan Kau Bahwa Aku Masih Juga Sendiri. Meyakinkan Kau Bahwa Hingga Kini Aku Masih Mendambamu Untuk Menjadi Istriku. Maaf Karena Aku Memberitahumu Saat Aku Di Tengah Hutan Bersama Kawan2 Seperjuangan. Maaf Karena Tiba2 Aku Dulu Menghilang Dari Hadapanmu. Maaf Karena Aku Harus Memburaikan Mimpi, Yang Setengahnya Telah Kita Rajut. Bukan Maksudku Melakukan Itu. Bukan Aku Tak Mau Memberi Tahumu. Aku Hanya Tak Ingin… Ah, Sudahlah. Suatu Saat Nanti, Saat Aku Berjumpa Denganmu Dalam Keadaan Yang Lebih Baik, Aku Pasti Akan Menceritakan Semua Padamu. Apa? Kau Ingin Aku Menjelaskannya Sekarang Juga? Sebenarnya Aku Ingin. Tapi Aku Dan Kawan2 Harus Segera Bergerak Masuk Lebih Jauh Ke Dalam Hutan. Menghindari Tentara Yang Sudah Mendekat. Maafkan Aku Menyegerakan Dan Tergesa2 Saat Menulis

Surat

Ini.

Semesta Menyertaimu

-Aku-



4 Comments so far

  1.    UChox on April 9th, 2006

    AWassss ada macannn….n kalo ktemu tarzan salam kangenn…sorry jarang main -main lagi kesana?

  2.    Mademoiselle on April 12th, 2006

    anjrit!!!
    anjrit!!!
    anjrit!!!
    no comment!!!
    im speechless…

  3.    Mademoiselle on April 12th, 2006

    sebuah ’surat balasan’ yang sangat menyentuh…

  4.    UChox on April 20th, 2006

    kena semtuh apa njya nichhhhh….( temen nya tarzan )

Leave a Reply