Pesan Singkat Itu…

MAAF, AKU HANYA PERCAYA PADA TUHANKU.

Itu Sebuah Pesan Singkat. Mungkin Pengirimnya Bermaksud Mengirimkanku Tanpa Arti Atau Juga Tanpa Makna Menyindirku. Bahkan Mungkin Pengirimnya Mengirimkannya Sebagai Sebuah Kekesalan Yang Memuncak Padaku. Atau Juga… Entahlah. Pengirimnya, Perempuan Itu, Wujudnya Kini Memang Tengah Tak Disampingku.

Mungkin

 

Ia

Tengah Berada Di Sebuah Tempat Di Cisarua

Sana

.

Mungkin

 

Ia

Tengah Di Kamarnya, Menulis Dan Siap Mencabikku Kembali. Atau Mungkin Ia Tengah Menyelam Bersama Malam Di

Jakarta

Bersama Dirinya. Entahlah. Aku Tak Tahu Pasti Dimana Ia Kini Tengah Berada. Tapi Hatiku Tahu Dimana

Ia.

Aku Memang Sedang Tak Ingin Mengganggunya Dahulu. Aku Biarkan Ia Menikmati Liburan Yang Memang Harus Didapatinya. Tentunya Agar Tiba Kembali Di Jakarta Yang Sumpek Dan Mumet, Ia Segar Kembali. Yang Pasti, Nun Jauh Disana Ia Tengah Bertempur Dengan Dirinya Sendiri. Pertempuran Antara: Mempercayai Pesan Singkat Yang Sebelumnya Aku Kirimkan Padanya, Mempercayai Racauanku Pada Sahabatnya, Mempercayai Rajutan Mimpi Kami, Mempercayai Hatinya, Hingga Akhirnya Harus Menyerahkan Semua Pada Tuhannya. Semuanya Karena Satu Hal. Aku Telah Memblejetinya Dengan Racauanku Pada Sahabatnya Yang Juga Sahabatku. Ya!. Aku Sebelumnya Telah Meracau Pada Sahabatku, Bahwa Aku Ingin Berpisah Untuk Sementara Dengannya. Dan Sahabatku Itu, Entah Yang Mana, Menyampaikannya Tanpa Berpikir Sebab-Akibatnya. Bahkan Tanpa Berpikir Dari Banyak Sisi. Jika Kemudian Kini Hubunganku Dengan Perempuanku Bertambah Buruk, Aku Hanya Bisa Tersenyum. Pahit. Wajar Saja Jika Pesan Singkat Yang Aku Kirimkan Pada Perempuanku Di Sebuah Pagi, Ditanggapinya Tak Jauh Beda dengan Tanggapan Sahabatnya Yang Juga Sahabatku. Hemm… Sahabat, Kekasih, Aku Dan Tuhan. Semua Jadi Satu. Sebuah Pertanda.

Dan Disini, Kali Ini, Aku Ingin Menguraikan. Banyak Hal. Semampuku.

Aku Akan Mulai Dari Yang Paling Absurd:

Tuhan

Percaya Pada Tuhan, Buatku, Hak Dasar Paling Konkrit Setiap Manusia. Yang

Ada

, Mempercayai Yang Tak Mengada. Yang Berwujud, Mempercayai Yang Tak Berwujud. Yang Konkrit, Mempercayai Yang Absurd. Dengan Jelas Dan Tegas Aku Menghormati Manusia Yang Mempercayai Tuhan. Juga Yang Tidak Mempercayai Tuhan. Aku Sendiri, Ah… Tak Perlu Kalian Tahu Hal Itu. Biarkan Aku, Semestaku, Keluargaku Bahkan kekasihku Yang Mengetahui Apakah Aku Bertuhan Atau Tidak. Itu Adalah Masalah Pribadiku Dan Aku Bukan Selebritis, Bukan?.

Aku

Aku Hanyalah Bagian Dari Dialektika Semestaku. Dan Aku Percaya Tiap Detik Dalam Hidupku, Aku Selalu Berdialektika. Berproses. Berubah Menjadi, Yang Menurut Ukuranku Dan Orang-orang Yang Aku Sayangi, Lebih Baik. Meski Tak Pernah Memungkiri Sisi Buruk Kemanusianku. Karena Dengan Sisi Itu, Baik Dan Buruk, Aku Menjadi Manusia Yang Sempurna. Kemanusiaanku Memang Nyaris Sempurna.

Kekasihku

Ia Adalah Bagian Besar Dari Dialektika Hidupku. Dari Tiap Proses Tersebut, Aku Cerecapi Dengan Nikmatnya. Tanpa Terlintas Sedikitpun Tuk Pergi Bahkan Menjauh Darinya. Karena Aku Percaya Dengan Kesempurnaan Kemanusiannya. Dan Aku Begitu Bahagia Dan Merasakan Hidup Bersamanya. Ia Tak Hanya Sempurna Tapi Juga Indah!.

Sahabat

Sahabat Juga Dialektika Dari Hidup Tiap Manusia. Terpenting, Sahabat Beda Dengan Sekedar Teman. Sahabat Adalah Belahan Jiwa Yang Khusus Dibuat. Tentunya Ia Harus Bisa Dipercaya. Karena Ia Adalah Manusia Yang Tercipta Untuk Dapat Memahami Apa Yang Sebenarnya Terjadi Dalam Diri Dan Jiwa Sahabatnya. Tanpa Pretensi Dan Tendensi!. Hanya Empathy. Jika Kemudian Sahabat Menjerumuskan, Kesimpulan Ditanganmu.

Tuhan, Aku, Kekasihku Dan Sahabat

Semuanya Satu. Dari Sebuah Diksi: Percaya. Prioritasnya, Masing2 Tentu Berbeda. Tapi Jika Kau Tanyakan Padaku Dari Tulisan Ini, Ijinkan Aku Merangkainya: AkuàKekasihku (Yang Didalam Kami Ada Tuhan Dan Tuhan Di Dalam Kami)àSahabat. Tapi Tentunya, Tidak Sahabat Yang Seperti Itu!. Maaf. Aku Tak Butuh Sahabat Seperti Itu!. Tapi Aku Masih Akan Berbicara Padamu, Sahabatku. Tapi Label Khusus Terlanjur Telah Kutempelkan Di Dahimu.

                                        Thanks To You Guys.

                Kalian Sahabat Yang “Sangat Mencerahkan” Hidupku…

Dan Disini, Aku Hanya Bisa Tertawa.

Bahagia?. Tidak.

Getir?. Pasti!!!.

- - -

Kantor,

190206,

Nyaris Tak Berdaya Saat Kantuk Melemahkan Konsentrasiku,

Menyesapi Getir Dari Sebuah Hujaman Seorang Sahabat (?).

20.00 WIB



2 Comments so far

  1.    green grass on February 21st, 2006

    gee, shut up! what the hell with this words!
    u better listen “el scorcho”, and u will know the answer…
    stand up and fight 4 ur life, some kinda love and some kinda hate…
    if u think u have 2 stop, so do it! don’t be afraid ’bout the future, coz the future is in ur hands!
    don’t be a spoiled fuckin’ man, love isn’t bout 2 people kissing, hugging and having sex. it’s more than that…

  2.    Fat on February 23rd, 2006

    HA…HA…HA…666x. (Sebuah Tertawa Penuh Makna dan Arti.).

Leave a Reply