Aku Dan Diriku Dihadapan Cinta
Dan Hari Ini, Sedikit Demi Sedikit Semuanya Jadi Jelas. Apa Yang Kurasa. Apa Yang Tengah Melanda. Apa Yang Harus Aku Lakukan. Apa Yang Harus Aku Enyahkan!. Itu Tak Lain Dari Sebuah Sore. Sore Yang Masih Sejuk Dan Gelap Karena Hujan Baru Saja Usai. Ditingkahi Suara Mengaji Dari Speaker Mesjid Yang Tak Jauh Dari Rumhku, Perbincangan Itu Terjadi. Aku Masih Ingat Helaian-helaian Perbincangan Itu. Sebuah Perbincangan Santai Tapi Penuh Analisis Di Ruang Tamu Rumahku. Aku memang Butuh Analisa. Aku Memang Butuh Seorang Psikiater. Yang Mengerti Aku. Memahami Aku. Tanpa Menuduh Aku. Namanya Nelfia Kusuma Harahap. Aku Dan Keluargaku Biasa Memanggilnya Butet. Ia Adik Perempuanku. Yang Aku Sayangi. Yang Aku Cintai. Meski Dulu Kami Adalah Musuh Sejati. Dan Inilah Perbincangan Itu.
Aku (A): Aku Tengah Lelah. Aku Tengah Penat. Aku Tengah Sesak, Adikku!. Aku Tak Tahu Harus Bagaimana Meredakan Emosiku!. Emosi Atas Nama Egoku!. Ia Tengah Menguat!. Semakin Kuat Sehingga Tiap Kali, Ia Muncul Dan Menggantikan Akal Sehatku!. Meski Akal Sehatku. Tetap Punya Kemenangannya Dalam Pertarungannya!. Intinya, Emosiku Untuk Meninggalkan Kekasihku Dengan Penuh Luka Sama Kuatnya Dengan Rasa Sayangku Pada Dirinya. Nama Kekasihku, Michelle Victoria.
Butet (B): Ha…Ha…Ha… Aku Tahu Itu. Aku Tahu Apa Yang Tengah Kau Rasakan, Abangku. Aku Tahu. Meski Kau Belum Menceritakannya Padaku. Aku Tahu Garis Mukamu Yang Bertambah Buruk Saat Dibekap Oleh Momen Itu. Ha…Ha…Ha… Abangku, Wajahmu Memang Buruk!!!. Ha…Ha…Ha…!!!.
(A): Ah, Kau Bercanda Saja!. Katakan Apa Yang Harus Aku Lakukan?. Cepat!.
(B): Baiklah!. Kau Katakan Pada Perempuanmu Apa Yang Tengah Kau Rasakan. Ceritakanlah Padanya!. Kau Harus Adil Padanya!. Bukankah Kita Sepakat Untuk Bersikap Adil Bahkan Sejak Dalam Pikiran?.
(A): Ya!. Tapi Aku Telah Menceritakannya Semua. Pada Kekasihku. Tapi mengapa Sang Mawar Hitam Itu Bertambah Kuat?. Bahkan Bertambah Hidup?!.
(B): Ha…Ha…Ha… Mawar Hitam Itu Muncul Lagi?. Ha…Ha…Ha… Memang Wajahmu Buruk, Abangku!!!. Ha…Ha…Ha…
(A): Ah, Kau Masih Saja Mencandai Aku!!!.
(B): Ha…Ha…Ha…Kau Masih Tetap Tak Sabaran Rupanya?. Ha…Ha…Ha…Kau Memang Abangku Yang Terpaksa Aku Cintai!!!. Ha…Ha…Ha…
Dan Aku Pun Merengut Padanya Serta Mempersiapkan Korek Untuk Menimpuknya.
(B): Taruh Korek Itu. Baru Aku Mau Menguraikan Masalahmu.
(A): Baik!.
(B): Kau Ego. Sangat Keras. Juga Perempuanmu. Saat Perempuanmu Melukai Egomu, Mawar Hitam Datang Dan Muncul Bahkan Menghancurkan Semuanya. Kau Tersinggung Dengan Tulisan Perempuanmu?. Yang Menurutku, Kau Tak Pantas Tersinggung!. Ia Sangat Menyayangimu!. Dan Aku Tahu Kau Pun Juga!. Hanya Saja, Egomu Yang Liar Itu Terluka. Sebelum Kau Bertemu Dengan Michelle, Kau Adalah Binatang Buas Yang Biasa Hidup Di Alam Bebas!. Kau Hanya Ingin Bebas!. Tapi Kemudian, Michelle Berhasil Membiusmu!. Menaklukkanmu!. Tanpa Peluru!. Tanpa Jebakan!. Wajar Saja Jika Kemudian Kau Serahkan Dirimu Padanya. Karena Kau Mencari Perempuan Bukan Yang Mencintaimu. Tapi Kau Cintai!. Ya!. Kau Mencari Perempuan Pertama Kali Harus Kau Cintai Baru Kemudian Perempuan Itu Mencintaimu. Intinya, Kau Harus Jatuh Cinta Dulu Dengan Perempuan Dan Kau Tahu, Perempuan Akan Jatuh Cinta Padamu!. Kau Akan Takluk Dengan Perempuan Seperti Itu. Kau Akan Menyerahkan Dirimu Pada Perempuan Seperti Itu!. Dan Michelle Telah Menaklukkanmu Dengan Kata2!. Kau Tahu Itu, Abangku?. Aku Kasihan Dengan Perempuan2 Sebelum Michelle. Mereka Tak Tahu Itu. Tapi Bukan Itu Yang Hendak Kita Bicarakan Bukan?. Kemudian, Binatang Buas Itu Merelakan Dirinya Dibawa Ke Kandangnya. Dan Aku Tahu Kau elah Merelakan Dirimu Untuk Dikurung. Karena Kau Butuh Itu. Karena Memang Kau Harus Dikurung. Michelle Pun Merasa Semuanya Sudah. Tapi Yang Terlupa, Michelle Dan Kau Lupa Bahwa Naluri Binatang Liar Dalam Jiwamu Masih Belum Kau Kurung. Ialah Mawar Hitam Itu!. Dan Kini, Ia Muncul!. Terang Saja Jika Kalian Berdua Bingung. Bahkan Panik. Kalian Lupa, Bahwa Naluri Itu Belum Terjinakkan!. Wajar Saja Jika Kemudian Ia Mencabik2 Kalian Berdua!. Itu Yang Melahirkan Ego Kalian Berdua Terluka!. Tapi Aku Tahu, Michelle Mampu Dan Telah Melakukan Penjinakkan Itu. Sementara Kau, Sang Pemiliknya, Juga Tengah Berupaya Dengan
Susah Payah Menjinakkannya. Dan Aku Tahu Kau Mampu. Aku Tahu, Sebentar Lagi Sang Mawar Hitam Itu Akan Jinak. Semuanya Karena, Kau Dan Ia Mampu Saling Menjinakkan Satu Sama Lain. Kalian Memang Di Peruntukkan Satu Sama Lain. Hanya Saja, Kini Kau Tengah Stress!. Tentu Saja. Karena Kau Sang Pemilik Mawar Hitam. Bukan Michelle. Michelle Telah Melakukan Tugasnya Dengan Menaklukkanmu. Sekarang Giliranmu Menaklukkan Mawar Hitammu. Kau Pun Stress!. Stress Karena Mawar Hitammu Yang Siap Takluk. Stress Dengan Pikiranmu Di Luar Kisah Cintamu. Stress Dengan Kuliahmu. Stress Dengan Ibu Kita Yang Tengah Sakit. Stress Dengan Ekonomimu. Stress Dengan Keinginanmu Menjadi Seorang Penulis. Stress Dengan Semua Bagian Dari Hidupmu. Stress Karena Kau Berucap Bukan Dari Hatimu!. Semuanya Karena Mawar Hitam Itu Merajalela Dan Kau Telah Mengetahuinya Serta Siap Menaklukkannya. Dan Aku Tahu Kau Akan Mampu Menaklukkannya!. Sisanya Kini, Adalah Efek Psikologi Dari Pertarungannmu. Kelelahan Akibat Pertempuranmu Menjinakkan Mawar Hitam. Kepenatanmu Akan Rasa Liar Itu. Kesesakkan Untuk Meminta Maaf Pada Michelle. Dan Ketakutanmu Michellemu Meninggalkanmu Karena Kau Punya Sang Mawar Hitam!. Yang Kau Butuhkan Saat Ini Adalah: Berlibur Abangku!. Sendiri. Lebih Bagus Berdua Dengan Michellemu.
Agar Ia Tahu. Bahwa Abangku Itu Buruk!!!!. Ha…Ha…Ha… Aku Bercanda. Agar Michelle Tahu Bahwa Abangku Yang Liar Seliar-Liarnya Binatang Buas Di Alam Bebas, Telah Takluk Di Hadapannya!. Agar Kau Tahu, Bahwa Kau Hanya Harus Mencintainya!. Karena Kau, Abangku, Harus Bersyukur Mendapatkan Michelle!. Agar Kalian Tahu Bahwa Kalian Harus Bersatu Untuk Menjadikan Semesta Kalian!. Dan Aku Telah Merestui Kalian!. Aku Menyukai Kisah Cinta Kalian!. Terutama Michelle. Aku Mencintainya.
Karena Ia Mampu Menaklukkan Abangku!!!. Mampu Membuat Abangku Tak Berdaya!!!. Ini Kemenangan Kaumku, Wahai Abangku!!!. Dan Kau Memang Harus Terima Itu. Karena Kau Memang Hanya Mau Mencintai Perempuan Yang Meanklukkanmu!!!. Dan Perempuan Itu Telah Mencintaimu, Abangku!. Juga Kau!!!. Camkan Itu!!!. Ha…Ha…Ha…
(A): Ah, Kau Memang Adikku Yang Keparat!. Ha…Ha…Ha… Lalu, Apa Yang Harus Aku Lakukan Untuk Semestaku Yang Didalamnya
Ada Michelle?. Hmmm… Maukah Michelle berlibur Denganku?. Ketempat Yang Jauh Dari
Jakarta Yang Menyebalkan Ini?. Hanya Berdua?. Ke Jogja Atau Kemana Saja, Misalnya?.
(B): Kau Mesti Jelaskan Dulu Semuanya. Baru Kau Ajak Ia Berlibur. Mau Atau Tidak Bukan Hakmu Memaksa, Bukan?.
Jika Ia Tidak Mau, Kau Saja Yang Berangkat Sendiri!. Aku Tahu Michelle Bisa Mengerti. Dan Michelle Tak Perlu Takut Bahwa Abangku Akan Selingkuh Atau Kembali Ke
Jakarta Menjadi Lebih Buruk. Kau, Abangku, Telah Takluk Dihadapannya!. Lagi Pula, Kau Memang Tak Bisa Berbuat Apa2 Di Tempat Berliburmu Nanti. Kalian Telah Berbahasa Hati Bukan?!. Michelle Akan Tahu Apa Yang Kau Lakukan. Rasa Punya Bahasa Dan Caranya Sendiri. Bukan Seperti Itu Yang Sering Kau Katakan Padaku, Abangku?. Ha…Ha…Ha… Minta Maaflah Pada Michelle.
Dan Saat Itu, Aku Hanya Mampu Menitipkan Kata Maaf Pada Hembusan Angin Serta Sebuah Kecupan Untuk Michelle. Jika Kemudian Pesan Singkat Datang, Aku Memang Terlambat Untuk Menjelaskan Semuanya Padamu, Michelle. (Kau Tahu Kadang2 Aku Memang Suka Telat. He666x.). Aku Pun Berangkat Ke Kantor Untuk Mengumpulkan Pundi2 Uang. Uang Kita.
“ Maafkan Aku Michelle. Kau Memang Telah Menaklukkanku. Dan Aku Telah Takluk Di Hadapanmu. Aku Memang Harus Menjinakkan Mawar Hitamku. Dan Aku Memang Tengah Menjinakkannya. Aku Sungguh Mencintaimu. Aku Tahu Kau Juga Begitu. ”
—
Kantor,
180206,
Belum Ada Satu Pun Yang Aku Kerjakan,
Mengira-ngira Penuh Iri Pada Kekasihku Yang Mungkin Tengah Berlibur Ke Mang Idi,
Hiks…Hiks…Hiks…
Kan Aku Yang Butuh Liburan… L. Tapi Kau Juga Butuh Itu. J
22.00 WIB
Comments(0)