Archive for February, 2006

: Usai Canda Tawa Itu :

Ulurkan Maaf Biar Langgeng Rasa Kasih.

Usah Bicarakan Rupa Kita Kala Marah.

Usah Mengadu Lalu Pergi Entah Kemana.

Hingga Kesat Hati Dan Berubah Warna.

Aku Melihat,

Ada Cinta Dan Perih Di Hati.

Semua Karena Kita Satu

Dan Enggan Beranjak Pergi.

Kantor,

280206,

Masih Bersama Mas KTL Dan Dihampiri Ririn Yang Melakukan Perbuatan Tak Senonoh! (Sumpah!.Lu Jorok Banget Rin!!!),

21.09 WIB

” Dimana Kau, Hatiku? “

Hatiku… Hatiku…

Dimana Kau?!!

Hatiku…Hatiku…

Kenapa Jua Kau Masih Membisu?!!

Hatiku…Hatiku…

Apa Yang Buatmu Kelu?!!

Hatiku…Hatiku…

Bagaimana Kabarmu?!!

Ah, Hatiku…

Kau Masih Saja Tersaru!!!

Hatiku…

MAMPUS DIBEKAP SENDU!!!

Pesan Singkat Itu…

MAAF, AKU HANYA PERCAYA PADA TUHANKU.

Itu Sebuah Pesan Singkat. Mungkin Pengirimnya Bermaksud Mengirimkanku Tanpa Arti Atau Juga Tanpa Makna Menyindirku. Bahkan Mungkin Pengirimnya Mengirimkannya Sebagai Sebuah Kekesalan Yang Memuncak Padaku. Atau Juga… Entahlah. Pengirimnya, Perempuan Itu, Wujudnya Kini Memang Tengah Tak Disampingku.

Mungkin

 

Ia

Tengah Berada Di Sebuah Tempat Di Cisarua

Sana

.

Mungkin

 

Ia

Tengah Di Kamarnya, Menulis Dan Siap Mencabikku Kembali. Atau Mungkin Ia Tengah Menyelam Bersama Malam Di

Jakarta

Bersama Dirinya. Entahlah. Aku Tak Tahu Pasti Dimana Ia Kini Tengah Berada. Tapi Hatiku Tahu Dimana

Ia.

Aku Memang Sedang Tak Ingin Mengganggunya Dahulu. Aku Biarkan Ia Menikmati Liburan Yang Memang Harus Didapatinya. Tentunya Agar Tiba Kembali Di Jakarta Yang Sumpek Dan Mumet, Ia Segar Kembali. Yang Pasti, Nun Jauh Disana Ia Tengah Bertempur Dengan Dirinya Sendiri. Pertempuran Antara: Mempercayai Pesan Singkat Yang Sebelumnya Aku Kirimkan Padanya, Mempercayai Racauanku Pada Sahabatnya, Mempercayai Rajutan Mimpi Kami, Mempercayai Hatinya, Hingga Akhirnya Harus Menyerahkan Semua Pada Tuhannya. Semuanya Karena Satu Hal. Aku Telah Memblejetinya Dengan Racauanku Pada Sahabatnya Yang Juga Sahabatku. Ya!. Aku Sebelumnya Telah Meracau Pada Sahabatku, Bahwa Aku Ingin Berpisah Untuk Sementara Dengannya. Dan Sahabatku Itu, Entah Yang Mana, Menyampaikannya Tanpa Berpikir Sebab-Akibatnya. Bahkan Tanpa Berpikir Dari Banyak Sisi. Jika Kemudian Kini Hubunganku Dengan Perempuanku Bertambah Buruk, Aku Hanya Bisa Tersenyum. Pahit. Wajar Saja Jika Pesan Singkat Yang Aku Kirimkan Pada Perempuanku Di Sebuah Pagi, Ditanggapinya Tak Jauh Beda dengan Tanggapan Sahabatnya Yang Juga Sahabatku. Hemm… Sahabat, Kekasih, Aku Dan Tuhan. Semua Jadi Satu. Sebuah Pertanda.

Dan Disini, Kali Ini, Aku Ingin Menguraikan. Banyak Hal. Semampuku.

Aku Akan Mulai Dari Yang Paling Absurd:

Tuhan

Percaya Pada Tuhan, Buatku, Hak Dasar Paling Konkrit Setiap Manusia. Yang

Ada

, Mempercayai Yang Tak Mengada. Yang Berwujud, Mempercayai Yang Tak Berwujud. Yang Konkrit, Mempercayai Yang Absurd. Dengan Jelas Dan Tegas Aku Menghormati Manusia Yang Mempercayai Tuhan. Juga Yang Tidak Mempercayai Tuhan. Aku Sendiri, Ah… Tak Perlu Kalian Tahu Hal Itu. Biarkan Aku, Semestaku, Keluargaku Bahkan kekasihku Yang Mengetahui Apakah Aku Bertuhan Atau Tidak. Itu Adalah Masalah Pribadiku Dan Aku Bukan Selebritis, Bukan?.

Aku

Aku Hanyalah Bagian Dari Dialektika Semestaku. Dan Aku Percaya Tiap Detik Dalam Hidupku, Aku Selalu Berdialektika. Berproses. Berubah Menjadi, Yang Menurut Ukuranku Dan Orang-orang Yang Aku Sayangi, Lebih Baik. Meski Tak Pernah Memungkiri Sisi Buruk Kemanusianku. Karena Dengan Sisi Itu, Baik Dan Buruk, Aku Menjadi Manusia Yang Sempurna. Kemanusiaanku Memang Nyaris Sempurna.

Kekasihku

Ia Adalah Bagian Besar Dari Dialektika Hidupku. Dari Tiap Proses Tersebut, Aku Cerecapi Dengan Nikmatnya. Tanpa Terlintas Sedikitpun Tuk Pergi Bahkan Menjauh Darinya. Karena Aku Percaya Dengan Kesempurnaan Kemanusiannya. Dan Aku Begitu Bahagia Dan Merasakan Hidup Bersamanya. Ia Tak Hanya Sempurna Tapi Juga Indah!.

Sahabat

Sahabat Juga Dialektika Dari Hidup Tiap Manusia. Terpenting, Sahabat Beda Dengan Sekedar Teman. Sahabat Adalah Belahan Jiwa Yang Khusus Dibuat. Tentunya Ia Harus Bisa Dipercaya. Karena Ia Adalah Manusia Yang Tercipta Untuk Dapat Memahami Apa Yang Sebenarnya Terjadi Dalam Diri Dan Jiwa Sahabatnya. Tanpa Pretensi Dan Tendensi!. Hanya Empathy. Jika Kemudian Sahabat Menjerumuskan, Kesimpulan Ditanganmu.

Tuhan, Aku, Kekasihku Dan Sahabat

Semuanya Satu. Dari Sebuah Diksi: Percaya. Prioritasnya, Masing2 Tentu Berbeda. Tapi Jika Kau Tanyakan Padaku Dari Tulisan Ini, Ijinkan Aku Merangkainya: AkuàKekasihku (Yang Didalam Kami Ada Tuhan Dan Tuhan Di Dalam Kami)àSahabat. Tapi Tentunya, Tidak Sahabat Yang Seperti Itu!. Maaf. Aku Tak Butuh Sahabat Seperti Itu!. Tapi Aku Masih Akan Berbicara Padamu, Sahabatku. Tapi Label Khusus Terlanjur Telah Kutempelkan Di Dahimu.

                                        Thanks To You Guys.

                Kalian Sahabat Yang “Sangat Mencerahkan” Hidupku…

Dan Disini, Aku Hanya Bisa Tertawa.

Bahagia?. Tidak.

Getir?. Pasti!!!.

- - -

Kantor,

190206,

Nyaris Tak Berdaya Saat Kantuk Melemahkan Konsentrasiku,

Menyesapi Getir Dari Sebuah Hujaman Seorang Sahabat (?).

20.00 WIB

Aku Dan Diriku Dihadapan Cinta

Dan Hari Ini, Sedikit Demi Sedikit Semuanya Jadi Jelas. Apa Yang Kurasa. Apa Yang Tengah Melanda. Apa Yang Harus Aku Lakukan. Apa Yang Harus Aku Enyahkan!. Itu Tak Lain Dari Sebuah Sore. Sore Yang Masih Sejuk Dan Gelap Karena Hujan Baru Saja Usai. Ditingkahi Suara Mengaji Dari Speaker Mesjid Yang Tak Jauh Dari Rumhku, Perbincangan Itu Terjadi. Aku Masih Ingat Helaian-helaian Perbincangan Itu. Sebuah Perbincangan Santai Tapi Penuh Analisis Di Ruang Tamu Rumahku. Aku memang Butuh Analisa. Aku Memang Butuh Seorang Psikiater. Yang Mengerti Aku. Memahami Aku. Tanpa Menuduh Aku. Namanya Nelfia Kusuma Harahap. Aku Dan Keluargaku Biasa Memanggilnya Butet. Ia Adik Perempuanku. Yang Aku Sayangi. Yang Aku Cintai. Meski Dulu Kami Adalah Musuh Sejati. Dan Inilah Perbincangan Itu.

Aku (A): Aku Tengah Lelah. Aku Tengah Penat. Aku Tengah Sesak, Adikku!. Aku Tak Tahu Harus Bagaimana Meredakan Emosiku!. Emosi Atas Nama Egoku!. Ia Tengah Menguat!. Semakin Kuat Sehingga Tiap Kali, Ia Muncul Dan Menggantikan Akal Sehatku!. Meski Akal Sehatku. Tetap Punya Kemenangannya Dalam Pertarungannya!. Intinya, Emosiku Untuk Meninggalkan Kekasihku Dengan Penuh Luka Sama Kuatnya Dengan Rasa Sayangku Pada Dirinya. Nama Kekasihku, Michelle Victoria.

Butet (B): Ha…Ha…Ha… Aku Tahu Itu. Aku Tahu Apa Yang Tengah Kau Rasakan, Abangku. Aku Tahu. Meski Kau Belum Menceritakannya Padaku. Aku Tahu Garis Mukamu Yang Bertambah Buruk Saat Dibekap Oleh Momen Itu. Ha…Ha…Ha… Abangku, Wajahmu Memang Buruk!!!. Ha…Ha…Ha…!!!.

(A): Ah, Kau Bercanda Saja!. Katakan Apa Yang Harus Aku Lakukan?. Cepat!.

(B): Baiklah!. Kau Katakan Pada Perempuanmu Apa Yang Tengah Kau Rasakan. Ceritakanlah Padanya!. Kau Harus Adil Padanya!. Bukankah Kita Sepakat Untuk Bersikap Adil Bahkan Sejak Dalam Pikiran?.

(A): Ya!. Tapi Aku Telah Menceritakannya Semua. Pada Kekasihku. Tapi mengapa Sang Mawar Hitam Itu Bertambah Kuat?. Bahkan Bertambah Hidup?!.

(B): Ha…Ha…Ha… Mawar Hitam Itu Muncul Lagi?. Ha…Ha…Ha… Memang Wajahmu Buruk, Abangku!!!. Ha…Ha…Ha…

(A): Ah, Kau Masih Saja Mencandai Aku!!!.

(B): Ha…Ha…Ha…Kau Masih Tetap Tak Sabaran Rupanya?. Ha…Ha…Ha…Kau Memang Abangku Yang Terpaksa Aku Cintai!!!. Ha…Ha…Ha…

Dan Aku Pun Merengut Padanya Serta Mempersiapkan Korek Untuk Menimpuknya.

(B): Taruh Korek Itu. Baru Aku Mau Menguraikan Masalahmu.

(A): Baik!.

(B): Kau Ego. Sangat Keras. Juga Perempuanmu. Saat Perempuanmu Melukai Egomu, Mawar Hitam Datang Dan Muncul Bahkan Menghancurkan Semuanya. Kau Tersinggung Dengan Tulisan Perempuanmu?. Yang Menurutku, Kau Tak Pantas Tersinggung!. Ia Sangat Menyayangimu!. Dan Aku Tahu Kau Pun Juga!. Hanya Saja, Egomu Yang Liar Itu Terluka. Sebelum Kau Bertemu Dengan Michelle, Kau Adalah Binatang Buas Yang Biasa Hidup Di Alam Bebas!. Kau Hanya Ingin Bebas!. Tapi Kemudian, Michelle Berhasil Membiusmu!. Menaklukkanmu!. Tanpa Peluru!. Tanpa Jebakan!. Wajar Saja Jika Kemudian Kau Serahkan Dirimu Padanya. Karena Kau Mencari Perempuan Bukan Yang Mencintaimu. Tapi Kau Cintai!. Ya!. Kau Mencari Perempuan Pertama Kali Harus Kau Cintai Baru Kemudian Perempuan Itu Mencintaimu. Intinya, Kau Harus Jatuh Cinta Dulu Dengan Perempuan Dan Kau Tahu, Perempuan Akan Jatuh Cinta Padamu!. Kau Akan Takluk Dengan Perempuan Seperti Itu. Kau Akan Menyerahkan Dirimu Pada Perempuan Seperti Itu!. Dan Michelle Telah Menaklukkanmu Dengan Kata2!. Kau Tahu Itu, Abangku?. Aku Kasihan Dengan Perempuan2 Sebelum Michelle. Mereka Tak Tahu Itu. Tapi Bukan Itu Yang Hendak Kita Bicarakan Bukan?. Kemudian, Binatang Buas Itu Merelakan Dirinya Dibawa Ke Kandangnya. Dan Aku Tahu Kau elah Merelakan Dirimu Untuk Dikurung. Karena Kau Butuh Itu. Karena Memang Kau Harus Dikurung. Michelle Pun Merasa Semuanya Sudah. Tapi Yang Terlupa, Michelle Dan Kau Lupa Bahwa Naluri Binatang Liar Dalam Jiwamu Masih Belum Kau Kurung. Ialah Mawar Hitam Itu!. Dan Kini, Ia Muncul!. Terang Saja Jika Kalian Berdua Bingung. Bahkan Panik. Kalian Lupa, Bahwa Naluri Itu Belum Terjinakkan!. Wajar Saja Jika Kemudian Ia Mencabik2 Kalian Berdua!. Itu Yang Melahirkan Ego Kalian Berdua Terluka!. Tapi Aku Tahu, Michelle Mampu Dan Telah Melakukan Penjinakkan Itu. Sementara Kau, Sang Pemiliknya, Juga Tengah Berupaya Dengan

Susah

Payah Menjinakkannya. Dan Aku Tahu Kau Mampu. Aku Tahu, Sebentar Lagi Sang Mawar Hitam Itu Akan Jinak. Semuanya Karena, Kau Dan Ia Mampu Saling Menjinakkan Satu Sama Lain. Kalian Memang Di Peruntukkan Satu Sama Lain. Hanya Saja, Kini Kau Tengah Stress!. Tentu Saja. Karena Kau Sang Pemilik Mawar Hitam. Bukan Michelle. Michelle Telah Melakukan Tugasnya Dengan Menaklukkanmu. Sekarang Giliranmu Menaklukkan Mawar Hitammu. Kau Pun Stress!. Stress Karena Mawar Hitammu Yang Siap Takluk. Stress Dengan Pikiranmu Di Luar Kisah Cintamu. Stress Dengan Kuliahmu. Stress Dengan Ibu Kita Yang Tengah Sakit. Stress Dengan Ekonomimu. Stress Dengan Keinginanmu Menjadi Seorang Penulis. Stress Dengan Semua Bagian Dari Hidupmu. Stress Karena Kau Berucap Bukan Dari Hatimu!. Semuanya Karena Mawar Hitam Itu Merajalela Dan Kau Telah Mengetahuinya Serta Siap Menaklukkannya. Dan Aku Tahu Kau Akan Mampu Menaklukkannya!. Sisanya Kini, Adalah Efek Psikologi Dari Pertarungannmu. Kelelahan Akibat Pertempuranmu Menjinakkan Mawar Hitam. Kepenatanmu Akan Rasa Liar Itu. Kesesakkan Untuk Meminta Maaf  Pada Michelle. Dan Ketakutanmu Michellemu Meninggalkanmu Karena Kau Punya Sang Mawar Hitam!. Yang Kau Butuhkan Saat Ini Adalah: Berlibur Abangku!. Sendiri. Lebih Bagus Berdua Dengan Michellemu.

Agar

 

Ia

Tahu. Bahwa Abangku Itu Buruk!!!!. Ha…Ha…Ha… Aku Bercanda. Agar Michelle Tahu Bahwa Abangku Yang Liar Seliar-Liarnya Binatang Buas Di Alam Bebas, Telah Takluk Di Hadapannya!. Agar Kau Tahu, Bahwa Kau Hanya Harus Mencintainya!. Karena Kau, Abangku, Harus Bersyukur Mendapatkan Michelle!. Agar Kalian Tahu Bahwa Kalian Harus Bersatu Untuk Menjadikan Semesta Kalian!. Dan Aku Telah Merestui Kalian!. Aku Menyukai Kisah Cinta Kalian!. Terutama Michelle. Aku Mencintainya.

Karena

 

Ia

Mampu Menaklukkan Abangku!!!. Mampu Membuat Abangku Tak Berdaya!!!. Ini Kemenangan Kaumku, Wahai Abangku!!!. Dan Kau Memang Harus Terima Itu. Karena Kau Memang Hanya Mau Mencintai Perempuan Yang Meanklukkanmu!!!. Dan Perempuan Itu Telah Mencintaimu, Abangku!. Juga Kau!!!. Camkan Itu!!!. Ha…Ha…Ha…

(A): Ah, Kau Memang Adikku Yang Keparat!. Ha…Ha…Ha… Lalu, Apa Yang Harus Aku Lakukan Untuk Semestaku Yang Didalamnya

Ada

Michelle?. Hmmm… Maukah Michelle berlibur Denganku?. Ketempat Yang Jauh Dari

Jakarta

Yang Menyebalkan Ini?. Hanya Berdua?. Ke Jogja Atau Kemana Saja, Misalnya?.

(B): Kau Mesti Jelaskan Dulu Semuanya. Baru Kau Ajak Ia Berlibur. Mau Atau Tidak Bukan Hakmu Memaksa, Bukan?.

Jika

 

Ia

Tidak Mau, Kau Saja Yang Berangkat Sendiri!. Aku Tahu Michelle Bisa Mengerti. Dan Michelle Tak Perlu Takut Bahwa Abangku Akan Selingkuh Atau Kembali Ke

Jakarta

Menjadi Lebih Buruk. Kau, Abangku, Telah Takluk Dihadapannya!. Lagi Pula, Kau Memang Tak Bisa Berbuat Apa2 Di Tempat Berliburmu Nanti. Kalian Telah Berbahasa Hati Bukan?!. Michelle Akan Tahu Apa Yang Kau Lakukan. Rasa Punya Bahasa Dan Caranya Sendiri. Bukan Seperti Itu Yang Sering Kau Katakan Padaku, Abangku?. Ha…Ha…Ha… Minta Maaflah Pada Michelle.

Dan Saat Itu, Aku Hanya Mampu Menitipkan Kata Maaf Pada Hembusan Angin Serta Sebuah Kecupan Untuk Michelle. Jika Kemudian Pesan Singkat Datang, Aku Memang Terlambat Untuk Menjelaskan Semuanya Padamu, Michelle. (Kau Tahu Kadang2 Aku Memang Suka Telat. He666x.). Aku Pun Berangkat Ke Kantor Untuk Mengumpulkan Pundi2 Uang. Uang Kita.

“ Maafkan Aku Michelle. Kau Memang Telah Menaklukkanku. Dan Aku Telah Takluk Di Hadapanmu. Aku Memang Harus Menjinakkan Mawar Hitamku. Dan Aku Memang Tengah Menjinakkannya. Aku Sungguh Mencintaimu. Aku Tahu Kau Juga Begitu. ”

Kantor,

180206,

Belum Ada Satu Pun Yang Aku Kerjakan,

Mengira-ngira Penuh Iri Pada Kekasihku Yang Mungkin Tengah Berlibur Ke Mang Idi,

Hiks…Hiks…Hiks…

Kan

Aku Yang Butuh Liburan… L. Tapi Kau Juga Butuh Itu. J

22.00 WIB

Aku:

Akhirnya, Di Sinilah Kita Kembali Terhenti.

Di Ujung Jalan Yang Tak Bercabang Itu

Kau:

{ Seandainya Kau Bisa Mengatakan Itu, Saat Ini. }

{ Dihadapanku }

Aku:

Hmmm…

Untuk Apa?.

Membuatmu Senang?

Senang Bisa Memberi Kata Akhir Pada Bahagia Tak Terhingga.

Juga Rindu.

Bahkan Cinta

Kau:

{ Tidak!. }

{ Bukan Untuk Membuatku Senang! }

{ Karena Aku Tahu. }

{ Memang Tak Pernah

Ada

Bahagia Yang Langgeng. }

{ Setidaknya Di Dunia, Tak Pernah

Ada

Yang Mengada. }

{ Bukankah Begitu Kekasihku? }

Aku:

Ya!.

Bahagia Adalah Pencarian.

Ia Hadir Dalam Perjalanan, Dalam Proses.

Tidak Senantiasa Bersemayam Dalam Sesuatu Yang Ditargetkan.

Kau Paham Itu, Duhai Kekasihku ?!!

Kau:

{ Tapi, Mengapa?. }

{ Mengapa Kau Tak Jua Hadir Dalam Hari-hariku. }

{ Bahkan Kau Malah Meninggalkanku. }

{ Sendirian. }

{ Bersama Cintaku. }

{ Cinta Kita Yang Kau Tlah Beri Nama Dan Berwujud Manusia Itu ? }

Aku:

Karena Aku Harus Kembali Pada Semesta.

Yang Terjadi Pada Kita Adalah Sebuah Kepastian.

Atau Mungkin, Hanya Bagian Dari Kelemahan Yang Secara Serampangan

 

Kita Sebut Takdir.

Kau:

{ Aku

kan

Mencintaimu. }

Aku:

Tentu Aku Mengerti Itu.

Kau:

{ Lalu, Mengapa Kau Meninggalkanku?. }

{ Tahukah Kau, Disini Aku Tengah Tersedu-sedu? }

Aku:

Aku Tahu Itu.

Aku Tak Akan Meneteskan Air Mata Jika Tak Merasakan Hal Yang Sama.

Kau:

{  Bukankah Kau Tidak Bahagia Disana. }

Aku:

Mungkin.

Tapi Itu Tanggungjawab.

Aku Harus Menyelesaikannya Hingga Akhir Hayat.

Dan Seperti Aku Bilang, Bahagia

Ada

Dalam Perjalanan Menuju.

Meski Tidak Terletak Pada Tujuan, Kita Harus Tetap Punya Tujuan.

Berikan

 

Ia

Arah.

Karena Aku Tahu Kau Mampu.

Jaga

 

Ia.

Anak Kita.

- - -

Masih Saja Di Kantor,

150206,

Di Suatu Malam Yang Dingin, Usai Dihampiri Dan Berbincang Dengan Hatimu Yang Datang Tiba-tiba Duduk Diatas Meja Kerjaku,

Aku Pun Berkata: " Ini Pesanku Saat Aku Tak Disampingmu Nanti",

Sambil Ditatap Oleh Adit Yang Tengah Bingung,

03.02 WIB

“Diam Dan Hati Pun Berbicara”

Kuberikan Padanya,

Seikat Tangkai Bunga.

Bukan Mawar,

Anyelir,

Anggrek,

Atau Juga Edelweis

Bahkan Bunga Terindah Apapun Yang Tersedia Didunia.

Tapi Hatiku,

Jiwaku,

Rasaku,

Dan Diriku.

Bukan Sebagai Tanda Cinta

Atau Sayangku Padanya.

Tapi Sebagai Pengingat,

Dari Dan Untuk Seorang Teman,

Yang Mau Hidup,

Bersamaku,

Hingga Kini,

Entah Nanti.

Dan Aku Hanya Bisa Diam

Membiarkan Hati Bicara.

Hanya Mampu Pandangi,

Keindahanmu Yang Menarik

Dan Aku Sudah Tak Sanggup Lagi Berjanji,

Karna Lisanku Terkunci.

Hanya Mampu Sampaikan,

Ku Butuh Kau Saat Ini.

- - -

Warnet Sebelah Kampusku,

110206,

Usai Menyesapi Senja Yang Mendung Dan Membalas SMS Kau,

18.00 WIB

!!! Mawar Hitam !!!

!!! Amarahku Telah Terbangunkan !!!

Nyaris Seminggu Dan Rasa Terombang-ambing Layaknya Naik Perahu Nelayan Pencari Ikan, Masih Juga Belum Mau Hilang. Entahlah. Entah Sampai Kapan Rasa Jungkir Balik Itu Pergi. Bahkan Semesta Pun Masih Saja Terdiam. Diam Dalam Angkuhnya Yang Diam-diam, Keangkuhannya Mirip Denganku. Dan Juga Seperti Perempuanku. Tapi Aku Bukan Hendak Membicarakan Perempuanku. Aku Tengah Tak Perduli Padanya. Jujur, Aku Memang Tengah Tak Mau Ambil Peduli Pada Perempuanku. Ia Telah Torehkan Sembilu Di Salah Satu Sudut Ruang Hatiku. Dan Perih Itu Masih Juga Terlanjur Enggan Untuk Pergi. Karenanya, Kali Ini Aku Hanya Ingin Berbicara Tentangku. Tak Perduli Kalian Sebut Aku Apa. Tak Perduli!. Sungguh!. Aku Tak Pernah Mau Perduli Dengan Kalian!!. Karena Kali Ini Aku Hanya Ingin Mengelus Hatiku Yang Mengambang!. Terasa Mengawang-awang Dan Tak Berpijak Kembali Dibumi!. Dibumiku!!!. Sama Halnya Dengan Para Filsuf Yang Dengan Teorinya Itu Mengilusi Bahwa Langit Bisa Turun Ke Bumi. HUH…Irasional!!!. Dan Aku Sudah Mulai Membenci Mereka!. Sebenci Aku Terhadap Sang Waktu Yang Dengan Kejumawaannya Hadirkan Jarak Antara Aku Dengan Perempuanku!!!. Bukan Jarak Hati!. Tapi Jarak Kebersamaan!!!. Ya!. Aku Benci Berpisah Dengannya Meski Hanya Untuk Pulang Ke Rumah Masing2!!!. Apakah Perempuanku Sama Membenci Yang Aku Benci?. Entahlah!. Mengapa Sang Masa Tak Pernah Juga Mau Mengerti Bahwa Aku Tak Pernah Mau Jarak Dan Waktu Hadir Diantara Aku Dengannya?. Apakah Perempuanku Berpikir Yang Sama Denganku?. Entahlah!. Aku Tak Mau Ambil Pusing!!!. Mengapa sang Masa Tak Pernah Juga Mau Memahami Bahwa Aku, Entah Perempuanku, Tak Jua Mau Pulang Ke Rumah Masing2?. Tapi Aku Tahu. Meski Demikian, Aku Telah Pulang Ke Hati Perempuanku!. Entah Perempuanku Telah Pulang Ke Hatiku Atau Tidak!!!. Aku Sedang Tak Mau Tahu Dan Ambil Perduli!. Masa Bodoh Dengannya!!!. Masa Bodoh Dengan Segenap Perasaannya Terhadapku!!!. Aku Tak Mau Ambil Perduli!. Aku Hanya Ingin Memperdulikan Perasaanku Saja!!!. Egoku Yang Tengah Terluka!. Dipikir-pikir, Betapa Bodohnya Waktu Dan Jarak!. Gencatan Senjata Yang Sebelumnya Telah Disepakati, Kini Kembali Mesti Batal!!!. Batal Atas Nama Egoku!. Karenanya, Mereka Tengah Aku Dendam Kesumati!!!. Hingga Suatu Saat Nanti, Hanya Ada Dua Pilihan. Aku Atau Waktu Dan Jarak Yang MATI?. Bahkan, Betapa Bodohnya Perempuanku!!!. Meski Ia Tak Sadar, Atau Tak Mau Sadar?, Diam-diam Perempuanku Telah Membangunkan Salah Satu Sisi Kelamku!!. Bahwa Sisi Kelam Yang Lama Aku Biarkan Tertidur Panjang Itu, Telah Ia Guncangkan. Tahukah Ia?. Atau Tak Mau Tahu?. Entahlah. Sekali Lagi, Aku Tak Mau Perduli Dengannya!!!. Dan Sisi Kelam Itu Telah Mulai Berteriak2 Lantang, Dengan Warna Merah Hitamnya, Yang Kadang, Aku Sendiri Takut Akannya. Bukan Hanya Lantang. Tapi Juga Penuh Caci Maki Yang Bisa Membuat Sakit Hati!!. Ya!. Bisa Membuat Sakit Hati!!!. Karena Amarahku Dendam Dengan Siapapun Dan Apapun Yang Telah Membuat Hatiku Terluka!. Apa?!. Kalian Mau Dengar?. Yakinkah Kalian Mau Mendengarnya?. Hmmm…Baiklah. Akan Aku Perdengarkan Caci Maki Yang Membuatku Takut Itu.

{ SIAPAKAH KAU YANG BERANI MEMBANGUNKAN DARI TIDUR PANJANGKU?!!. CEPAT JAWAB!!!. SIAPAKAH KAU?!!. APA HAKMU MEMBANGUNKAN AKU?!!. APA KEWAJIBANMU?!!. SADARKAH KAU?!! BAHWA ATAS NAMA HAK DAN KEWAJIBAN YANG KAU DENGUNG2KAN ITU, JUSTRU MEMATIKAN TUANKU?!!. SADARKAH KALIAN?!!. TAHUKAH KALIAN, SAAT LUBANG HITAM TUANKU TERKUAK, AKU PUN MENYERUAK!!!. MENYERGAP!!!. TAHUKAH KAU BAHWA TUANKU ITU TELAH BERSUSAH PAYAH MENIDURKANKU?!!. PERLU KEGILAAN YANG PANJANG BAGI TUANKU UNTUK MENIDURKANKU!!!. PERLU RENUNGAN PANJANG AGAR TUANKU ITU DAPAT MENGALAHKANKU!!!. KARENANYA, KAU TAK PUNYA HAK MEMBANGUNKANKU SAMA SEKALI!!!. TAK SEDIKIT PUN!!!. TIDAK SETITIK PUN!!!. HAKMU TELAH MATI BERBARENGAN DENGAN KEBANGKITANKU DARI TIDURKU!!!. DI HADAPANKU, KAU TELAH KUANGGAP MATI!!!. TAK PERLU BANYAK KATA!!!. BAHKAN JIKA KAU HENDAK BERKATA BAHWA KAU TAK SENGAJA MEMBANGUNKANKU, KAU TAK BISA MENGHINDAR DARIKU!!!. KAU TAK BISA LARI DARIKU. BAHKAN DALAM PELUKAN IBUMU!!!. SIAPAPUN IBUMU ITU!!!. KAU AKAN RASAKAN TUANKU, AKU KUASAI!!!. DAN SAAT IA SUDAH MULAI AKU KUASAI, KALIAN TIDAK AKAN PERNAH BISA LAGI BERTEMU DENGANNYA!!!. TUANKU YANG SELAMA INI KALIAN KENAL!!!. DEKAT MAUPUN JAUH!!!. AKAN AKU KUASAI TUANKU HINGGA KALIAN HANYA DAPAT MERASAKAN PEKAT, KELAM DAN HITAMNYA AKU!!!. DAN SAAT KALIAN BERADA DI DEKAT TUANKU, YANG KALIAN INGINKAN HANYALAH PERGI SAJA DARI SISINYA, DARI DIRIMU SENDIRI, DARI DUNIA INI!!!. PERGI DENGAN PENUH PENYESALAN KARENA TAK SENGAJA (?) TELAH MEMBANGUNKAN AKU!!!. MENGGANGGU TUANKU!!!. PERLAHAN-LAHAN AKAN AKU MATIKAN TERANGNYA LOGIKA DAN HATI TUANKU. DAN AKU GANTIKAN DENGAN GELAP!!!. GELAP YANG MEMBATU!!!. HINGGA NANTI SAAT KALIAN BERTEMU DENGANNYA, KALIAN HANYA AKAN DIANGGAP MATI OLEH TUANKU!!!. OLEHKU!!!. YA!. KALIAN AKAN MERASAKAN BAHWA SAAT KALIAN BERHADAPAN DENGAN TUANKU, KALIAN HANYA MERASAKAN MENJADI SEKUMPULAN ZOMBIE!!!. MATI!!!. KALIAN SEMUA AKAN MERASAKAN DINGINNYA HAWA KEMATIAN, MESKI TUBUH DAN RUH KALIAN BELUM MATI!!!. TAPI AKU PERCAYA, KALIAN AKAN MERASAKAN PENGALAMAN ITU!!!. KEMATIAN ITU!!!. KALIAN AKAN DIANGGAP TAK ADA OLEH TUANKU!!!. DIANGGAP TAK ADA!!!. TUANKU MEMANG AKAN HANYA DIAM SEPERTI BIASANYA!!!. TAPI KALI INI, DIAM YANG TAK MEMBUAT KALIAN BETAH SAAT DISAMPINGNYA!!!. TUANKU MEMANG HANYA AKAN MENATAP KALIAN!!!. TATAPAN YANG SEPERTI BIASANYA!!!. TAPI KALI INI, ITU MERUPAKAN TATAPAN YANG TAK PERNAH KALIAN LIHAT SEBELUMNYA!!!. TATAPAN YANG SANGGUP MENCABIK2 JIWA DAN RUHMU TANPA IA HARUS MEMBUNUHMU DENGAN MENGOTORI TANGANNYA!!!. KARENA AKU MEMANG TAK INGIN TUANKU MENGOTORI TANGANNYA!!!. TAK PERNAH MAU!!!. LALU, SAAT KALIAN MENGAJAKNYA BERBICARA, TUANKU AKAN BERBICARA SEPERTI BIASANYA!!!. TAPI TIDAK PILIHAN KATA DAN NADA BICARANYA!!!. YANG HADIR HANYALAH KATA DAN NADA TAJAM SERTA MENGIRIS MELALUI LISANNYA!!!. HINGGA KALIAN HANYA BISA MERASAKAN LAYAKNYA TIKUS SAAT TERPOJOK OLEH KUCING!!!. DAN KUCING PUN AKAN MENERKAM SANG TIKUS UNTUK MENCABIK DAGINGNYA, MENGUNYAHNYA PELAN2, GEMELETUKKAN GELIGINYA SAAT MEMATAHKAN TULANG SANG TIKUS, DAN MENYISAKAN BEBERAPA POTONG DAGING SANG TIKUS SEBAGAI PENANDA SEBUAH KEKEJAMAN!!!. TERSERAH KALIAN PERCAYA ATAU TIDAK!!!. TAPI YANG JELAS, KALIAN BOLEH MENCOBANYA!!!. KALIAN INGIN MEMATIKAN AKU?!!. KALIAN INGIN MEMATAHKAN AKU?!!. KALIAN INGIN MENEMBUSKU?!!. COBALAH!!!. KALIAN AKAN SULIT MENEMBUSKU!!!. KARENA DINDING TEBAL TAK TEMBUS APAPUN ITU SUDAH TERLANJUR HADIR!!!. BAHKAN TUANKU YANG TENGAH BERUSAHA KERAS MERUNTUHKANNYA, TAK SANGGUP MELAKUKANNYA!!!. DAN AKU PERNAH DIKALAHKAN OLEH TUANKU SEBELUMNYA. KALI INI, AKU TAK MAU DIKALAHKAN KEMBALI!!!. TAK AKAN PERNAH MAU!!!. BERSIAP-SIAPLAH, WAHAI KALIAN YANG TELAH MEMBANGUNKANKU!!!. KENAPA?. KALIAN BERTANYA KENAPA AKU MELAKUKAN INI?. HA666X. KARENA AKU TAK INGIN TUANKU SAKIT!!!. JELAS?!!. KARENA AKU TAK INGIN HATINYA DIKOYAK-KOYAK OLEH, APA YANG KALIAN BIASA SEBUT ITU?!!, HAK DAN KEWAJIBAN?!!, CIH!!! HAK DAN KEWAJIBAN YANG TELAH MEMBUAT TUANKU TERLUKA?!!.HA666X. PUIH!!!. LEMPARKAN SAJA HAK DAN KEWAJIBAN KALIAN ITU DI KERANJANG SAMPAH!!!. BUAT ORANG LAIN MUNGKIN MASIH BERLAKU, TAPI TAK BERLAKU UNTUKKU!!!. JIKA MAU, LEBIH BAIK KALIAN BUNUH DIRI DAN MASUK BERSAMA HAK DAN KEWAJIBAN YANG ADA DI KERANJANG SAMPAH ITU!!!. DAN JANGAN SALAHKANKU JIKA KALIAN BUNUH DIRI!!!. KARENA KALIAN PANTAS UNTUK ITU!!!. MAAF?!!. ITU SEMUA SUDAH TAK BERLAKU LAGI!!!. SUDAH TERLAMBAT!!!. SUDAH DITUTUP!!!. SEMUANYA KARENA AKU MENCINTAI TUANKU!!!. TANPA BATAS!!!. TANPA PERNAH ADA MAKSUD DENGAN SENGAJA MAUPUN TIDAK, UNTUK MELUKAI PERASAANNYA YANG MUDAH RETAK!!!. AKU MENCINTAI TUANKU TANPA PAMRIH!!!. TANPA ADA SYAK WASANGKA!!!. TANPA ADA KEINGINAN UNTUK TIDAK MEMPERCAYAINYA!!!. AKU MENCINTAI TUANKU DENGAN SANGAT!!!. SEPERTI KUDA DENGAN PENUNGGANGNYA!!!. SEPERTI ANJING DENGAN TUANNYA!!!. SEPERTI SEMESTA!!!. SEPERTI ANGIN YANG BAHAGIA DI HIRUP DAN DIBUANG MANUSIA!!!. MESKI MANUSIA TAK PERNAH BERTERIMA KASIH PADANYA, UDARA TETAP SAJA JADI UDARA!!!. TAK PERNAH MEMINTA LEBIH!!!. HANYA MEMBERI!!!. DAN KALI INI, AKU AKAN MEMBERI TUANKU DIRIKU!!!. AKU CINTA TUANKU!!!. KALIAN DENGARKANLAH ITU, DAN BERSIAPLAH!!!. UNTUK RASA MATI ITU!!!. }

Dan Aku Pun Tak Dapat Berbuat Apa-apa. Bahkan Untuk Melawannya, Aku Tak Sanggup. Ia Membiusku. Dengan Ini…

Luka Yang Tertoreh Itu,

Terlalu Berat Untukmu.

Perih Dari Guncangan Itu,

Terlalu Keras Untuk Kau Rasakan.

Semuanya Tak Seperti Keinginan Dan Harapan,

Yang Selalu Kau Impikan,

Kau Inginkan,

Kau Khayalkan

Dan Kau Bayangkan,

Dulu,

Juga Sekarang.

Kau Telah Lelah Arungi Waktu Dalam Tiap Pelukan

Kau Hanya Ingin Satu Pelukan.

Dan Aku Tahu Itu.

Entah Mereka,

Mereka Tak Perduli Padamu.

Karenanya,

Meski Airmata Darahmu Telah Menggelinang,

Atau Kau Menggelinjang Dari Bekapku,

Tetap Saja Aku Terhadirkan,

Langitmu Tetap Saja Kembali Padaku

Sang Hitam.

Kini, Tak Usah Kau Renungi Atau Juga Ratapi

Semuanya Telah Terjadi.

Aku Telah Hadir

Dan Kau Tak Bisa Lagi Menolakku.

Ini Adalah Jalan Terbaik Agar Kau Tetap Berdiri.

Dan Penyesalan Memang Selalu Menakutkan

Tapi Itu Kenyataan.

Usah Kau Menangis.

Meski Kau Sesali

Dengan Sangat Menyesali,

Pikirkan Semua

Ternyata Segalanya Tak Kau Inginkan,

Ternyata Tak Ada Yang Menginginkanmu,

Bukan?

Mestinya Kau Sudah Sadari Itu.

Sadari Dengan Kesadaran Hati Dan Logikamu Yang Jernih Dan Putih.

Jika Kini Kau Tersadar,

Jangan Pernah Hadirkan Sesal Di Hati.

Tapi Yakinkan Dirimu Untuk Pergi

Kau Harus Untuk Pergi Menjauh Dari Ini Semua.

Biar Aku Yang Mencoba Hadapi Semua Ini,

Sendiri.

Tapi, Entah Kenapa Kau Yakin,

Bahwa Aku Tak Pantas Hadir.

Tahukah Kau?

Kau Tak Akan Pernah Cukup Untuk Melawanku,

Kau Pun Tak Akan Mampu Untuk Bertahan Dariku,

Karena Kini,

Mawar Penghias Malam Telah Terbangunkan.

Akulah Mawar Hitammu,

Zoel.

Harumku Kepedihan,

Nyata.

Inikah Jalan Hidupku?

Selalu Bersatu Dengan Sendu?

Fiuh…

- - -

Somewhere Between My Heaven And Hell,

Somewhere Between Those Day,

Baru Hendak Makan Setelah Seharian Belum Makan,

Dingin Pun Mulai Merangsek,

FUCK!!!

“Jangan Pernah Kau Berhenti”

Kau Tarik Secarik Kertas Dari Buku Tak Bersampul Berwarna Hitam Bergambar Tokoh Kartun, Yang Lucunya, Ku Tak Tahu Pasti Kau Suka Atau Tidak. Tapi Yang Aku Tahu Pasti: Kau Biarkan Duniamu, Dirimu, Jiwamu Bahkan Hatimu Tertoreh Disana. Ada Resah, Perih Dan Pedih Meruap. Tak Lupa Bahagia, Cinta Dan Juga Rasa Haus Lainnya Terpahat Genapi Manusia, Perempuan, Seperti Kau. Perempuan Yang Telah Renggut Waktuku!. Cerabut Logikaku!. Koyakkan Hatiku!. Saat Aku Tenggelam Bersama Khayalmu!!. Saat Senjata Yang Telah Diraih Kau Muntahkan Membuatku Terkadang Sesat Di Dalamnya. Tapi Tak Pernah Lama. Karena Penunjuk Arah Itu Selalu Kau Titipkan Disana. Bahkan Kadang, Kau Sendiri Yang Tunjukkan Arah Itu. Dan Disini, Kembali Aku Tengah Cerecapi Muntahmu. Muntahmu Yang Ku Benci. Muntahmu Kadang Hadirkan Sepi. Muntahmu Yang Seringkali Hadirkan Sunyi. Muntahmu Dari Heningmu. Muntahmu Yang Tulikan Telingaku. Muntahmu Yang Butakan Mataku. Tapi, Muntahlah Terus Kekasihku. Agar Tak Kulihat Dan Kudengar Kedengkian Yang Mungkin Benar. Karena Diam-diam Aku Selalu Rindu Muntahmu.

Memang, Terkadang Aku Menyerah Akan Taringmu. Hanya Sanggup Terdiam Dalam Cengkeramanmu. Tapi Sungguh Aku Pinta. Teruskanlah Kau Menjarik Kata!. Teruskanlah Kau Mencabikku!. Teruskanlah Kau Menghardikku!. Teruskanlah!. Akan Aku Baca!. Jangan Katamu Terhenti!. Dan Kau Tahu Itu Pasti!!!.

@ Untuk Michelle @

- - -

Kontrakkan,

100206,

Usai Berolok-olok Dengan Rudi Dan Ani,

22.53 WIB

~ Indah ~

Malam Tetap Diam Saat Waktu Menggeret Jauh Beranjak Bersama Hujan Yang Merinai Baluri Semesta. Tidak Keras. Tapi Syahdu. Dan Aku, Masih Disini. Di Tempat Seorang Kawan Mencari Bulir-bulir Berliannya. Dipersilahkannya Aku Untuk Menggerogoti Helai Demi Helai Isi Kocek Sang Sistem Yang Kejam Pada Buruh-buruhnya. Meski Hujan Telah Mereda, Dunia Maya Terlanjur Menyambutku. Ramah. Seramah Hari Yang Telah Kulewati Bersama Perempuanku. Bersama Kekasihku. Michelle. Telah Kuhabiskan Hari Ini Dengan Menguakkan Lubang Hitamku (Kau Pasti Tau Apa Ini) Padamu. Meski Kau Tak Memintanya. Tapi Aku Bahagia Telah Membaginya Padamu. Bahagia Dengan Gandeng Tanganmu. Bahagia Dengan Nada Ujarmu Yang Khas Dan Kuhapal Itu. Bahagia Dengan Amarahmu. Bahagia Dengan Cubit Dan Gigit Yang Besok Pasti Membiru Di Tubuhku. Bahagia Dengan Rokok Yang Sama-sama Kita Hisap. Bahagia Dengan Pencapaian Yang Telah Terlewati Dan Tengah Menanti. Bahagia Dengan Toilet Yang Tersenyum. Bahagia Dengan Canda Tawa Di Bawah Sebuah Gapura. Bahagia Dengan Pertemuan Dengan Kawan2 Yang Bertemu Tak Sengaja. Bahagia Dengan Rengkuh Itu. Bahagia Dengan Harum Rambutmu Dan Halus Kulitmu. Bahagia Dengan Kecup Itu. Bahagia Dengan Rasa Sayang Yang Masih Hadir Dan Enggan Pergi. Bahagia Dengan Maaf Yang Tak Perlu Diucapkan Karena Kau Dan Aku Sudah Memaafkan. Bahagia Dengan Kotak Empat Yang Tiba2 Disiram Hujan. Bahagia Dengan Hujan Yang Menelanmu Hilang. Bahagia Saat Rengkuh Dan Kecup Menceritakan Bahwa Kita Tak Hendak Merelakan Sang Masa Memisahkan Mendetiknya Waktu Bersama. Bahagia Saat Pesan Singkat Yang Mampir Dan Kukirimkan Kembali Padamu. Bahagia Saat…

Ah, Hari Ini Indah Buatku Dan Michelle.

Dan Kawanku Pun Menggegaskan Aku Untuk Segera Kembali Ke Kontrakkan.

Terakhir, ‘Ada Banyak Cara Untuk Berseteru Tapi Hanya Ada Sedikit Cara Untuk Mempertahankannya. Cintalah Yang Mempertahankan.’

Aku Sayang Kau

VHR RADIO

Tujuh Bulan Komitmen Kita,

Masih Bersama Kawan Kontrakkan Yang Tengah Melakukan Perbuatan Tak Senonoh (U Don’t Wanna Know It. Dijamin.He666x)

23.20 WIB

~ Sebuah Bantahan Dari Gugatan ~

Duduk diatas kursi yang terbiasa memangku diri yang mulai merasakan siksa atas gumulan hati. Menyesapi nada kata penuh nyawa berwarna hijau. Memperkenalkan “Lubang Hitam” Jiwa seorang Lelaki Yang Memang Telah Memilih Untuk Menguakkannya Saat Ia Kembali Jatuh Cinta Pada Perempuan Bernamakan Senja. Cinta Baru Dan Khusus Serta Tak Biasa Tentu Beda Dengan Kisah Lama. Cinta Baru Karena Dengan Kedatangan Sang Senja Disuatu Waktu Hanya Untuk Menyaksikanku Terlelap. Cinta Yang Khusus Karena Celoteh Ringan Hingga Sengit Kadang Berakhir Dengan Gigit Atau Cubit Akan Segala Isi Hati Dan Kepala. Cinta Tak Biasa Karena Dua Manusia Berbeda Tapi Tetap Saja Sama Dengan Buktinya, Tetap Berkelahi Meski Hanya Dengan Kata Tertulis Saling Melontarkan Di Dunia Maya. Dan Tiba-tiba Saja, Lentera Kecil Dalam Palung Hati Yang Telah Lama Teracuhkan Berpijar Meski Kini Masih Kecil Tapi Akan Membesar Jua. Dan Pijar Itu Telah Membesar Saat Pagi Ini Hati Resah Serta Rasa Tertoreh Sembilu Akan Ketakutan Kehilangan Senja Muntahkan Semua Kata Jiwa. Harap Ini Adalah Bantahan Dari Sebuah Gugatan Emosional Penuh Fatalistik.

Saat Aku Mengatakan Hidup Menjadi Paksaan Adalah Diluar Kata Cinta. Tak Pernah Ada Yang Mau Membantah Atau Bahkan Mengubah Saat Uang Menjadikan Manusia Robot-robot, Sikut-Menyikut, Bunuh-membunuh sesama. Ya!. Hidup Adalah Ekonomi Dan Ekonomi Memaksa Hidup. Dan Ekonomilah Yang Kumaksudkan Sebagai Pemaksa Hidup. Tak Lebih Dan Tak Kurang. Hidupku, Kau, Mereka Dan Kita Semua. Dipaksa Untuk Tidak Bisa Tenang Dalam Menjalani Kehidupan. Senja, Tunjukkan Padaku Satu Cerita Ekonomi Yang Tidak Melahirkan Tragedi Dan Ironi!!!. Bahkan Sejak Manusia Tercipta Dan Ditempatkan Tuhan Di Surga, Ekonomi Telah Merajalela. Iblis Menggunakan Buah Pengetahuan Dan Memperalat Manusia Untuk Menggapai Keinginannya. Mendepak Manusia Menjauh dari Surga. Itu Adalah Paksaan Dalam Hidup Yang Kumaksud. Tapi Saat Cintaku Dipersamakan Dengan Ekonomi, Aku Tak Terima. Aku Telah Memilih. Untuk Menjalani Hidup Bersama Senja Yang Tulisannya Banyak Menamparku. Menampar Hatiku. Aku Telah Memilih. Tuk Bergandengan Tangan Dengan Senja Yang Bisa Saja Tiba-tiba Mengepalkan Tangannya Padaku. Aku Telah Memilih. Tuk Melarungi Hari Dan Waktu Bersama Senja Yang Seringkali Ku Olok-oloki. Aku Telah Memilih. Memeluk Tubuh Mungil Yang Harumnya Telah Mengendap dalam Kepalaku. Aku Telah Memilih. Menggambarkan Senja Dalam Kanvas Langit Jiwaku. Aku Telah Memilih. Merekam Suaramu Dalam Memori Otakku. Aku Telah Memilih Membuka “Lubang Hitamku” Meski Nuansa dan Suasana Tidak Tepat Karena Saat Itu Penat Tengah Membekap. Aku Telah Memilih Cintaku. Aku Telah Memilihmu, Senjaku. Aku Telah Memilihmu…

Tapi Kemudian, Kau Memilih Untuk Menutup Rasa, Mata, Telinga, Bahkan Jiwa. Kau Memilih Untuk Mengujarkan Ini Semu. Semu Karena Aku Pernah Punya Masa Lalu?. Semu Karena Masa Lalu Itu Telah Terkubur Jauh?. Semu Karena Aku Tak Mudah Jatuh Cinta? Semu Karena Aku Adalah Lelaki Yang Tak Mudah Begitu Saja Menyerahkan Hatiku?. Semu Karena Aku Tak Bisa Kau Sentuh?. Semu Karena Aku Tak Bisa Kau Tebak?. Semu Karena Kau Memujaku? Atau Semu Karena Aku Jatuh Cinta Kembali Untuk Yang Kedua Kali Pada Seorang Perempuan? Semu Karena Aku Tahu Apa Yang

Ada

Dalam Hati Dan Pikiranmu Sementara Kau Tidak?. Semu Karena Hati Dan Jiwa Ini Tengah Berusaha Berada Dalam Satu Gelombang Yang Sama? Semu Karena Kini Saatnya Aku Menunjukkan Cintaku? Semu Karena…

Ah, Senjaku…

Tak Perlu Sedu

Sedan

Itu.

Tak Perlu Tangis Ini.

Tak Perlu Kau Mempertanyakan Aku.

Tak Perlu Perih

Tak Perlu Sedih

Tak Perlu Hampa

Tak Perlu Kau Logikakan Dan Wujudkan Rasa

Tak Perlu.

Karena Aku,

Tak Memerlukan Apa-apa

Hanya Kau…

Kantor,

Sehari Sebelum Komitmen Kita,

Sehabis Membangunkan Om Boyo Yang Kaget Dibangunkan,

05.48 WIB

Next Page »