~ Sebuah Bantahan Dari Gugatan ~
Duduk diatas kursi yang terbiasa memangku diri yang mulai merasakan siksa atas gumulan hati. Menyesapi nada kata penuh nyawa berwarna hijau. Memperkenalkan “Lubang Hitam” Jiwa seorang Lelaki Yang Memang Telah Memilih Untuk Menguakkannya Saat Ia Kembali Jatuh Cinta Pada Perempuan Bernamakan Senja. Cinta Baru Dan Khusus Serta Tak Biasa Tentu Beda Dengan Kisah Lama. Cinta Baru Karena Dengan Kedatangan Sang Senja Disuatu Waktu Hanya Untuk Menyaksikanku Terlelap. Cinta Yang Khusus Karena Celoteh Ringan Hingga Sengit Kadang Berakhir Dengan Gigit Atau Cubit Akan Segala Isi Hati Dan Kepala. Cinta Tak Biasa Karena Dua Manusia Berbeda Tapi Tetap Saja Sama Dengan Buktinya, Tetap Berkelahi Meski Hanya Dengan Kata Tertulis Saling Melontarkan Di Dunia Maya. Dan Tiba-tiba Saja, Lentera Kecil Dalam Palung Hati Yang Telah Lama Teracuhkan Berpijar Meski Kini Masih Kecil Tapi Akan Membesar Jua. Dan Pijar Itu Telah Membesar Saat Pagi Ini Hati Resah Serta Rasa Tertoreh Sembilu Akan Ketakutan Kehilangan Senja Muntahkan Semua Kata Jiwa. Harap Ini Adalah Bantahan Dari Sebuah Gugatan Emosional Penuh Fatalistik.
Saat Aku Mengatakan Hidup Menjadi Paksaan Adalah Diluar Kata Cinta. Tak Pernah Ada Yang Mau Membantah Atau Bahkan Mengubah Saat Uang Menjadikan Manusia Robot-robot, Sikut-Menyikut, Bunuh-membunuh sesama. Ya!. Hidup Adalah Ekonomi Dan Ekonomi Memaksa Hidup. Dan Ekonomilah Yang Kumaksudkan Sebagai Pemaksa Hidup. Tak Lebih Dan Tak Kurang. Hidupku, Kau, Mereka Dan Kita Semua. Dipaksa Untuk Tidak Bisa Tenang Dalam Menjalani Kehidupan. Senja, Tunjukkan Padaku Satu Cerita Ekonomi Yang Tidak Melahirkan Tragedi Dan Ironi!!!. Bahkan Sejak Manusia Tercipta Dan Ditempatkan Tuhan Di Surga, Ekonomi Telah Merajalela. Iblis Menggunakan Buah Pengetahuan Dan Memperalat Manusia Untuk Menggapai Keinginannya. Mendepak Manusia Menjauh dari Surga. Itu Adalah Paksaan Dalam Hidup Yang Kumaksud. Tapi Saat Cintaku Dipersamakan Dengan Ekonomi, Aku Tak Terima. Aku Telah Memilih. Untuk Menjalani Hidup Bersama Senja Yang Tulisannya Banyak Menamparku. Menampar Hatiku. Aku Telah Memilih. Tuk Bergandengan Tangan Dengan Senja Yang Bisa Saja Tiba-tiba Mengepalkan Tangannya Padaku. Aku Telah Memilih. Tuk Melarungi Hari Dan Waktu Bersama Senja Yang Seringkali Ku Olok-oloki. Aku Telah Memilih. Memeluk Tubuh Mungil Yang Harumnya Telah Mengendap dalam Kepalaku. Aku Telah Memilih. Menggambarkan Senja Dalam Kanvas Langit Jiwaku. Aku Telah Memilih. Merekam Suaramu Dalam Memori Otakku. Aku Telah Memilih Membuka “Lubang Hitamku” Meski Nuansa dan Suasana Tidak Tepat Karena Saat Itu Penat Tengah Membekap. Aku Telah Memilih Cintaku. Aku Telah Memilihmu, Senjaku. Aku Telah Memilihmu…
Tapi Kemudian, Kau Memilih Untuk Menutup Rasa, Mata, Telinga, Bahkan Jiwa. Kau Memilih Untuk Mengujarkan Ini Semu. Semu Karena Aku Pernah Punya Masa Lalu?. Semu Karena Masa Lalu Itu Telah Terkubur Jauh?. Semu Karena Aku Tak Mudah Jatuh Cinta? Semu Karena Aku Adalah Lelaki Yang Tak Mudah Begitu Saja Menyerahkan Hatiku?. Semu Karena Aku Tak Bisa Kau Sentuh?. Semu Karena Aku Tak Bisa Kau Tebak?. Semu Karena Kau Memujaku? Atau Semu Karena Aku Jatuh Cinta Kembali Untuk Yang Kedua Kali Pada Seorang Perempuan? Semu Karena Aku Tahu Apa Yang
Ada Dalam Hati Dan Pikiranmu Sementara Kau Tidak?. Semu Karena Hati Dan Jiwa Ini Tengah Berusaha Berada Dalam Satu Gelombang Yang Sama? Semu Karena Kini Saatnya Aku Menunjukkan Cintaku? Semu Karena…
Ah, Senjaku…
Tak Perlu Sedu
Sedan Itu.
Tak Perlu Tangis Ini.
Tak Perlu Kau Mempertanyakan Aku.
Tak Perlu Perih
Tak Perlu Sedih
Tak Perlu Hampa
Tak Perlu Kau Logikakan Dan Wujudkan Rasa
Tak Perlu.
Karena Aku,
Tak Memerlukan Apa-apa
Hanya Kau…
—
Kantor,
Sehari Sebelum Komitmen Kita,
Sehabis Membangunkan Om Boyo Yang Kaget Dibangunkan,
05.48 WIB