Archive for January, 2006

- A Blue… -

“Kau curi wajahku menenggelamkannya dalam gua rahasiamu… Aku sering mencuri huruf-hurufmu lalu menyentuhnya dengan kedua tangan dan dua puluh roh jari-jariku… Merambah birahi keperawananmu…”

Saat ini’ku masih bersamamu.

Hari-hari indah akan kita lalui.

Takkan pernah ku menjauh darimu.

Percaya padaku ‘ku ‘

kan

slalu disampingmu.

Walau hingga nanti, salah satu dari kita

kan

pergi.

Meninggalkan salah satu, tapi tidak cinta kita……

Tunggulah diriku di ujung waktu di situ kita bertemu.

Takkan ada lagi perpisahan.

Cinta kita ‘

kan

abadi………

-Undissapearing Name-

(For The Inspiration, Thanks. We Miss You Down Here, Niece)

- Kepada -

…Malam yang glap dan pekat…

Ijinkan ‘ku temukan plita ‘tuk terangi ruang hati ini.

…Malam dingin yang menggigit…

Ijinkan ‘ku hangati jiwa ‘tuk hindari pelukmu yang melilit.

…Malam sunyi nan sepi…

Ijinkan ‘ku lindungi batin ini ‘tuk senandungkan nada.

…Malam yang bertemankan angin…

Ijinkan ‘ku titipkan kata ‘tuk lepaskan rasa.

…Malam yang penuh bintang…

Ijinkan ‘ku tatapi kau ‘tuk slalu mengingatnya.

…Malam yang bertemankan dengan bulan…

Ijinkan ‘ku ‘tuk menyinarinya dengan hati ini.

…Malam yang bersahabatkan awan…

Ijinkan ‘ku menaikimu ‘tuk pergi menuju kasihku.

…Malam tenang nan dingin…

Ijinkan ‘ku ‘tuk ungkapkan, aku menyayanginya, ‘tuk katakan ingin slalu berada disampingnya…

…Malam…

Aku menyayanginya…

Ingin slalu disampingnya…

…Malam…

Aku butuh dia…

Aku Tak Mencintaimu !!!

Aku tak mencintaimu seandainya Kau adalah mawar-tawar, topaz atau tangkai anyelir yang menyemai api:

Aku mencintaimu seperti benda hitam yang dicintai, secara rahasia, antara bayangan dan jiwa.

Aku mencintaimu seperti tanaman yang tidak mekar dan menyebar tersembunyi di dalam dirinya cahaya dari bunga-bunga, dan berkat cintamu, yang gelap di dalam tubuhku hiduplah wewangi pekat yang terbit dari bumi.

Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana.

Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa persoalan atau kebanggaan: Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tak tahu cara lain untuk mencinta tapi inilah, di mana tiada aku atau kamu, begitu lekat, tanganmu di atas dadaku adalah tanganku, begitu rapat, ketika aku jatuh lelap adalah matamu yang melindap.

Bagai Sekuntum Bunga Pada Wanginya Aku Trikat Pada Knangan Samar Tentangmu. Aku Hidup Dengan Perih Yang Mirip Luka. Jika Kau Sentuh Aku, Kau ‘kan Mrusakku Hingga Mustahil Diperbaiki.

                                                                                                          -Rapuh-

“Kelas dalam Bahasa Media”

Sumpah Pemuda:

1. Berbangsa Satu, Bangsa

Indonesia

. 2. Bertanah Air Satu, Tanah Air

Indonesia

. 3.Berbahasa Satu,  Bahasa Indonesia


Puluhan tahun lalu, sekelompok pemuda yang tersadarkan berikrar di Gedung Pemuda

Jakarta

. Ikrar terkenal dan dikenal ini, menjadi biasa kita sebut sebagai Sumpah Pemuda. Dan pada setiap tanggal 28 Oktober, bangsa ini memperingati dengan cara memerahkan tanggal dalam kalender, dan menyebutnya sebagai: ‘Hari Sumpah Pemuda’.

Masuk akal jika pertanyaan segera meluncur. Mengapa negara ini perlu membuat merah tanggal ini dalam sistem perkalenderannya?. Wajar saja, dalam tautan sejarah bangsa ini, Sumpah Pemuda adalah salah satu dasar bagi semangat kebangsaan. Sebuah semangat kebangsaan yang bersatu dan berdaulat. Tak hendak dipisahkan apalagi dipecahkan. Jalin-jemalin Sumpah Pemuda dengan masa kini adalah ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tapi fenomena penggunaan bahasa persatuan ini berubah, bila kejelian hadir membedahnya.

Salah satunya, bahasa yang digunakan oleh media

massa

bangsa ini. Seringkali ditemui, bahasa media satu dengan yang lainnya berbeda. Perbedaan ini terkadang memunculkan wacana, seorang pembaca media A lebih intelek dibandingkan media B. Perbedaan “intelektualitas” ini disebabkan, media A menggunakan diksi dalam kalimat beritanya, dan mengklaim sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, Sementara media B diklaim tidak. Contoh termudah adalah saat kita membandingkan diksi dalam kalimat berita antara Kompas dan Non Stop. Jauh sekali. Begitu jauhnya hingga terkadang, pada tingkatan yang lebih ekstrem, media yang menggunakan kaidah bahasa Indonesia disebut sebagai media kelas atas. Sementara, yang satunya lagi disebut sebagai media kelas bawah!

Imbasnya, pembagian kelas dari pembacaan sebuah media

massa

! Pembaca Kompas seringkali disebut sebagi manusia yang mempunyai keintelektualan yang lebih. Sedangkan pembaca Non Stop disebut sebagai manusia yang intelektualitasnya rendah. Hingga secara sosial, sering ada labirin yang tidak disadari saat seorang tukang rokok di jalanan atau kendaraan umum yang membaca Non Stop, dengan Mahasiswa/i yang membeli rokoknya dan kebetulan pembaca Kompas, menganggap lebih atau kurang satu dengan lainnya. Padahal yang terjadi, penggunaan kaidah-kaidah berbahasa

Indonesia

ini disebabkan karena kebijakan redaksional media tersebut dan kebijakan satu sama lainnya tidaklah sama.

Dari ilustrasi ini pertanyaan terasa wajar muncul. Jika memang bangsa ini telah bersepakat akan Sumpah Pemuda serta jalin-jemalinnya sebagai bahasa persatuan, lalu, manakah bahasa Indonesia yang memang bahasa Indonesia ditilik dari fenomena ini?  Media manakah yang memang menggunakan bahasa persatuan itu sendiri? Apakah tujuan, tugas dan fungsi dari media

massa

itu sendiri? Jika memang media

massa

mempunyai tujuan untuk mempersatukan bangsa ini, lantas mengapa seringkali timbul perseteruan sesama media yang mendaku bahwa diksi kalimat beritanya benar-benar

Indonesia

? Lantas dimanakah peran media

massa

sebagai alat pemersatu bangsa ini? Atau memang benar, bila kita berkehendak untuk mencurigai, bahwa media

massa

bangsa ini hanyalah provokator yang intelek? Provokator yang bermaksud memecah bangsa ini menjadi kelas-kelas tersendiri? Kelas intelektual dan bukan intelektual? Apakah arti intelektual itu sendiri? Apakah menurut pengertian kamus ataukah menurut pendapat bebas dari setiap orang yang mempunyai kepentingan dengan kata tersebut?. Apakah sarjana termasuk intelektual? Apakah setiap orang di antara kita intelektual atau tidak? Apakah kata intelektual itu satu atribut (sifat) dari sebahagian kecil bangsa yang merasa diri berpikir lebih daripada bagian selebihnya?.

Jawabannya sendiri, klaim kebenaran atas penggunaan diksi kalimat berita bukanlah milik satu media maupun bangsa itu sendiri. Bahkan klaim sebuah diksi di luar kalimat berita, juga bukan milik satu individu. Tapi kesepakatan bersama yang mudah digoyahkan. Artinya, kesepakatan umum atas sebuah diksi memang dapat menjelaskan sebuah makna, tapi tidak seharusnya menindas individu itu sendiri. Dengan kata lain, dialektika atau proses, terjadi bukan hanya dalam hidup manusia. Tapi juga dalam tubuh media dan bahasa. Dan itu terus menerus berlangsung dalam tiap patahan waktu dari manusia. Karenanya, terasa tidak pantas jika kemudian klaim itu dikobarkan dengan penuh semangat, baik oleh media itu sendiri atau juga, Departeman Pendidikan Dan Budaya, yang ternyata memiliki Lembaga Pemilihan Penggunaan Bahasa (?). Bahwa lembaga itu dalam tiap tahunnya, memberikan penobatan dari sebuah pemilihan, itu masih patut dipertanyakan. Baik pada media itu sendiri, maupun lembaga pemilihan bahasa. Berangkat dari ketidak-jelasan penilaian dan klaim kebenaran dari tiap media, terasa pantas jika kemudian telunjuk menuding hidung mereka sebagai biang dari pemberian sekat di masyarakat. Tentunya dengan basis dari sebuah diksi yang masih perlu jawaban lugas, jelas dan tegas: Intelektualitas! Atau mungkin kita harus kembali mengkonstruksi ulang ini semua karena, mungkin bila kita mau menanyakan, seorang Pramoedya Ananta Toer sendiri pun tidak dapat menjawabnya.

“KUTEMUKAN JUA TEMAN HIDUPKU”

Kutemukan Jua Teman Hidupku.

Dalam Lipatan Baju,

Di Keliman Bibir Yang Jarang Mencumbu,

Bahkan Di Asap Menggumpal Keluar Dari Rokok Yang Kuhisap Dalam-dalam Melewati Hati Dan Nadi,

Sketsakan Ia.

Kutemukan Jua Teman Hidupku.

Saat Ku Bergelut Dengan Waktu,

Berjibaku Dengan Sendu,

Bahkan Dalam Secangkir Kopi Panas Sedikit Pahit Yang Kuhirup Nikmat Lalui Tenggorokan Rusakku,

Cecapi Ia

Ku Temukan Jua Teman Hidupku.

Di Tiap Kata Tanpa Irama Tapi Penuh Nada.

Dalam Gigitan Dan Cubitan Terkadang Undang Tanya.

Bahkan Disaat Nafas Menghela Udara Kotor Kota

Kutemukan Jua Teman Hidupku.

Dalam Langkah Saat Mengadu Peruntungan Hidup Tanpa Lelah,

Di Tiap Gemulir Keringat Asin Menetes Deras,

Bahkan Saat Mata Terasa Penat Tak Bisa Lelap.

Akhirnya, Kutemukan Jua Kau,

Senjaku…

“ Senja dan Kau “

Mungkin kau adalah wujud kata-kata dalam tiap bait puisi bergelora merangkai gemintang diatas kanvas langit hitam mendung tak hirau walau pahit.

Kau adalah tetap kau.

Kau bisa menjadi apa saja,

Karna kau adalah semesta.

Semburat senja hadir bersama warnanya yang kemerahan menerpa wajahku. Kunikmati dengan tegas. Setegas mata yang aku perintahkan untuk tidak sedetik pun melepaskan keindahan ini. Angin bertiup melembut, menyapa sekujur tubuh yang masih saja berdiri. Tegak berdiri menatap alunan riak air danau yang terbiasa menerima kehadiranku. Begitu terbiasanya, hingga tetap diam saat Aku kotori dengan keramaian dalam heningku. Segera Aku mencari sebatang pohon, yang batangnya, akan Aku jadikan penyangga tubuh yang mulai dihinggapi keletihan ini. Aku tatap permukaan air. Kubiarkan warna senja, yang juga menerpa permukaan air, menerobos ganas, masuk ke dalam kacamata minus tigaku. Aku memang sedang mengheningkan senja. Senja selalu saja indah, bagiku. Karena senja selalu melembutkan Aku. Dan, untukku, senja adalah kemisteriusan. Semisterius hidup yang tak pernah bosannya berputar dan memutarkan manusia bersama sang waktunya. Yang didalamnya, Aku selalu saja dilibatkannya. Hingga berakhir pada ketidak-lelahanku untuk terus saja kembali ke tepian danau ini. Karenanya, dalam duduk ini, segera saja sederet keramain melintas cepat dalam benakku. Secepat kilat yang didalamnya berisikan energi yang bergemuruh.

@

Entah mengapa, dalam putaran waktu hidupku, selalu saja bertautan dengan manusia seperti Kau. Kau yang tak mengeraskan impianmu. Kau yang membiarkan khayalmu sekarat. Kau yang tak berkehendak keluar dari alam fikirmu. Kau yang tak tahu, dan parahnya tak mau, untuk mempercayai dirimu sendiri. Kau yang selalu saja menyudutkan hatimu. Masih tertanam jelas helaian sore nan indah yang mempertemukan Kau dan Aku. Tepatnya, dipertemukan tanpa sengaja untuk pertama kalinya. Anehnya, entah kenapa, kubiarkan Kau hadir dalam ruang duniaku. Dan di dalamnya, Aku biarkan Kau berbuat sesukamu. Ku biarkan Kau menatap tajam dan sinis perih serta pedihnya pengkhianatan manusia. Ku biarkan Kau membaui busuknya kenyataan hidup. Ku biarkan Kau untuk berteriak. Meneriakkan rasa keterasingan di kupingku. Ku biarkan Kau mencecap getirnya hidup. Ku biarkan tanganmu mengepal keras dan teracung tinggi pada pahitnya pengharapan. Ku biarkan Kau menari. Menarikan tarian kesedihan di hadapanku. Hingga tanpa sadar, Kau pun kubiarkan mencuri ruang duniaku. Kau renggut lelap tidurku disaat Aku membutuhkannya. Kau nyatakan dirimu, dalam tatapku, disaat Aku ingin membutakannya. Kau gemakan suaramu, dalam relung pendengaranku, disaat Aku hendak tulikan. Kau melintas dalam rongga hidungku, disaat Aku membenci wangi. Kau mewujud dalam lisanku saat Aku tak ingin berujar. Kau hadir dalam hariku disaat perih itu masih tersisa. Kau tinggal dalam rangkaian waktuku disaat luka pengkhianatan itu masih menganga. Kau. Ya! Kau yang Aku maksudkan.

Kau yang pernah bertanya dalam luapan amarahmu, Apakah Aku harus mempercayai bahwa dalam hidup, yang tak nyata mempengaruhi yang nyata? Bagaimana mungkin sebuah yang khayali mewujud? Bagaimana mungkin manusia itu harus menciptakan ilusi? Apakah Aku harus selalu setia dengan sang tak ada? Haruskah Aku mempunyai sebuah impian? Haruskah Aku menghidupkan pohon pengharapan? Dan pada saat pohon pengharapan itu telah tumbuh, Aku berdiri berlindung dibawah rindangnya? Kemudian jika pohon pengharapan itu berbuah, Aku harus memakannya? Haruskah semua ini mengada?.

Layaknya gunung api yang perutnya tengah merasakan mual, Kau tumpahkan semuanya. Semua lava itu, gas beracun itu, bebatuan itu, abu panas itu kepadaku. Dan Aku hanya sanggup terdiam dan terpaku tanpa kata terucap. Aku tahu, Kau sedang terjebak dalam sebuah ruang yang tak berujung dan meruang. Ruang yang Kau tatap tanpa simbol dan warna. Ruang tanpa nada dan hanya hening yang menganga. Ruang yang mendekatkan Kau dengan keputus-asaan. Ruang yang melemparkan Kau dalam kehampaan. Ruang yang memanggil Kau untuk membunuh dirimu. Ruang yang Kau rasakan menjauhnya tujuan dan tindakan. Ruang yang menghimpit Kau diantara pilihan-pilihan. Ruang yang menghadirkan kehampaan.

Ah…andaikan Kau sejenak merenungi…

Tahukah Kau?

Karena sebuah mimpilah, maka semesta ini tercipta. Karena hidupnya sebuah khayallah yang membuat hidup mempunyai warna. Karena ilusilah yang mewujudkan Kau dalam larik kata bernada. Ilusi pula yang menjadikan Kau simbol kemanusiaan.

Mau kah Kau mengerti?

Sesungguhnya harapanlah yang menjaga manusia itu tetap hidup.

Akankah Kau pahami?

Bahwa jutaan manusia yang mempercayai kata-kata itu. Banyak manusia yang memetik dan menikmati buah dari pohon pengharapan. Karena harapanlah yang menjauhkan keputus-asaan, melemparkan kehampaan, ataupun sebuah bunuh diri!!. Harapan, itulah makna hidup. Mempercayainya adalah penghargaan akan semua tindakan dan tujuan mulia manusia yang dirasakan terbentang nun jauh disana.

Dan Pohon Pengharapan itu memang mengada.

Tetapi, Kau telah tetapkan dirimu untuk tinggal dalam ruang itu. Sebuah ruang yang tak meruang. Sebuah ruang yang tak mewaktu. Sebuah ruang berwarna, antara terang dan gelap. Sebuah ruang waktu antara siang dengan malam. Sebuah ruang dan waktunya sengaja Kau hentikan. Sebuah ruang dunia dan waktu bernama senja. Kau tak jua tentukan, siang atau malam yang Kau pilih?. Karena Kau adalah senja.

Dan di tepian danau ini,

Kau selalu Aku tatap.

Karena Kaulah,

Sang Angelous itu.